Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Sep 11, 2010

Sex-Force 1

Nadia
Ringkasan: Seorang suami menanam alat canggih ke dalam tubuh istrinya dengan bantuan seorang dokter.
Kode cerita: dru, humil, MF, no-sex, non-con, toys

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia
* Doni: teman SMA Yusdi dan Nadia


Sex-Force 1
by: VVN

Nadia bekerja sebagai asisten manager di sebuah bank swasta. Walau bekerja di kantor yang sama, Yusdi berada di divisi yang berbeda dengan Nadia, istrinya. Meja kerja Yusdi hanya berjarak sekitar tiga meter dari mejanya. Kehidupan pernikahan mereka berdua sudah berjalan hampir tiga tahun. Mereka masih makan siang bersama beberapa kali dalam seminggu.

Beberapa waktu yang lalu, kantor mereka menyelenggarakan seminar mengenai pap-smear untuk para pegawainya. Melalui seminar ini panitia juga memberikan pemeriksaan pap-smear secara gratis. Nadia yang belum pernah melakukan pap-smear dalam hidupnya, pada awalnya enggan untuk ikut seminar dan pemeriksaan tersebut. Namun setelah beberapa kali dipaksa Yusdi akhirnya Nadia pun menyanggupinya.

Salah seorang dokter pembicaranya, dokter Doni, ternyata adalah teman Yusdi. Setelah selesai seminar Yusdi mengajak Nadia menghampirinya. Memang kebetulan mereka bertiga berasal dari SMA yang sama. Yusdi dan Doni dulu satu kelas sedangkan Nadia dua tahun ajaran lebih muda dari mereka. Setelah berpamitan dengan Nadia, Yusdi mengajak Doni mengobrol berdua saja sambil minum kopi di kantin. Ada beberapa hal penting yang ingin dibicarakan oleh Yusdi.

Seminar tersebut hanya memakan waktu satu hari sedangkan sesi pemeriksaan dilakukan pada keesokan harinya. Pap-smear merupakan pemeriksaan pada seorang wanita dengan memasukkan alat ke dalam vagina untuk mengambil sample yang kemudian dites dalam laboratorium. Kebanyakan wanita enggan melakukan pap-smear karena merasa risih.

Pada hari pemeriksaan, Yusdi dan Nadia duduk di ruang tunggu bersama pasangan suami istri lainnya. Setelah nama mereka dipanggil, mereka berdua masuk dan mendapati bahwa dokter yang akan melakukan pemeriksaan tak lain adalah Doni, teman mereka berdua.

Sebenarnya dalam pembicaraan mereka di kantin kemarin, Yusdi memang sudah meminta Doni untuk mengatur semuanya sehingga Doni yang melakukan pemeriksaan terhadap istrinya. Tentu saja Nadia tidak mengetahui hal ini dan Yusdi memang tidak berniat untuk memberitahu istrinya tentang hal ini karena ia telah menyusun rencana khusus untuk Nadia.

Setelah masuk ruangan periksa, mereka berdua dipersilakan duduk.

"Wah ternyata kita ketemu lagi nih, Don," kata Yusdi bersandiwara.

"Iya nih, ayo silakan duduk."

Nadia hanya tersenyum padanya sebelum duduk di bangku yang sudah disiapkan. Doni membuka pembicaraan dengan percakapan ringan untuk mencairkan suasana yang kaku. Setelah itu ia mulai menjelaskan (lagi) tentang pemeriksaan pap-smear ini.

"Ok. Sudah siap untuk pemeriksaannya?" tanya Doni kepada Nadia. "Nggak usah khawatir, pemeriksaannya nggak berlangsung lama kok. Saya siapin dulu yah alat-alatnya," kata Doni tersenyum pada mereka berdua sambil beranjak dari tempat duduknya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Setelah Doni keluar ke ruang sebelah, Nadia berbisik ke suaminya, "Yus, aku malu nih… Dulu kita kan satu sekolah…"

"Lho kenapa malu? Kan dia udah jadi dokter sekarang?"

"Aduh… ya, bagaimana yah?… Pokoknya aku risih nih, Yus… Tadinya teman satu sekolah, sekarang aku harus diperiksa sama dia."

"Tapi sekarang kan dia seorang dokter, udah jadi profesional. Lagipula…, " kalimat Yusdi terputus karena Doni sudah kembali ke dalam ruangan.

"Yuk, kita ke sebelah," ajak Doni.

Ruangan sebelah tidak berbeda dari ruangan dokter pada umumnya. Berwarna putih terang, bersih dan tercium sedikit bau obat. Di tengah ruangan itu terdapat tempat duduk hitam yang terlihat sangat nyaman.

"Nadia, silakan tanggalkan semua baju kamu di ruangan itu," kata Doni sambil menunjuk ruangan kecil di pojokan. "Setelah itu silakan pakai gaun khusus yang sudah kita sediakan di ruangan itu."

Dengan enggan Nadia bergerak menuju ruangan ganti itu. Setelah mengganti pakaiannya dengan gaun khusus tersebut, Nadia dipersilakan duduk di kursi hitam itu. Yusdi duduk di samping di hadapan Nadia.

Doni kemudian duduk di kursi bundar tepat di depan Nadia. Lalu ia mengenakan sarung tangan karet yang biasa dipakai para dokter pada saat melakukan pemeriksaan. Nadia merasa canggung duduk dengan hanya mengenakan sehelai gaun tanpa mengenakan BH dan celana dalam di hadapan Doni.

"Rileks yah, Nad. Jangan tegang. Sekarang taruh kaki kamu di tempat pijakan ini, " katanya sambil menunjuk pijakan kaki dari kursi hitam tersebut.

Nadia agak ragu untuk menggerakan kakinya lalu Doni membantu meletakkan kakinya di pijakan itu. Kini Nadia duduk dengan kedua kakinya mengangkang di hadapan Yusdi dan Doni (terutama di hadapan Doni). Wajah Nadia bersemu merah karena malu.

Doni mengambil alat yang sangat mirip dengan cotton-bud dari sampingnya lalu mengoleskannya dengan sejenis gel. Nadia melihatnya dengan hati yang berdebar. Perutnya mulai mulas karena grogi.

Di luar sepengetahuan Nadia, gel tersebut tak lain adalah obat perangsang yang Yusdi berikan kepada Doni untuk dipakai dalam pemeriksaan. Rencana "A" tahap pertama yang telah mereka sepakati adalah mengoleskan gel tersebut di sekeliling dinding vagina Nadia.

"Nah, saya akan gunakan alat ini untuk mengambil sampel dari dinding vagina kamu. Sekarang saya akan memasukkan alat ini ke dalam. Kamu jangan tegang yah, Nad…", kata Doni berpura-pura.

Dengan gerak yang profesional, Doni menyingkapkan gaun yang dipakai Nadia sehingga kemaluannya terpampang jelas di hadapan mereka berdua. Dan sudah pasti Doni yang berada di barisan depan dapat melihat dengan lebih jelas. Telapak tangan kiri Doni diletakkan di paha kanan Nadia sedang tangan kanannya yang memegang alat tersebut mulai mendekati vaginanya. Detak jantung Nadia kini semakin keras dan cepat.

Beberapa detik setelah itu alat tersebut sudah masuk ke dalam liang kemaluan Nadia. Doni memutar-mutar sedikit alat itu. Setelah beberapa saat ia kemudian mengeluarkannya. Nadia tampak terengah-engah karena ia menahan nafasnya sementara alat itu masuk ke dalam tubuhnya. Wajahnya bertambah merah.

"Wah… kamu terlalu tegang nih, Nad. Coba lebih rileks lagi yah. Saya akan mengulang pemeriksaannya," kata Doni dengan wajah sedikit merengut.

Nadia menjawab dengan anggukan. Sesekali ia melirik ke arah Yusdi yang dibalasnya dengan senyuman. Nadia memang merasa dirinya tegang sehingga tidak curiga terhadap semuanya ini. Bahkan ia merasa bersalah karena ketegangannya menyebabkan Doni harus mengulang pemeriksaan tersebut.

Setelah mengoleskan lebih banyak lagi gel tersebut ke alat yang seperti cotton-bud itu, Doni menyelusupkan alat itu ke dalam vagina Nadia dengan perlahan. Nadia memejamkan matanya. Alisnya berkerut dan bibirnya menjadi tipis karena dirapatkan erat-erat. Doni memutar-mutar lagi alat itu. Kali ini lebih lama beberapa detik.

Setelah mengeluarkan alat itu Doni mengeluh, "Yahhh,… bagaimana ini… kamu kok masih tegang aja nih, Nad?" Doni terdiam sejenak. Kemudian ia berdiri di samping Nadia yang sudah tersengal kehabisan nafas.

"Ok gini deh, saya kasih kamu waktu untuk menenangkan diri dan rileks. Coba pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Bisa ya, Nad?" kata Doni tersenyum sambil menepuk bahunya.

Nadia menjawab sesuatu tapi tenggorokannya kering sehingga tidak terdengar suara apa-apa. Pada saat ia mengangguk untuk menjawab, Doni sudah bergerak keluar ruangan.

Sebelum keluar ruangan Doni mengedipkan matanya pada Yusdi memberi kode bahwa semuanya berjalan lancar. Yusdi menghampiri istrinya dan menanyakan keadaannya.

"Aduuhh… aku malu sekali, Yus. Pikiranku berkecamuk, membayangkan Doni yang adalah kakak kelasku di SMA, sekarang melihat bahkan menyentuh kelaminku. Rasanya ingin menghilang saja ditelan bumi. Aku grogi sekali nih, Yus," katanya dengan nafas tersengal.

Yusdi tidak menjawab. Yusdi hanya memandangi matanya lalu memperhatikan wajah istrinya. Dari dahi dan lehernya kini mulai keluar butir-butir air keringat. Kedua pipinya sudah sangat merah. Leher dan sekitar dadanya pun mulai merona merah. Oho, obat perangsang tersebut sudah mulai bereaksi pada tubuh istrinya, pikirnya.

Yusdi ingin mengetahui apakah Nadia akan mengatakan bahwa ia mulai merasa terangsang. Tapi Yusdi tidak mau menanyakannya secara langsung kepadanya.

"Jadi, sekarang perasaan kamu cuma malu, yah?" Yusdi memberi pertanyaan umpan.

Nadia terdiam beberapa saat. Setelah itu ia mengangguk pelan. Tampak ada keraguan pada saat ia mengangguk. Sebenarnya pada awalnya, ia benar-benar hanya merasa malu dan risih. Bahkan setelah Doni memasukkan alat itu pun, ia hanya merasa malu saja. Namun beberapa saat setelah alat itu dikeluarkan Doni, Nadia merasakan birahinya mulai mendaki perlahan namun pasti.

Dan saat alat itu berada di dalam tubuhnya untuk kedua kalinya, Nadia harus menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan erangan akibat sensasi yang ia rasakan dari alat itu yang berputar-putar di dalam vaginanya. Ia harus berkonsentrasi agar dorongan seksualnya tidak menguasai dirinya saat ini. Namun tentu saja semua itu sia-sia. Semua ini berkat gel obat perangsang yang disiapkan Yusdi.

Nadia merasa malu. Akan tetapi kali ini ia benar-benar malu atas dirinya yang menjadi terangsang karena seorang dokter, yang merupakan bekas kakak kelasnya, melakukan pemeriksaan pap-smear terhadapnya.

Ia tidak tahu kenapa ia bisa menjadi seperti ini. Nadia sama sekali tidak curiga terhadap suaminya yang telah bersekongkol dengan Doni.

Nadia memang agak tertutup terhadap hal-hal yang berbau seks. Selain itu Nadia juga sulit terangsang. Ia bahkan tidak pernah merasakan orgasme dalam hidupnya. Dan ia memang tidak perduli atas semuanya itu.

"Jadi, sekarang perasaan kamu cuma malu yah?" Yusdi mengulang pertanyaannya.

Sebelum sempat menjawab, Yusdi menambahkan, "Takut? Atau sakit?"

Nadia hanya menggelengkan kepalanya. Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Rupanya Nadia tidak mau mengakui kalau ia sedang terangsang saat ini. Yusdi membiarkan istrinya mengatur nafas agar lebih tenang dan rileks. Dan kelihatannya Nadia mulai bisa mengatasi rangsangan yang diakibatkan oleh gel obat perangsang itu.

Kemudian pintu terbuka dan Doni memasuki ruangan itu. Senyumnya menghias wajahnya yang bersih. "Sudah siap?" tanyanya.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Doni duduk lalu mengambil gel itu lagi. Kali ini gel itu tidak ia oleskan ke alat seperti cotton-bud itu, melainkan di sepanjang jari-jari tangannya. Dan Doni sudah tidak memakai sarung tangannya lagi. Nadia tidak melihat semuanya itu.

Sejenak sebelum berbalik ke arah Nadia, Doni melirik Yusdi untuk meminta persetujuan apakah ia harus melanjutkan rencana yang sudah mereka sepakati kemarin. Yusdi memberi kode dengan kedipan. Rencana "A" tahap ke-2 akan dimulai.

Yusdi berdiri di samping Doni agar dapat melihat semua yang dilakukannya terhadap istrinya.

"Rileks yah, Nad," Doni mengingatkan Nadia sekali lagi. "Pikirkan hal-hal yang menyenangkan dan menenangkan."

Nadia menarik nafas panjang. Belum sempat Nadia melepaskan nafasnya, Doni mulai mengusapkan jari tengahnya ke sepanjang bibir vagina Nadia.

Nadia tersentak kaget. Ia menatap Doni dengan pandangan tidak percaya. Doni terus mengusap-usapkan jarinya ke kelopak vaginanya menghiraukan tatapan Nadia. Nadia tidak berkata apa-apa untuk memprotes perbuatan Doni ini.

Nadia ganti memandangi Yusdi untuk mencari dukungan. Ia hanya mendapati Yusdi memandanginya dan menggerak-gerakkan bibirnya seperti mengucapkan: "Rileks… rileks…"

Nadia semakin takut, bingung dan malu. Ia berusaha untuk bangkit dari tempat duduknya. Yusdi mengusap-usap tangan Nadia agar tenang. Akhirnya Nadia pun pasrah dan duduk lagi. Ia berpikir mungkin ini prosedur umum yang dilakukan Doni agar dirinya bisa menjadi rileks dan menyelesaikan pemeriksaan ini.

Nadia memejamkan kedua matanya. Nafasnya makin lama makin berat dan cepat. Keringatnya mulai jatuh mengalir dari sisi-sisi wajahnya.

Yusdi melihat jari-jari Doni semakin gencar memainkan bibir kemaluan istrinya. Gel yang dioleskan di jari-jari Doni telah hilang semua menempel di kemaluan Nadia.

Berkali-kali Nadia harus membetulkan posisi duduknya. Kedua tangannya mencengkram erat pegangan pada kursi hitam itu. Mulutnya sedikit terbuka, membantu keluar masuk nafasnya yang memburu.

Kemudian dengan amat sangat perlahan, Doni menyelusupkan jari tengahnya masuk ke dalam liang kewanitaan Nadia. Kepala Nadia sedikit terangkat dan matanya membelalak memandangi langit-langit. Pada saat jari Doni masuk dengan sempurna, mulut Nadia mengeluarkan sebuah desahan pendek, "Unghhh!" namun cukup keras sehingga sulit untuk diabaikan oleh mereka bertiga.

Tubuh Nadia mengkhianati dirinya sendiri. Walau berusaha agar tidak terangsang, tubuh Nadia tidak berdaya untuk tidak menikmati tiap sentuhan Doni yang membakar minyak birahi yang sudah menggelora dalam tubuhnya. Belum pernah ia merasa terangsang sehebat ini.

Walau mendapati perlawanannya terhadap gejolak birahi dalam tubuhnya tidak membuahkan hasil apa-apa, Nadia terus berusaha untuk tidak menunjukkannya kepada Doni dan Yusdi. Tentu saja usahanya sia-sia.

Kedua puting susunya sudah tegak menonjol jelas terlihat dibalik kain gaun yang dipakainya itu. Wajah dan lehernya sudah benar-benar merah, they’re totally red!! Keringat yang membasahi kening dan lehernya, serta nafas yang berat dan tak beraturan menambah jelas bahwa Nadia berada dalam kondisi sangat terangsang.

Doni membiarkan jari tengahnya bersemayam di dalam vagina Nadia beberapa saat. Ia merasakan seluruh dinding kemaluan Nadia berdenyut memijit-mijit jarinya. Doni memutar-mutar jarinya sambil menggerak-gerakkannya di dalam liang yang sudah sangat basah itu.

Melihat hal ini langsung saja kemaluan Yusdi melompat dan mengeras sekeras batu. Jantungnya pun mulai berdebar-debar melihat istrinya dirangsang oleh temannya sendiri. Sementara kemaluan Doni sudah menegang sejak Nadia duduk mengangkang di hadapannya.

Doni dan Yusdi berteman baik di SMA. Doni menghormati Yusdi sebagai teman sehingga ia tidak mencoba untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menurut perjanjian Doni hanya diperbolehkan memasukkan jarinya ‘sebentar’ saja.

Jadi setelah hampir dua menit jarinya melanglang buana di dalam liang kemaluan Nadia, Doni mengeluarkan jarinya (yah, setidaknya dua menit masih masuk dalam kategori sebentar, pikir Yusdi). Setelah itu Doni membuka laci dekat tempat ia duduk dan mengambil sesuatu. Sementara itu, Nadia membuka matanya dan terlihat kedua matanya berair. Nafasnya masih belum teratur.

Kini saatnya rencana "A" tahap ke-3. Doni menaruh suatu benda berwarna perak di ujung jari tengahnya. Ukuran benda itu tak lebih besar dari sebutir beras. Nadia tidak sempat melihat semuanya itu dan ia kembali terkejut pada saat Doni berkata, "Satu tahap lagi yah, Nad."

Bersamaan dengan kalimat itu Doni memasukkan kembali jari tengahnya jauh ke dalam vagina Nadia yang masih berdenyut-denyut itu.

Serta merta Nadia terlonjak dan mendesah sangat kencang, "Ooohhhhhh…"

Rupanya tanpa disengaja jempol Doni menekan klitoris Nadia sehingga ia merasakan dirinya seperti tersengat listrik. Kedua matanya dipejamkannya erat-erat dan tangannya mencengkram keras pegangan pada kursi. Kepalanya tertarik ke belakang serta dadanya membusung ke depan dan mulutnya membentuk huruf "O" walau tak mengeluarkan suara apa-apa.

Nafas Nadia kini menjadi terputus-putus dan keluar masuk dengan cepat melalui mulutnya. Kemudian suara Doni mengakhiri semua itu, "Ok. Selesai sudah."

Dengan nafas terengah-engah, Nadia mencoba mengembalikan segenap jiwa raganya yang seakan terbang melambung tinggi. Setelah itu ia bergegas menuju ruang ganti untuk menukar pakaiannya.

Yusdi tersenyum puas pada Doni. Doni juga balas tersenyum.

"Wah-wah-wah… sorry yah kalo saya tadi sempat terbawa suasana. Kalau berhadapan wanita secantik Nadia memang susah untuk mengendalikan diri." kata Doni setengah berbisik.

"Oohh, nggak apa-apa kok, Don. Aku memaklumi semuanya. Toh kamu masih laki-laki normal. Thanks yah atas bantuannya," bisik Yusdi.

"Ah, kamu, Yus. Sama sama deh. Saya juga berterima kasih karena sudah diberikan ‘hiburan sesaat’," sanggah Doni. "Boleh sering-sering deh, Yus. Hahaha…"

Mereka berdua tertawa pelan sambil keluar ruangan. Setelah itu Yusdi menunggu istrinya di ruang tunggu. Setelah Nadia keluar dari ruangan, Yusdi menghampirinya dan merangkulnya.

"Ayo kita pulang, Nad."

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya « Bagian 2





2 comments:

  1. Wadoh... Bener-bener dah menggantung bgt... Jadi gak crot-crot dah wkwkwkwkwkwk...

    ReplyDelete
  2. Hahaha.... kadang fase arousal lebih mengasyikkan dibanding fase orgasme. :)
    Mungkin baru bisa crot-crot di bagian ke 3 atau ke 4 kali.

    ReplyDelete