Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Apr 13, 2007

Santi & Novi: Perempuan Binal Yang Terbangun

Santi & Novi
Ringkasan: Ternyata Novi masih belum dapat mengatasi masalahnya dan kali ini kakaknya sendiri yang beraksi memberikan pertolongan.
Kode Cerita: inc, mult, oral, reluc, swing
Tokoh: (lihat/tutup...)
* Novi: Adik Santi
* Santi: Kakak Novi
* Ferry: Suami Novi
* Tomy: Suami Santi


Perempuan Binal Yang Terbangun
by: VVN

Novi masuk ke WC. Ia membasuh wajah dan berkumur beberapa kali. Walaupun cairan sperma yang tertelan oleh Novi tidak banyak namun perasaan mual sudah memenuhi otaknya. Akhirnya Novi muntah di wastafel. Tubuhnya menjadi sangat lemas tak bertenaga. Novi terduduk di lantai selama beberapa menit kemudian ia terlelap.

Sekitar pukul 12 malam, Santi membangunkan Novi. "Nov, ayo bangun. Aku antar kamu pulang," katanya sambil mengguncang-guncangkan bahunya.

"Ferry pasti cemas menunggu kamu di rumah."

Novi yang baru bangun tidak menjawab. Tanpa perlawanan ia membiarkan dirinya dibimbing oleh Santi ke luar rumah dan masuk ke mobil. Tak lama setelah itu, mereka berdua telah melaju pulang ke rumah Novi.


Keesokan paginya saat Tomy sedang di kamar mandi, Santi menelpon Novi.


Santi: Halo?
Novi : Halo.
Santi: Nov, Ferry ada di sana?
Novi : Enggak. Memangnya kenapa?
Santi: Oh, aku tidak mau Ferry mendengar pembicaraan kamu.
       Jadi, bagaimana kemarin malam?
       Apa saja yang Ferry tanyakan?
Novi : Aduh, untung deh, Ka Santi.
       Waktu aku masuk ke kamar,
       Ferry ternyata sudah tertidur
       pulas.
       Dan tadi pagi aku bertanya kepadanya: kapan kamu tidur?
       Dia jawab: nggak tau yah, lupa. Hahaha...
Santi: Wah, untunglah kalau begitu.
       Aku khawatir kamu mendapat masalah.
Novi : Tapi kok dia tidak menanyakan kapan aku pulang yah?
Santi: Masa? Jangan-jangan dia tahu kapan kamu pulang.
Novi : Ah, aku yakin kemarin waktu aku masuk ke kamar,
       dia sedang tertidur pulas.
       [ Mereka berdua terdiam sejenak ]
Novi : Terima kasih, Kak.
Santi: Sama-sama, Nov. Aku senang kamu sudah bisa mengatasi
       rasa jijik kamu.
       (Novi terdiam)
Novi : Umm..., sebenarnya masih belum, Kak.
Santi: Maksud kamu?
Novi : Kemarin setelah keluar dari kamar Ka Santi,
       aku muntah di WC.
Santi: Oh ya? Lalu?
Novi : Iya. Dan setelah aku sampai di rumahku,
       aku berniat untuk mempraktekkan
       apa yang baru aku pelajari.
       Aku pikir mumpung Ferry sedang tertidur,
       mungkin tekanan dalam diriku lebih berkurang.
       Tapi jangankan dimasukkan ke dalam mulut,
       baru melihatnya saja aku sudah mual.
       Mungkin karena trauma kemarin muntah itu, Ka Santi.
Santi: Tapi kemarin kelihatannya kamu begitu...? ...
       Kok... bisa...? Jadi...?
Novi : Aku juga tidak tahu, Kak. Maafkan aku, Kak.
       Aku memang istri yang tak berguna.
Santi: Hush! Jangan ngomong seperti itu.
       Kamu hanya butuh waktu dan latihan.
       Jadi tidak perlu khawatir.
       Begini, deh. Nanti malam, kamu persiapkan Ferry
       seperti aku menyiapkan Tomy kemarin.
Novi : Apa??
Santi: Iya, siapkan semuanya sebelum aku datang.
       Jam berapa yah aku bisa datang?
       Hmmm...
       Baik, jam 10 malam aku akan datang ke rumahmu. Oke?
       Malam ini yah.
       Hei, Tomy sudah keluar dari kamar mandi, nih.
       Sampai nanti ya, Nov.


[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Novi berusaha untuk menjawab namun Santi sudah meletakkan gagang teleponnya. Novi tidak habis pikir Santi memberikan ide seperti itu. "Bagaimana aku melakukannya di depan kakakku? Bukannya malah tambah risih? Tapi, kemarin pun aku melakukannya di depan Ka Santi. Apa yang membuatku jadi enggan melakukannya sekarang yah?" Semua pertanyaan ini bermunculan silih berganti di dalam otak Novi.

Pukul 10 kurang 10 menit, Novi merangkul bahu Ferry. "Fer, malam ini aku ingin mencobanya."

"Mencoba apa?"

"Itu, lho..., ah, kamu jangan berlagak bodoh."

"Sungguh, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."

Novi menundukkan kepalanya lalu berkata dengan suara pelan, "Oral seks."

"Benar kamu ingin melakukannya? Kalau kamu belum siap untuk melakukannya, aku juga tidak bermasalah kok, Nov."

"Sungguh, Fer. Setidaknya biarkan aku mencobanya malam ini. Tapi...,"

"Tapi apa?"

"Aku akan mengikat tangan dan kaki kamu di kursi dan juga akan menutup mata kamu dengan kain. Bagaimana?"

"Ooo, jadi aku tidak boleh melihat dan bergerak? Begitu?"

"Oh iya, kamu juga tidak boleh mendengar apa-apa. Aku akan pasang headphone di telinga kamu. Oke?"

"Terserah kamu deh, Nov," jawaban ini merupakan penutup dari pembicaraan mereka.

Novi segera keluar dari kamar. Ia melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul sepuluh tepat. Ia mengintip ke jendela untuk melihat apakah Santi sudah datang. Rupanya belum. Novi bergegas mengambil beberapa helai kain untuk digunakan sebagai pengikat dan penutup mata.

Saat masuk ke kamar, Novi mendapati suaminya sudah siap dengan keadaan telanjang duduk di kursi dekat ranjang mereka. Novi tersipu malu sedangkan Ferry hanya balas tersenyum.

Novi menghampiri Ferry lalu mulai mengikat tangannya. Setelah itu ia mengikat kedua kakinya dan mengikat kain hitam di sekeliling matanya.

Novi berlari menyalakan musik karena ia tidak ingin Ferry mendengar suara mobil Santi yang mungkin sebentar lagi akan tiba. Setelah memasang CD lagu klasik, ia menggunakan headphone yang terhubung dengan stereo system di kamarnya untuk menutupi telinga Ferry.

Novi memandangi suaminya yang dalam keadaan telanjang bulat terikat di kursi dan dengan penutup mata terikat di sekeliling kepalanya. Dengan penuh harap cemas Ferry menunggu tak bergeming. Namun karena pikirannya terus memikirkan apa yang akan terjadi, penis Ferry mulai mengalami perubahan.

Novi melihat perubahan yang terjadi. Penis itu mulai bergerak seperti mengangguk-angguk. Sedikit demi sedikit besarnya semakin bertambah sampai akhirnya tidak bertambah besar lagi. Pada saat itu, Novi mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya.

Ia bergegas ke luar kamar dengan menjaga agar gerakannya tidak diketahui oleh Ferry. Setelah dibukakan pintu, Santi masuk ke ruang tamu. Belum sempat Santi melangkah lebih jauh, Novi membuka suara, "Aku jadi tidak begitu yakin akan semua ini, Kak."

"Lho kenapa? Apakah Ferry tidak bisa diajak kerja sama? Di mana dia sekarang?" tanya Santi.

"Dia ada di dalam kamar. Tapi bukan itu maksudku."

"Apakah dia sudah tidur?"

"Belum."

"Apakah kamu sudah mengikat dan menutup matanya?" tanya Santi lagi.

"Sudah."

"Lalu tunggu apa lagi?" katanya sambil masuk ke dalam kamar.

Novi tidak sempat mencegahnya lagipula ia tidak ingin menimbulkan banyak kebisingan karena takut kalau-kalau suara mereka masih terdengar di balik suara musik dari headphone.

Melihat adik iparnya berada dalam kondisi yang vulgar, Santi hampir saja berteriak dan langsung memalingkan wajahnya secara refleks. Perlahan-lahan Santi meluruskan pandangannya ke depan lalu berbisik ke Novi, "Hei, kamu lupa pasang musik, yah?"

"Aku memasang CD instrumental klasik dan menggunakan headphone di telinganya."

"Oh, aku kaget karena baru tersadar tidak mendengar suara musik sama sekali. Oke, kamu bisa memulainya. Kalau tidak dia pasti bingung kenapa kamu belum memulainya juga."

"O,o, b-baik...," Novi tergagap.

Novi berjongkok di antara paha Ferry. Novi memulainya dengan membelai dengan lembut penis suaminya itu. Mulai dari bagian kepala turun sampai ke pangkal penisnya lalu naik lagi dengan perlahan. Turun, naik, turun, naik. Tidak lama setelah itu, tubuh Ferry sudah memberi respon. Otot-otot perutnya menegang dan penisnya terlihat semakin mengeras. Urat-urat nadi di sepanjang penisnya terlihat menonjol.

Perhatian Santi melekat pada tubuh Ferry. Diam-diam Santi mengagumi bentuk tubuh adik iparnya. Tubuh Ferry memang jauh lebih atletis di banding Tomy, suaminya. Namun penis Ferry terlihat lebih ramping dan lebih pendek dibanding penis suaminya.

Ini merupakan pertama kalinya buat Santi melihat secara langsung penis lain selain penis Tomy. Penis Ferry terlihat sangat gelap karena sudah dipenuhi darah yang mengalir deras akibat dorongan birahi dalam dirinya.

Novi menempelkan bibirnya di kepala penis Ferry lalu menggesek-gesekkannya ke sepanjang batang penis itu. Ferry mendesah dengan cukup keras. Tubuhnya menggeliat-geliat seakan sedang berusaha melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.

Dari kepala penis Ferry keluar lelehan cairan bening yang keluar secara normal pada saat tubuh pria sudah siap melakukan penetrasi. Santi kaget melihat banyaknya cairan yang keluar. "Sungguh berbeda dengan Tomy," pikirnya dalam hati.

Sampai saat itu, Santi masih melihat bahwa semuanya berjalan dengan lancar. Namun keadaan ini tidak berlanjut lama.

Novi mulai masuk ke tahap berikutnya. Ia membuka mulutnya lalu menjulurkan lidahnya. Novi menjilat kepala penis Ferry yang sudah basah oleh cairan pelumas dari tubuhnya sendiri. Satu jilatan, dua jilatan, dan pada jilatan ke tiga Novi berhenti lalu berpaling ke Santi.

"Aku tidak bisa, Kak. Aku tidak bisa melakukannya," bisiknya.

"Ayo, kamu pasti bisa. Sudah sampai sejauh ini, pasti kamu bisa."

"Aku..., aku merasa ingin muntah, Kak," bisiknya dengan mata berkaca-kaca.

"Tarik nafas dalam-dalam. Ayo, tarik nafas yang dalam," Santi berusaha menengangkan Novi.

Novi menarik nafas dalam-dalam namun dalam otaknya terus berkecamuk perasaan mual itu. "Aku tidak bisa (hmmph)...," katanya lagi sambil bangkit berdiri. Tangan kanannya menahan mulutnya lalu bergegas ke WC meninggalkan Santi berduaan dengan Ferry di kamarnya.

Santi tidak tahu harus berbuat apa. Tapi instingnya mengatakan bahwa ia harus membantu adiknya. Santi bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar. Belum sempat Santi sampai ke pintu, Novi sudah masuk ke dalam kamar lagi.

"Aku sungguh tidak sanggup melakukannya, Kak..," bisiknya sambil terisak. Air mata sudah mengalir dari matanya. Santi memeluk Novi dan membelai rambutnya untuk menenangkannya.

"Tidak apa-apa, Nov. Tidak apa-apa..., kita masih bisa mencobanya lain kali," Santi berbisik dengan nada datar.

"Tapi bagaimana dengan Ferry sekarang? Aku tidak mungkin membiarkannya seperti ini, kan?"

Santi menoleh melihat ke arah Ferry. Penisnya berdenyut-denyut menanti belaian dari sang istri.

"Kamu lanjutkan saja dengan make-love seperti biasanya dan aku akan pergi dari sini," jawab Santi.

"Tapi aku tidak ingin membuat Ferry kecewa, Kak. Aku sudah menjanjikannya oral seks hari ini."

"Aku yakin Ferry pasti mengerti. Jangan takut, deh."

"Iya tapi Ka Santi tidak harus menghadapi tatapan Ferry yang kecewa. Aku tidak akan berani memandangnya lagi, Kak," isak Novi berlanjut.

Sambil mendekap Novi, Santi masih membelai-belai rambutnya. Ia berpikir keras mencari jalan keluarnya.

Lalu Santi mendorong pundak Novi agar ia dapat menatap wajahnya. Santi menatap dalam-dalam kedua mata Novi. Ia tidak melihat apa-apa selain keputusasaan.

Dengan langkah perlahan namun pasti, Santi berbalik dan menghampiri Ferry. Novi masih tenggelam dalam kesedihannya sendiri dan tidak sadar apa yang hendak Santi lakukan.

Santi berjongkok di hadapan penis Ferry. Penis Ferry berdenyut lalu melelehkan cairan pelumas lagi tepat di hadapannya. Santi menutup matanya, meraih batang penis adik iparnya itu, lalu membuka mulutnya.

Lingkar mulutnya memayungi kepala penis Ferry lalu Santi menyodorkan lidahnya keluar menyentuh kepala penis tersebut.

Baru menyadari apa yang sedang diperbuat kakaknya, Novi segera menarik bahu Santi. "Ka Santi sedang apa?!" tanyanya penuh kebingungan.

Santi berbisik lembut sambil meneteskan air matanya, "Aku sedang melakukan apa yang harus aku lakukan. Jadi jangan ganggu aku, yah?" Air mata Santi berderai. Ia tahu bahwa Novi mungkin tidak setuju dengan apa yang ia lakukan dan sudah pasti berusaha untuk mencegahnya. Namun jika Santi membuat seakan-akan semua ini ada di luar kemampuan Novi untuk mencegahnya, mungkin Novi akan lebih mudah menerimanya.

"Semakin cepat aku buat dia ejakulasi, semakin cepat semua ini berakhir," pikir Santi.

Tanpa berpikir banyak, Santi menjebloskan penis Ferry masuk ke dalam mulutnya. Santi yang sudah ahli, tahu bagaimana memperlakukan lelaki. Santi memulainya dengan lembut dan penuh perasaan. Mata Novi melotot dan mulutnya ternganga melihat kakaknya melahap penis suaminya.

Ferry menggelinjang lalu mengerang panjang. "Wah, dia menyukainya," pikir Novi.

Lidah Santi mulai bergerilya dibalik tangkupan bibir mungilnya itu. Dan nafas Ferry semakin memburu. Santi menggunakan jemarinya untuk bermain dengan buah zakar Ferry. Desahan-desahan Ferry terdengar semakin cepat dan semakin keras.

Dengan menggunakan tangannya yang masih bebas, Santi mulai mengocok batang penis itu. Mulut, bibir dan lidahnya masih menari-nari memberikan sensasi tiada tara pada penis Ferry yang sudah menjadi sangat sensitif itu.

Lalu Santi menggerakkan kepalanya naik turun. Tangannya bermain dengan batang penis dan testis Ferry. Lidahnya terus membalut kepala penis Ferry tanpa henti. Santi mulai ikut mendesah. Tanpa sengaja ia juga ikut terbakar dalam nafsu birahi yang ia ciptakan untuk Ferry.

Saat itu ia baru tersadar bahwa penis yang masuk ke dalam mulutnya tersebut bukanlah penis suaminya. Penis itu tak lain milik lelaki lain yang ternyata adalah adik iparnya sendiri. Timbul secercah perasaan binal dalam hatinya. Hal ini justru malah membuat Santi merasa seksi. Payudaranya mulai mengencang terutama pada bagian puting. Vaginanya juga turut berdenyut dan terasa panas.

Perlahan-lahan ia merasakan cairan dalam tubuhnya pun ikut meleleh dan merembes ke seluruh permukaan liang kewanitaannya. Wajahnya terasa panas. Bahkan kini seluruh tubuhnya terasa panas. Gelora birahi yang dirasakannya saat itu sangat berbeda dengan gejolak yang ia rasakan saat bersama suaminya. "Inikah gejolak birahi yang terlarang?" pikirnya lagi.

Novi hanya dapat menunggu dengan perasaan yang bercampur aduk. Di satu sisi, ia merasa cemburu. Di sisi lain, ia ingin agar suaminya dipuaskan. Di satu sisi, ia melihat ini sebagai perselingkuhan. Namun di sisi lain, ia justru tidak yakin apakah ini dapat disebut selingkuh berhubung suaminya justru mengira bahwa istrinya sendirilah yang sedang mengoralnya.

Desahan Ferry dan Santi terdengar seperti saling bersahutan.

"Hhhhhh...." "Ooohhhh...." "Hmmmhhhhh...." "Uuuuhhhh"

Tiba-tiba Ferry berteriak, "Arrrgghhh!!!" Secara serentak seluruh otot tubuhnya terlihat menonjol kemudian tubuhnya bergelinjang.

Santi merasakan semprotan pertama dari sperma Ferry. Semprotan itu seperti ledakan lahar gunung berapi, begitu kental dan terasa hangat menghajar langit-langit mulutnya. Semprotan demi semprotan terus menghujani mulut Santi. Dan tanpa sadar ia menelan cairan itu.

Santi kaget. Ini pertama kalinya ia menelan sperma laki-laki. Walaupun sejak berpacaran, Santi sudah sering memberikan oral seks kepada Tomy namun baru kali inilah ia benar-benar meneguk cairan lambang keperkasaan lelaki. Ia sudah tahu bahwa cairan sperma yang terasa asin itu tak lain adalah kumpulan protein (yang sering didengungkan dapat menghaluskan kulit wajah). Akan tetapi tetap saja ia enggan untuk menelan sperma suaminya dengan alasan kebersihan atau kesehatan.

Namun kali ini berbeda. Bukan saja satu tegukan, melainkan Santi meneguknya lagi, lagi dan lagi sampai semuanya habis disedotnya dari saluran penis Ferry. Birahi yang kali ini ia rasakan seakan membangunkan karakter perempuan binal yang sedang tertidur di dalam dirinya.

Hanya membutuhkan waktu satu menit lebih, sejak Santi mulai menghisap penis Ferry sampai ia berejakulasi. Tidak lebih dari dua menit. Novi keheranan melihat kejadian yang begitu cepat. Ia juga heran kemana perginya semua sperma Ferry dan tak habis pikir Santi sampai menelan semua tetes sperma suaminya.

Lalu Santi mengeluarkan penis Ferry yang masih keras dan besar itu dari dalam mulutnya. Santi membuka kedua matanya. Ia takjub melihat penis Ferry yang masih keras dan besar itu. Memang biasanya setelah berejakulasi, seorang pria pasti akan kehilangan ereksinya dan baru bisa kembali berereksi setelah beberapa saat. Namun penis Ferry masih tegak berdiri dengan lantang di hadapan wajahnya. Lalu tiba-tiba penis Ferry berkejut dan memuntahkan cairan sperma yang terakhir sekali lagi. Cairan itu jatuh ke atas baju Santi.

Santi terkekeh lalu berbisik kepada Novi, "Oke, tugasku sudah selesai. Sekarang tinggal kamu yang menyelesaikan semua ini. Aku pulang, yah?"

"Oh iya jangan lupa besok kamu harus datang ke rumahku untuk menjaga Kirani. Oke?" Santi mengingatkan Novi sebelum ia keluar dari kamar.

Novi yang pikirannya belum sepenuhnya kembali ke alam nyata hanya bisa mengangguk dengan mulut yang terus menganga sejak tadi.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 3
Baca cerita sebelumnya « Bagian 1





No comments:

Post a Comment