Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

May 8, 2007

Tamu Tak Diundang (bagian dua)

Tamu Tak Diundang
Ringkasan: Ricky dan keluarganya dipaksa melakukan hal-hal tabu antar sesama keluarga. Namun bukan hanya itu...
Kode Cerita: Blkm, humil, Ff, inc, Mf, mult, non-con, oral, reluc
Tokoh: (lihat/tutup...)
* Ricky: Kepala keluarga
* Lusi: Istri Ricky
* Dony: Narapidana 1
* Jono: Narapidana 2
* Winda: Anak putri Ricky & Lusi


===
Cerita ini adalah hasil terjemahan bebas dari salah satu cerita favorit saya.
===

Tamu Tak Diundang (bagian dua)
translated by: VVN

Sementara itu Lusi mempersiapkan dirinya di WC ditemani oleh Dony. Lusi pernah mencukur bulu kemaluannya waktu kuliah namun waktu itu sudah lama berlalu. Situasi di mana ia harus mencukur bulu kemaluannya disaksikan oleh pria asing, sungguh memalukan Lusi. Ia menyelesaikannya secepat mungkin karena ingin segera kembali ke kamar. Lusi tidak dapat mempercayai Jono seorang diri menemani anak dan suaminya.

Ketika keluar dari WC, Lusi terkejut mendapati putrinya sedang duduk di pangkuan suaminya yang terikat dalam keadaan telanjang bulat. Rona merah di pipi Winda menunjukkan bahwa semua ini bukan berdasarkan keinginannya. “Binatang keparat!” pikir Lusi. Jono benar-benar gila.

“Mari kita lihat hasil pekerjaanmu, Lusi,” ejek Jono dengan semangat.

Dengan wajah yang merah padam, Lusi menggeser tangannya dari selangkangannya dan memperlihatkan kemaluan yang licin tanpa bulu.

“Nah, ini yang aku maksud,” Jono berkata, “Cantik, sungguh-sungguh cantik!”

Jono menoleh ke Ricky dan berkata, “Rick, begini cara yang benar memelihara seorang pelacur. Lihat, dia memiliki vagina seorang gadis dan payudara seorang wanita. Tidak ada yang lebih baik dari ini. Kalau aku jadi kau, aku akan menyuruhnya untuk tetap seperti ini setiap hari. Beri tahu aku, Rick. Apakah pelacurmu ini tahu caranya menghisap batang laki-laki?”

Ini sudah keterlaluan bagi Ricky. “Bangsat! Keparat kau!!”

“Ck, ck, ck…. Bukan begitu caranya berbicara dengan tamu,” ejek Jono.

Jono menjambak rambut Lusi dan bertanya, “Bagaimana, Lusi? Apa kamu penghisap penis yang hebat?”

Oral seks memang mendapat porsi yang besar di dalam kehidupan seks Lusi dan Ricky. Ricky selalu memuji Lusi atas kemahirannya menghisap penis. Bagi Ricky, Lusi adalah penghisap yang terbaik yang pernah ia tahu. Dengan pengalaman yang terbatas, kini Lusi harus melakukannya dengan pria ini. Memikirkan dirinya harus menggunakan mulutnya untuk memuaskan Jono membuat Lusi menjadi jijik. Jika Jono tahu bahwa ia tidak bisa melakukannya dengan baik, mungkin ia akan mengurungkan niatnya.

“Kata Ricky aku tidak becus dalam hal itu. Kami jarang sekali melakukannya. Katanya gigiku sering menyakitinya,” jawab Lusi.

Jono tersenyum sendiri. Ia tidak mempercayai perkataan Lusi sama sekali. Tidak ada laki-laki yang akan berkata kepada istrinya bahwa ia tidak becus dalam oral seks. Bahkan laki-laki bodoh pun akan mendorong istrinya untuk terus berusaha untuk menjadi semakin baik dalam melakukan oral seks.

“Tidak menjadi masalah, Lus. Aku tahu aku dapat mengajarimu. Mungkin perlu semalaman untuk itu namun aku yakin kamu akan menyandang predikat Penghisap Penis Terbaik malam ini. Kalau masalahnya terletak pada gigimu, aku dapat merontokkan semua gigimu. Bagaimana, Don? Apakah kau siap mengajari Lusi cara berkumur sperma?”

Sejak masuk ke rumah itu, Dony sudah terpikat oleh kecantikan Lusi. Bayangan Lusi yang berlutut di hadapannya sambil menghisap penisnya tentu sangat menarik hatinya.

Dengan putrinya duduk di pangkuannya, Ricky meronta untuk lepas dari ikatannya. “Keparat kau! Lepaskan istriku!”

“Memangnya kau punya wewenang apa, hah?! Aku berencana untuk memakai semua lubang yang istrimu miliki dan kau akan menonton semuanya. Sana bercengkrama dengan putrimu dan nikmati pertunjukan ini.”

Jono menjambak rambut Lusi dan kembali memberi perintah, “Kalau kau tahu apa yang terbaik buat dirimu, kau akan menarik keluar penisku dan mulai membuatnya basah.”

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Lusi tahu inilah saatnya. Ia menenangkan dirinya untuk melakukan apa saja yang diperlukan untuk menyelamatkan keluarganya. Dengan gemetar Lusi menurunkan resleting celana Jono. Saat ia meraih masuk ke dalam celana itu, tangannya tertahan oleh sesuatu.

“Ayo, keluarkan!” perintah Jono.

Jari-jari Lusi meraba tonjolan itu dan ia baru menyadari bahwa yang ia raba tak lain adalah penis Jono. Ya ampun, penisnya besar sekali!!

“Kelihatannya kamu memerlukan bantuan,” kata Jono sambil tersenyum. Jono membuka celananya lebih lebar dan membiarkan penis itu melompat bebas ke luar. Walau hanya dalam kondisi setengah ereksi, besar penis Jono hampir dua kali lipat penis suaminya.

Panjang penis itu kira-kira 15 cm dan sangat tebal sampai jari-jari tangannya tidak dapat melingkari batang penis itu.

Jono menanggalkan celananya lalu meletakkan tangannya di pundak Lusi. Ia menekan pundak itu agar Lusi berlutut di depannya. “Mungkin ini sedikit lebih besar dari yang biasa kau tangani, Lus. Tapi kalau kau berkonsentrasi, aku tahu kamu pasti bisa membuatku senang.”

Winda pun kaget melihat penis Jono. Penis Jono jauh lebih besar dari penis Tommy. Ia bahkan tidak menyangka ada penis sebesar itu. Penglihatan tersebut membuat Winda beringsut dari duduknya dengan gelisah. Dan hal ini juga memberi dampak tersendiri kepada ayahnya.

Melihat istrinya berlutut di depan penis yang besar itu membuat penisnya sendiri menjadi hidup. Kenyataan bahwa anak gadisnya bergerak-gerak di pangkuannya bahkan memperburuk situasi.

Winda tersentak diam dan menahan nafasnya saat ia merasakan penis ayahnya mulai membesar dan mengeras. Hal ini membuat dirinya diam tak bergerak sedikitpun. Mata Jono dan Winda saling bertemu lalu Jono tersenyum.

Apapun yang terjadi malam ini, dapat dengan mudah ‘dibenarkan’ dengan memberi alasan: ‘Aku tidak punya pilihan lain’. Winda terus mengulang-ulang kalimat itu dalam otaknya. Winda mengatur posisi duduknya sehingga penis ayahnya yang sudah mengeras bersemayam di belahan pantatnya. Lalu ia mengelos, tidak berani menatap Jono.

Sementara itu Lusi berhadapan-hadapan dengan penis terbesar yang pernah dilihatnya. Bayangan dirinya menghisap penis itu membuatnya merasa jijik namun juga mengundang rasa ingin tahu.

Jono menjambak rambut Lusi ke belakang untuk memaksa Lusi untuk membuka mulutnya, “Bilang ‘AAAAAH’!”

Lusi membuka mulutnya. Lalu Jono menaruh kepala penisnya ke dalam mulut Lusi. Rasanya seperti menelan ujung pemukul bola baseball.

“Rileks, Lus. Aku tahu kamu pasti bisa,” kata Jono sambil terkekeh.

“Mungkin memerlukan waktu semalaman tapi aku tahu kamu pasti bisa memasukkan seluruhnya ke dalam mulutmu,” sambungnya lagi.

Mendengar perkataan itu Lusi mulai panik. Lusi mencoba untuk menarik mundur kepalanya, namun tangan Jono menahan kepalanya untuk bergerak.

“Sssttt, rileks saja, Lus. Kalau kau melawan, kau hanya akan memperburuk keadaan. Sekarang buka mulut kamu lebih lebar dan bilang ‘AAAAAH’”.

Lusi sadar bahwa keadaan tidak akan berpihak pada dirinya. Air mata mulai menggenangi matanya sementara ia berusaha memasukkan sisa batang penis tersebut ke dalam mulutnya yang kecil.

Akhirnya Lusi menarik mundur kepalanya dan melepaskan penis itu. Jono berkata, “Keterlaluan! Kalau aku harus mengajari dari awal lagi, lebih baik aku mengajari Winda untuk melakukannya!”

Mendengar hal itu Winda merasakan tubuhnya mencair. Cairan dari vaginanya mulai merembes keluar dan membasahi celana dalamnya. Rasa hangat yang tiba-tiba keluar di sekitar kemaluan Winda itu dirasakan pula oleh ayahnya.

“Ya ampun!” pikirnya, “Hal ini membuatnya terangsang! Putriku terangsang karena melihat binatang-binatang ini memperkosa ibunya sendiri!”

Ketika Winda menaruh belahan pantatnya ke atas penis ayahnya, Ricky tersadar kalau ia pun ikut terangsang.

“Ada apa dengan diriku?” pikirnya. “Istriku sedang diperkosa dan putriku yang berumur 15 tahun duduk di pangkuanku malah membuatku berereksi??”

Lusi menanggapi ancaman Jono dengan menggenggam penis Jono dan memaksa dirinya untuk tersenyum. “Tidak, tidak. Aku bisa melakukannya. Aku hanya belum terbiasa dengan ukurannya yang sangat besar. Aku akan mencobanya lagi.”

Jono tahu ancamannya berhasil. Lusi takut kalau-kalau ia malah mengincar Winda yang sebenarnya ingin ia lindungi.

Jono melirik Winda yang masih duduk dengan gelisah di pangkuan ayahnya. Ia tahu bahwa Winda ingin mencicipi penisnya, namun ia masih ingin bermain-main dengan Lusi terlebih dahulu.

“Oke pelacur, kamu mendapat satu kesempatan lagi. Buka mulutmu!” Jono menggenggam penisnya dan tangannya yang lain menekan belakang kepala Lusi.

Saat ia menekan kepala penisnya masuk, Jono merasakan lidah Lusi membalur penisnya secara refleks. “Nah begitu, dong. Pakai lidahmu! Jilat yang enak dan basah!”

Jono menoleh ke arah Winda dan Ricky lalu berkata, “Boleh juga servisnya. Tapi jelas dia belum terbiasa dengan laki-laki tulen. Bagaimana tontonannya?”

Mendengar omongan kotor Jono, membuat tubuh Winda meleleh sekali lagi. Cairan dari vaginanya kembali merembes ke luar. Jono melihat mata Winda berkedip-kedip sesekali dan tubuhnya sedikit gemetar.

“Winda buka celana dalam kamu!”

Mendengar hal ini, Winda langsung mematung. Duduknya yang dari tadi gelisah langsung terdiam. Sementara Ricky hanya menatap ke lantai tak berdaya. Dony tahu bahwa pesta baru saja dimulai.

“Kamu tuli, yah? Aku mau celana dalammu. Tanggalkan celana dalammu lalu serahkan ke Dony.”

Dengan gerakan yang lambat, Winda berdiri dari pangkuan ayahnya dan mulai menurunkan celana dalamnya yang sudah lembab basah itu. Matanya menatap lantai lekat-lekat saat Winda menyerahkan celana dalam itu kepada Dony. Wajahnya menjadi semakin merah menyala.

Dony menghampirinya dan meraih celana dalam itu. Basahnya celana dalam itu menjadi suatu bukti. Dony mendekatkan celana dalam itu ke wajahnya lalu menghirup aroma khas wanita yang keluar dari celana dalam itu. “Gila, celana dalamnya basah, Jon! Perempuan ini banjir dan membuat celana dalamnya basah kuyup!”

“Aku tahu,” Jono tersenyum, “sekarang kamu kembali duduk di pangkuan papa, Win!”

Tanpa celana dalamnya, Winda tidak dapat lagi menyembunyikan gejolak yang semakin berkembang dalam dirinya. Winda memberikan tatapan memelas kepada Jono tetapi Jono hanya menunjuk ke arah ayahnya dengan menggunakan kepalanya. “Duduk di sana sementara aku mengajari mamamu bagaimana memberi servis dengan benar.”

Jono memberikan perhatiannya kembali kepada Lusi. Winda berputar membelakangi ayahnya lalu duduk di pangkuannya. Tidak dapat ditutupi lagi, penis ayahnya sekarang sudah sekeras batu. Setelah mengatur posisi duduknya, Winda dapat merasakan penis ayahnya berdenyut-denyut pada bibir vaginanya yang basah.

“Gerakan lidahmu sudah bagus, tapi kamu harus memasukkannya lebih dalam lagi,” terdengar Jono memberi petunjuk kepada Lusi sambil menahan kepala Lusi dengan kedua tangannya lalu mulai menekan penisnya lebih masuk ke dalam mulutnya.

Saat kepala penis itu memaksa masuk lebih dalam, Lusi berusaha menahannya dengan lidahnya. Dengan satu tangannya Jono menjepit hidung Lusi untuk menahan masukan udara ke dalam paru-parunya. Lusi menjadi panik. Saat Lusi membuka mulutnya lebih lebar lagi untuk mengambil nafas, Jono menekan penisnya dengan mantap masuk sampai ke ujung tenggorokan Lusi. Air mata sudah berkumpul di pelupuk mata Lusi. Paru-parunya terasa terbakar karena kehabisan udara. Jono memperhatikan wajah Lusi dan di saat-saat terakhir ia menarik penisnya sedikit sehingga Lusi dapat bernafas dari sela-sela mulut dan penisnya.

Jono merasakan aliran udara sejuk membasuh batang penisnya. Lalu ia menekan masuk kembali penis itu ke tengorokan Lusi. Ketika ia menarik keluar penisnya lagi, Jono mendengar Lusi tersedak. “Bagus, bagus. Aku suka mendengar suara itu.”

Lendir dan ludah meleleh dari mulut Lusi dan berkumpul di dagunya. Air matanya sudah penuh menggenangi matanya dan rambutnya menempel di keningnya karena keringat yang bercucuran.

Jono memegang dagu Lusi dengan satu tangannya dan tangannya yang lain memegang bagian belakang kepala Lusi. Dengan menggunakan mulut Lusi bak layaknya sebuah vagina, Jono menggenjot penisnya keluar masuk tenggorokan Lusi. Lusi terus menerus tersedak namun Jono tidak memperdulikannya.

“Ini baru namanya hisapan yang benar. Awalnya memang biasa saja, tapi lama kelamaan dia semakin jago. Don, kamu mau mencobanya?”

Setelah melihat pertunjukan itu, Dony bisa bersetubuh dengan batu. Wajah Lusi tampak berantakan dan tidak karuan. Rambutnya yang basah oleh keringat menempel dan menutupi sebagian wajahnya. Lendir dan ludah membasahi mulutnya dan menggelantung di dagunya.

Jono menjambak rambut Lusi lalu mendorongnya ke arah Dony.

“Ayo tunjukkan kepada Dony apa yang sudah kau pelajari!”

Lusi merangkak menghampiri Dony yang sudah mengeluarkan penisnya.

Jono berkata kepada Ricky, “Perempuan itu benar-benar penghisap penis yang luar biasa, bung! Ia hanya butuh sedikit imbalan.”

Jono melirik ke selangkangan Winda dan mendapati penis Ricky yang sudah mencapai besar dan kekerasan maksimal itu sedang menikmati keberadaannya di tengah-tengah belahan pantat putrinya.

“Aku senang kau menikmati pertunjukan kami,” kata Jono.

Jono menatap mata Winda dalam-dalam, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya.

Pada awalnya karena terkejut dicium tiba-tiba, Winda hanya diam tak bergerak. Namun setelah lidah Jono membalur bibirnya, perlahan-lahan Winda membuka mulutnya dan menerima permainan lidah Jono.

Setelah Winda memberi respon atas ciumannya, Jono meraih selangkangan Winda dan mulai menggesek-gesekkan jarinya ke vagina Winda yang sudah sangat basah itu. Winda mengerang dan mendesah dalam mulut Jono.

Lalu Jono memasukkan pertama-tama jari telunjuknya lalu berikutnya jari tengahnya juga masuk ke dalam vagina Winda. Jari-jari Jono basah oleh cairan yang diproduksi oleh tubuh Winda. Jono meraih lebih ke bawah dan merasakan penis Ricky yang berdenyut. Jono menghentikan ciumannya lalu memandang Ricky lewat bahu Winda. Kedua mata Ricky dalam keadaan tertutup.

Dengan tangan kanannya Jono mengangkat pantat Winda sedikit ke atas. Dalam satu gerakan yang cepat dengan tangan kirinya, Jono menempatkan kepala penis Ricky ke mulut bibir vagina Winda yang amat basah itu. Setelah itu Jono melepaskan tangan kanannya dan membiarkan tubuh Winda kembali ke posisi semula.

Hal ini berakibat penis Ricky yang sudah berada di depan bibir vagina Winda amblas masuk ke dalam liang kewanitaan putrinya sendiri. Langsung saja Ricky mendelik dan matanya terbelalak; Mulut Winda membentuk huruf O dengan bulat yang sempurna.

Jono tergelak, “Jika kalian berdua berusaha diam tidak bergerak sama sekali, mungkin papa tidak sampai menyemprotkan spermanya ke dalam vaginamu. Tapi jika sampai hal itu terjadi, mungkin papamu akan juga sekaligus menjadi kakek dari bayi itu.”

Setelah itu Jono kembali mengecup dalam-dalam bibir Winda lalu kembali menghampiri Lusi dan Dony.

Lusi sudah belajar banyak. Walau tidak sebesar Jono, penis Dony masih jauh lebih besar dari penis suaminya. Lusi sudah dapat menyesuaikan dirinya dan Dony dengan lancar menggenjot penisnya keluar masuk tenggorokannya. Beberapa kali Lusi tersedak namun semuanya dapat ia atasi dengan baik.

Genangan air liur berkumpul di lantai di bawah penis Dony. “Lebih baik bersabar dulu, Don. Kamu masih mau mencobai vaginanya, kan?”

Dony tersadar bahwa ia mungkin saja sudah cukup senang dengan menyemprotkan spermanya ke dalam tenggorokan Lusi namun kenyataannya mereka masih punya banyak waktu semalaman.

“Lusi, naik ke ranjang!” perintah Jono. Lusi menuruti perintah itu setelah melap mulutnya dengan punggung tangannya. Ia mulai merangkak naik ke atas ranjang. Jono meraih pergelangan kaki Lusi dan memposisikannya sehingga suaminya dapat melihat vaginanya dengan jelas.

Walau Winda tidak benar-benar berhenti menggeliat-geliat dalam duduknya, Jono melihat Winda senantiasa berusaha untuk duduk diam di atas pangkuan ayahnya sementara penis ayahnya terbenam di dalam vaginanya. Mata Winda menatap vagina ibunya lekat-lekat.

“Aku benar-benar suka dengan vagina yang mulus tak berbulu,” kata Jono memberi tahu. “Ia terlihat seperti anak kecil dengan payudara, bukan?" Memang vagina Lusi terlihat benar-benar menggoda.

Jono menjulurkan tangannya dan menyusupkan jari tengahnya ke dalam vagina itu. Jono sangat terkejut mendapatkan liang perempuan ini masih kering. Mungkin Lusi tidak menyukai perlakuan kasar seperti yang Jono kira. Atau mungkin Lusi takut terhadap apa yang kedua pria ini akan perbuat atas dirinya. Apapun penyebabnya masalah ini harus diatasi. Jono menginginkan vagina yang licin untuk dipakai.

“Kelihatannya kau perlu dipoles, Lusi. Aku tidak mau memakai vagina kering. Apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan dia, Don? Kau ada ide?”

Dony tahu Winda sejak tadi sudah memperhatikan vagina ibunya dengan seksama. “Mungkin anaknya bisa membantu,” kata Dony sambil tersenyum.

Ini merupakan ide yang bagus, pikir Jono. Mungkin memang benar bahwa Winda dapat membantu memecahkan masalah ini. Jono menghampiri Winda lalu mengulurkan tangannya kepada Winda. Walau tidak yakin apa yang sedang terjadi, Winda meraih tangan Jono.

Dengan perlahan Jono menarik Winda dari penis ayahnya yang berdenyut-denyut. Jono menatap mata Winda dalam-dalam. “Aku mau kau menjilati vagina mama kamu, Win.”

Winda tidak dapat mempercayai pendengarannya. Ia bukan seorang lesbian dan lagipula ini ibunya sendiri! Winda mulai menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergerak mundur.

“Ingat apa yang aku katakan tadi, Win. Aku tidak menerima bantahan. Kalau kamu tidak melakukannya, aku akan menyakiti papa kamu.”

Untuk membuktikan ucapannya, Jono menghampiri Ricky, mencengkram buah zakarnya lalu menariknya keras-keras. Ricky melolong sejadi-jadinya. Mendengar jeritan ayahnya, Winda menangis, “Stop. Aku akan menurut. Jangan sakiti dia!”

“Bangsat kalian!!” maki Ricky. “Kalian berjanji untuk membiarkan anakku!”

“Ah diam kau!” balas Jono. “Waktu tadi penismu berada di dalam pelacur ini kamu tidak protes sama sekali! Jadi tutup mulutmu!”

Mendengar Jono menyebut dirinya sebagai pelacur, hati Winda menjadi panas. “Aku bukan pelacur!”

Dengan senyum yang dingin Jono menatap Winda dan berkata, “Kamu akan menjadi pelacur malam ini. Ayo sekarang ke sana dan kerjakan apa yang aku perintahkan.”

Winda bukan perempuan murahan. Winda baru mengijinkan pacarnya meraba payudaranya setelah mereka berdua cukup lama berpacaran. Walau demikian ia tidak dapat memungkiri timbulnya perasaan yang berbeda saat berada di bawah tekanan kedua pria ini. Saat Jono memasukkan penis ayahnya sendiri ke dalam vaginanya, ia memang merasakan kenikmatan. Dan juga melihat vagina ibunya yang tercukur bersih membuat mulutnya berair.

Winda juga bukan seorang lesbian walau ia pernah mempunyai pengalaman dengan seorang perempuan. Sebenarnya itu bukan hal yang serius, hanya perbuatan yang sedikit di luar kendali. Kejadian itu terjadi saat Winda menginap di rumah temannya (perempuan). Mereka berdiskusi tentang bagaimana mereka berciuman dengan pacar-pacar mereka. Cerita demi cerita dan tanpa sadar berlanjut menjadi saling mempraktekkan ciuman itu. Jadi itu hanya sebatas saling berciuman dengan teman perempuannya.

Namun karena beberapa alasan, pemandangan vagina ibunya di hadapannya membuat Winda terangsang saat itu.

“Sudah saatnya kamu menanggalkan semua pakaianmu juga, Win,” kata Jono. “Lagipula, hanya kau yang masih mengenakan pakaian,” Jono menjelaskan.

Lusi langsung menyela, “Jangan! Biarkan dia. Kalian sudah berjanji!”

Jono mengayunkan tangannya ke wajah Lusi. Suara tamparan yang keras memenuhi kamar.

“Tutup mulutmu!” kata Jono, “Ini semua salahmu. Kalau vaginamu tidak kering, kita tidak perlu bantuan Winda, bukan?”

Lusi terisak. Tidak mungkin mengendalikan kedua pria ini. Mereka akan melakukan apa saja yang mereka inginkan dan satu-satunya harapan Lusi dan keluarganya hanya menuruti keinginan mereka agar mereka dapat melewati malam itu. Lusi tahu dalam hatinya bahwa tidak ada penghinaan yang dapat menghancurkan dirinya dan keluarganya. Namun saja, malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.

Dengan menjambak rambutnya, Jono menarik Winda mendekat ke pinggir ranjang. Lusi memandang putrinya dengan air mata bercucuran dan berusaha untuk menenangkannya. “Tidak apa-apa, sayang. Mama tahu kamu tidak punya pilihan lain. Kita akan melewati ini semua bersama-sama, oke?” Lusi memandang melewati bahu Winda dan pandangannya jatuh ke suaminya. Lusi melanjutkan, “Kita semua pasti bisa.”

“Aahhh, manisnya,” ejek Jono. “Bagaimana pemandangan dari sana, bung? Wah, tidak bisa seperti ini nih. Kepala Winda menutupi semuanya.”

Jono meraih kaki Lusi dan memutar tubuhnya menyamping sehingga vaginanya mengarah ke sudut ranjang. Sambil menuntun Winda mengitari ranjang, Jono bertanya dengan lantang, “Apakah kamu pernah mengoral vagina?”

“Tentu saja tidak!” kata Winda dengan suara yang hampir berteriak. “Aku bukan lesbian!”

Jono tersenyum. Winda mungkin bukan seorang lesbian tapi terlihat rasa haus yang tidak dapat ditutupi dalam tatapan Winda pada kemaluan ibunya yang mulus.

“Yah, kamu tidak perlu menjadi seorang lesbian untuk mengoral vagina. Semua perempuan melakukannya setiap saat. Memangnya kamu tidak pernah menonton film porno? Tugasmu sekarang adalah mempersiapkan mama kamu untuk menerima penisku. Gampang, bukan? Ayo pasang muka kamu di sana dan mulai jilati bibir vagina itu.”

Winda memandang ibunya dan berbisik, “Maaf, ma.”

Ibunya mengangguk dan menjawab, “Aku mengerti.”

Winda menatap vagina ibunya lalu menyentuh bibir kemaluan itu dengan tangannya. Lusi gemetar saat ia merasakan sentuhan itu. Winda merasakan lembutnya vagina Lusi.

“Bagus, Win,” Jono memberi semangat sambil mendorong Winda mendekat ke ibunya, “Ayo beri ciuman.”

Winda belum pernah berada sedekat ini dengan kemaluan perempuan selain dari miliknya sendiri. Wangi vagina ibunya lebih pekat dari vaginanya.

Wajah Jono berada tepat di samping telinganya dan berkata, “Cium seperti kau mencium aku tadi. Banyak pergunakan lidah… iya, begitu.”

Winda telah memulai tugasnya dan semakin lama terlihat semakin terbiasa.

“Usap klitorisnya dengan ibu jarimu… Jangan hentikan permainan lidahmu. Nah begitu. Permainkan ritme jilatan dan usapanmu,” lanjut Jono.

Ibunya terasa sedikit asin namun tidak sepekat wanginya. Winda menusuk vagina ibunya dengan lidahnya seakan mencari cairan yang menghasilkan wangi pekat itu.

Sementara itu tubuh Lusi tidak dapat menolak efek yang timbul atas apa yang dilakukan Winda. Lidah putrinya terasa sangat menakjubkan. Dan ibu jari Winda yang menari-nari pada klitorisnya mulai membuahkan hasil yang ditunggu-tunggu oleh kedua pria tersebut. Setelah beberapa saat meneruskan permainan lidah dan jarinya, Winda dihadiahi dengan rembesan cairan akibat dari vagina Lusi yang mulai melubrikasi.

Keheningan dalam kamar terpecahkan oleh suara berkecipak basah dari usaha Winda mengoral ibunya. Jono mengedipkan mata ke Dony lalu ia menuntun gerakan kepala Winda dari gerakan atas-bawah menjadi gerakan kanan-kiri.

“Masukkan jari tengahmu ke dalam vaginanya, Win. Pertemukan ibu jari dan jari tengahmu di antara dinding vaginanya,” perintah Jono. Perintah yang baru saja Jono berikan akan memberi efek terstimulasinya G-Spot Lusi.

Winda menuruti perintah Jono dan membuahkan hasil desahan lirih yang keluar dari mulut Lusi. Jono dan Dony tersenyum lebar ‘melihat’ hasil yang memuaskan mereka.

Kemudian Jono menjamah pantat Winda dan mulai mengelus, meraba, meremas bulatan pantat itu. Jono menyempatkan jarinya untuk menerobos masuk ke vagina Winda. Winda mengeluarkan lenguhan panjang akibat perbuatan Jono ini.

“Nah begitu, jilat terus. Dia semakin basah, kan, Win?” tanya Jono.

Winda menjawab dengan erangan. Wajah Winda yang belepotan basah merupakan bukti atas basahnya vagina Lusi. Vagina Winda yang memang sudah basah sejak tadi sekarang terasa panas membara lantaran permainan jari-jari Jono.

Jono memandang Ricky dan mendapati penis Ricky yang kecil sudah berereksi sampai besar yang maksimal. “Putrimu penjilat vagina yang hebat, bung. Mungkin kau bisa pergunakan sebagai modal di masa depan,” ejek Jono.

Ricky tidak dapat melepaskan pandangannya dari Winda yang sedang sibuk menjilati vagina istrinya. Dengan rambut yang menempel di wajahnya karena lepek oleh cairan vagina, kepala Winda bergerak maju mundur, kanan kiri, atas bawah menyerang vagina Lusi. Sementara itu jari-jari Winda tidak henti-hentinya menari-nari pada klitoris Lusi. Kedua wanita ini mengeluarkan desahan-desahan dari mulut mereka. Ricky dapat melihat dengan jelas cairan yang keluar dari vagina putrinya sementara Jono mengocok jari-jarinya keluar masuk tubuh Winda. Penisnya sendiri sudah sangat keras bahkan terasa menyakitkan karenanya.

Jono mendorong Winda ke samping dan kedua wanita itu mengeluarkan erangan seakan memprotes. Jono berlutut di antara paha Lusi dengan penisnya yang besar berdenyut-denyut seperti monster yang hidup.

“Bagus, Win! Vaginanya sekarang sudah basah, bahkan boleh dibilang: banjir!”

Jono menarik wajah Winda mendekat wajahnya lalu menciumnya. Segera saja ia dapat merasakan lidah Winda mencoba untuk melilit lidahnya. Jono dapat mencium dan merasakan vagina Lusi pada bibir Winda. Mengetahui bahwa dirinya yang mendalangi semua ini membuat dirinya terangsang. Jono menghentikan ciumannya lalu meraih tangan Winda dan meletakkannya di atas penisnya yang sudah mengeras.

“Mama kamu tidak terbiasa dengan penis sebesar ini. Mungkin kau bisa membantu dengan memasukkannya ke dalam vagina mama,” kata Jono.

Winda belum pernah memegang penis sebesar itu. Penis di tangannya terasa hidup bergerak-gerak, bahkan kelihatannya seperti sedang bernafas. Winda dapat merasakan denyutan konstan saat ia memegang penis itu. Ia tidak dapat menutup lingkaran penis itu dengan jari-jarinya dan penis itu terasa berat. Tatapan matanya tidak pernah lepas dari penis Jono. Dengan dituntun tangan Jono, Winda mulai mengocok penisnya. Cairan pelumas sebesar butiran mutiara akhirnya keluar dari kepala penis Jono lalu meleleh ke tangan Winda. Jono membantu Winda untuk mengoles cairan itu ke permukaan penisnya.

“Sekarang arahkan penisku, Win. Nah begitu, dorong masuk kepala penisku ke dalam vagina mama kamu.”

Penis itu terlihat sangat besar dibanding vagina ibunya yang kecil. Sudah pasti tidak akan muat. Winda mulai khawatir akan ibunya. Penis ini sudah pasti akan merobek vaginanya. Belum lagi kepala penis Jono masuk sepenuhnya, Winda dapat melihat ibunya sudah meringis menahan sakit. Jono mendorong pinggulnya agar penisnya masuk lebih jauh namun masih saja tertahan.

“Gila, Rick, perempuan ini rapat sekali! Sudah jelas dia tidak terbiasa bersanggama dengan penis ukuran pria tulen. Tapi jangan khawatir, dengan bantuan Winda semua pasti beres.”

Dalam keheningan tiap orang dalam kamar itu dapat mendengar suara seperti letupan lembut saat kepala penis Jono masuk menembus bibir vagina Lusi yang sudah terasa panas membara.

“Oh!” Lusi mendesah. “Pelan-pelan, penis ini besar sekali. Beri aku waktu untuk menyesuaikan diri,” kata Lusi lagi.

Pikiran Lusi berpacu. Ia merasa tubuhnya penuh terisi dan ia baru menerima kepala penisnya saja. Bagaimana mungkin ia dapat menerima seluruh penisnya masuk ke dalam tubuhnya. Sudah pasti tidak bisa.

Jono merasakan hangatnya dinding vagina Lusi membungkus rapat kepala penisnya. “Mainkan buah zakarku, Win. Nah begitu. Ya, seperti itu terasa enak.”

Buah zakar Jono sama besarnya dengan penisnya. Winda tidak dapat menggenggam keduanya dengan hanya satu tangan, namun tetap saja Jono menyukai pijatan tangan Winda yang mungil itu.

“Beri dia tambahan penis lagi Winda,” perintah Jono.

Winda menggenggam batang penis Jono dan mencoba untuk mendorongnya masuk lebih dalam lagi ke dalam vagina ibunya. Winda dapat mendengar ibunya mengerang menahan sakit, namun kebutuhan Jono tidak dapat diacuhkan. Ia telah sabar menunggu sejak tadi. Dan Jono ingin merasakan buah zakarnya menampar-nampar pantat Lusi sekarang.

Dengan menaruh seluruh berat badannya ke penis itu, Jono mendorong penisnya masuk lagi sekitar 3 cm. Jono menarik keluar batang kemaluannya sampai sebatas ujung kepala penisnya lalu menancapkannya masuk lagi lebih dalam 4 cm.

“Ayo, sudah setengah jalan,” kata Jono penuh kepuasan. “Aku tahu kau pasti bisa, Lusi!”

Setiap kali Jono menggenjot penisnya keluar masuk tubuh ibunya, Winda melihat semakin banyak bagian penis Jono yang terbenam masuk vagina tersebut. Ia sudah melepaskan tangannya dari penis Jono dan kini hanya terpekur melihat pemandangan itu tepat di depan mukanya.

Ibunya mendesah setiap kali Jono mendorong masuk penis itu dan pandangan Jono melekat pada titik pertemuan antara penisnya dan vagina Lusi. Dan dengan satu dorongan terakhir, tiap orang di dalam kamar itu dapat mendengar suara buah zakar Jono menampar pantat Lusi.

Jono menghela nafas dan menahan gerakannya. Ia membiarkan batang penisnya bermandikan hangatnya dinding vagina tersebut. Jono dapat merasakan dinding vagina Lusi seakan memijat-mijat penisnya seperti jari-jari kecil yang berusaha menarik penis itu masuk lebih dalam lagi.

Dengan menarik leher Winda, Jono membawa wajah Winda mendekat lalu menciumnya dalam-dalam sementara ia terus menggenjot penisnya keluar masuk tubuh ibunya. Saat ia merasakan tangan Winda menyentuh lehernya, Jono sadar bahwa ia sudah menang. Winda suka dengan hal seperti ini, sangat suka malah. Sekarang tangan Winda membelai rambut Jono sementara lidah Jono bergerilya di dalam mulut Winda.

Jono melepaskan ciumannya dengan Winda agar dapat lebih berkonsentrasi pada perempuan yang sedang disetubuhinya. Liang kewanitaan Lusi sangat rapat namun tubuhnya sudah melubrikasi demikian banyaknya. Dengan hentakan panjang dan keras Jono menggenjot panggulnya dan setiap kali mendorong penisnya masuk, Jono seakan memaksa udara keluar dari paru-paru Lusi. “Homph! Humph! Humph!”

Lusi sudah tidak lagi memberikan perlawanan, ia hanya membiarkan Jono melakukan tugasnya. Pantat Lusi bergerak-gerak dalam gerakan melingkar kecil yang membuat penis Jono menyentuh berbagai bagian dari vaginanya.

Lusi terus mendesah-desah sekarang dan tidak dapat dipungkiri ia sedang menanjak menuju klimaks. Vagina Lusi terasa sangat nikmat sehingga Jono juga merasakan perasaan yang berkumpul di buah zakarnya yang siap meledak dalam sebuah orgasme. Namun belum saatnya.

Jono menarik keluar penisnya dari dalam tubuh Lusi dan ia mendengar Lusi berbisik lemah, “Tidak…, jangan berhenti… Aku sudah hampir…”

“Jangan khawatir, Lusi. Kau akan mendapatkannya namun aku masih ingin bermain-main sejenak. Don, bantu aku. Beri perempuan ini penismu.”

(Bersambung)

Baca cerita sebelumnya « Bagian 1





8 comments:

  1. BEST INDONESIAN SEX STORY I'VE EVER READ! KEEP ON DOING THE GREAT JOB!

    ReplyDelete
  2. kok gak ada lanjutannya??????????????

    ReplyDelete
  3. ide ceritanya udh keren...dan cara menyadurkannya jg udh bgs....teramat disayangkan kalo berhenti disini aja

    ReplyDelete
  4. berapa kali gw masuk lgi kesini blum disambungin jg ceritanya............................

    ReplyDelete
  5. kapan sambungannya keluar ? Kok lama banget....

    ReplyDelete
  6. ini dilanjutkan lagi dong sist ceritanya kereen banget :D

    ReplyDelete
  7. Wah, seri sex force sudah lanjut nih, tapi seri tamu tak di undang favorit ane udah 9 tahun tidur nih. Kalau tidak sibuk di lanjut juga dong sist. :p

    ReplyDelete