Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Oct 25, 2016

Sex-Force 9

Nadia
Ringkasan: Pengalaman Nadia di rumah Joko kali ini akan memaksa Nadia memasuki bab baru dalam kehidupan seksnya.
Kode cerita: mastrb, MF, oral, reluc, voy

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia
* Yusdi: suami Nadia


Sex-Force 9
by: VVN

Sudah lebih dari sepuluh menit Nadia duduk di belakang setir dengan pandangan kosong ke arah jam digital di mobilnya. 16:38. Benaknya dipenuhi kekesalan-kekesalan.

Ia kesal karena Yusdi harus pergi ke kantor meninggalkan dirinya. Ia kesal pada dirinya yang menyetujui saran Yusdi untuk datang ke rumah Joko. Ia bahkan kesal karena sesi bercintanya dengan Yusdi selesai tanpa dirinya mencapai orgasme. Bercinta dengan Yusdi tanpa mendapat orgasme tidak pernah membuat dirinya kesal sebelumnya. Namun hari itu ia merasa kebutuhan seksualnya belum terpuaskan dan hal itu membuatnya kesal. Dan yang paling membuatnya kesal saat itu adalah dirinya, yang masih diliputi birahi, harus berduaan dengan Joko.

"Yusdi berengsek! Dia tinggalkan aku dalam kondisi seperti ini," umpatnya dalam hati. "Dia mah enak udah keluar dua kali. Yang ada sekarang aku malah masih horny."

Akhirnya Nadia memutuskan untuk mematikan mesin dan turun dari mobil. Kakinya melangkah dengan berat menuju pintu pagar rumah Joko. Joko membukakan pintu tak beberapa lama setelah Nadia memencet bel.

"Ayo cepat masuk," ujar Joko sambil menarik lengan Nadia setelah matanya mengamati pakaian Nadia dari atas sampai ke bawah. Joko tidak menyangka Nadia datang ke rumahnya mengenakan rok pendek beberapa sentimeter di atas lutut.

"Eh? Ada apa, Pak? Kok buru-buru?"

"Cepat bantu saya selesaikan laporan-laporan untuk Ardi. Setelah itu barulah kita bisa berpesta."

===

Jam di komputer menunjukkan pukul 6:51 petang. Joko terlihat kesal karena banyaknya laporan-laporan yang masih harus diselesaikan. Sementara itu Nadia harus bergumul dengan gejolak birahinya yang mulai mengkhawatirkan, padahal Nadia sejak tadi sibuk mengerjakan laporan bersama Joko.

Dengan tingkat birahi seperti itu, kerap kali pikiran Nadia didatangi oleh imajinasi 'pesta' yang disebut Joko tadi. Ia menepis imajinasi-imajinasi liar tersebut dengan geram. Nadia berpikir kalau laporan-laporan ini dapat diselesaikan secepat mungkin, berarti semakin cepat ia dapat menyelesaikan 'pesta' itu, yang berarti semakin cepat pula ia dapat pulang ke rumah.

Tepat pukul 7 malam, sebuah SMS masuk ke telepon Nadia.

Yusdi:
nad, aku pngn coblos km lg! punyaku msh tegang n keras nih


Mata Nadia terbelalak membaca isi SMS Yusdi. Tanpa sadar ia berusaha menutupi layar teleponnya, berharap Joko tidak membacanya. Bukan saja Joko tidak menatap telepon Nadia, Joko bahkan tidak melepaskan pandangannya dari layar monitor di hadapannya.

Nadia merasakan wajahnya memerah dan menjadi panas. Lagi-lagi visualisasi penis dalam keadaan ereksi dengan tonjolan-tonjolan urat di sekujur batangnya dan lelehan bening di kepala penis itu merasuki benak Nadia.

Nadia:
STOOOP!! jgn sexting seenaknya. emgnya km nggak tau kalo aku lg di rmh joko?


Yusdi:
hahaha! tau lah. aku cm iseng kok. seru kan ngrasain penis brdenyut2 di dlm km?
gmn km sm joko? seru?


"Mmhhhh…," lirih lembut keluar dari bibir Nadia yang terkatup saat membaca SMS itu. Tersadar apa yang baru saja terjadi, Nadia langsung melirik ke arah Joko. Hatinya lega karena tidak ada tanda-tanda bahwa Joko mendengar suaranya tadi. Denyutan-denyutan kuat mulai terasa di dinding vaginanya. Nadia yakin celana dalamnya sudah basah melekat pada kelopak kemaluannya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Ia membaca SMS itu sampai berulang kali untuk memastikan maksud SMS Yusdi tersebut. Ia mendapat kesan bahwa Yusdi sengaja ingin membuatnya risih di depan Joko.

Nadia:
iiih, apaan sih km? ini aku lg sibuk tau >:(


Yusdi:
waaah, emgnya joko suruh km bj ualan jamu yah? km kan atasan dia, kok mau sih jadi budaknya? mau disuruh2


Bayangan dirinya sedang melumat batang penis Joko muncul di benaknya saat membaca SMS itu. Puting susunya yang sudah sekeras penghapus pensil itu terasa tidak nyaman menekan BH-nya. Nadia bahkan yakin aroma seks yang keluar dari kemaluannya sudah sangat pekat memenuhi ruangan itu.

"AH!" tubuh Nadia terlonjak saat jari Joko menyentuh bagian bawah punggungnya.

"Ya ampun! Kamu ini kenapa sih?" seru Joko yang ikut terperanjat.

"Aduh Pak Joko bikin kaget aja," sanggah Nadia sambil memegangi dadanya seakan mencoba menenangkan debar jantungnya. Nadia merasakan seluruh sarafnya menjadi sangat sensitif secara sensual.

"Carikan berkas laporan PT Antara Berantara tanggal 21 Maret!" perintah Joko.

Setelah menyodorkan laporan yang diminta Joko, Nadia segera menyambar telepon genggamnya dan menulis SMS balasan untuk Yusdi.

Nadia:
YUSDI!!! apa2an sih km kok nulis ky gitu? joko nggak suruh bj!!! kbnyakan nonton porn bikin otakmu ngeres mulu >:|


Yusdi:
ih siapa yg omongin BJ yah? kayanya malah otakmu deh yg mikirin hal2 seputar sex. hahaha


Nadia tak dapat mempercayai matanya saat ia membaca ulang SMS Yusdi.

...emgnya joko suruh km bj ualan jamu yah?...

Wajahnya sontak memerah. Panas yang berpendar dari pipinya seakan mengganggu penglihatan Nadia. Nadia melihat memang ada kata 'BJ' di SMS itu, tapi ia baru sadar itu hanya salah ketik. "Yusdi tidak sedang membicarakan blow job," omel Nadia dalam hati. "Dia bermaksud untuk menulis 'bjualan' atau mungkin saja huruf 'b' di awal kata itu tidak sengaja terketik."

Nadia memutuskan untuk tidak membalas SMS terakhir Yusdi, berharap percakapan mereka berakhir karenanya. Selain itu Nadia juga tidak tahu bagaimana mengelak dari tuduhan Yusdi yang telak mengenai sasaran itu.

Semakin ia memikirkan hal ini, semakin malu Nadia atas dirinya yang tidak berhasil menepis bayangan penis Joko dari benaknya. Saat ini Nadia merasakan birahinya telah mencapai tingkat yang cukup membahayakan. Seluruh sensor tubuhnya menjadi super peka. Ia bahkan dapat merasakan butir-butir keringat mulai merembes keluar dari keningnya.

Dadanya bergerak naik turun mengimbangi nafasnya yang semakin berat dan mendalam. Dengan kepala yang sedikit tertunduk dan dahi yang mengernyit, Nadia membasahi bibirnya dan membiarkan rahang bawahnya jatuh sehingga celah kecil yang terbentuk di antara bibirnya dapat membantu laju nafasnya. Matanya sendu menatap hampa ke atas permukaan meja.

Sangat besar dorongan untuk menggesek-gesekkan kemaluannya ke permukaan kursi yang sedang ia duduki. Terlihat buku-buku jari yang memutih dari kepalan tangannya yang gemetar. Nadia menutup pahanya rapat-rapat dengan harapan dapat meredam hantaman birahinya. Gerakan menutup pahanya itu justru membuat kemaluannya tertekan ke permukaan kursi dan mengirimkan sengatan voltase tinggi ke sekujur tubuhnya.

Dengan sengatan yang membuka tingkap-tingkap indra kenikmatan dalam tubuhnya, pertahanan Nadia sedikit demi sedikit mulai luluh. Nadia mencari cara agar kemaluannya dapat bergesekan dengan permukaan kursi yang ia duduki tanpa harus melakukan gerakan yang kentara. Pahanya mulai naik dan turun secara bergantian sambil dirinya beringsut dari duduknya. Gerakan ini berhasil senantiasa menyuplai bahan bakar bagi api birahinya.

Nadia beringsut dari duduknya untuk yang ke seratus kalinya saat ia sadar bahwa birahinya bukannya semakin terpuaskan tetapi malah semakin menuntut. Tingkat kebasahan celana dalamnya sudah tidak perlu dipertanyakan. "Aku butuh lebih dari ini," benaknya.

Yusdi:
kok ga dibales smsku? hayooo… km memang lg horny yah? mau aku bantu?


Selesai membaca SMS itu Nadia menelungkupkan telepon genggamnya dan kembali ke jagat birahi yang memabukkan. Ia tidak berniat untuk membalas sexting dari suaminya, setidaknya tidak saat ini, mungkin nanti. Tak beberapa lama setelah itu, teleponnya bergetar lagi.

Yusdi:
bayangin deh, penis joko spt apa... penis yg tebal & kekar dgn urat2 yg menonjol... berdenyut2… tiap kali berdenyut, lelehan bening menyembul dr kpala penisnya… aku tau km suka sm precum


Secara refleks Nadia menyelinapkan lidahnya keluar, membalur ujung bibir atasnya. Kemudian Ia menarik masuk lidahnya perlahan lalu menelan isi mulutnya. Yusdi lagi-lagi berhasil mematri gambaran penis Joko dalam benak Nadia.

"Mmmhhh…," tanpa ia sadari lirihan lembut keluar dari tenggorokannya. Kemaluannya semakin terasa panas dan gatal. Dengan kedua pahanya masih rapat menempel, Nadia membuka kedua tungkai kakinya melebar. Posisi kedua lututnya yang lebih rendah dari pangkal pahanya ini membuat kemaluan Nadia semakin terbenam ke permukaan kursi.

Nadia melirik ke teleponnya, setengah berharap Yusdi melanjutkan kiriman SMS-nya. Layar telepon genggamnya tiba-tiba berpendar. SMS Yusdi baru saja masuk. Matanya yang sendu tiba-tiba bercahaya begitu harapannya menjadi nyata.

Yusdi:
vagina km udah basah… cairannya udh keluar merembes ke kelopaknya.
km pengen banget penis joko yg tebal itu menyembul masuk ke dlm vagina km.
km goyang2in pinggul supaya napsu berahi mu bs terpuaskan.


Tanpa berusaha menutup-nutupi gerakan tubuhnya, Nadia menggoyang-goyangkan pinggulnya sedemikian sehingga kemaluannya bergesek-gesekan dengan permukaan kursi. Gesekan demi gesekan mengirim impuls-impuls rangsangan ke sekujur tubuhnya. Semakin diberi makan, alih-alih terpuaskan, nafsu birahi Nadia menjadi semakin lapar.

Yusdi:
km sbnrnya tau apa yg km butuhkan. tp sayang aku ga di sampingmu.


Selesai membaca SMS itu, Nadia meletakkan teleponnya. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam, kedua tangannya terkepal erat ditambah dengan deru nafas yang tak kunjung mereda. Nadia sudah tidak dapat berpikir jernih.

"Iya. Kamu nggak di sampingku," Nadia menjawab SMS Yusdi dalam benaknya. "Dan kamu benar. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."

Dengan kepala yang masih tertunduk, perlahan-lahan kelopak matanya terbuka. Sayu. Pandangannya kosong melekat ke berkas-berkas laporan di atas meja. Nadia menyeret pandangannya ke arah Joko.

Nadia harus memaksa kakinya melangkah menghampiri Joko yang terlihat sedang sibuk di depan layar monitor. Nadia menatap punggung Joko lalu mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pundaknya. Hanya tinggal beberapa senti lagi jari-jari lentik itu mengenai pundak Joko, Nadia menghentikan tangannya. Ia mengepalkan tangannya dan mengurungkan niatnya.

VRRRR!

Telepon genggam Nadia yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba bergetar keras. Joko menoleh ke belakang, mendapati Nadia sedang berdiri begitu dekat dengannya.

"Nadia, ada apa?"

Nadia tidak tahu harus menjawab apa. Matanya mendelik, alisnya terangkat tinggi. Nadia hampir yakin wajahnya mengeluarkan asap saking panasnya. Ia bahkan tidak peduli dengan missed call yang baru saja masuk ke telepon genggamnya.

"Kamu mau apa, Nad?" tanya Joko yang kini sudah memutar arah duduknya sehingga mereka berdua saling berhadapan.

Nadia merasakan birahinya meletup-letup mengguncang seluruh pertahanan dirinya. Delikan matanya berangsur-angsur pudar diganti dengan tatapan sayu. Mulutnya merekah untuk membantu nafasnya yang tersengal.

Mata Joko bersinar-sinar dan terlihat senyum samar dari bibir Joko. Dari tanda-tanda tubuh Nadia, Joko tahu benar Nadia sedang horny berat.

"Saya masih menunggu, Nadia." Joko menghempaskan punggungnya ke sandaran bangku sambil melebarkan pahanya seakan menantang Nadia dengan selangkangannya. Nadia masih berdiri tak bergeming di hadapan Joko.

"Semua aktivitas seks-mu dengan Joko adalah hasil paksaan, Nadia, bukan dari keinginanmu sendiri. Jangan kamu ubah semua itu." Hati nurani Nadia masih mencoba mengingatkan bahwa dirinya adalah seorang wanita baik-baik yang sudah bersuami.

"Aku…"

Joko menunggu dengan sabar.

"Pak Joko, aku… anu," Nadia mencengkram erat-erat ujung roknya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Nadia sebenarnya berharap Joko dapat melihat kondisinya dan mengambil tindakan untuk memulai aksi seksual, seperti yang biasa ia lakukan terhadap tubuhnya. Toh Joko memang sudah berencana untuk 'berpesta' setelah ini, pikirnya lagi.

"Saya bingung, kamu mau apa sih?" Joko terkesan tidak mengharapkan jawaban dari pertanyaannya yang terakhir ini. "Sudah. Ayo lanjut kerja lagi." Joko memutar kursinya menghadap layar komputer kembali, meninggalkan Nadia yang menatap punggungnya.

"Anu, pak. Aku mau tanya tentang berkas tanggal 11."

Tanpa memutar kursinya, Joko menoleh ke Nadia. "Ada apa dengan berkas tanggal 11?"

"Begini, Pak," tiba-tiba Nadia mendapat ide. "Aku tadi kan sudah mencoba untuk mencocokkan nomor seri dari berkas tanggal 11, tapi ternyata nomor seri itu nggak aku temukan." Nadia mendekat. Dengan gerakan gemulai, Nadia membungkukkan badannya untuk menunjukkan berkas itu ke Joko.

Saat membungkukkan badannya, Nadia sama sekali tidak berusaha untuk menutupi leher bajunya yang menggantung terbuka. Selagi ia menerangkan permasalahan yang ada ke Joko, tubuh Nadia sesekali meliuk sensual penuh godaan.

Nadia mendapati Joko melirik berkali-kali ke belahan dadanya. Memang butuh sedikit usaha buat Joko untuk melihat isi di balik helai baju Nadia, tapi dapat dipastikan bahwa Joko mampu untuk melihat bukit kembar Nadia yang masih tertutup BH itu. Namun demikian, Joko masih tidak melakukan tindakan apa-apa selain mendengarkan terus penjelasan Nadia.

Sambil terus berceloteh, Nadia memutuskan untuk memutar arah badannya sedikit supaya dapat berdiri tepat di samping Joko yang sedang duduk. Masih dalam posisi membungkuk, ia menggeser badannya mendekat sehingga lengan kirinya bersentuhan dengan lengan kanan Joko. Joko terlihat acuh. Dalam posisi ini Joko sudah tidak mempunyai akses untuk mengintip belahan dada Nadia lagi.

Nadia meraih dokumen di sebelah kiri Joko dengan memutar badannya sedikit sehingga lengan kirinya menempel di punggung Joko. Tangan kanan Nadia menjulur di depan dada Joko untuk meraih dokumen itu secara amat sangat perlahan.

Joko melirik ke arah Nadia begitu menyadari bukit susu kenyal Nadia menghimpit lengan kanan dan punggungnya. Nadia tersengal merasakan birahinya semakin tersulut. Joko tidak mendengar lirih samar yang keluar dari mulut Nadia. Kehangatan Nadia yang seperti bara unggun di malam hari itu menjalar cepat dari punggung ke seluruh tubuh Joko. Alhasil, batangnya mengembang dan mengeras dalam hitungan detik.

Naluri Nadia merasakan perubahan pada Joko. Dokumen di tangannya ia letakkan di depan Joko. Nadia melanjutkan penjelasannya berdasarkan dokumen tersebut. Ia melirik ke arah selangkangan Joko. Melihat tonjolan keras di antara paha dari balik celana katun yang dikenakan Joko, ujung-ujung bibir Nadia tertarik ke atas sambil mulutnya tak berhenti berceloteh.

"Ayo, ayo, lekaslah kau 'memulai'," batin Nadia.

Nadia tidak habis pikir atas apa yang baru saja ia lakukan. Akan tetapi, Nadia terus menerus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru ia lakukan jauh lebih baik dibanding harus terang-terangan meminta Joko untuk memuaskan birahinya.

Nadia menyelesaikan penjelasannya kepada Joko dan kini giliran Joko untuk menyanggah apa yang baru saja dijelaskan kepadanya. Beberapa menit berlalu tanpa ada tanda-tanda Joko akan segera melancarkan serangan-serangannya.

Kepanikan mulai kembali menyelimuti Nadia karena selang beberapa menit terakhir ini ia membiarkan dirinya dibuai oleh luapan-luapan birahinya yang semakin tak terbendung. Sementara Joko bercuap-cuap, ia membayangkan berbagai macam adegan, apa yang bakal Joko perbuat terhadap tubuhnya.

Penampakan penis Joko yang tebal dan kekar akhirnya kembali merasuki benaknya. Ia tidak mengerti mengapa setiap kali gambaran penis Joko muncul di benaknya selalu diikuti dengan meluapnya nafsu birahinya.

Otak Nadia membayangkan titis cairan bening menyembul dari mulut batang Joko. Begitu beningnya sehingga terlihat seperti tetesan embun di pagi hari. Butiran itu semakin membesar seiring bertambahnya cairan yang keluar dari tubuh Joko. Saking banyaknya cairan yang terkumpul, akhirnya gumpalan cairan bening itu meleleh perlahan membasahi batang Joko. Nadia secara terang-terangan mendesah saat membayangkan semua ini.

"Nnnghhhh…"

Serta merta Joko menghentikan penjelasannya dan melirik menatap mata Nadia. Nadia yang sudah tidak bisa mengontrol birahinya menatap balik dengan tatapan sendu. Pundaknya naik turun karena nafasnya yang semakin berat.

Joko sengaja tidak memberi komentar atau bertanya apa-apa. Duduk di samping Nadia, Joko hanya menatap matanya dalam-dalam - tatapan kosong tanpa ekspresi.

"Pak Joko…"

Masih tidak ada tanggapan apa-apa dari Joko.

"Pak,... aku…," Nadia ragu-ragu sebelum akhirnya melanjutkan, "aku horny, Pak."

Tatapan Joko masih terlihat kosong saat ia menyanggah, "Lantas?"

Nadia yang tidak kuasa menahan rasa hina dalam dirinya akhirnya menundukkan wajahnya. Emosinya bercampur aduk dan tanpa terasa air matanya sudah menggenang.

Nadia tahu bahwa Joko ingin mempermalukan dirinya dengan memaksanya mengemis untuk berhubungan intim. Air matanya menetes saat Nadia menjawab dengan lemah, "Aku berharap Pak Joko bisa segera memulai 'pesta' yang bapak sebut-sebut tadi." Nadia akhirnya memproklamasikan kekalahannya di hadapan Joko. Usaha Nadia untuk mempertahankan harga dirinya sudah gagal total.

"Lah, apa hubungannya 'pesta' dan 'horny'?"

Dengan kepala masih tertunduk, Nadia mendelik mendengar kata-kata Joko. "Apa mungkin Joko sejak awal memang bermaksud untuk berpesta, murni berpesta merayakan selesainya tugas-tugas kantor, tanpa embel-embel seks?" Nadia tertegun.

"Apa cuma pikiranku saja yang mesum beranggapan bahwa pesta yang dimaksud Joko adalah 'pesta' di atas ranjang?"

"Ah, tidak mungkin! Kata-kata seperti itu pasti berkonotasi seksual jika keluar dari mulut orang seperti Joko."

"Kalau memang begitu, berengsek si Joko. Dia sengaja mau mempermalukan aku."

Otak Nadia berputar keras untuk dapat keluar dari situasinya yang sedang kritis. Masih dengan kepala tertunduk, Nadia tanpa sadar melirik lagi ke arah tonjolan batang Joko. Terlihat bercak basah berwarna lebih gelap pada celana katun Joko di daerah kepala penisnya. Lemahnya Nadia terhadap pre-cum membuat nalarnya menjadi tumpul dan akhirnya menyerah pasrah pada dorongan birahi yang kini sudah menguasai tubuhnya secara total.

Tangan Nadia mengelus lembut tonjolan itu. Jemarinya berputar-putar licin pada bercak basah itu. "Mmhhh…," erang Nadia tanpa melepas pandangannya pada tonjolan keras di celana Joko.

"Nadia! Stop!"

Jika saja Nadia tidak dirasuki nafsu birahi seperti ini, pasti ia akan merasa aneh dengan komentar Joko. Nadia seakan tidak mendengar kata-kata Joko. Alih-alih menghentikan perbuatannya, Nadia meraih kancing celana Joko dan membukanya.

Secara perlahan, Nadia menurunkan ritsleting dan membuka celana Joko. Tangannya kembali membelai batang yang masih terbungkus celana dalam itu. Namun kini sensasi yang dirasakan oleh Joko semakin kuat yang membuat tubuhnya menggeliat-geliat. Nadia sekarang dapat melihat lekuk-lekuk batang itu terjiplak jelas dari kain celana dalam Joko yang tipis.

Dengan gerakan lambat namun pasti, Nadia meraih pangkal celana dalam Joko dan memelorotinya sampai ke mata kakinya. Selama beberapa saat Nadia mengagumi batang penis Joko. Batang Joko mempunyai kesan perkasa, liar, dan jantan bagi Nadia.

"Nadia, saya bilang sekali lagi. Stop!" tegas Joko.

Nadia mengurut-urut batang Joko yang berdenyut-denyut liar. Gumpalan lendir bening keluar dari mulut penis Joko. Nadia tidak sanggup membiarkan gumpalan lendir Joko keluar sia-sia. Mulutnya segera mengatup pada kepala penis Joko. Di dalam mulutnya, lidah Nadia berputar-putar membalur cairan Joko lalu menyedotnya penuh tenaga.

"Ngghhh…," akhirnya suara lenguhan Joko keluar dari mulutnya. Badannya bergelinjang.

Batang Joko berdenyut satu kali dengan kuat yang diikuti oleh keluarnya sekali lagi gumpalan besar lendir cinta Joko. Nadia dengan lahap meneguk lendir itu.

Nadia melepaskan batang Joko dari mulutnya. Ia menyapu bibirnya dengan lidahnya kemudian sekali lagi menelan semua yang ada di mulutnya.

Nadia bangkit lalu menarik turun celana dalamnya sementara rok pendeknya masih menutupi paha mulusnya. Matanya sayu saat ia meraih tangan Joko untuk dituntunnya masuk ke antara kedua pahanya. Joko mendapati bulu-bulu kemaluan Nadia sudah basah lepek. Jari-jarinya dapat merasakan hawa panas yang berpendar dari kemaluan Nadia.

Nadia menggosok-gosokkan jari-jari Joko di sepanjang kelopak kemaluannya sambil tangan kanannya mengocok-ngocok batang Joko dengan perlahan. Kedua tangannya naik turun seirama seakan sedang membuat lantunan musik dari suara decak basah kemaluan mereka berdua.

Mata Nadia terpejam, kepalanya mendongak saat mulutnya mendesah lirih, "Mmmhhhhh…."

Yusdi menekan tombol Sex-Force® untuk mematikan alat itu. Ia membuka perlahan pintu lemari besar tempat ia bersembunyi selama ini. Saat ia melangkah perlahan mendekati Nadia dan Joko, tangan kanan Joko masih memegang kamera yang sedari tadi merekam semuanya.

Dengan mata yang masih terpejam, Nadia terus saja mengocok-ngocok batang Joko sementara suaminya sudah berdiri tak jauh darinya, merekam semua adegan ini dengan kamera di tangannya. Joko, di lain pihak, menatap cemas ke arah Yusdi. Keringatnya mengalir dari pelipis turun ke lehernya.

(Bersambung) Baca cerita sebelumnya « Bagian 8

17 comments:

  1. Yahhh nanggung bgt sis, :D di tunggu ni updateannya hari ini. :D

    ReplyDelete
  2. Sist, kok ceritanya terpotong ada tulisan "< style="ServiceHandler65"; ERROR 502 - SERVICE OVERLOADED OR NOT LOADED
    Please contact your administrator."

    ReplyDelete
  3. Sist Vi, kok kepotong yah. Tolong Sist

    ReplyDelete
  4. Sist Vivian, itu kepotong tuh ceritanya tolong dong sis cepat di perbaiki problem nya.

    ReplyDelete
  5. Semangat buat perbaikannya Sist. Jangan biarkan penantian SF 9 berakhir sia-sia....

    ReplyDelete
  6. Yahhhh, setelah penantian sekian lama dan akhirnya keluar juga lanjutan SF9 tapi sayang harus terhambat lagi dengan ceritanya yang terpotong. Sisy Vi tolong cepat di perbaiki dong.

    ReplyDelete
  7. Sudah diperbaiki tuh.
    Jangan sungkan2 utk kasih komentar yah!

    ReplyDelete
  8. Pertama-tama. Makasi buat perbaikannya Sist, selanjutnya update-an secepetnya, hehehe....

    ReplyDelete
  9. Baru baca ni Sist. Yusdi sama Joko ada kerjasama ya? Kira-kira maksudnya apa? Jadi ngga sabar baca kelanjutannya. Ditunggu dengan sangat dan segera Sist Vi...

    ReplyDelete
  10. Wahhhhh ceritanya sangat bikin penasaran sis Vi, topp bgt. Tebakan saya si joko sepertinya tidak berkerjasama dengan yusdi melainkan joko juga berada dalam kekuasaan yusdi seperti nadia dalam kekuasaan joko. Mungkin yusdi punya sesuatu untuk menekan joko. Itu cuma analisa aja sih. Hehehe.. lanjutannya segera ya sist jgn lama2. :D

    ReplyDelete
  11. Thanks for the comments.
    Untuk tebakan2 cerita berikutnya, dengan sangat terpaksa saya ngga bisa jawab yah.
    Pasti lebih seru kalo tebakan2nya terjawab nanti wkt baca cerita yg udah jadi.

    ReplyDelete
  12. @Sist Vi: Asal jangan kelamaan pastinya ya Sist, please, please, please...

    ReplyDelete
  13. @frank, saya mah maunya cerita-cerita yg saya tulis itu selalu bisa diselesaikan dgn cepat. Tp sayangnya kenyataannya ngga selalu sama dengan kemauan. ^_^

    But I'll do my best to finish the next chapter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sist Vi, samapai dimana ni perkembangan SF 10-nya?

      Delete
  14. Sis "kejutan di malam oengantin & tamu tak diundang" tolong dong di lanjutkan lagi.. Tu termasuk 3 cerita terbaik selain sex force

    ReplyDelete
  15. Oke. Ntar saya lihat lagi cerita2 itu. Emang udah banyak sih yg request utk dilanjutin.

    ReplyDelete