Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

May 8, 2007

Tamu Tak Diundang (bagian satu)

Tamu Tak Diundang
Ringkasan: Ricky harus menerima 2 tamu tak diundang masuk ke dalam rumahnya. Keadaan menjadi semakin mencekam saat mereka mengetahui bahwa kedua orang tersebut tak lain adalah narapidana yang baru kabur.
Kode Cerita: humil, non-con
Tokoh: (lihat/tutup...)
* Ricky: Kepala keluarga
* Lusi: Istri Ricky
* Dony: Narapidana 1
* Jono: Narapidana 2
* Winda: Anak putri Ricky & Lusi


===
Cerita ini adalah hasil terjemahan bebas dari salah satu cerita favorit saya.
===

Tamu Tak Diundang (bagian satu)
translated by: VVN

“Kemarin malam dua narapidana melarikan diri dari penjara. Kedua pria ini bersenjata dan sangat berbahaya.” Dony mematikan TV.

“Jadi mereka tahu kemana kita pergi sekarang.” Dony yang berumur 39 tahun, dipenjara karena mengedarkan narkoba. Keterkaitannya dengan jaringan obat bius membuatnya mendapat hukuman penjara 20 tahun sampai seumur hidup. “Saat ini mereka pasti sudah menemukan peta yang aku tinggalkan dan pasti mereka berpikir kita sedang kabur menuju ke utara. Kita hanya perlu menunggu 24 jam lalu bergerak ke selatan. Hari Kamis kita akan bertemu dengan Eddy dan hari Jumat kita pasti sudah ongkang-ongkang kaki menikmati hidup di luar negri.”

“Kedengarannya OK,” kata Jono. Jono adalah rekan Dony dalam pelariannya. Jono sendiri terpidana 20 tahun atas pemerkosaan dan penculikan yang diperbuatnya terhadap 2 teman kuliahnya. Walau terlihat mereka bukan pasangan yang cocok, Jono sangat setia kepada Dony selama hidup bersama di penjara.

Ricky memandang istrinya, Lusi. Mereka berdua memang bukan dipilih secara khusus oleh kedua narapidana tersebut. Ricky dan Lusi hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Dony hanya memencet bel rumah itu. Saat Ricky membukakan pintu, Dony dan Jono menyerbu memaksa masuk ke dalam rumah. Saat itu suami istri tersebut baru menyadari betapa parahnya keadaan mereka. Kedua pria yang dikategorikan “bersenjata dan sangat berbahaya” baru saja memaksa masuk ke dalam rumahnya. Ricky bukan seorang yang bertubuh besar dan ia tahu bahwa dirinya bukan tandingan kedua narapidana itu.

“Kelihatannya kita semua akan saling mengenal lebih jauh lagi dalam waktu 24 jam ke depan. Kalau kalian mau bekerja sama maka kalian akan melewati semua ini hidup-hidup. Tapi jika tidak, akan terjadi pertumpahan darah dengan cepat. Apa kalian mengerti?”

Ricky menatap Dony lalu menganggukkan kepalanya. “Kami tidak ingin mencari masalah. Kami tidak perduli apa yang telah kalian perbuat atau kemana kalian akan pergi. Kami akan bekerja sama.”

“Bagus, bagus,” kata Jono sambil berjalan menghampiri Lusi dan memandangi tubuhnya dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, “Bagus, bagus.”

Dony sadar bahwa akan sulit mengontrol Jono dalam situasi seperti ini. Sebenarnya ada saja alasan yang bisa dipakai. Dengan hukuman penjara 20 sampai seumur hidup, ditambah lagi dengan kaburnya mereka dari penjara, jika mereka sampai tertangkap lagi, mereka tidak rugi apa-apa. Memang pemerkosaan bukanlah gaya Dony namun sudah lama ia tidak menikmati wanita dan Lusi sangatlah menarik. Dengan tinggi badan 157 cm dan berat 50 kg, kunjungan rutin Lusi ke fitness center 3 kali dalam satu minggu tidaklah sia-sia. Lusi memiliki pantat yang bulat dan kencang, perut yang rata dan payudara yang ranum berisi dan memiliki lekuk tubuh yang terlihat seperti gitar yang sudah pasti akan menarik perhatian para pria. Dony mendapati penisnya mengeras hanya karena membayangkan tubuh Lusi.

Saat Jono mengelilingi Lusi, Ricky mencoba untuk menghalanginya namun tangan Dony sudah mencengkram lehernya. Kekuatan cengkraman tangan Dony membuat Ricky terduduk jatuh sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya karena kehabisan nafas. “Jangan macam-macam, bocah!” kata Dony, “Jangan coba-coba jadi jagoan. Kamu cuma akan membuat keadaan jadi tambah buruk dan bahkan mungkin bisa membuat keluargamu terbunuh.”

Jono menahan lengan Lusi ketika ia hendak menolong Ricky. “Aduh, Lusi, Ricky baik-baik saja kok. Dia hanya perlu bernafas dengan baik. Seharusnya kamu lebih memikirkan keadaanmu dan juga dia.” Dengan menggunakan gerakan kepalanya, Jono menunjuk ke arah Winda, anak Lusi dan Ricky yang baru berumur 15 tahun. Wajah Winda sangat mirip dengan wajah ibunya. Dari bentuk tubuhnya, Winda terlihat sudah masuk ke masa remaja dengan perut yang mulai mengecil dan buah dadanya yang sudah terbentuk, walau tidak sebesar payudara Lusi.

“Jangan bawa-bawa dia ke dalam masalah ini!” teriak Lusi. “Ia hanya anak kecil.” Melihat dirinya menjadi topik permasalahan, Winda mulai menangis. Melihat hal ini, Ricky berniat bangkit berdiri namun usahanya dipatahkan oleh Dony dengan mendorong tubuhnya dengan kakinya.

“Duduk diam! Kalau kalian semua bekerja sama, kami tidak akan mencelakai anak itu,” kata Dony dengan penuh kuasa. Dony tahu dalam hatinya bahwa Winda yang masih muda itu akan menjadi godaan yang sangat sulit untuk dilewatkan baik oleh Jono maupun oleh dirinya. Walaupun demikian, dengan menawarkan sedikit harapan akan dapat membantunya mengontrol situasi seperti ini.

Jono mengambil alih kendali. “Oke, semuanya duduk di sofa. Ayo sekarang! Dony, kau perhatikan mereka.”

Setelah itu Jono keluar dari ruangan. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan senyum penuh kemenangan dan gulungan tali.

“Oke, bung. Berdiri!” perintahnya.

Ricky berdiri dengan perlahan. Pikirannya berkecamuk. Jika ia membiarkan dirinya diikat, ia akan menjadi tak berdaya untuk melindungi keluarganya. Sementara pikirannya masih berputar, Ricky melihat Jono mengeluarkan pisau dari kantong belakang celananya lalu menjambak rambut Lusi dan menariknya sehingga ia bangkit berdiri. Dengan gerakan cepat Jono berputar ke belakang Lusi dan menaruh mata pisau itu ke lehernya. Tanpa pernah melepaskan tatapannya ke Ricky, Jono berkata, “Jangan coba-coba jadi jagoan, bung! Ini sudah diluar kemampuanmu. Satu gerakan saja bisa mencelakaimu dan juga keluagamu. Sekarang, tanggalkan bajumu!”

Ricky benar-benar tak menyangka mendengar perintah itu. Ia memang sudah menduga-duga apa yang bakal terjadi bahkan sudah menerima kenyataan bahwa kedua binatang ini mungkin akan memperkosa istrinya. Namun ia tidak pernah terpikirkan bahwa mereka menginginkan tubuhnya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Dony tersenyum. Hal ini adalah trik lama di penjara. Menelanjangi seseorang akan membuatnya merasa tak berdaya dan lemah. Seseorang yang telanjang akan jauh lebih mudah dikontrol.

“Ayo cepat, bung. Aku mau semua bajumu dilepaskan.”

Sementara pikirannya terus berkecamuk, Ricky mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Setelah itu ia melepaskan sepatu dan kaos kaki. Dan yang terakhir ia menanggalkan celana panjangnya.

Jono mengangguk ke arah celana dalamnya. “Semuanya, bung. Aku mau kau telanjang seperti saat kamu dilahirkan,” katanya dengan senyum yang lebar.

“Tapi…,” Ricky menyela sambil menggerakkan kepalanya ke arah putrinya yang masih berumur 15 tahun itu.

“Memangnya kenapa, Pa?” ejek Jono. “Winda belum pernah melihat laki-laki yang telanjang? Aku rasa ia sudah pernah melihatnya!”

Menoleh ke Winda, ia bertanya, “Bagaimana Winda? Apakah kamu pernah melihat ular bermata satu?”

Dony menahan tawa. Jono memang benar-benar keparat. Ia senang mempermalukan mereka.

Pada kenyataannya Winda sudah tidak perawan. Ia sudah pernah melakukan hubungan seks beberapa kali dengan pacarnya, Tommy. Sadar bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat untuk bercerita tentang hal itu baik kepada kedua narapidana itu maupun kepada kedua orang tuanya, Winda menggelengkan kepalanya untuk menjawab: tidak.

“Semuanya, Pa. Sekarang!” Jono membentak.

Melihat sedikitnya alternatif yang ia miliki, Ricky menanggalkan celana dalamnya dengan perlahan. Memang penis Ricky termasuk berukuran kecil saat berereksi, namun dalam kondisi seperti ini penisnya bak siput yang bersembunyi ketakutan.

Melihat hal ini, Jono tertawa terpingkal-pingkal. “Pantas saja sedari tadi dia berusaha untuk menyembunyikannya.”

Jono menengok ke arah Winda dan berkata, “Jangan khawatir, Winda. Hari ini kamu akan melihat ukuran laki-laki yang sesungguhnya.”

Jono menarik sebuah kursi dari ruang makan dan menaruhnya di tengah-tengah ruangan. Semua pandangan jatuh pada Jono saat ia mengitari Ricky. “Mungkin aku harus memanggilmu: banci untuk ukuran penismu yang mepermalukan kaum laki-laki.”

Ditantang seperti itu, Lusi menjawab dengan pandangan yang membara, “Ricky dua kali lebih laki-laki dari kau. Dan aku menyayanginya dengan sepenuh hatiku!”

“Oh, iya, iya,” jawab Jono. Lalu ia memerintah Ricky, “Kedua tangan di belakang kepala! Tidak ada gunanya menyembunyikan penismu!”

Merasakan bahwa saat itu adalah kesempatannya yang terakhir untuk mengambil alih kekuasaan, Ricky berputar ke kiri. Ricky merasakan rambutnya dijambak oleh Dony dari belakang. Jono menonjok perut Ricky dan ia terbungkuk dan tersungkur kesakitan.

Sementara Ricky masih kesakitan, Jono bergerak ke belakangnya dan mengamankan kedua tangannya dengan mengikatnya dengan tali yang baru dibawanya. Dony dan Jono mengangkat tubuh Ricky lalu mendudukkannya ke kursi di tengah-tengah ruangan itu. Jono kemudian mengikatkan kedua kaki Ricky ke kaki kursi tersebut, kiri dan kanan.

Dony terkesan betapa cepat semua itu berlangsung dan kini Ricky telah terikat dan diamankan. Ricky terlihat sangat memalukan duduk terikat dengan keadaan telanjang bulat dengan kedua kakinya mengangkang dan memperlihatkan penisnya yang kecil terjulur keluar dari bulu-bulu kemaluannya.

Jono mengedipkan matanya pada Dony lalu berbalik ke Lusi yang masih duduk di sofa dengan sorot mata yang penuh ketakutan. Melihat suaminya terikat dengan kondisi telanjang seperti itu membuat dirinya dikuasai oleh keputusasaan. Hanya Tuhan yang tahu apa rencana kedua narapidana ini atas dirinya dan keluarganya.

Winda berusaha untuk memalingkan wajahnya dari ayahnya tetapi ia tak dapat menahan dirinya untuk mencuri pandang melihat alat kelamin ayahnya yang walau berukuran kecil namun terlihat jelas. Winda belum pernah melihat Tommy dalam keadaan tidak ereksi; Tommy selalu ereksi saat bersama dengannya. Penis ayahnya sangat kecil jika dibandingkan dengan penis Tommy yang ereksi. Winda tidak tahu bahwa rasa takut ayahnya dapat mempengaruhi penisnya.

Jono menjulurkan tangannya ke Lusi. Tanpa berpikir panjang ia meraihnya. Jono segera menarik Lusi sehingga ia berdiri di hadapannya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca saat ia menatap suaminya. Dengan menarik dagunya, Jono memalingkan wajah Lusi sehingga ia memandangnya. “Sekarang kita akan berkenalan lebih dalam,” katanya. Jono membelai rambutnya lalu merangkulnya dan mengecup lehernya dengan lembut.

“Ini dia,” pikir Lusi, “Jono akan membawaku masuk ke kamar dan memperkosa tubuhku. Ia akan memperkosaku di atas ranjang pernikahanku.”

“Penis suamimu terlihat kecil sekali, Lusi. Dengan alat sekecil itu, kamu pasti bermasturbasi untuk mendapat kepuasan.” Dengan berbisik di depan telinganya, Jono bertanya kepada Lusi sekali lagi, “Apakah kamu setiap hari bermasturbasi Lusi?”

“Tidak. Aku tidak pernah,” jawab Lusi.

“Omong kosong!” jawab Jono sambil mendorong Lusi dengan kasar.

“Cukup sudah! Aku mau lihat kamu telanjang! Ayo buka semua bajumu!”

Lusi baru tersadar. Laki-laki ini tidak berniat memperkosanya di kamarnya yang tertutup. Binatang ini berniat memperkosanya di sini, di ruang tamu tepat di hadapan suami dan putrinya.

“Buka semua bajumu, Lusi dan tunjukkan bagaimana kamu bermasturbasi.”

Lusi menggelengkan kepalanya untuk menolak.

Dengan gerakan yang tiba-tiba, Jono menarik robek baju Lusi yang menyebabkan kancing-kancing bajunya beterbangan jatuh. Dalam keadaan yang masih terkejut Lusi hanya diam mematung saat Jono memasukkan pisaunya ke antara buah dadanya lalu memotong BH dengan satu tarikan.

Saat kedua bukit payudara Lusi tergantung bebas, Lusi terkesiap, Winda memekik berteriak, dan Ricky menggeliat-geliat berusaha melepaskan dirinya dari ikatan. Jono tersenyum bangga. “Buah dada yang indah, Lusi! Dony, Lusi mempunyai buah dada yang indah, kan?”

“Sudah jelas itu,” jawab Dony. “Singkat kata, ia terlihat luar biasa!”

“Mari kita lihat bagian tubuhmu yang lain, Lusi. Tanggalkan rok itu atau kau mau aku merobeknya juga?” perintah Jono.

“Tolong,” pinta Lusi, “dapatkah kita masuk ke kamar. Aku akan melakukan apa saja yang kalian perintahkan. Apa saja, asal jangan di sini.”

“Lusi, sayang, bagaimanapun juga kamu akan melakukan apa yang kami perintahkan. Tapi kalau kamu lebih suka melakukannya di kamar, boleh-boleh saja,” jawab Jono.

Lusi sedikit merasa lega. Sudah cukup buruk harus mengalami perkosaan namun akan lebih buruk lagi jika harus melakukannya di hadapan suami dan anaknya.

Jono menoleh ke Winda dan berkata, “Winda sayang, mama kamu mau melakukannya di dalam kamar. Kamu jadi anak baik yah. Kamu masuk ke sana dan persiapkan ranjangnya.”

Winda tak bergerak. Ia hanya memandangi Lusi lalu ke Jono.

“Winda, jangan membuatku untuk meminta dua kali. Masuk ke dalam kamar dan persiapkan ranjangnya.”

Winda bangkit berdiri dan dengan terisak ia menghambur ke dalam kamar.

“Dony, Lusi ingin agar pesta ini dipindahkan ke dalam kamar. Tolong bantu aku untuk memindahkan Ricky. Oke?”

Lusi tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Harapannya untuk menyelamatkan harga dirinya langsung sirna dalam sekejap. “Bukan, maksudku hanya kau dan aku,” protes Lusi.

“Wah, Lusi, kita kan tidak mau bersikap egois? Aku yakin semua mau ikut melihat,” kata Jono sambil tersenyum.

“Dony, kau mau melihatnya kan?”

Dony mengangguk tanda setuju, “Tentu saja.”

Berjalan menuju Ricky, Jono menatap matanya, “Bagaimana denganmu, bung? Kau mau melihat istrimu bermain dengan laki-laki tulen, kan?”

Dengan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan, Ricky menggeram, “Kalian manusia keparat! Apa yang telah kami lakukan terhadap kalian? Lepaskan kami. Silakan bermalam di sini, lalu pergi setelah kalian siap. Kami tidak akan melapor ke polisi. Tapi lepaskan kami.”

“Wah, bung. Apakah kau dapat memikirkan cara yang lebih baik untuk melewati malam ini? Tentu saja tidak!” kata Jono, “Lusi masuk ke dalam kamar dan tanggalkan semua bajumu. Dony, tolong aku dong.”

Dengan kepala terkulai lemas, Lusi berjalan menuju ke kamar. Dony dan Jono menarik kursi di mana Ricky terikat masuk ke dalam kamar dan menempatkannya di ujung ranjang.

“Bagaimana pemandangan dari sana, bung? Nah begitu dong, bocah baik. Berhenti meronta-ronta dan tonton saja.”

Seperti yang telah diperintahkan, Winda telah mempersiapkan ranjang dengan menurunkan bantal-bantal. Kini ia meringkuk di sudut kamar sambil terisak tanpa suara.

Lusi berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan di kedua sisi tubuhnya dan payudaranya bulat menantang.

“Perempuan bodoh!” seru Jono. “Apa kamu tidak mengerti apa artinya telanjang?”

Jono menatap Winda dan melambai kepadanya, “Winda, ayo bantu mama kamu menanggalkan pakaiannya.”

Winda tidak bergerak dan Lusi mulai menangis, “Jangan ganggu dia. Aku akan melakukannya sendiri.”

Lusi melakukan apa yang ia katakan. Lusi menanggalkan roknya dan kini hanya tertinggal celana dalamnya. Dalam keadaan telanjang, Lusi terlihat jauh lebih cantik bahkan jauh di luar harapan Dony dan Jono.

“Ayo tanggalkan celana dalam itu juga, Lusi,” Jono memberi perintah. Setelah menuruti perintah Jono, Lusi berdiri dalam keadaan telanjang bulat di hadapan mereka. Wajahnya bersemu merah karena malu.

“Lusi aku suka celana dalam kamu tapi bulu-bulu kamu terlalu panjang sehingga terlihat kurang pas.”

Mendengar perkataan itu membuat Lusi menjadi sangat malu bahkan ia berpikir tidak mungkin untuk bertambah malu dari keadaannya sekarang. Namun Lusi salah.

“Pergi ke WC dan cukur habis bulu-bulu itu. Aku mau bulu-bulu itu bersih seperti saat kamu berumur 12 tahun.”

Lusi memandang Jono dengan tatapan tak percaya. “Terserah kamu. Jika kamu tidak mau melakukannya, aku akan melakukannya untukmu.”

Lusi berjalan masuk ke WC dengan lunglai. “Dony, ada baiknya jika kau ikut masuk dan perhatikan dia. Aku akan berjaga di sini bersama 2 bocah ini,” kata Jono.

Pipi Lusi menjadi benar-benar merah saat Dony mengikutinya masuk ke WC.

Kini perhatian Jono jatuh pada Winda. Ia mendekati gadis itu dan mulai membelai pipinya. Dengan suara yang rendah dan pelan sehingga hanya Winda yang dapat mendengar, Jono berkata, “Tidak perlu takut, sayang. Aku tidak akan menyakiti kalian. Biar ini menjadi rahasia kita berdua. Sebenarnya aku hanya ingin mempermainkan papamu saja.”

Jono tersenyum dan melihat Winda menjadi sedikit lebih rileks.

“Sekarang beri tahu aku, gadis secantik kamu… kamu sebenarnya sudah tidak perawan, kan?”

Winda merasa senang mendengar pujian Jono. Laki-laki sepantarannya tidak pernah memuji kecantikannya. Sebenarnya Winda ingin menceritakan kebenarannya. “Yah, tidak juga sih,” kata Winda sambil menatap ke bawah.

Jono menarik dagunya dan memaksa Winda untuk menatap matanya. “Ini kesempatan buat kamu untuk merealisasikan fantasimu. Kamu dapat dengan mudah menyalahkan apa pun yang terjadi malam ini dengan berkata: ‘Aku tidak punya pilihan lain’. Tidak ada yang akan dapat menyalahkan kamu atas apa yang kamu lakukan malam ini. Saat ini aku akan berlaku kejam terhadap papamu. Dia memerlukan seseorang yang bisa menenangkan dirinya. Bagaimana kalau kamu duduk di pangkuannya sementara aku menyetubuhi mama kamu?”

Winda terkejut mendengar perkataan Jono, namun juga sedikit tergoda. Apakah ia benar-benar ingin menyaksikan pemerkosaan atas ibunya? Sebagian dari dirinya menginginkan untuk menyaksikannya. Membayangkan dirinya melihat seseorang berhubungan seks secara langsung dari dekat membuat hatinya gamang. Lalu masalah ayahnya. Winda mencintai ayahnya tetapi ia tidak pernah melihatnya dalam keadaan telanjang terlebih lagi duduk di pangkuannya saat ayahnya bertelanjang bulat. Lalu mengapa ia menjadi basah dengan memikirkan semua ini? Betapa menjijikannya hal itu? Namun demikian perkataan Jono terus terngiang-ngiang di telinganya, “Apapun yang terjadi malam ini, kamu dapat dengan mudah memberi alasan: ‘Aku tidak punya pilihan lain’.

Dengan anggukan yang nyaris tidak terlihat, Winda bangkit berdiri dan menghampiri ayahnya. “Maafkan aku, pa,” Winda berbisik kepada Ricky. Lalu ia duduk di pangkuannya.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 2





1 comment: