Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Sep 17, 2010

Sex-Force 3

Nadia
Ringkasan: Salah seorang bawahan Nadia menggunakan kesempatan dalam kesempitan atas Nadia di kantor.
Kode cerita: mastrb, non-con, toys

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia
* Joko: bawahan Nadia
* Irfan: bawahan Nadia


Sex-Force 3
by: VVN

Pagi ini Yusdi sudah menyiapkan rencana "C". Nadia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna kuning pucat yang dipadukan dengan rok pendek terbuat dari kain yang lembut berwarna coklat gelap. Dua buah kancing kemejanya yang paling atas dibiarkannya terbuka. Singkat kata, Nadia terlihat cantik dan seksi.

Tepat sebelum mereka masuk ke dalam mobil, Yusdi menyalakan remote Sex-Force® lalu memutar tombolnya sampai ke rating 2 dan lampu indikator berubah dari hijau menjadi kuning.

Sepanjang perjalanan Yusdi mengajak Nadia mengobrol sambil memperhatikan kalau-kalau ada perubahan atau reaksi pada istrinya. Sampai mereka berpisah di pintu kantor (karena Nadia ke WC terlebih dahulu), Yusdi tidak melihat adanya reaksi apa-apa pada diri Nadia.

Setelah makan siang Yusdi terus memperhatikan Nadia di meja kerjanya. Seorang bawahannya yang bernama Irfan memanggilnya untuk melakukan otorisasi pencetakan laporan.

Irfan bekerja satu tahun lebih lama dari Nadia. Namun karena menunjukkan kinerja yang lebih baik akhirnya Nadialah yang dipromosikan menjadi asisten Manager. Irfan sejak masih SMA sudah bekerja magang di kantor. Selain itu latar belakang pendidikan antara mereka berdua juga berbeda. Nadia adalah lulusan S1 (jurusan Teknik Industri) dari universitas terkemuka di Jakarta sedangkan Irfan hanyalah lulusan D3.

Seperti biasanya menjelang sore unit kerja Nadia harus mencetak laporan-laporan. Nadia harus melakukan cek ulang atas laporan-laporan tersebut sebelum dicetak. Unit kerja Nadia terdiri dari seorang Manager (Pak Ardi), Nadia sebagai asisten manager, Irfan, Joko, Rini dan Maria.

Nadia menghampiri meja Irfan yang tak jauh dari mejanya. Ia berdiri di samping Irfan yang duduk di sebelah Rini. Lalu Nadia membungkuk dan memperhatikan layar monitor komputer di depannya sambil sesekali menggunakan mouse untuk memeriksa laporan yang akan dicetak itu.

Joko, yang duduk tepat di seberang Irfan, berdiri dari tempat duduknya. Matanya segera jatuh ke bagian dada Nadia yang sedang membungkuk itu. Sambil berpura-pura mencari dokumen di tumpukan di depan mejanya, mata Joko terus memperhatikan bukit dada Nadia dari atas. Hal ini tak lepas dari pandangan Yusdi yang sejak tadi memang memperhatikan istrinya dari meja kerjanya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Joko sudah menikah selama sepuluh tahun namun demikian ia menyukai Nadia, secara seksual. Tanpa sepengetahuan Nadia, Joko sering memandanginya dan menelanjanginya dengan matanya. Kadang pikiran Joko melayang membayangkan hal-hal cabul dengan Nadia. Dan Joko memang sering mencuri-curi pandang untuk melihat payudaranya melalui sela-sela kancing kemeja Nadia. Namun kali ini ia mendapat sudut pandang yang lebih memuaskan.

Kurang lebih selama lima menit, Joko puas memandangi payudara Nadia melalui kerah bajunya yang dua kancingnya tidak dikancing itu. Terlebih lagi posisi Nadia sedang membungkuk, membuat payudaranya yang terbungkus BH berwarna krem itu terlihat sangat jelas oleh Joko. Beberapa kali terlihat Joko membetulkan posisi ‘adiknya’ yang mulai membesar itu.

Yusdi mengeluarkan remote Sex-Force®. Tombolnya masih menunjukkan pada level 2. Lalu ia memutar tombol itu sampai pada level 4. Lampu indikator berubah menjadi jingga.

Tidak beberapa lama setelah itu, Nadia pasti mulai merasakan dampak alat itu karena ia terlihat sedikit cemas. Matanya masih berkonsentrasi pada monitor komputer, namun pikirannya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Lalu ia mendongakkan kepalanya. Wajah Joko tepat berada di hadapannya. Nadia mendapati mata Joko sedang menikmati belahan dadanya. Joko yang tertangkap basah sedang memandangi dada Nadia segera membuang pandangannya ke tempat lain lalu duduk dan pura-pura kembali bekerja.

"Dasar hidung belang," pikir Nadia kesal sambil membetulkan kemejanya agar tidak menggantung seperti tadi.

Lalu Nadia melanjutkan pemeriksaan laporan di komputer Irfan. Wajah Nadia bersemu merah dan lama kelamaan terlihat semakin merah. Pada awalnya Yusdi mengira pipinya memerah karena marah terhadap Joko. Tapi lama kelamaan Yusdi menduga ini dikarenakan Sex-Force® sudah bereaksi pada tubuhnya.

Yusdi meninggalkan meja kerjanya sambil membawa gelasnya. Ia berpura-pura menghampiri dispenser air minum di dekat Nadia berada, agar dapat melihat lebih jelas kondisi istrinya.

Nadia pun mulai tersadar akan kondisi tubuhnya itu. Wajahnya terasa panas. "Malukah atau karena kesal terhadap sikap Joko yang kurang ajar tadi?" pikirnya dalam hati.

Nadia menjadi tidak dapat berkonsentrasi lagi. Jantungnya berdebar-debar, dadanya terasa sesak dan nafasnya menjadi berat.

"Oh tidak! Jangan sampai terjadi lagi pada diriku. Ada apa denganku belakangan ini?" teriaknya dalam hati.

Karena Yusdi telah menyalakan Sex-Force® pada rating 2 sejak pagi tadi (yang berarti telah menyala selama hampir lima jam), hal itu membuat tubuh Nadia menjadi lebih mudah dibawa masuk ke tingkat rangsangan yang lebih tinggi. Saraf-saraf penerima rangsang seksual pada tubuhnya menjadi lebih rileks dan lebih peka. Jadi pada saat Yusdi menaikkan ratingnya menjadi 4, tubuh Nadia sudah lebih mudah terangsang.

Nadia melirik ke arah Joko untuk melihat apakah ia masih mencuri pandang untuk melihat dadanya. Nadia seakan hendak menjadikan Joko sebagai kambing hitam atas kondisinya saat itu. Namun ia mendapati Joko sedang tidak berada di tempat. Dengan agak kecewa ia terus berusaha mencari penyebab kondisinya saat itu.

Tentu saja Nadia tidak dapat menemukan penyebabnya. Sekarang ia harus berkonsentrasi untuk menahan deru nafasnya yang memberat itu. Jika tidak, Irfan yang duduk tepat di sebelahnya akan bertanya-tanya. Dan tampaknya usaha Nadia cukup berhasil.

Setelah mengisi gelasnya dengan air, Yusdi menghampiri temannya yang duduk di sekitar Nadia. Ia berpura-pura mengobrol dengannya sambil sesekali memperhatikan istrinya yang sedang dilanda gelombang ombak birahi yang semakin meninggi.

Sambil berdiri dan tangan kirinya memegang gelas yang sudah penuh terisi itu, Yusdi memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Ia meraba-raba remote Sex-Force® itu sambil terus mengobrol dengan temannya itu.

Setelah menemukan tombol pengatur pada remote tersebut, Yusdi memutar tombol itu 3 level lebih tinggi. Berarti saat ini tingkat rating Sex-Force® dalam vagina Nadia sudah mencapai level 7.

Serta merta dari mulut Nadia keluar lirihan yang panjang dan bergetar. "Oooohhhhhh..." Tangannya sudah tidak memegang mouse lagi melainkan kedua tangannya kini harus digunakannya untuk menopang tubuhnya. Kepalanya tidak lagi menghadap ke monitor melainkan sudah terkulai lemas menghadap ke lantai. Rambutnya menutupi wajahnya dari samping. Punggungnya yang sedikit membungkuk itu terlihat naik turun terengah-engah.

"Bu… ada apa, Bu?" tanya Irfan bingung.

"Hhhh… nnhhhh… hhh… ohhhhh…" tidak ada kata-kata yang dapat keluar dari bibir Nadia karena ia hanya mampu mengeluarkan lirihan pelan dari mulutnya. Selain itu ia juga tidak tahu harus menjawab apa.

Betapa malunya Nadia mendapati dirinya berdiri di sebelah bawahannya, terangsang begitu rupa sampai birahinya mengambil alih kuasa atas tubuhnya sendiri. Ia terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menutupi dampak birahi ini sampai-sampai kedua tangannya bergetar.

Yusdi tertawa kegirangan dalam hatinya. Dengan tenang ia meninggalkan temannya itu dan kembali ke meja kerjanya. Setelah menaruh gelasnya, Yusdi keluar ruangan menuju WC.

Rini dan Irfan yang berada di samping Nadia kebingungan melihat atasannya itu. Namun tidak ada yang dapat mereka lakukan selain berulang-ulang menanyakan keadaan Nadia.

Leher dan kening Nadia mulai berkeringat. Karena tenaganya terkuras untuk menahan birahi yang bergolak dalam tubuhnya, Nadia merasakan lututnya semakin lemas dan kepalanya seperti berputar-putar.

Dan pada saat jari-jari Irfan menyentuh lengannya, Nadia merasakan tubuhnya seperti dilalui aliran listrik bertegangan tinggi.

"Auh!" pekiknya pelan.

Setelah itu Nadia merasa lututnya berubah menjadi agar-agar. Serta merta Nadia ambruk ke lantai dengan nafas yang memburu.

Rini, Irfan dan Maria sangat terkejut melihat Nadia ambruk yang seakan tiba-tiba kehilangan seluruh tulangnya. Joko yang baru kembali ke tempatnya pun terkejut melihat Nadia jatuh. Namun ia lebih sigap dari mereka bertiga.

Joko berlari mengitari mejanya dan mendorong Irfan yang berdiri menghalangi ke sampingnya. Secepat kedipan mata, Joko sudah berlutut di depan Nadia. Lalu ia menyusupkan kedua tangannya dari belakang punggung Nadia ke bawah ketiak Nadia untuk menariknya.

Dasar lelaki hidung belang, Joko menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini untuk meraba payudaranya dari kedua sisi dada Nadia. Maria, Rini maupun Irfan sama sekali tidak menyadari perbuatan Joko ini. Pikiran mereka sudah tertegun atas insiden ini. Walau Joko meraba hampir sepenuh bulatan payudaranya, Nadia tidak benar-benar dapat merasakannya karena saat itu ia sedang dalam kondisi setengah sadar. Joko menarik Nadia sehingga tubuhnya dapat duduk berselonjor di lantai dan membiarkan Nadia bersandar pada bahunya.

Nafas Nadia masih saja berat sehingga ia terdengar seperti mendesis dan kadang terdengar desahannya di antara nafasnya yang memburu itu. Pipi dan lehernya bersemu merah dan basah oleh keringat.

Joko yang sudah beristri dapat dengan mudah menerka apa yang terjadi pada diri Nadia. Rini juga telah menikah namun butuh waktu lebih lama untuk pikirannya sampai ke kesimpulan yang sama dengan kesimpulan Joko. Akan tetapi Rini masih sangat tidak yakin atas pemikiran bahwa saat ini Nadia sedang terangsang. Bagaimana mungkin, pikirnya.

Joko langsung menyuruh Irfan untuk memanggil Yusdi. Irfan segera beranjak dari sana dan dalam hitungan detik ia telah kembali.

"Pak Yusdi tidak ada di tempat!" serunya kebingungan. Tentu saja ia tidak menemukan Yusdi karena Yusdi sedang berada di WC.

"Ah, masa? Baru saja aku melihatnya di sekitar sini. Coba kau cari sekali lagi!" sergah Joko.

"Kalian berdua coba berpencar dan bantu cari Yusdi," tambahnya.

Tanpa berkata apa-apa Maria dan Rini segera bergegas menyusul Irfan mencari Yusdi.

Kini tinggal Joko berdua dengan Nadia di sana. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini, Joko dengan lembut meremas payudara Nadia. Dengan kesadaran Nadia yang sudah pulih juga ditambah dengan Sex-Force® yang aktif menyemburkan impuls-impuls rangsangan dalam vaginanya, setiap remasan pada buah dadanya membuat darah Nadia semakin bergolak.

Kedua mata Nadia setengah terpejam. Pikirannya sudah semakin berkecamuk. Ingin sekali ia menampar Joko atas perbuatannya ini. Namun tubuhnya berkata lain. Remasan demi remasan lembut itu membuatnya melambung setingkat demi setingkat lebih tinggi ke awan-awan.

Alih-alih menamparnya, Nadia malah mendesah sambil menggeliat-geliat atas setiap remasan Joko yang terasa begitu lembut, "Oh… Hhhh… mmmhhh…"

"Oh, tidak mungkin aku menikmati ini! Ada apa dengan diriku? Kenapa aku ini? Oh… stop!" pikiran Nadia terus berputar-putar.

Walau demikian, kedua puting susunya sudah membesar dan mengeras. Bahkan Joko dapat merasakannya walau masih dilapisi kemeja dan BH yang dipakai Nadia.

Merasakan tubuh Nadia memberi respon terhadap sentuhannya, Joko menjadi semakin bersemangat. Dengan tangan kanannya ia meraih selangkangan Nadia. Namun karena Nadia sedang duduk berselonjor, kedua pahanya menutup akses jari-jari Joko ke kemaluannya.

Akan tetapi dalam waktu singkat saja, jari tengah Joko telah berhasil masuk ke dalam celana dalam Nadia. Joko menempelkan jari tengahnya di bibir kemaluan Nadia yang sudah sangat basah itu.

Bukan hanya dapat menembus pertahanan dari pahanya, jari Joko kini malah menekan klitoris Nadia. Klitoris adalah satu-satunya bagian tubuh manusia yang fungsinya hanya untuk seks semata. Selain itu klitoris memiliki saraf dua kali lebih banyak dibanding jumlah saraf di kepala penis. Saat kulit jari Joko tergesek ke klitorisnya, aliran listrik bertegangan tinggi langsung menyambar tubuhnya. Mata Nadia langsung terbelalak. Tubuhnya bergelinjang seakan mendapat kekuatan baru untuk melawan.

"Janganhh… P-pak Jokohhh… Hhahh… jha-janganhhh…" kata-kata pertama yang dapat Nadia ucapkan sejak Sex-Force® menyerang tubuhnya. Ia memprotes dengan suara yang mendesah.

Nadia memanggil Joko dengan panggilan ‘Pak Joko’ karena umurnya yang jauh lebih tua darinya. Joko sudah berumur 37 tahun, terpaut sepuluh tahun dengan Nadia yang baru berumur 27.

Tak menggubris protes Nadia yang terdengar begitu lemah, Joko tetap menggesek-gesekkan jarinya itu ke sepanjang bibir vagina Nadia. Nadia mencoba untuk memberontak. Namun belum sempat usahanya memberi hasil, tiba-tiba Joko dengan cepat sudah mengamblaskan jari tengahnya itu ke dalam liang kewanitaannya itu.

"Orgghhhh……!" Nadia melenguh sambil mencengkram erat lengan Joko. Badannya sedikit terbangun dan matanya membesar.

"Tidakhhh… Pak Joko… hhh… jangan ah… inhh…-ini… ohhh… Stop… hhh… Jangan…" Nadia terus mencoba melawan namun tubuhnya mempunyai hasrat yang berbeda dengan pikirannya.

Detik-detik berikutnya Nadia sudah sangat tidak berdaya karena Joko mulai mengocok jari tengahnya yang berbuku-buku itu dengan perlahan. Cengkraman Nadia pada lengan Joko mulai melemah dan tubuhnya mulai terlihat rileks. Joko merasakan liang surga Nadia begitu basah, panas dan berdenyut-denyut. Bahkan pinggulnya bergerak-gerak seperti mengikuti irama kocokan Joko.

Nafas Nadia kini berubah menjadi terputus-putus dan cepat. "Ohhh! Hhh! Thhh! Mhh…!" seakan bersahut-sahutan dengan gerakan keluar masuknya jari Joko.

Joko memang sudah berpengalaman dengan tubuh wanita, sehingga ia tahu titik-titik rangsang yang jitu. Dan ia mulai melancarkan serangan mautnya. Dengan ibu jarinya, Joko mulai membuat gerakan melingkar-lingkar di sekitar klitoris Nadia.

Nadia kini sudah terseret dalam pusaran birahi yang sangat besar dan kuat. Semakin lama ia semakin terseret masuk ke pusat dari pusaran itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari pusaran itu namun tidak pernah berhasil.

Dalam pikirannya, Nadia sadar benar bahwa ia seharusnya tidak boleh menikmati semuanya ini. Bukan saja tidak boleh menikmatinya, ia bahkan tidak boleh membiarkan Joko melakukan hal ini kepadanya.

Agar tidak terlalu menikmati rangsangan ini, Nadia terus menerus berusaha mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sudah menikah dengan Yusdi dan seorang lelaki yang bukan suaminya sedang menikmati tubuhnya di luar kehendaknya. Terlebih lagi lelaki ini sudah beristri pula.

Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, Nadia sadar bahwa belum pernah seumur hidupnya ia merasakan rangsangan birahi sekuat ini. Masih dalam usahanya untuk berontak dari birahi terlarang ini, Nadia merasakan tubuhnya tiba-tiba seperti tersedot naik terbang oleh kekuatan yang luar biasa.

Ternyata saat ini, Joko sedang melancarkan jurus rahasianya pada klitoris Nadia dengan menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya tubuh Nadia menggelepar-gelepar lalu seluruh ototnya mengejang. Matanya dipejamkannya rapat-rapat. Ya, dirinya baru saja dihantam oleh orgasme untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Pembuluh darah di sekitar leher, bibir, payudara, dan vaginanya melebar. Air mata kenikmatan mengalir dari matanya. Mulutnya terbuka lebar namun suara yang keluar hanya cericit yang tertahan.

Tiba-tiba terdengar suara Irfan di dekat sana, "Bu Nadia tiba-tiba saja terjatuh. Apakah dia sedang sakit, Pak Yusdi?"

Lagi asyik menikmati vagina Nadia yang sedang berkejut-kejut memijit jarinya, Joko harus menarik jarinya keluar lantaran mendengar suara Irfan. Setelah itu tubuh Nadia tergolek lemas kehabisan tenaga, bersandar pada badan Joko.

Ternyata Irfan berpapasan dengan Yusdi yang baru kembali dari WC. Yusdi pura-pura terkejut mendengar penjelasan Irfan dan bergegas mengikutinya.

Begitu melihat istrinya bersandar pada bahu Joko, Yusdi langsung mencermati Joko. Sambil menghampiri istrinya, Yusdi melirik ke jari-jari Joko yang terlihat basah. Selain itu juga tercium aroma seks yang kental di dekat istrinya. Tanpa kesulitan Yusdi dapat menerka apa yang telah diperbuat Joko.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, Yusdi mematikan remote Sex-Force® dari balik kantong celananya dan memapah istrinya yang masih setengah terpejam itu.

"Nadia! Kamu tidak apa-apa?"

Mendengar suara suaminya, Nadia seakan terbangun dari mimpi. Mimpi yang paling erotis dalam hidupnya.

Nadia melihat ke sekelilingnya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih. Terlihat Irfan, Rini dan Maria berdiri berkeliling, serta Yusdi dan Joko berlutut di sampingnya.

"Kamu tidak apa-apa, Nad?" tanya Yusdi sekali lagi sambil mengusap bekas air mata dari pipinya.

Nadia memandangi Yusdi beberapa saat. Keringat Nadia masih mengalir dan wajahnya masih terasa panas. Nadia membuka mulutnya sedikit hendak menjawab. Akhirnya ia mengangguk perlahan.

"Ya… aku tidak apa-apa," katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar karena tenggorokannya kering.

Rini, Irfan dan Maria tersenyum lega mendengarnya. Yusdi juga berpura-pura lega mendengarnya. Sebenarnya ia tahu istrinya memang tidak memiliki masalah apa-apa. Ia tahu bahwa semuanya ini 'berkat' ulah usilnya. Ia tahu sebenarnya apa yang baru terjadi atas istrinya. Lebih tepatnya: Ia pikir ia tahu apa yang terjadi. Namun pada kenyataannya ia tidak tahu bahwa Nadia baru saja merasakan orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya. Ya, orgasme yang sudah lama Yusdi usahakan atas Nadia.

Akhirnya setelah meneguk air yang diberikan Yusdi dan beristirahat beberapa menit, Nadia sudah kembali pulih. Ia terlihat segar kembali (bahkan menurut Yusdi, Nadia terlihat jauh lebih segar dari biasanya). Pipi dan lehernya masih bersemu merah. Nadia berusaha untuk bersikap sealami mungkin untuk menutupi dan melupakan apa yang baru saja terjadi.

Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat melupakan perbuatan Joko terhadap dirinya. Nadia mulai menjaga jarak terhadap Joko. Hal ini dapat dirasakan oleh Joko. Padahal Joko, dengan pikirannya yang dangkal, mengira Nadia justru akan menjadi lebih 'dekat' padanya setelah mendapat servis darinya. Pada dasarnya Nadia sangat membenci perbuatan Joko terhadap dirinya, namun ia tidak berani untuk mengungkit masalah ini dengan Joko.

Hari ini akhirnya berakhir pula. Nadia belum mau juga membahas kejadian tadi dengan Yusdi. Komunikasi terbuka adalah hal yang selalu ditekankan oleh Nadia dan Yusdi dalam keluarga kecil ini. Nadia secara pribadi tidak ingin ada rahasia dalam rumah tangga mereka. Tetapi di lain pihak Nadia takut dan malu untuk memberitahu Yusdi apa yang sebenarnya terjadi tadi. Pada kenyataannya, Nadia sendiri ragu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Nadia sebelumnya tidak pernah merasakan orgasme. Walau sedikit ragu namun ia tahu bahwa yang ia rasakan tadi adalah orgasme pertamanya. Seperti yang pernah ia baca di majalah: "Jika anda bertanya-tanya apakah anda pernah mendapatkan orgasme atau belum, dapat dipastikan anda belum pernah mendapatkannya. Karena jika anda mendapatkan orgasme, anda pasti tahu."

Hari-hari berikutnya, kecanggungan antara Nadia dan Joko semakin terasa. Joko akhirnya menangkap sinyal yang diberikan oleh Nadia. Secara perlahan ia pun membatasi diri untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengan atasannya tersebut. Joko sebenarnya sedikit khawatir perbuatannya waktu itu dibeberkan oleh Nadia kepada jajaran manajemen perusahaan. Irfan, Rini dan Maria juga sudah melupakan kejadian tersebut.

Setidaknya Nadia dapat hidup lebih tenang, ... untuk sementara.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 4
Baca cerita sebelumnya « Bagian 2





4 comments:

  1. bagus banget cerita nya, lanjutin donk...

    ReplyDelete
  2. Hadoh.... Kok nanggung mulu yak... Kirain udeh di gangbang wkwkwkwkwk...
    Ampun deh... Kapan crotnya nih...

    ReplyDelete
  3. Thank you all for the support.
    Moga-moga ga mandek deh otaknya untuk nglanjutin.

    @vengxi: spoiler dikit nih... sayangnya cerita ini kayanya ga ada gangbang-an tuh. Hihihi...

    ReplyDelete