Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Apr 6, 2007

Bis Kota

MetroMini
Ringkasan: Pengalaman seorang lelaki merangsang mahasiswi tak dikenal di dalam bis kota.
Kode Cerita: humil, MF, no-sex, non-con
Tokoh: (lihat/tutup...)
* (anonim): Pencerita
* Christine: korban pelecehan


Bis Kota
by: VVN

Aku cukup sering bertemu dengan gadis ini di dalam bis kota jurusan Senen – Kali Deres. Gadis ini sangat manis. Kulitnya putih dan rambutnya lurus sebahu. Wajahnya bulat telur, matanya agak sipit, hidungnya kecil namun mancung, bibirnya tipis dan kulit wajah yang lembut dan mulus.

Dengan tinggi badan tidak lebih dari 160 cm, gadis ini terlihat sexy walau sedikit kurus. Dadanya pun tidak terlalu besar tapi daya tarik terbesarnya (selain wajahnya yang cantik) adalah pinggul dan pantatnya yang aduhai.

Gadis ini ternyata mahasiswa di salah satu universitas swasta di daerah Grogol. Biasanya ia memakai T-Shirt berwarna cerah atau putih, celana jeans dan di bahu sebelah kanannya ia membawa tas kain berwarna merah (di bagian depannya terdapat gambar Mickey Mouse).

Pernah sekali waktu ia membawa beberapa buku tambahan dengan tangan kirinya dan aku mencuri pandang ke buku tersebut. Dan aku menemukan sebuah nama: Christine. Akhirnya aku tahu nama gadis itu, pikirku. Sebenarnya aku tidak yakin apakah itu adalah bukunya. Sebab bila itu bukan buku miliknya berarti Christine bukanlah namanya. Tapi tidak ada salahnya jika aku meyebutnya Christine dalam cerita ini.

Menurut perkiraanku, Christine adalah anak baik-baik yang pendiam atau mungkin agak pemalu. Dandanan dan cara berpakaiannya tidak pernah terlalu menor atau terlalu vulgar.

Akhir-akhir ini aku cukup sering satu bis dengan Christine. Seperti biasa ia naik dari Grogol dekat kampusnya seorang diri (maksudku ia tidak ditemani teman-temannya). Makin hari ia makin terlihat cantik dan manis.

Pada suatu sore, aku naik bis tersebut bukan dari tempat biasa aku naik. Kebetulan sore itu aku ada urusan di tempat lain. Dari kejauhan, bis sudah terlihat penuh. Namun karena enggan menunggu jauh lebih lama lagi karena sudah sore dan cuaca agak mendung, aku memutuskan untuk tetap naik.

Dan benar saja, pada saat pintu bis bagian belakang berada di hadapanku, aku melihat bis sudah hampir terisi penuh oleh penumpang yang berjejalan berdiri di dalam bis. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku melompat masuk ke dalam bis bergabung dengan penumpang lainnya.

Begitu masuk, kenek langsung menyuruh aku untuk menempati sedikit ruang kosong di tengah. Aku menurut saja. Dan betapa terkejutnya aku melihat ternyata Christine juga berada di dalam bis itu. Ia berdiri di tengah karena tidak dapat tempat duduk.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Ia mengenakan kaos katun agak ketat berwarna biru muda dan celana jeans biru gelap. Seperti biasanya ia menggunakan tas merah itu.

Kenek menyuruh aku masuk ke tengah dan aku pun masuk berdiri tepat di belakang Christine. Aku mencium wangi harum yang lembut dari tubuhnya (atau rambutnya?).

Lalu bis berjalan lagi dan terus memasukkan penumpang ke dalamnya. Beberapa penumpang mulai mengeluh karena bis sudah terlalu penuh. Namun kenek tersebut tetap saja menaikkan penumpang. Akibatnya penumpang yang berdiri di tengah semakin terhimpit dengan penumpang-penumpang lainnya dari depan dan belakang. Termasuk aku dan Christine.

Beberapa pria masuk dari pintu depan sehingga penumpang yang berada di tengah harus bergeser sedikit ke belakang. Christine yang berdiri di depanku menoleh sekilas ke belakang lalu ia mundur sedikit ke arahku.

Sebelum ia mundur saja tubuh kami sudah bersentuhan. Punggung sebelah kanannya menempel pada dadaku dan kaki kanannya juga menempel dengan kaki kananku. Dan sekarang ia sedikit memutar tubuhnya sehingga dapat memberi ruang pada penumpang yang tepat di depannya untuk mundur. Ia tidak ingin penumpang itu mengenai bagian tubuh bagian depannya.

Namun karena sedikit berputar itu, hampir seluruh bagian belakang tubuh Christine menempel dengan bagian depan tubuhku. Kepala dan rambutnya hampir mengenai wajahku. Punggungnya menempel pada dadaku dan kedua kakinya juga menempel pada kakiku. Dan tak ketinggalan, bagian pantatnya pun menempel pada tubuhku.

Jantungku mulai berdetak dengan cepat. Wangi dari rambutnya dan merasakan tubuhnya menempel pada tubuhku membuat diriku mulai terangsang. Secara perlahan namun pasti, penisku membesar juga mengeras dan menekan pantatnya yang empuk itu.

Pada awalnya aku takut ia akan marah karena merasakan penisku berereksi di pantatnya. Namun setelah beberapa saat penisku menekan pantatnya, Christine tidak terlihat merasa terganggu. Ia diam saja seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku sebenarnya tidak menyangka akan hal ini. Tidak mungkin ia tidak merasakan penisku yang sudah mengeras ini menusuk-nusuk pantatnya. Tapi ada kemungkinan ia tidak menyadari akan hal itu. Atau mungkin saja ia terlalu takut atau malu untuk mendamprat aku.

Karena saat itu sedang menikmati kondisi tersebut, aku tidak ambil pusing akan hal itu. Aku menarik nafasku untuk menghisap wewangian yang keluar dari rambutnya. Ah… begitu lembut wanginya. Hasratku semakin melambung dibuatnya.

Lalu timbul pikiran iseng dalam benakku. Setelah menimbang-nimbang rencana itu, aku memberanikan diri untuk melaksanakannya.

Perlahan-lahan aku menggerakkan tangan kiriku untuk menyentuh bulatan pantatnya. Sedikit demi sedikit jari-jariku menyentuhnya dan akhirnya seluruh telapak tanganku menempel pada pantatnya. Aku tidak bergerak untuk melihat reaksinya. Christine diam saja. Mungkin ia tidak menyangka bahwa yang menempel di pantatnya itu adalah tangan lelaki yang berdiri di belakangnya.

Sesekali aku mengusap telapak tanganku itu pada bulatannya yang penuh. Tetap ia diam saja. Lalu aku menggeser telapak tanganku itu sampai dekat ke bagian kiri belakang selangkangannya. Aku yakin sekali bahwa hal ini tidak mungkin tidak dirasakannya.

Ternyata benar. Tubuh Christine bagian atas sedikit menegak dan ia terlihat agak canggung. Ia memperbaiki posisi berdirinya namun telapak tanganku masih terus menempel di sana . Setelah itu ia diam lagi. Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkannya. Tidak ada tindakan perlawanan sedikitpun atas perbuatan isengku ini.

Karena itu aku semakin berani. Aku menggerakan tangan kananku ke atas menuju samping kanan badannya. Untungnya bagian kanan tubuhnya itu tertutup oleh tas merah yang dikepit dengan lengannya sehingga perbuatanku tidak terlihat oleh penumpang lain yang sedang duduk (apalagi oleh penumpang yang sedang berdiri).

Dengan gerakan yang ringan dan pasti aku menelusupkan tanganku di bawah ketiaknya dan mulai meraba payudaranya. Christine tiba-tiba menoleh melihat ke arah tangan kananku. Tapi tetap saja ia tidak menengok ke belakang untuk menghadapi aku.

Beberapa detik kemudian, ia kembali menatap ke depan bis. Lalu Christine menggerak-gerakkan bagian atas tubuhnya agar tanganku lepas dari dadanya. Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi. Mungkin hal itu dilakukannya sebagai tanda protes terhadap perbuatan isengku pada dirinya.

Mendapati Christine tidak berani melawan secara terang-terangan, aku semakin berani lagi. Tangan kananku tidak lagi meraba buah dadanya melainkan mulai meremas-remasnya ditambah tangan kiriku menggesek-gesek selangkangannya.

Bukan saja menempel pada dadaku malahan sekarang punggungnya bersandar pada dadaku. Tubuh bagian atas dan dadanya naik turun. Bagian belakang lehernya mulai berkeringat. Dan lucunya, dari balik kaos dan BH-nya, aku merasakan puting susunya menegang dan mengeras. Oho, apakah ia juga mulai terangsang, pikirku. Lalu aku cubit sedikit puting susu tersebut.

Dan itu menjadi aksiku yang terakhir pada Christine karena cubitan itu memicu dirinya untuk langsung bergerak meninggalkan tempat itu lalu turun dari bis. Sial, pikirku, belum juga 10% dari kenikmatan, ia sudah pergi.

Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengan Christine lagi di bis jurusan Senen – Kali Deres itu.

(END)