Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Jun 24, 2010

Klimaks! (bagian satu)

Klimaks!
Ringkasan: Hubungan teman dan saudara dapat rusak oleh seks. Terutama jika 'dibantu' oleh seorang psikopat-seks.
Kode cerita: Blkm, humil, mF, non-con

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Adam: pacar Eva, kakak Agnes
* Eva: pacar Adam, adik Rika
* Bowo: pacar Agnes
* Agnes: pacar Bowo, adik Adam
* Hendra: kutu buku tetangga Eva
* Rika: kakak Eva


Cerita ini adalah modifikasi dari salah satu cerita favorit saya.
Enjoy...
===

Klimaks! (bagian 1)
modified by: VVN

Penglihatan Adam berangsur-angsur menjadi jelas. Ruangan di sekitarnya berputar-putar seperti komidi putar yang penuh cahaya. Pendengarannya pun kembali berfungsi saat otaknya memproses derit suara lampu neon dan deru suara kipas ventilasi masuk melalui telinganya. Otaknya mencerna apa yang sedang terjadi. Masih sore-kah saat itu? Adam tidak yakin.

Otaknya berusaha mengingat apa yang baru saja ia lakukan menit-menit sebelumnya.

Ia teringat sore tadi ia duduk di dalam mobilnya dan Eva duduk di sebelahnya. Eva adalah gadis primadona di sekolah yang sudah menjadi pacarnya sejak lama. Ia tidak habis pikir bahwa ia dapat menggaet gadis secantik Eva. Dengan rambut hitam yang panjang, kaos ketat dan payudara yang padat menantang, Eva adalah idaman hampir semua laki-laki di sekolahnya. Ia dapat dikategorikan sebagai gadis yang supel dan imut. Walaupun Eva mempunyai perangai yang jutek, kadang-kadang Adam berpikir bahwa Eva terlalu alim.

"Dimana mereka?" tanya Adam sambil celingukan mencari temannya di lapangan parkir.

Melihat orang yang tidak diharapkan menghampiri mobilnya, Adam menyerepet, "Sial! Eva, elu nggak ngajak dia, kan?"

Melihat wajah pacarnya yang cemberut, Eva mengangkat bahunya sambil mengedip-ngedipkan matanya dan memberikan tatapan memelas, berharap Adam mau memaafkannya.

"Sorry," senyum dengan rasa bersalah tersungging di bibir Eva. "Dia ga parah-parah amat, kok."

Laki-laki yang sedang mereka bicarakan itu melambai-lambaikan tangannya ke mereka dengan penuh semangat. Hendra adalah seorang kutu buku yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Eva. Ia mengusap rambutnya yang rapih tertata oleh minyak rambut dan mengenakan pakaian yang sama sekali tidak cocok untuk pergi clubbing.

"Bowo pasti ngamuk. Liat aja nanti," protes Adam. "Elu tau kan gimana sikap Hendra waktu ketemu sama Agnes."

"Aaah, sudahlah," hibur Eva sambil menggenggam tangan Adam. Pandangannya berubah menjadi serius saat ia bertanya, "Elu yakin ini bukan gara-gara elu yang terlalu over-protektif terhadap adik elu?"

Adam mendengus saat Hendra masuk ke dalam mobilnya. Ia baru saja berusaha menerima kenyataan bahwa adiknya berpacaran dengan Bowo. Mendapati cecunguk yang baru saja masuk ke mobilnya itu mempunyai minat yang sama terhadap adiknya benar-benar di luar batas jangkau pikirannya.

Tiba-tiba terdengar suara sorak di kejauhan. Dari kegelapan malam muncul Bowo dan Agnes bergandengan tangan. Bowo yang bertubuh besar merupakan anggota tim karate SMA-nya. Dibanding dengan Agnes yang bertubuh mungil dengan rambut yang dikuncir ekor kuda, Bowo terlihat seperti buldoser.

Adam keluar dari mobil lalu menjabat tangan temannya dengan erat. Bowo tersenyum lebar. Lalu ia melihat ke bangku penumpang di bagian belakang. Tidak perlu penjelasan apa-apa untuk mengetahui perasaan Bowo, cukup dari raut wajahnya yang berubah seketika itu juga. Terlebih lagi dengan umpatan yang keluar dari mulutnya, "Brengsek!"

Adam hanya bisa mengangkat bahunya tanpa daya. Adik perempuannya menambah garam di atas lukanya dengan berkata, "Ide yang bagus, Dam!"

Kembali ke dunia nyata dikelilingi oleh silaunya lampu, Adam kini dapat mengangkat kepalanya. Ia merasa seperti telah dilindas oleh truk. Otaknya terasa berputar di dalam tengkorak kepalanya. Terdengar suara lengkingan tinggi tak jauh darinya. Pandangannya yang masih kabur tidak memberikan gambar yang jelas namun ia tidak mungkin salah menerka suara tersebut.

Itu suara Rika! "Kenapa dia di sini?"

Lalu ia teringat.

Kelab malam yang mereka kunjungi memperbolehkan mereka masuk dengan mudah, tanpa ada prasyarat yang bertele-tele. Bahkan dengan remaja kutu buku yang terlihat seperti profesor matematika tua pun lolos tanpa masalah. Kelihatannya bisnis sedang sepi. Mereka berjoget dan berpesta dengan hati yang bebas. Eva terlihat sangat menawan, benar-benar cantik. Kakak Eva juga terlihat cantik dengan lekuk tubuh yang aduhai.

Saat itulah Rika bergabung dengan grup mereka.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Ada beberapa perempuan yang mempunyai aura seperti itu. Aura yang dapat membuat lelaki menoleh, yang membuat lutut pria-pria lemas. Saat Rika menghampirinya, Adam melihat banyak pria yang mengagumi tubuh Rika yang sensual. Rika adalah kakak Eva. Mereka berdua sangatlah berbeda dan sangat sulit menerima kenyataan bahwa mereka adalah kakak beradik.

Eva adalah perempuan baik-baik dan alim. Adam harus membual kepada teman-temannya tentang betapa panasnya aksi mereka berdua di atas ranjang. Itu karena setelah bertahun-tahun berpacaran, mereka belum pernah melakukannya. Sebaliknya dengan Rika, ia dapat dengan mudah memberikan daftar nama-nama pacar yang puas atas 'servis'nya.

Ditopang oleh dua kaki yang indah, Rika melempar senyum menggoda saat ia mendekati Adam. Eva mengencangkan genggaman tangannya pada Adam begitu melihat kakaknya datang mendekat. Reputasi kakaknya sebagai penggaet pacar orang sudah menjadi rahasia umum.

Dengan mata yang sedikit bersinar oleh rasa puas, Rika memiringkan kepalanya sedikit begitu melihat bahasa tubuh adiknya yang posesif. "Yang bener aja, Va?" celotehnya sambil bertolak pinggang, "Kaya gue bakalan rebut dia aja!"

Ia melempar tangannya ke depan dengan mencemooh, "Adam bukan tipe gue. Nggak usah khawatir, deh."

Setengah marah dan setengah tersinggung, Adam mendengus sambil memalingkan wajahnya dan mendapati mata Bowo sedang jelalatan memandangi tubuh Rika.

"Woy, goblok!" serunya sambil menyenggol keras bahu Bowo. "Mata elu seharusnya perhatiin adik gue, tau?!"

Bowo memalingkan wajahnya dengan tersipu malu. Adam tidak dapat menyalahkan Bowo sepenuhnya. Memang sulit untuk tidak tertarik pada perempuan cantik itu. Terlebih lagi kalau kau memacari adiknya.

Saat itulah dimana malam tersebut berubah menjadi mimpi buruk. Rika menampar seorang laki-laki. Tunggu, bukan! Bowo yang menampar laki-laki itu. Ah! Sial! Semuanya begitu kabur dan sulit untuk diingat.

Mereka berenam diusir keluar dari kelab malam tersebut. Tidaklah mudah memasukkan enam orang ke dalam mobil Adam yang kecil. Tubuh Hendra menindih Rika dan badan bongsor Bowo seperti gunung menjagai Agnes yang tertekan ke pintu mobil. Tidak heran bagi mereka saat polisi menghentikan mobil mereka. Adam teringat polisi itu mengendarai mobil polisi. Namun ia tidak begitu yakin. Ia memang ingat melihat lampu polisi berputar-putar tapi terlihat seperti berasal dari sebuah van.

Lengkingan Rika yang tinggi mengagetkan Adam. Ia merasa bahwa dirinya harus berlutut. Lalu pandangan matanya berangsur-angsur menjadi jelas. Tangan kirinya tergontai di atas kepalanya dan baru menyadari bahwa tangan itu terikat pada sesuatu. Pergelangan tangan kanannya terasa aneh dan bahunya berdenyut-denyut. Tak lama setelah itu ia menyadari bahwa dirinya telanjang bulat.

Suara-suara yang ia dengar kini semakin memenuhi kepalanya. Suara teman-temannya berkata-kata, menangis dan menjerit. Adam menarik nafas panjang dan akhirnya ingatannya kembali pulih. Ia ingat sosok samar-samar yang berdiri di samping kaca jendela mobilnya. Ia juga ingat gas bau yang keluar dari kaleng silinder memenuhi mobilnya.

Saat pandangannya mengelilingi seluruh ruangan itu, Adam merasa mual. Ia sadar bahwa takdir buruk sedang mengintip atas kehidupannya malam itu.

Mereka semua terkurung di dalam ruangan dengan tembok tanpa jendela.

Sebuah neon panjang menyinari ruangan itu dari atas. Sebuah pintu terbuat dari besi berada di salah satu sisi ruangan. Tembok beton dan panel-panel metal saling berpadu menjadikan ruangan itu terasa dingin dan angker. Adam dapat melihat kamera-kamera pengawas di beberapa lokasi. Lensa-lensa kamera itu berputar dan keluar masuk untuk menangkap apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu. Di salah satu sisi dinding, Adam melihat tulisan besar terpampang.

- Semua harus berpartisipasi -

- Semua harus mencapai puncak -

Adam mencerna semuanya dalam otak dan dalam waktu singkat ia mengerti. Butuh waktu berapa lama untuk kita menyadari bahwa kita sedang berada di cengkraman orang gila?

Di dinding sebelah kiri, terlihat kotak besar dan transparan setinggi 3 meter. Bahan transparant kotak tersebut mirip bahan yang dipakai untuk ruangan squash. Kotak itu memiliki pintu yang terkunci dengan beberapa gembok. Di dalam kotak itu terlihat Hendra yang juga bertelanjang bulat, berdiri dengan canggung. Dengan kedua tangan terikat di belakang, pergelangan kaki yang terikat menjadi satu dan mulut yang dipaksa seperti sedang menguap, Agnes tergolek di samping Hendra. Bola yang terbuat dari kulit terikat di dalam mulutnya, membungkam gadis muda ini. Setiap belenggu terkunci oleh gembok dengan 6 digit kombinasi angka.

Mata Agnes membelalak panik dan malu. Tubuhnya yang telanjang begitu indah dan ramping meringkuk di lantai di sebelah Hendra.

Hendra membuka matanya lebar-lebar melihat ke sekeliling kotak transparan itu. "Oh-ow...," keluar dari mulutnya, mengungkap rasa malu saat ia mendapati koleksi sex-toy sadomasochist tergantung di belakangnya.

Di seberang Hendra dan Agnes, di dinding sebelah kanan, Bowo dipaksa berlutut dengan kedua tangannya terbelenggu ke dinding di belakangnya. Belenggu di lehernya menahan tubuhnya dalam posisi itu. Ia meraung-raung marah. Ia dapat menggerakkan rahangnya namun terdapat dua pelat besi yang menahan kepalanya untuk menengok ke arah lain selain menghadap ke depan yaitu ke kotak transparan dimana Hendra dan pacarnya terkurung.

Bowo juga telanjang. Penisnya masuk ke dalam tabung transparan yang terpasang tepat di depan tubuhnya. Ia tidak dapat menarik keluar penisnya dari dalam tabung itu. Di ujung tabung itu terlihat tombol dengan kabel yang terhubung ke dinding.

Di tengah-tengah ruangan terlihat sebuah barel berbentuk setengah silinder menelungkup di lantai. Dengan panjang hampir 2 meter, barel itu terlihat seperti belahan gelondong batang pohon dengan sebuah lubang di tengah-tengah. Eva berlutut di samping barel dengan kedua tangannya bersilang menutupi payudaranya. Kaki kanannya terbelenggu oleh belenggu yang terikat pada rantai yang memungkinkan Eva untuk berjalan di sekeliling barel tersebut. Namun rantai itu tidak cukup panjang baginya untuk mencapai teman-teman di sekelilingnya.

Eva menatap pacarnya. Dada Eva bergerak naik turun. Dengan posisinya yang sedang berlutut, mereka dapat melihat lekuk tubuhnya yang seperti gitar itu.

Adam berada di dekat salah satu dinding dengan tangan kiri yang terbelenggu di atas kepalanya. Dengan tatapan penuh takut, Eva memandang pacarnya dan juga kakaknya yang sedang berteriak-teriak di belakang Adam.

Rika terbelenggu di sebelah Adam. Wanita cantik ini juga telanjang sama seperti yang lainnya. Pinggang dan kedua kakinya terbelenggu di atas pelat tebal terbuat dari besi yang seperti meja dengan derajat kemiringan. Kedua tangannya terikat erat di belakang tubuhnya. Pantatnya berada sedikit keluar dari ujung meja besi tebal itu.

Paha Rika terbuka dan membentuk sudut seperti huruf V. Pergelangan kakinya terbelenggu ke atas palang besi penahan kaki. Palang tersebut terhubung dengan semacam mekanisme mesin.

"Lepasin gue dari barang keparat ini!" teriak Rika.

Akan tetapi Adam tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat memandangi tubuh telanjang yang menggoda itu. Ia mendapati sebuah lingkaran besi seperti gelang yang terikat oleh sabuk kulit, terpasang tepat di depan vagina Rika.

Adam memandang tangan kanannya yang bebas bergerak. Pandangannya beralih ke Rika. Walaupun Adam dapat meraih pinggang Rika, namun tangan kanannya itu dibalut dengan erat oleh lakban dan karet sehingga membentuk gumpalan hitam dengan ujung yang mengecil. Jari-jarinya yang dibalut erat itu tidak dapat digerakkannya. Di pergelangan tangan kanan tersebut, Adam melihat lingkaran yang serupa dengan gelang besi di depan vagina Rika. Gelang di depan vagina Rika mempunyai 3 tonjolan metal di sekelilingnya. Ketiga tonjolan metal itu terhubung dengan kabel yang ujungnya masuk ke bawah meja besi itu. Adam juga mendapati 3 tonjolan metal di gelang besi pada tangannya.

Rika berteriak lagi dalam keputusasaan. "Shh.. tenang. Jangan teriak!" kata Adam berusaha menenangkan Rika.

Adam mencoba untuk mengerti atas apa yang sedang terjadi. Ia dapat melihat pacarnya berdiri di dekatnya tanpa busana, namun tidak dapat menolongnya. Ia melihat ke bawah ke tubuhnya dan mendapati kemaluannya dicat dengan warna biru gelap. Semua belenggu yang mengikat mereka mempunyai 6 kombinasi angka.

"Ya, Tuhan," gumam Eva, "apa-apaan ini?"

Bowo juga geram atas kondisinya. Pemandangan di hadapannya yang menampilkan pacarnya yang meringkuk tanpa busana di sebelah Hendra yang juga telanjang, membuatnya semakin emosi.

"Siapa nih dalangnya? Gue bakal bunuh tuh orang!" teriak Bowo. "Lepasin gue sekarang juga!" Lalu memandang ke kotak transparan di hadapannya (Bowo tidak punya pilihan lain selain memandang ke arah itu), ia menggeram, "Awas kalo elu sentuh pacar gue!"

Mendengar ancaman Bowo, Hendra melompat mundur dari usahanya untuk membuka belenggu Agnes. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue cuma mau lepasin dia, kok."

Bowo menyahut, "Nggak! Elu nggak bisa! Kecuali elu tau nomor kombinasi gemboknya! Elu tau nomornya?"

Hendra kembali menggelengkan kepalanya.

"Kalo gitu, pergi menjauh!" teriak Adam menyelesaikan argumen Bowo. Adam juga tidak senang melihat tangan Hendra berkeliaran di tubuh telanjang adiknya.

"Nggak usah urusin Agnes!" teriak Rika penuh cemooh. "Gimana dengan gue?"

Adam mengangkat bahunya tanda tak berdaya. Ia malu melihat pemandangan di depannya namun diam-diam juga menikmatinya. Bagaimana tidak? Kakak pacarnya yang seksi mengangkang di atas meja di hadapannya. Eva yang melihat mata pacarnya yang jelalatan ke atas tubuh kakaknya, mengeluarkan seruan yang tertahan, "Adam!"

Adam terkejut seakan terbangun dari lamunannya. Ia kembali berkonsentrasi melihat sekeliling ruangan. "Liat, di atas ada TV!"

"Hahaha, bagus! Berarti kita bisa nonton sinetron!" ejek Rika.

Tepat pada saat itu, TV itu menyala. Layar TV menampilkan latar belakang hitam dengan tulisan berwarna putih. Mereka semua menatap layar TV itu dan Eva membuka suara, membacanya perlahan-lahan.

"Penopang kaki akan membuka semakin lebar. 10 menit. Cepat, sebelum kakinya patah, buat koneksi."

Setelah itu layar TV padam.

Mereka semua terdiam untuk beberapa saat. KLANG! Mereka terkejut saat suara mekanisme mesin menggema di ruangan itu.

Mesin yang terhubung ke penopang kaki Rika mulai bergerak. Mekanisme mesin tersebut bergerak sedemikian rupa sehingga setiap 1 atau 2 menit penopang kaki tersebut tertarik cepat dengan tenaga yang besar ke arah luar. Paha Rika sedikit demi sedikit terbuka lebih lebar.

KLANG! Paha Rika terbuka lebih lebar lagi.

Rika berteriak. "Ya, Tuhan! Kaki gue! Mesin ini ngbuka kaki gue!"

Mereka berteriak-teriak. Adam melihat ke kolong meja besi itu dan melihat mekanisme mesin itu kembali membuka sekitar 2 cm lebih lebar. KLANG! Rika memekik penuh ketakutan.

"Gawat! Mesin ini bakal membuka total sampai ke ujung!" seru Adam.

"Kalo mesin itu nggak berhenti," seru Hendra dari kotak transparan, "kaki dia bisa patah kebuka oleh mesin itu!"

"Diam!" teriak Adam. Ia melihat sebuah ember di bawah meja besi itu. Dengan menggunakan kakinya ia menarik keluar ember tersebut. Ember itu terisi penuh dengan oli pelumas.

KLANG! Penopang kaki itu kembali membuka beberapa senti. Tubuh Rika merosot sedikit ke bawah saat kedua pahanya harus sedikit dibengkokkan. Hal ini menyebabkannya harus mengangkat pinggulnya ke atas. Gelang besi di depan selangkangannya ikut naik. Bibir kemaluannya yang tak berbulu seperti mata kucing dengan gelang besi itu sebagai lingkar matanya.

"Tadi disuruh untuk buat koneksi," kata Eva dengan lantang.

Adam memandang gelang besi di tangan kanannya. Tonjolan-tonjolan metal di gelang tersebut sama persis dengan tonjolan-tonjolan metal di gelang besi Rika.

Adam mendorong tangannya yang terbalut itu ke atas perut Rika. Gelang-gelang besi mereka saling berbenturan. Namun seberapa pun kerasnya usaha Adam, ia tidak dapat menempelkan 3 tonjolan metal di gelangnya ke tonjolan metal di gelang Rika secara bersamaan.

"Gue nggak bisa nempelin 3 tonjolan ini secara bersamaan." Lalu ia menatap ember yang berisi oli lalu berpindah ke telapak tangannya yang terbalut.

"Bangsat! Gue tau apa yang dia mau!"

KLANG! Penopang kaki itu kembali membuka beberapa senti.

"Aduh! Lakukan sesuatu! Cepat!" seru Rika dengan suara yang meninggi.

Lalu Adam menatap Eva yang berdiri dengan mata membesar dan mulut yang terbuka, tidak mengerti mengapa pacarnya terlihat begitu bimbang.

"Adam, ayo tolong dia," kata Eva memelas.

Hendra tiba-tiba menyadari apa yang harus Adam lakukan. "Gila! Adam, elu harus masukin tangan elu ke dalam meki Rika, baru habis itu elu bisa buat koneksi dari tonjolan metal itu!"

KLANG! Jeritan Rika kali ini bukan hanya karena pahanya yang terbuka semakin lebar namun juga karena mendengar penjelasan Hendra tadi.

"Tidak! Adam, bukan begi...," kata Eva terbata-bata melihat kakaknya yang mengangkang lebar dan semakin lebar setiap beberapa waktu.

"Stop! Jangan!" seru Rika. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia melihat ke Adam yang berdiri di depan selangkangannya. Adam mencelupkan tangannya yang terbalut itu ke dalam ember yang penuh oli. Mulut Rika menganga tanpa suara saat Adam mengoleskan balutan tangannya yang penuh oli itu ke bibir kemaluannya.

"Rika, gue nggak punya pilihan lain!" Adam mencoba memberi penjelasan. Rika masih menggeleng-gelengkan kepalanya namun mengerang saat mesin itu membuka pahanya lebih lebar lagi. KLANG!

"Ada apa? Apaan sih?" teriak Bowo yang tidak bisa melihat apa-apa karena kepalanya tertahan pada posisi itu. Sementara Eva, Agnes dan Hendra dapat melihat semuanya namun mereka tidak percaya apa yang mereka lihat.

"Oh, jangan, Adam," lirih Eva melihat balutan tangan pacarnya menekan kelopak vagina kakaknya.

Rika menggeram sambil mengatupkan giginya erat-erat. Rika meronta-ronta menunjukkan bahwa ia sependapat dengan adiknya.

"Jangaan! Bangsaaat! Stooooooop!"

Kedua paha Rika sudah terbuka lebar dan menyebabkan pantatnya sedikit naik seiring dengan berputarnya penopang kaki itu membuka sampai 360 derajat.

Rika merasakan balutan tangan Adam menekan masuk vaginanya dan saat ia mulai merasakan sakit di pangkal pahanya, ia baru menyadari bahwa ini mungkin merupakan satu-satunya harapan baginya.

"Dorong lebih dalem, Adam! Yang kenceng! Aaahhh!" seru Rika.

Adam mendorong dan menekan masuk balutan tangannya. Lelehan oli terkumpul di bibir kemaluan Rika saat kelopak itu tertarik masuk ke dalam. Otot bisep Adam menonjol keras saat Rika berteriak. Adam tidak dapat berhenti sekarang, ia tidak boleh membuang-buang waktu. Ia mendorong tangannya dengan sekuat tenaga.

"AAAAAAAAAHHHHH!" teriakan Rika menggema di ruangan itu. Eva menatap mereka berdua sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Hendra dan Adam mulai berereksi.

"Brengsek, luh!" geram Rika begitu tangan Adam meluncur masuk ke liang kewanitaannya yang panas. Ia merasa vaginanya seperti menelan pancang pagar. "Enak lu yah!? Aaaaahh!" Pandangan Rika bergerak ke bawah menemukan penis pacar adiknya yang dicat warna biru berdiri mengacung dengan bangga.

Dengan wajah memerah, Adam memutar lengannya sambil mendorong masuk lebih dalam. Mata Rika dan Adam saling bertatapan. Gigi Rika bergemeletuk menahan sakit sementara pahanya terus melebar.

Tonjolan-tonjolan metal di kedua gelang itu sudah hampir bersentuhan. Rika menyentakkan panggulnya maju ke depan sambil mengerang. Dan tonjolan-tonjolan metal itu saling menempel dan langsung saja mesin itu berhenti.

"Aw! Aw! Brengsek! Ooooohhhh..." Rika mengerang lagi. Kedua pahanya sudah membentuk sudut lebih dari 90 derajat dengan pantat yang sedikit terangkat untuk menyambut gelang besi di tangan Adam. Balutan tangan Adam masuk sepenuhnya ke dalam vagina Rika. Rika menggigit bibir bawahnya, mendesah panjang, "Nnnhhhhhhhh..." dengan bola mata terputar ke belakang.

Adam menghela nafas panjang. Lalu ia mencoba untuk menarik tangannya perlahan dari dalam Rika. Rika menahan nafasnya. Namun begitu tonjolan-tonjolan metal di gelang mereka tidak menempel satu dengan yang lainnya, mereka dapat mendengar dengung suara mesin yang kembali bekerja.

Rika berteriak panik. Sebelum bunyi "klang" berikutnya terdengar, Adam menekan tangannya sehingga tonjolan-tonjolan metal itu saling bersentuhan lagi. Rupanya ia harus menahan posisinya tersebut sampai semua ini selesai.

Nafas Adam terengah-engah penuh rasa lega. Ia menoleh ke pacarnya.

Eva juga terengah-engah sampai-sampai Adam dapat mendengar suara nafas Eva. Mesin itu sudah berhenti sekarang dan Bowo masih terus merengek, "Ada apaan sih? Kok nggak ada yang mau cerita nih?"

Jelas saja Eva tidak mau memberi tahu bahwa tangan pacarnya berada di dalam vagina kakaknya.

"Ooohh... Adam, elu...," desah Rika yang tidak tahu apakah dirinya harus berterima kasih atau sebaliknya. Adam baru saja menyelamatkan nyawanya.

Eva bergidik mendengar desahan yang sedikit diwarnai oleh kenikmatan itu. Hal ini menjadikannya begitu marah dan frustasi. "Aaaarrgggh! Kenapa? Ada apa sih sebenernya?"

Lalu Adam mendengar suara baru. "Sshhh..., tunggu. Dengerin deh. Mesinnya udah berhenti tapi bunyi desis apa lagi nih?"

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 2





5 comments:

  1. Kayaknya sudah komen, tapi kok gak nongol...
    Komen lagi dah, biar semangat yang nulis hehehehe...

    Bagus nih cerita, cuman 1 kekurangannya...
    Nanggu bgt booo....
    Hehehehe...

    Oiye, kalo bisa ada gambar dari ceritanya, soalnya ane agak binun membayangkannya hehehehe...

    Cepetannya lanjutannya, ane tunggu sebelon final World Cup hehehehe...

    ReplyDelete
  2. pake gambar? hmmm idenya boleh juga tuh, vengxi.
    final world cup tuh kapan yah? kayanya gue minggu ini bakalan nggak sempet nih. but i'll try my best.

    thank you yah atas supportnya. ^_^

    ReplyDelete
  3. Finalnya tgl 12 pagi tuh hehehehe...

    Kapan nih dilanjutin??
    Udah ane tungguin tiap hari nih hehehehe...

    ReplyDelete
  4. I'll try my best to post the ending before this saturday, deh.

    ttg gambar, gue musti cari temen yg bisa mengilustrasikan sesuai dgn keinginan gue. Mungkin akan lebih baik kalo dibikin jadi film. Film horror untuk dewasa, wuih....
    Ok, butuh 3 artis cowo + 3 artis cewe.
    Siapa yg kira2 cocok yah? ^_^

    ReplyDelete