Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Oct 2, 2010

Sex-Force 5

Nadia
Ringkasan: Joko VS Nadia. Adu cepat atau adu lambat?
Kode cerita: Blkm, dru, MF, mastrb, non-con, oral

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 5
by: VVN

Joko menghampiri Nadia yang sedang duduk di depan mejanya. Ia menyerahkan amplop coklat besar kepada Nadia.

"Apa ini, Pak?" tanya Nadia bingung.

"Sesuatu yang sangat penting. Dan lebih baik kamu tidak membukanya di sini atau tempat ramai lainnya. Sebab barang ini sangat rahasia, Nad," kata Joko sambil tersenyum penuh arti.

Nadia sangat penasaran. Saat ia ingin bertanya lebih lanjut, Joko sudah kembali ke tempat duduknya.

Nadia memperhatikan amplop di tangannya. Pada bagian depan amplop tertulis: "Kepada: Nadia Wijaya" dan di pojok kiri bawah tertulis: "SANGAT RAHASIA". Nadia membalik amplop itu untuk melihat bagian belakangnya. Tidak ada apa-apa pada bagian belakangnya. Nadia mencoba untuk meraba untuk merasakan kira-kira apa isi dari amplop tersebut.

Nadia hanya dapat menduga-duga amplop tersebut berisi kertas atau dokumen lainnya. Tidak dapat menahan rasa penasarannya, Nadia memutuskan untuk tidak menuruti saran Joko. Akhirnya Nadia membuka amplop tersebut saat itu juga.

Nadia menggunting sepanjang pinggiran amplop itu. Setelah meletakkan gunting kembali pada tempatnya, Nadia mengintip ke dalam amplop tersebut. Ia melihat ternyata isinya tak lain adalah foto-foto dalam ukuran besar (ukuran 10 R).

Tanpa menunggu lebih lama lagi ia mengeluarkan salah satu foto tersebut. Belum sampai foto itu keluar seluruhnya, jantung Nadia seperti putus dan berhenti berdetak. Tanpa sadar ia memekik (walau tidak terlalu kencang) namun beberapa orang di sekelilingnya menengok karena mendengar pekikannya itu.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Cepat-cepat dimasukannya kembali foto itu ke dalam amplop. Tangannya bergetar dan keringat dingin keluar dari dahinya. Ia memandang ke sekelilingnya untuk melihat adakah orang yang sempat melihat foto tersebut.

Setelah lebih tenang, Nadia berjalan keluar dengan membawa amplop itu menuju ke WC. Di dalam WC, Nadia membuka dengan cepat amplop itu dan mengeluarkan isinya.

Ada sekitar 20 lembar foto dirinya dalam berbagai pose. Hanya satu foto yang memperlihatkan dirinya mengenakan pakaian lengkap. Tiga lembar dari foto-foto yang ada, walau dengan berpakaian lengkap, menampilkan bulatan bukit dadanya yang masih tertutup BH tersembul mengintip dari balik baju yang beberapa kancingnya terbuka. Beberapa foto lainnya menampilkan Nadia hanya mengenakan pakaian dalam dan sebagian besar sisanya adalah foto dirinya dalam keadaan telanjang. Bahkan beberapa dari foto telanjang itu menunjukkan dirinya sedang menghisap penis seorang pria.

Jantung Nadia seakan berhenti berdetak dan nafasnya mulai terasa sesak. Nadia tidak percaya atas penglihatannya ini. Ia memperhatikan kembali tiap lembar foto yang berada di tangannya dan berharap semuanya ini hanya lelucon konyol. Namun pada akhirnya ia hanya pasrah dan terduduk lemas.

Nadia menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk tetap tenang dan mencari jalan keluar. Ia memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop. Pada saat itu Nadia menemukan di dalam amplop tersebut secarik kertas yang terlipat. Ia menarik keluar kertas itu dan membaca isinya.


Nadia, kamu pasti kaget melihat foto-foto indah ini. Ya, memang sayalah yang mengambil foto-foto tersebut pada waktu lembur kemarin. Foto-foto ini sebenarnya ingin saya gunakan sebagai kenang-kenangan dan untuk menemani saya di saat sendirian (tentu kamu tahu maksud saya).


Namun, kemarin saya mendapat ide-ide yang lebih baik. Benar, lebih baik bagi saya dan mungkin juga bagi kamu. Saya memberi kamu dua pilihan, Nad.


Pilihan pertama: kamu menuruti setiap permintaan saya. Dan pilihan kedua: kamu akan melihat foto-foto ini beredar di seluruh kantor dan bahkan di tabloid-tabloid murahan di pinggir jalan. Saya dapat dengan mudah menjual foto-foto ini ke redaksi majalah dewasa.


Saya berkeyakinan bahwa kamu akan memilih dengan bijaksana. Juga saya yakin kamu tidak akan melaporkan ini ke polisi atau suamimu. Begitu saya mengetahui kamu mencoba melakukan hal-hal yang bodoh, saya akan langsung menjual foto ini dan bahkan jika perlu menyebarkannya di internet.


Kamu tahu di mana harus menghubungi saya, kan? Baiklah saya tunggu kabar baik darimu.


Tertanda: Joko



Selesai membaca surat itu, air mata Nadia sudah mengalir di pipinya. Lalu ia merobek-robek surat itu dengan kesalnya. Setelah beberapa lama berdiam di dalam WC itu, akhirnya Nadia memaksakan dirinya untuk bangkit dan kembali ke mejanya.

Setelah masuk ke ruangan kantor, Nadia melirik dengan pandangan geram pada Joko. Joko tersenyum penuh kemenangan. Setelah duduk, Nadia menatap layar monitor di hadapannya. Pandangannya kosong.

Ada satu email baru yang masuk ke dalam inboxnya. Dengan enggan ia membuka email tersebut.

"Bagaimana, Nad?" isi dari email tersebut.

Itu Email dari Joko. Nadia menoleh dan mendapati Joko yang sedang tersenyum padanya. Betapa bencinya ia pada Joko saat itu. Ia juga membenci dirinya karena tidak dapat menjaga dirinya sendiri selama ini.

Nadia mengetik email balasan: "Apa yang Bapak mau? Bapak mau uang? Katakan saja berapa yang Bapak mau!!"

Joko lalu membalas: "Hohoho… saya tidak berminat dengan uangmu, Nad. Pilihan yang saya beri hanya dua, bukan? Jadi silakan kamu pilih."

Nadia mulai mengetik lagi: "Baiklah. Aku akan menuruti semua perintah Bapak. Tetapi hanya dalam batas kemampuanku. Selain itu: tidak. Dan kapan aku dapat mengambil film dari foto-foto tersebut?"

Tak beberapa lama kemudian datang email balasan dari Joko: "Bagus. Saya tahu bahwa kamu bijaksana, Nad. Film tersebut aman di tangan saya selama satu bulan penuh. Setelah itu kamu boleh memilikinya. Perintah pertama akan kamu peroleh Sabtu ini jam 1 siang di rumah saya. Sampai jumpa. Hahaha…"

Nadia tidak berdaya menghadapi pemerasan yang dilakukan oleh Joko terhadap dirinya. Hatinya berkecamuk. Berbagai perasaan bergolak dalam batinnya. Marah, kesal, benci, sedih, takut, menyesal, bimbang, dan sebagainya.

Hari-hari dilalui Nadia seperti tanpa arti. Otaknya dipenuhi oleh perkiraan-perkiraannya mengenai perintah pertama yang akan ia terima Sabtu ini.

Akhirnya hari Sabtu tiba. Nadia mencari alasan agar ia dapat keluar rumah tanpa dicurigai oleh Yusdi. Dan alasan yang paling mudah adalah pergi ke salon untuk creambath. Yusdi yang sedang asyik bermain game, tidak curiga sedikit pun.

Dengan mengendarai mobilnya, Nadia menuju rumah Joko yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Nadia mengenakan blouse biru gelap, celana jeans biru keputih-putihan, dan sepatu sandal dari kulit. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja.

Tepat jam 1, Nadia memencet bel rumah Joko. Joko keluar menyambutnya dengan senang. Setelah masuk, Joko mempersilakan Nadia duduk di ruang tamu.

"Jangan tegang begitu, Nad. Saya ke dalam sebentar untuk buat minuman."

"Tidak usah repot-repot, Pak Joko. Katakan saja apa perintah Bapak?" kata Nadia dengan ketus.

"Jangan terburu-buru. Kita rileks dulu. Kemudian baru kita bicarakan hal itu," jawabnya sambil masuk ke dalam.

Nadia duduk dengan tegang di salah satu kursi di ruang tamu itu. Ia duduk di ujung kursi sehingga hanya sebagian dari pantatnya menempel di kursi tersebut.

Ruang tamu tersebut tidaklah terlalu besar. Di tengah-tengah terdapat meja pendek yang alasnya terbuat dari kaca. Beberapa majalah tergeletak di bawah meja. Di sekelilingnya terdapat satu kursi panjang dan dua kursi biasa. Dinding ruangan itu dihiasi dengan sebuah lukisan pemandangan yang sudah agak tua dan sebuah foto keluarga yang cukup besar.

Dalam foto itu Nadia melihat Joko duduk di samping istrinya. Kedua anaknya berdiri di samping kiri dan kanan. Istrinya ternyata sangat cantik. Nadia tidak tahu Joko mempunyai istri yang begitu cantik, bahkan lebih cantik dari dirinya.

Pada waktu Joko kembali dengan membawa dua gelas berisi air jeruk dingin, Nadia bertanya kepadanya, "Istri dan anak-anak sedang tidak di rumah?"

"Oh… istri saya pergi mengunjungi ayahnya yang sedang sakit. Ia membawa anak-anak ikut dengannya. Jadi tak perlu khawatir, di rumah ini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua, kok."

Mendengar penuturan Joko itu justru membuat Nadia jadi lebih khawatir.

"Ayo, diminum. Di luar udara panas sekali. Pasti menyegarkan kalau minum air jeruk dingin. Ya… bukan air jeruk asli sih, cuma air sirop biasa."

Nadia tidak bergeming lalu berkata, "Ayo cepat katakan apa perintah pertamanya! Aku tidak punya waktu seharian untuk ini."

"Wah, rupanya kamu sudah sangat bernafsu, Nad. Baiklah. Saya yakin kamu pasti sudah bisa menebak-nebak kira-kira apa yang saya inginkan dari kamu."

Joko tidak melanjutkan penjelasannya karena memang sengaja ingin membiarkan pikiran Nadia terbang bebas dalam imajinasi liar. Pipi Nadia bersemu merah mendapati otaknya memikirkan hal-hal cabul yang mungkin harus ia lakukan bersama Joko. Ia menjadi semakin kikuk mendapti Joko sedang menatapnya dalam-dalam.

Melihat perubahan pada wajah Nadia, Joko langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha... Berarti tepat dugaan saya."

"Nah, mengingat kamu sudah mengambil keputusan untuk menuruti perintah saya dan kamu juga sudah tahu kira-kira apa yang saya inginkan, berarti kamu tidak akan keberatan untuk minum air jeruk spesial ini."

"Spesial?" tanya Nadia bingung.

"Hehehehe," Joko terkekeh. "Saya memasukkan bumbu tambahan ke dalam minumanmu," kata Joko dengan nakal sambil memain-mainkan alisnya naik turun.

Belum sempat Nadia bertanya lebih lanjut, Joko berkata, "Saya yakin kamu tidak akan keberatan. Malah mungkin dengan meminumnya kamu jadi lebih rileks. Coba kita pikir bersama. Kamu sudah mengambil keputusan untuk menuruti perintah saya. Dan kamu sedikit banyak sudah tahu apa yang saya inginkan. Kecuali... kamu berubah pikiran dan membiarkan saya menjual dan menyebarkan foto-foto kamu."

"Jadi jika kamu memang pada akhirnya harus melakukan perintah saya, bukankah lebih baik bila kamu melakukannya dengan kondisi yang lebih rileks dan mungkin lebih... menyenangkan?" tanya Joko retoris.

Nadia termenung memikirkan penjelasan yang Joko utarakan.

"Hmmm... memang ada benarnya kata-kata Joko tadi," pikir Nadia. "Akan tetapi, apa sih yang ia masukkan ke dalam gelasku? Obat penenang? Obat tidur? Atau... obat perangsang?"

"Aku rasa ia menggunakan obat perangsang. Tidak banyak keuntungan yang ia dapat jika ia menggunakan obat penenang atau obat tidur dalam minumanku. Ya! Aku yakin ia menaruh obat perangsang," otak Nadia terus berpikir keras.

"Tidak. Aku tidak akan membiarkan diriku menikmati perbuatan cabulnya. Apalagi dengan meminum obat perangsang! Aku harus cari cara agar aku tidak perlu meminumnya," Nadia melanjutkan pemikirannya.

Tiba-tiba Nadia dikagetkan oleh suara telepon yang berdering.

"Sebentar yah, Nad," kata Joko sambil bangkit menghampiri telepon di meja seberang.

Sesaat setelah Joko tidak melihat ke arahnya, Nadia segera memikirkan cara agar ia dapat menghindari minuman perangsang di hadapannya.

"Ayo, ayo, cepat berpikir! Ini kesempatanku untuk membuang air jeruk ini. Tapi... akan percuma kalau ia tahu aku membuangnya. Ia pasti akan meramu minuman yang baru untukku. Jadi jangan sampai ia tahu kalau aku membuang minumanku."

"Oh, Mira. Bagaimana keadaan ayah? Sudah membaik?" Nadia mendengar sebagian percakapan Joko di telepon dengan istrinya (menurut dugaan Nadia).

Pandangan Nadia menyapu ke sekeliling ruangan. Ia tidak menemukan cara untuk membuang air jeruk di gelasnya tanpa sepengetahuan Joko. "Huh, kalau saja ada pot tanaman di dalam ruangan ini. Tidak mungkin aku membawa gelas ini ke WC. Joko pasti tahu apa yang kuperbuat terhadap air jeruk ini di dalam WC."

"Ok, lah kalau begitu. Kamu juga harus jaga kesehatan ya, Mir," perbincangan Joko dengan istrinya terdengar sudah hampir selesai.

Nadia masih terus berusaha mencari cara untuk membuang air jeruk di gelasnya. "Atau... mungkin aku tidak harus membuangnya. Yang penting, aku jangan sampai meminumnya saja... Ya, jangan minum air jeruk yang ada di gelasku. Oh! Benar juga! Kalau begitu..."

Secepat kilat Nadia meraih gelas Joko yang berada di ujung meja dan menukarnya dengan gelas miliknya. Sesaat setelah Nadia kembali duduk, Joko menaruh gagang telepon lalu berbalik menghampiri Nadia.

Joko tersenyum melihat Nadia yang sedang memegang gelas berisi air jeruk. "Ayo, silakan diminum. Semakin cepat dimulai, akan semakin cepat pula kamu bisa pulang."

Saat mengangkat gelas untuk meminumnya, tangan Nadia sedikit gemetar karena was-was kalau-kalau Joko mengetahui perbuatannya tadi. Ia mulai meneguk air jeruk dari gelas itu, gelas yang baru ia tukar dengan gelas Joko.

Air jeruk yang dingin tersebut sungguh membantu menyegarkan tenggorokannya yang kering, terlebih lagi dalam cuaca sepanas hari itu. Sudah setengah gelas habis direguknya saat Joko meraih gelas di hadapannya.

Nadia berhenti sesaat untuk melihat apakah Joko menyadari gelasnya sudah ia tukar dengan miliknya.

"Ayo, cepat dihabiskan air jeruknya," perintah Joko yang juga mulai meminum air jeruknya.

Nadia melanjutkan meminum air jeruk yang tinggal setengah itu perlahan-lahan sambil melirik ke arah Joko. Ia ingin melihat adakah tanda-tanda kalau Joko menyadari perbedaan rasa pada air jeruknya. Air jeruk di gelas Joko habis bersamaan dengan habisnya air jeruk di gelas Nadia.

"Hahaha... biar tahu rasa! Senjata makan tuan. Mengapa tidak terpikirkan cara ini olehku sebelumnya? Dengan Joko meminum obat perangsang dalam air jeruk itu, justru akan membuatnya mencapai klimaks lebih cepat," pikir Nadia bersemangat.

Senyum Joko semakin lebar saat ia melihat Nadia menegak habis air jeruk itu. Joko mengambil gelas kosong dari tangan Nadia, lalu beranjak ke dapur untuk menaruh gelas-gelas kosong itu di tempat cuci piring.

Setelah itu ia menghampiri Nadia di ruang tamu dan menyodorkan tangannya ke Nadia.

"Ayo, ikut saya."

Alih-alih menggubris uluran tangan Joko, Nadia malah bertanya, "Ikut ke mana?"

"Kita pindah ke kamar. Di sini terlalu panas dan kurang pas untuk melakukan aktifitas tertentu. Pasti akan lebih afdol kalau kita masuk ke kamar yang ber-AC dan naik ke ranjang yang empuk," Joko menjelaskan sambil menyengir kuda.

Nadia enggan untuk masuk ke dalam kamar dengan Joko. Tidak pantas baginya untuk berduaan di dalam kamar dengan pria yang bukan suaminya. Terlebih lagi pria ini adalah bawahannya, orang yang bekerja bersama dengannya di kantor setiap hari. Namun Nadia lebih enggan lagi jika harus membiarkan Joko melakukan perbuatan cabulnya di ruang tamu. Setidaknya berada di dalam kamar memberi kesan lebih tertutup dibanding dengan ruang tamu.

Tanpa merespon uluran tangan Joko, Nadia bangkit berdiri lalu berkata, "Tunjukkan saja di mana kamarnya."

Dengan sedikit kecewa, Joko bergerak menuju kamar di lantai atas. Ia membukakan pintu kamar dan mempersilakan Nadia untuk masuk. Setelah Nadia masuk, Joko menutup daun pintu lalu memutar anak kunci untuk mengunci pintu itu. Ia menarik anak kunci itu dari pintu lalu memasukkannya ke dalam saku celana pendeknya. Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan sebuah handphone dari saku tersebut.

Setelah meletakkan handphone itu di meja dekat ranjang, ia melompat dengan riang ke atas ranjang.

"Yes! Saya sudah tidak sabar untuk memulainya."

Jantung Nadia mulai berdegup lebih keras. Ia berdiri di depan ranjang dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.

"Ok. Perintah saya untuk hari ini sebenarnya sederhana saja, kok."

Ia berhenti sejenak untuk menelanjangi Nadia dengan tatapannya yang bergerak naik turun dari kaki sampai ke ujung rambutnya. Nadia merasa risih melihat mata Joko jelalatan pada tubuhnya dengan pandangan mesum.

"Apa? Apa perintahnya?" tanya Nadia kesal karena tidak sabar.

"Perintah saya hari ini adalah: Tanpa mengenakan pakaian apa-apa, kamu harus membuat saya klimaks!" seru Joko dengan wajah yang lebih serius.

Nadia merasa tubuhnya seakan dilempar dari gedung tinggi dan terhempas di trotoar. Hatinya menciut mendengar perintah Joko. Sebenarnya ia sudah dapat menduga kira-kira seperti apa perintah Joko, namun hati kecilnya tetap berharap agar Joko tidak memberikan perintah yang bersifat seksual.

Nadia tidak bergeming berdiri di hadapan Joko. Ia sebenarnya tahu apa yang harus ia lakukan saat itu, tapi ia sangat ragu untuk melakukannya.

"Ayo, silakan tanggalkan pakaianmu. Semuanya!"

"Baik. Setelah kamu mencapai klimaks, aku boleh segera pulang, kan?"

Joko hanya mengangguk.

"Janji, yah?" Nadia meminta kepastian.

"Iya, saya janji."

Nadia belum yakin strategi apa yang harus ia ambil. Setidaknya ada dua strategi yang terlintas di otaknya. Strategi pertama: konsentrasi pada teknik andalan. Teknik andalan yang ia tahu dapat membuat seorang pria klimaks dengan cepat adalah dengan oral seks. Jadi ia hanya perlu menanggalkan semua pakaiannya dengan cepat dan segera mulai mengoral Joko. Namun ia sangat enggan memasukkan batang penis pria bejat ini ke dalam mulutnya. Hal ini membawanya ke strategi kedua.

Strategi kedua: konsentrasi pada teknik cadangan dengan bantuan media rangsangan lainnya. Dengan strategi kedua ini, Nadia akan mencoba untuk menggelitik saraf rangsang Joko dengan cara-cara ‘aman’ sampai mencapai tingkat birahi yang cukup. Setelah itu ia akan melanjutkannya dengan teknik cadangan, yaitu handjob atau mengocok batang penisnya sampai klimaks.

Setelah menimbang-nimbang dua pilihan strategi ini, Nadia akhirnya memutuskan untuk menggunakan strategi kedua. "Lagipula Joko tadi sudah minum obat perangsang," pikir Nadia. "Jadi seharusnya ia akan lebih mudah mencapai klimaks, tanpa perlu memberikan oral seks padanya," pikirnya lagi.

Perlahan-lahan Nadia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya seperti sedang menari. Dimulai dengan membuka ikat pinggangnya, Nadia mulai melepaskan satu demi satu pakaiannya. Nadia melepaskan ikat pinggangnya tanpa terburu-buru. Tubuhnya berayun ke kanan dan ke kiri dengan lembut. Ikat pinggang itu ia biarkan jatuh begitu saja ke lantai.

Jari-jarinya bergerak ke kancing celana jeansnya. Dengan gerakan yang menggoda, ia membuka kancing itu lalu membalikkan badannya. Kini Joko hanya dapat melihat bagian belakang tubuh Nadia. Perlahan-lahan celana jeans itu melorot sedikit demi sedikit. Paha Nadia yang putih mulus sudah tersingkap sepenuhnya. Pantat Nadia yang tertutup blouse-nya bergoyang-goyang seperti nyiur yang melambai. Nadia melangkah keluar dari celana jeans yang sudah tergeletak di lantai.

Masih membelakangi Joko, Nadia menyilangkan tangan di depan perutnya dan meraih ujung blouse dengan kedua tangannya. Ia menarik ke atas blouse itu. Senyum Joko semakin lebar melihat lekuk indah tubuh Nadia. BH dan celana dalam hitam Nadia terlihat kontras pada kulit tubuhnya yang sangat lembut dan putih bersih.

Setelah meyakinkan dirinya untuk melanjutkan ‘pertunjukan’ erotis ini, Nadia membalikkan tubuhnya dan menghadap Joko. Mata Joko setengah tertutup menonton tarian erotis Nadia. Mata Nadia jatuh pada tangan Joko yang sedang mengusap-usap selangkangannya yang menonjol di celana pendeknya.

Sedikit banyak ada perasaan bangga dalam diri Nadia atas kemampuannya dalam merangsang pria. Walau ‘hasil’ yang terlihat pada tonjolan di celana Joko itu mungkin diperoleh berkat obat perangsang yang Joko minum, Nadia percaya bahwa tarian dan keindahan tubuhnya mempunyai peran penting dalam tergugahnya birahi Joko.

Nadia melangkah maju mendekati Joko yang masih mengelus-elus tonjolan pada selangkangannya. Lalu Nadia duduk di ranjang di hadapan Joko. Tangan kiri Nadia terjulur maju meraih tangan Joko dan menghentikan elusan Joko. Dengan tangan kanannya yang masih bebas, Nadia membelai dengan lembut tonjolan yang seakan terlihat membesar seiring dengan belaian-belaian tangan Nadia.

"Aha! Kalau melihat kondisinya yang seperti ini, aku yakin dapat membuatnya klimaks dengan cepat," pikir Nadia penuh percaya diri.

"Bukannya saya tidak suka penis saya dielus-elus, Nad, tapi ‘kan perjanjiannya kamu harus telanjang dulu?" bisik Joko dengan suara parau.

Nadia tidak menggubris kata-kata Joko. Tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan Joko. Belaian demi belaian lembut menghujani batang yang kelihatannya sudah mengeras sempurna itu.

Melihat Nadia tidak mendengarkan protesnya, Joko akhirnya mengambil inisiatif untuk membuka BH Nadia. Ia menarik tangan kanannya sehingga lepas dari genggaman Nadia lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nadia sehingga kedua tangannya dapat meraih kait BH di belakang punggung Nadia.

Nadia menghentikan belaiannya pada batang Joko. Ia memegangi kedua lengan Joko untuk menghentikan perbuatannya. "Ok, ok... Aku akan buka sendiri," kata Nadia setengah berbisik.

Tepat saat itulah Nadia mulai merasakan api birahi terpercik dari sekitar puting susunya. Ia tidak menghiraukan hal tersebut dan kembali berkonsentrasi pada usahanya membuat Joko klimaks secepat mungkin, tanpa harus mengoral atau bahkan berhubungan badan.

Nadia bergerak mundur sedikit agar kedua tangan Joko lepas dari BH-nya. Setelah itu dengan mudah ia melepaskan kait BH itu, namun Nadia tidak langsung menanggalkannya. Ia menahan BH-nya dari depan dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya membelai-belai paha Joko. Jangkauan tangannya kurang panjang untuk meraih batang penis Joko.

Nadia menggigit bibir bawahnya dengan nakal saat menyadari Joko sedang menatap wajahnya. Tangan kiri Nadia akhirnya menyingkap BH hitam itu dari dadanya. BH itu ia letakkan di atas ranjang di sampingnya. Kini hanya tertinggal celana dalamnya, dan setelah itu barulah ia boleh memberikan handjob kepada Joko.

Mata Joko terlihat berbinar-binar saat dua bukit kembar terpampang indah menggantung di hadapannya. Wajahnya seperti bocah yang kegirangan melihat hadiah mainan barunya. Joko tak kuasa menahan dirinya. Tangan kanannya tiba-tiba sudah meremas dengan lembut perangkat lunak Nadia.

Percikan api birahi kembali meletik dari puting susu Nadia. Nadia terkejut, bukan karena remasan Joko, namun karena kali ini sengatan percik api birahi di putingnya terasa lebih kuat.

Nadia langsung bangkit dari duduknya. Tidak ingin berdiam diri dan membuang waktu, Nadia kembali meliuk-liukkan tubuhnya seperti penari striptease. Tak lama setelah itu, ia menyelipkan jari-jarinya ke kedua sisi celana dalamnya. Dengan gerakan yang sensual, Nadia mendorong ke bawah celana dalam itu. Lututnya ditekuk sampai berjongkok sehingga celana dalamnya menyentuh lantai.

Tanpa berkedip, Joko memandangi tubuh Nadia yang telanjang bulat. Bulu-bulu halus di atas kemaluan Nadia terlihat rapih terpotong. "Hmmm... terlihat beda dibanding dengan waktu itu. Apakah ia mencukurnya khusus untuk acara ini?" pikir Joko.

Risih karena dirinya menjadi pusat dari perhatian Joko, Nadia segera kembali duduk di hadapannya untuk melanjutkan buaian jemarinya pada tubuh Joko.

Nadia menurunkan wajahnya ke selangkangan Joko. Ia mendekatkan wajahnya sedekat mungkin ke batang penis yang masih tertutup celana itu. Tangan kanannya kembali menari-nari di sepanjang tonjolan batang penis Joko.

Tak lama kemudian, Nadia mendapati secemplok bagian atas celana Joko berubah warna perlahan-lahan menjadi semakin gelap.

"Yes! Cairan pelumas Joko sudah luber keluar dari salurannya," teriak Nadia dalam hati.

Cairan pelumas diproduksi oleh tubuh pria selain untuk melumasi penis sehingga mempermudah untuk melakukan penetrasi, juga berguna untuk menetralisir sisa-sisa urine yang berada di saluran penis.

Permainan jari-jari Nadia semakin gencar begitu ia melihat tanda-tanda cairan itu pada celana pendek Joko. Selama dalam keadaan terangsang, cairan pelumas terus diproduksi oleh tubuh pria dan terkumpul di buah zakar yang pada akhirnya meleleh keluar melalui saluran di dalam penis. Joko merasakan cairan itu sudah menggumpal di buah zakarnya. Gumpalan itu sedikit demi sedikit menyembul naik di sepanjang saluran penisnya.

Sambil menarik kepalanya ke belakang, Joko melenguh perlahan, "Nnnghhh..."

Bersamaan dengan lenguhannya itu, gumpalan cairan itu menyeruak keluar dari mulut penis Joko merembes melalui noda basah di celana tersebut. Lelehan bening yang keluar dari ujung batang penis Joko terlihat jelas oleh Nadia.

Serta merta percikan api birahi langsung meletik lagi di payudara dan di selangkangannya. Nadia tidak mengerti mengapa saat itu ia mendapat dorongan untuk menjilat cairan bening itu. Ia mengalihkan pandangannya dari tonjolan batang penis di celana Joko dan berharap dapat membantunya untuk meredakan dorongan itu.

Beberapa saat setelah dorongan itu reda, Nadia mengembalikan konsentrasinya pada penis Joko. Dengan lembut ia mengurut batang Joko. Semakin diurut, semakin banyak lelehan bening yang keluar. Dorongan untuk menjilat dan menyedot cairan itu kembali muncul dan kali ini dorongan itu lebih kuat.

Nadia menahan dirinya untuk tidak menjilat carian itu. Nafasnya menjadi terengah akibat pergumulan dalam dirinya. Lalu ia baru menyadari selangkangannya sudah basah oleh cairan yang meleleh dari dalam vaginanya dan puting susunya mulai mengeras.

"Lho? Ada apa ini?" pikir Nadia yang tidak mengerti atas apa yang terjadi pada dirinya.

Sambil terus mengurut batang penis itu, wajah Nadia semakin lama semakin mendekat ke bagian noda basah di celana Joko. Mulutnya sudah terbuka dan lidahnya sudah siap menjemput cairan bening yang terlihat sangat menggiurkan itu.

Joko yang tidak ingin cepat-cepat mencapai klimaks terpaksa harus menghentikan Nadia. Ia mendorong tangan Nadia menjauh dari selangkangannya. Lalu dengan jarinya di dagu Nadia, Joko membimbing wajah Nadia mendekat ke wajahnya.

Joko memagut bibir Nadia penuh nafsu. Kumis di atas bibir Joko menggelitik Nadia. Nadia tidak membalas ciuman Joko. Ia hanya membuka mulutnya dan membiarkan Joko melumat bibirnya.

Walau tidak membalas ciuman itu, birahi Nadia bergerak menjalar ke sekujur tubuhnya. Payudaranya terasa mengencang, puting susunya sudah mencapai keras yang maksimal, dinding vaginanya seperti lumer menjadi lelehan yang merembes keluar dengan lancar.

"Kenapa aku jadi terangsang seperti ini? Tidak mungkin aku terangsang semudah ini. Apalagi bersama dengan pria yang tidak aku sukai," pikiran Nadia kembali bertanya-tanya.

Belum sempat berpikir jauh, tubuh Nadia terlonjak saat jari-jari Joko memilin puting kanannya.

"Mmmmmpphhhh...," Nadia mengerang dibalik ciuman Joko.

"Tidak! Tidak mungkin! Jangan-jangan... Oh! Obat perangsang di air jeruk! Apakah Joko sebelumnya sudah menduga kalau aku akan menukar gelasnya dengan gelasku? Jadi, sejak awal ia malah menaruh obat perangsang di gelasnya sendiri sehingga waktu aku menukarnya, aku malah menegak obat perangsang itu yang ada di gelasnya?" pikiran Nadia berkecamuk begitu mendapati gejolak seksual yang tak diundang itu berusaha mendobrak pertahanannya.

"Apa jadinya kalau aku tadi tidak menukar gelas itu? Tidak..., tidak mungkin ia mau mengambil resiko meminum obatnya sendiri. Ataukah ada perbedaan pada gelas-gelas tersebut sehingga ia dapat mengetahui apakah gelas-gelas itu aku tukar atau tidak? Atau jangan-jangan... Jangan-jangan ia menaruh obat perangsang di kedua gelas itu, sehingga gelas manapun yang kuminum, aku pasti meminum obat perangsang tersebut?"

Pertanyaan-pertanyaan dalam otak Nadia terhenti saat ia merasakan puting susunya dijilat oleh Joko.

"Pak Joko,... (mmmhh)..., " Nadia berusaha untuk berbicara.

Joko tidak berhenti untuk mendengarkan penuturan Nadia dan terus menjilati putingnya.

"Pak Joko, stoph... (oohhhh)...", Joko menekan puting Nadia dengan lidahnya. "Obat perangsang yang kamu taruh... (mmmhhh)... kenapa kamu taruh di kedua gelas? (mmmhhhh)..."

Joko masih melanjutkan permainan lidahnya untuk beberapa saat. Akhirnya ia berhenti dan menatap Nadia yang matanya sudah menjadi sayu.

"Obat perangsang apa?" Joko bertanya balik dengan nada nakal.

Nadia berusaha membuat nafasnya menjadi teratur kembali sebelum berkata, "Tadi kamu bilang kamu taruh obat perangsang di gelasku. Kamu bohong, yah?"

"Kamu mengerjai aku dengan menaruh obat perangsang di kedua gelas itu!" kata Nadia kesal.

"Hahahaha! Jadi kamu menukar gelas kita?"

Nadia mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan tidak menjawab pertanyaan Joko. Ia terlihat sangat seksi dengan wajahnya yang cemberut dan dadanya yang naik turun akibat nafasnya yang memburu.

Dengan cepat Joko bangkit meraih handphonenya. Setelah menekan tombol khusus di handphonenya, terdengar suara dering telepon dari ruang tamu.

Joko menekan satu tombol lalu telepon di ruang tamu berhenti berdering. Kemudian Joko berbicara di handphonenya, "Oh, Mira! Apa kabar sayang? Ayahmu baik-baik saja?" Terdengar jelas ia sedang berpura-pura.

"Jadi... waktu kita berada di ruang tamu... perbincangan kamu dengan Mira... Kamu hanya berpura-pura?" tanya Nadia yang mencoba menyambung-nyambungkan potongan misteri di otaknya.

"Yah, saya sengaja memberi kamu waktu untuk melakukan apapun yang kamu anggap perlu. Seperti... menukar gelas kita. Hahahaha!"

"Tapi," sela Joko sebelum Nadia membuka mulutnya lagi, "tidak menjadi masalah gelas mana yang kamu minum."

"Brengsek! Berarti benar kamu menaruh obat perangsang di kedua gelas itu," geram Nadia.

Pipinya bersemu semakin merah dan berkali-kali ia beringsut dalam duduknya dengan gelisah. Nadia semakin merasakan pengaruh obat perangsang bekerja dalam tubuhnya.

"Lalu mengapa obatnya hanya bereaksi pada diriku?" tanya Nadia.

"Oh, siapa bilang saya minum obat perangsang itu?" jawab Joko dengan pertanyaan baru.

Tampang Nadia menjadi semakin bingung.

Joko semakin gemas melihat wajah imut Nadia yang kebingungan. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, ia langsung menanggalkan semua pakaiannya. Ia kini berdiri bugil di hadapan Nadia.

Melihat batang kejantanan Joko yang berwarna gelap dan berdenyut-denyut itu, tanpa sadar Nadia bergumam, "Oohhhhhh..."

Suara seksi dan menggoda yang keluar dari mulut Nadia membuat Joko langsung menerjang Nadia yang duduk di atas ranjang. Bibir mereka kembali bersua. Mulut Joko melumat bibir Nadia seakan hendak menyedot roh dan jiwa Nadia keluar dari raganya. Penis Joko tertekan di atas selangkangan Nadia. Penis itu seperti batang besi yang membara terasa begitu keras dan panas di kulitnya.

Sambil terus melumat bibir Nadia, Joko menggerak-gerakkan pinggulnya supaya penisnya dapat masuk ke liang surga milik Nadia. Tanpa melihat vagina Nadia, Joko mendapat kesulitan mengarahkan penisnya masuk. Penis Joko meliuk-liuk seperti ular liar dan kepala penisnya mengoles-oles di sepanjang bibir kemaluan Nadia yang sudah basah total. Tubuh Nadia bergelinjang setiap kali klitorisnya tergesek akibat ulah batang milik Joko.

Akhirnya Joko menghentikan ciumannya dan berusaha menggunakan tangannya untuk membantu batang itu terarah ke vagina Nadia. Saat itulah Nadia tersadar atas kondisinya.

"Kemana semua rencanaku tadi? Aku seharusnya hanya perlu memberinya handjob tapi sekarang keadaanku malah lebih parah. Bahkan lebih parah dibanding dengan oral seks!"

Namun terlambat sudah. Saat itu Nadia dapat merasakan kepala penis Joko sudah berada pada posisi yang tepat untuk melakukan penetrasi. Dengan satu dorongan yang mantap penis Joko menyeruak masuk menembus lekuk dan lipat dinding vagina Nadia.

"OOOooooohhhhh!" Nadia melenguh panjang.

Joko meletakkan seluruh berat tubuhnya pada selangkangannya sehingga Nadia tidak dapat bergerak kemana-mana. Joko menikmati setiap detiknya dengan membiarkan penisnya bersemayam di dalam hangatnya balutan dinding vagina Nadia yang basah.

Ada perasaan ‘penuh’ yang mengisi kekosongan di dalam lubang kewanitaannya. Sejak melihat Joko bertelanjang di hadapannya, Nadia memang sudah menyadari bahwa penis Joko jauh lebih besar dibanding dengan milik Yusdi. Sebelum melihat penis Joko, bagi Nadia penis Yusdi sudah tergolong besar. Ia sering mendengar penjelasan mengenai besar penis akan mempengaruhi kenikmatan yang dirasakan wanita dalam hubungan seks. Hampir semua majalah yang ia baca mengatakan bahwa itu hanyalah mitos belaka.

Tentu saja Nadia tidak berniat untuk membuktikan apakah mitos tersebut benar atau salah karena ia tidak berniat untuk berhubungan seks dengan Joko (setidaknya ia akan berusaha untuk keluar dari kondisinya sekarang ini). Diluar dari konteks nikmat atau tidaknya hubungan seks dengan penis yang besar, Nadia dengan mudah dapat merasakan perbedaan antara penis suaminya dan penis Joko. Level atau tingkat kepenuhan pada liang sanggamanya terasa jauh berbeda. Ya, walau dalam keadaan diam, lekuk dan bentuk penis Joko sangat terasa menekan dinding vaginanya dibanding dengan penis Yusdi yang baru terasa saat penis itu bergerak keluar masuk.

Membayangkan perbedaan tersebut, tanpa sengaja tubuh Nadia bereaksi dan mengeluarkan cairan cinta lebih banyak lagi dalam liang kewanitaannya. Ia dapat merasakan lendir cinta itu merembes diluar keinginannya secara perlahan-lahan dari dinding vaginanya. Dan perasaan tersebut mengakibatkan jantungnya berdebar lebih cepat, nafasnya semakin cepat dan pendek seakan sedang berlomba-lomba untuk meraup udara sebanyak mungkin.

Joko menarik nafas panjang. Ia bersiap untuk menggenjot pinggulnya supaya penisnya dapat keluar masuk vagina Nadia. Nadia tahu apa yang akan Joko perbuat. Setidaknya Joko harus menarik keluar penisnya yang kemudian dimasukkannya lagi, dan keluar, masuk, dan seterusnya. Untuk menarik keluar penisnya, Joko harus memindahkan sebagian berat tubuhnya ke tempat lain dan Nadia tahu bahwa saat itulah kesempatannya untuk kabur.

Dan benar saja. Joko menekan kedua tangannya ke ranjang untuk menarik penisnya keluar sehingga berat tubuhnya sebagian besar berpindah ke kedua tangan Joko.

Saat penis itu hampir keluar seluruhnya, Nadia menggeser pinggulnya sehingga penis itu keluar total dari bibir vaginanya. Begitu keluar, Nadia langsung mendorong tubuhnya ke bawah sehingga wajahnya tepat berada di depan dada Joko. Dengan kekuatan yang tersisa ia memutar tubuh Joko sedemikian rupa sehingga dirinya kini membelakangi dan menindih perut Joko.

"(Hhhh)... mmmh... bagaimana kalau (hhhh)... aku saja (hhhh).... yang memimpin (hhhh)... permainan ini?" Nadia masih terengah-engah saat ia menoleh ke belakang mengutarakan usulnya kepada Joko.

Dengan gerakan yang efisien, Nadia meraih batang lambang keperkasaan di hadapannya dan mulai mengocoknya dengan perlahan. Batang itu terlihat sangat indah mengkilat oleh cairan miliknya dan milik Joko yang bercampur jadi satu.

Tampaknya Joko tidak berkeberatan atas perubahan posisi yang tiba-tiba itu. Nadia merasa lebih tenang karena setidaknya sampai saat ini ia sudah lepas dari persetubuhan yang sangat ia hindari itu.

Setelah beberapa menit berlalu, Nadia sudah menggunakan segala teknik yang ia tahu demi tercapainya klimaks Joko secepat mungkin. Nadia takjub melihat banyaknya cairan pelumas yang terus meleleh keluar dari mulut penis Joko. Namun demikian Joko belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera mencapai puncak.

Kedua tangan Joko tiba-tiba melingkar dari bawah paha Nadia. Dengan satu gerakan kuat, Joko menarik mundur paha Nadia sehingga selangkangan Nadia berada di dekat mukanya.

Nadia terkejut atas gerakan Joko yang tiba-tiba ini namun ia masih tidak melepaskan genggamannya pada penis Joko. Ia terus berkonsentrasi pada target yang harus ia capai dan mengocok-ngocok penis itu dengan lebih cepat.

"Hmmmhhh..." tiba-tiba Nadia mendesah. Tangannya berhenti mengocok dan kepalanya tertunduk lemas.

Jari-jari liar Joko ternyata sudah beraksi. Karena vagina Nadia sudah sangat basah, jari tengah dan telunjuk Joko meluncur licin dan bebas di bibir kemaluan itu.

Nadia menggigit bibirnya untuk membungkam desahan-desahan yang sudah berada di ujung mulutnya. Setelah sedikit demi sedikit dapat menahan gejolak birahinya, Nadia melanjutkan mengocok penis Joko. Namun dengan kemaluannya yang kini sudah di bawah kuasa jari-jari maut Joko, sangat sulit bagi Nadia untuk berkonsentrasi, yang mengakibatkan kocokan-kocokannya menjadi semakin hambar.

Setelah beberapa saat, tiba-tiba Nadia merasakan arus listrik tercetus dari klitorisnya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Aaaaaahhhhhhhh..." desahan yang panjang itu akhirnya lepas juga setelah sekian lama Nadia berhasil membungkam mulutnya. Nadia melepaskan penis Joko dari genggamannya. Kedua tangannya harus menopang tubuhnya yang tiba-tiba lemas itu.

Joko baru saja menggunakan jurus maut andalannya pada klitoris Nadia. Ibu jarinya sudah bersemayam di singgasana kemaluan Nadia. Jurus maut inilah yang sebelumnya telah membawa Nadia mencapai orgasme yang paling pertama dalam hidupnya. Merasakan tubuhnya yang tidak bisa diajak kompromi, harapan Nadia semakin pupus saja.

Di bawah kuasa jari Joko, tubuh Nadia menari-nari seperti boneka yang dikendalikan dengan tali dari atas oleh sang dalang. Di luar kendali Nadia, pinggulnya bergerak sendiri ke atas dan ke bawah, haus mencari sumber kenikmatan.

Nadia masih berada dalam arus birahi yang menanjak tajam saat Joko mendekap pantat Nadia dari bawah. Lalu Joko menekan pinggul itu sehingga bibir kemaluan Nadia tepat berada di depan mulutnya. Lidah Joko menjulur keluar.

"Ggaaaaaaahhhh..." Nadia mendesah lebih keras saat arus listrik itu kembali menghajar sekujur tubuhnya.

Joko menggunakan lidahnya sebagai pengganti ibu jari yang sudah turun dari singgasana. Tubuh Nadia bergelinjang merasakan kenikmatan surgawi itu. Tekstur lidah yang lembut dan hangat sangatlah berbeda dengan tekstur jari.

Dalam keputusasaannya, Nadia langsung melahap batang penis yang sejak tadi berdiri menantang di hadapannya. "Oh, tidak! Sepertinya sebentar lagi aku akan mencapai klimaks! Aku harus lebih dulu membuatnya klimaks!" teriak Nadia dalam hati.

Kepala Nadia bergerak naik turun. Bibirnya menjepit lingkar batang yang keras itu. Lidahnya membalur kepala penis Joko. Suara desahannya yang terbungkam penis Joko terdengar seperti suara kucing yang mengeong-ngeong tinggi.

"Oh! TIDAK! Aku kalah!"

"UAAAAAAAAAAHHHH!" Nadia berteriak bersamaan dengan orgasmenya.

Sekujur tubuh Nadia mengejang dan bergetar dengan cepat. Sakit yang ia rasakan pada klitorisnya sungguh terasa nikmat. Matanya terpejam kuat dan mulutnya tanpa sadar menganga seakan hendak memproklamirkan kepuasan tiada tara yang ia rasakan saat itu. Air liur bercampur cairan Joko meleleh keluar dari pinggir mulutnya. Saat itu Nadia merasa roh dan jiwanya seakan tertarik keluar dari raganya.

Selesai orgasme tenaga Nadia benar-benar habis terkuras. Tangan dan kaki Nadia sudah tidak dapat menopang berat tubuhnya sendiri sehingga ia jatuh terjerembab menindih tubuh Joko. Dampak orgasme yang begitu kuat masih terasa oleh Nadia karena terlihat sesekali tubuhnya masih bergelinjang.

Joko membiarkan tubuh Nadia tergolek lemas di atas badannya sampai jiwa Nadia kembali masuk ke raganya.

"Bagaimana? Enak? Sudah puas?" suara Joko mengembalikan Nadia ke dunia nyata.

Wajahnya masih terkulai di atas paha Joko. Pertanyaan Joko seakan memecut harga dirinya dan membuatnya kehilangan muka. Namun masih ada hutang tanggung jawab yang harus ia tunaikan. Ia melihat batang penis Joko masih mengacung dengan bangga di hadapannya.

Dengan tenaga yang mulai pulih, Nadia meraih penis itu lalu mulai mengocoknya lagi.

"Dihisap saja, Nad," kata Joko santai.

Rupanya Joko menyukai hisapan Nadia. Bahkan ia lebih memilih mulut Nadia daripada vaginanya. Bisa saja Joko menancapkan penisnya ke dalam vaginanya sewaktu Nadia tidak berdaya barusan, namun ia sengaja memilih mulut Nadia.

Nadia masih ragu untuk memasukkan penis Joko ke dalam mulutnya. "Ah, sudah kepalang tanggung. Ada baiknya kalau aku selesaikan secepat mungkin," pikir Nadia dengan pasrah.

Nadia membuka mulutnya dengan lidah yang sedikit terjulur ke depan. Saat lidahnya menyentuh kepala penis Joko, Nadia memejamkan matanya erat-erat.

Nadia mulai melakukan manuver-manuver dengan lidah dan bibirnya pada batang penis itu. Setelah beberapa menit, mulai terlihat tanda-tanda keberhasilan atas usahanya. Otot-otot perut dan paha Joko sesekali mengeras dan mengejang, sepertinya ia sedang menahan ejakulasinya.

Sudah tidak sabar untuk menyelesaikan semua ini, tangan Nadia ikut beraksi untuk membantu mempercepat tercapainya klimaks oleh Joko. Tangan Nadia mengocok-ngocok batang penisnya sementara mulutnya mengulum bulatan kepala penis itu seperti sedang mengulum lolipop.

Hanya selang beberapa detik, tangan Joko mencengkeram paha Nadia, lalu sekujur tubuhnya mengejang. Gumpalan-gumpalan sperma panas seakan meledak dengan kekuatan dahsyat dari penis Joko dan menghantam langit-langit mulut Nadia. Dua atau tiga semburan setelah itu, penis Joko akhirnya berhenti memuntahkan sperma.

Mulut Nadia terasa penuh oleh sperma yang bergumpal-gumpal mengambang di atas lidahnya. Kemudian ia memuntahkan sisa sperma Joko di mulutnya ke telapak tangannya yang ia bentuk seperti mangkuk. Nadia yakin satu atau dua teguk sempat tertelan olehnya tadi.

Dengan tangannya yang masih bebas, Nadia mengambil beberapa lembar tisue yang berada di samping meja. Sperma yang tertampung di tangannya, ia tuang ke tisue yang baru ia ambil. Pekatnya aroma dan rasa sperma Joko masih terasa oleh Nadia.

"Ahhh... sudah lama saya tidak ejakulasi seperti itu," Joko berkata puas.

"Itu bukan urusanku. Sekarang aku pulang," sanggah Nadia sambil mengenakan pakaiannya satu per satu.

Sementara Nadia mengenakan pakaiannya, Joko berceloteh ringan, "Jadi kamu pikir saya memasukkan obat perangsang ke dalam minuman kamu, yah? Hahaha... Memang, tadi saya bilang kalau saya menambahkan bumbu khusus ke dalam minuman kamu. Dan saya memang menambahkan sesuatu ke dalam minuman kamu. Tapi... yang saya tambahkan itu tak lain hanyalah gula pasir biasa, kok. Tidak ada obat-obatan apapun yang saya tambahkan, baik di gelasmu maupun di gelas saya."

Lalu Joko melanjutkan, "Berarti, sejak tadi kamu pikir kamu berada di bawah pengaruh obat perangsang, ya? Hahahaha..."

Nadia terbengong-bengong mendengar penjelasan Joko.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya »
Baca cerita sebelumnya « Bagian 4





Sep 24, 2010

Sex-Force 4

Nadia
Ringkasan: Joko melancarkan rencana khusus untuk Nadia.
Kode cerita: dru, humil, MF, non-con, oral, toys

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia
* Pak Ardi: manager Nadia
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 4
by: VVN

Dua minggu akhirnya berlalu dengan cepat tanpa Yusdi mengetahui sama sekali bahwa Nadia pada akhirnya sudah pernah merasakan orgasme. Senin pagi ini Yusdi kembali menyiapkan rencana baru untuk Nadia.

Sehari sebelumnya (hari Minggu), Nadia menghabiskan waktunya seharian di salon kecantikan. Mulai dari merapikan rambut, creambath, facial, luluran sampai spa dilakukannya. Nadia mengatakan bahwa hari ini ia akan membawakan presentasi di hadapan manager-manager kantor mereka. Jadi ia ingin tampil cantik dan percaya diri dalam presentasi ini.

Kebetulan manager Yusdi sedang keluar kota dan mendelegasikan Yusdi untuk ikut dalam presentasi tersebut.

Setelah bangun dari tidur, sejak pagi-pagi Yusdi sudah menyalakan remote Sex-Force® itu dan memutar tombol ke level 2. Dalam perjalanan ke kantor Yusdi memperhatikan istrinya dan melihat adanya sedikit perubahan pada diri Nadia. Ia terlihat lebih gelisah dibanding waktu yang lalu. Tapi mungkin ini bukan disebabkan oleh Sex-Force®.

Nadia mengenakan blazer hitam dengan bahan agak keras. Untuk bagian dalamnya, ia mengenakan tank-top putih tipis dan jika diperhatikan dengan seksama, garis-garis BHnya dapat terlihat dari balik tank-top tersebut. Rok span hitam berbahan katun dipakainya dan dipadukan dengan sepatu baru berwarna hitam dengan hak yang cukup tinggi. Rambutnya disanggul rapih dan ia mengenakan kacamata pemantas sehingga menambah kesan matang, bijaksana dan berwibawa.

Presentasi dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini semua peserta datang tepat waktu; mungkin karena kebanyakan pesertanya dari kalangan petinggi dari perusahaan mereka. Ada lima pria mengenakan setelan jas berdasi dan tiga wanita dengan dandanan elegan yang menghadiri presentasi ini. Sisanya adalah tiga orang pria dengan gaya berpakaian yang berbeda dengan para petinggi itu (termasuk Yusdi). Jadi ada 12 orang di dalam ruang presentasi itu.

Beberapa menit kemudian, Nadia dipersilakan untuk memulai presentasinya. Dengan senyuman yang manis Nadia memulai presentasinya. Lima menit pertama telah berlalu. Semua peserta menyimak dengan serius presentasi tersebut. Yah, setidaknya hampir semua peserta, kecuali Yusdi. Diam-diam ia mengeluarkan remote Sex-Force® dari dalam saku celananya.

Secara berkala (kira-kira setiap lima menit), Yusdi menaikkan ratingnya setingkat demi setingkat. Pada level 3, Nadia masih tidak menunjukkan reaksi yang berarti.

Level 4, lampu indikator berubah dari kuning menjadi jingga. Nadia sempat terdiam sekitar dua detik sebelum melanjutkan lagi presentasinya. Nadia mulai merasakan impuls-impuls seksual pada sarafnya. Namun karena saat itu sedang konsentrasi penuh pada presentasinya, Nadia dapat mengatasi ‘gangguan’ ini.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Level 5 dilalui Nadia dengan lebih berat. Beberapa kali Nadia salah mengucapkan kata-kata dalam presentasinya. Ia juga beberapa kali terdiam di tengah presentasinya, seakan sedang melamun berpikir jauh. Alisnya sedikit mengernyit pada saat ia melamun.

Level 6 mulai membuat Nadia kewalahan. Nafasnya mulai tidak teratur. Dari kening, cuping hidung dan daerah di atas bibirnya mulai keluar butir-butir keringat. Pengucapan kata-kata yang salah semakin sering terjadi. Dan banyak peserta yang mulai jadi gelisah.

Level 7, lampu indikator berubah menjadi merah. Nadia berpegangan pada tembok dan kepalanya tertunduk. Ia terlihat seperti sedang menahan sakit pada tubuhnya. Namun sebenarnya Nadia sedang bergumul menghadapi rangsangan seksual yang tinggi. Sebagai perbandingan, pada rating ini di waktu yang lalu Nadia mendapat orgasme pertamanya dengan bantuan permainan jari-jari nakal Joko.

Setelah lima detik berlalu, Nadia kembali melanjutkan presentasinya. Wajahnya semakin berkeringat. Leher dan pipinya pun terlihat memerah. Pada saat hendak berpindah dari sisi kiri ke sisi kanan dari white-board, Nadia terpelecok lalu terjatuh dengan posisi lutut kirinya bertumpu pada lantai. Hal ini menyebabkan rok span yang dikenakannya robek dari bawah ke atas di sisi kanannya sampai celana dalamnya yang berwarna pink dapat terlihat (walau tidak semua peserta memperhatikan ini). Robeknya rok ini memperlihatkan paha Nadia yang putih mulus itu ke lebih dari 5 pasang mata pria yang ada di dekatnya.

Hampir seluruh peserta bangkit dari duduk. Sebagian bersuara kaget, sebagian lagi hanya ingin melihat apa yang terjadi dan sisanya datang untuk menolong Nadia. Yang terdepan menghampiri Nadia adalah Pak Ardi, manager Nadia.

“Nadia, kau tak apa-apa?” tanyanya sambil membimbing tubuh Nadia untuk duduk di lantai.

Yusdi mematikan remote tersebut lalu bergabung dengan orang-orang yang menghampiri Nadia. Ia berusaha untuk menyeruak dari kerumunan orang-orang yang berdiri di sekeliling Nadia.

Nadia duduk di lantai di hadapan pada Pak Ardi. Kaki kanan Nadia kini berselonjor lurus ke depan. Kaki kirinya yang sedikit tertekuk membuat bagian dalam paha kanannya yang putih mulus terlihat begitu kontras dengan rok hitamnya. Setiap lelaki yang berdiri di sekelilingnya secara insting memandangi paha Nadia yang putih mulus itu. Dan jika mereka memperhatikan dengan seksama, mereka dapat mengintip celana dalam pinknya yang terlihat basah. Dan memang itulah yang terlihat oleh Pak Ardi yang berada begitu dekat dengannya.

Segera Pak Ardi membangunkan Nadia untuk didudukkan pada kursi terdekat. Tanpa disuruh, Nadia merangkul pundak Pak Ardi. Tangan kanannya melingkar melewati belakang punggung Pak Ardi dan telapak tangannya memegang pundak kanan Pak Ardi erat-erat. Dalam kondisinya yang terangsang, Nadia merasakan payudaranya mengencang dan membesar. Dan kini payudara kanannya bulat-bulat menekan dada Pak Ardi yang berbadan tegap.

Pak Ardi langsung merasakan kekenyalan bukit empuk Nadia di dadanya. Ia jadi kikuk mendapati Nadia yang seakan sedang memeluknya dengan penuh kemesraan di depan orang banyak. Dimulai dari melihat paha Nadia yang putih mulus, lalu pemandangan erotis di sekitar selangkangan Nadia dan dilanjutkan dengan payudaranya yang menempel di dadanya, membuat batang kemaluan Pak Ardi membesar secara perlahan namun pasti.

Yusdi yang berhasil menyeruak dari kerumunan orang itu menghampiri Pak Ardi dan membantunya memindahkan Nadia ke kursi di dekatnya. Kaki Nadia begitu lemas sehingga hampir tidak dapat ia gunakan untuk berjalan.

Karena para peserta lainnya berkerumun di sekitar sana, Pak Ardi berseru,”Coba tolong beri ruang dan ke pinggir sedikit. Jangan berkerumun seperti ini!”

Kerumunan sedikit merenggang namun Nadia masih sulit dipindahkan karena kakinya begitu lemas. Akhirnya Pak Ardi menyuruh Yusdi untuk menggendong Nadia untuk dibawa ke bangku.

Yusdi mengambil alih rangkulan Nadia dari pundak Pak Ardi lalu ia meraih bagian belakang lutut Nadia dengan tangan kirinya. Dengan satu gerakan memutar, tubuh Nadia kini sepenuhnya dalam gendongan Yusdi.

Karena bagian kanan rok Nadia robek sampai ke atas maka bagian belakang roknya agak menjuntai sehingga belahan pantat dan celana dalamnya dapat terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Beberapa pasang mata pria di sekitarnya tak dapat lepas dari belahan pantat Nadia. Untung saja seorang wanita, salah satu dari peserta presentasi itu tergopoh-gopoh menghampiri mereka untuk menutupi pantat Nadia yang tersingkap itu.

Setelah didudukkan di kursi, menit-menit berikutnya Nadia diberi minum dan dikipasi oleh beberapa wanita peserta presentasi. Para peserta lainnya sudah tidak berkerumun lagi. Kebanyakan dari mereka berdiri memperhatikan dari jauh dan sebagian lagi duduk sambil berbincang-bincang pelan dengan topik-topik yang beragam (mulai dari kurang gizi, diabetes, serangan jantung, bahkan sampai ke AIDS).

Kebanyakan dari mereka menduga Nadia terkena serangan jantung atau kurang makan sehingga pingsan. Tapi beberapa dari peserta pria di barisan depan tahu bahwa Nadia bukan pingsan melainkan terjatuh. Namun mereka percaya bahwa Nadia memang sedang tidak sehat.

“Nadia, presentasi ini ditunda dulu yah. Setelah ini lebih baik kamu pulang ke rumah dan istirahat,” kata Pak Ardi.

Lalu Pak Ardi berpaling ke Yusdi, ”Yus, kamu bisa temani istrimu pulang, kan? Nanti aku akan sampaikan hal ini kepada Pak Kuncoro (manager Yusdi).”

“Baik. Terima kasih, Pak Ardi.”

“Terima kasih, Pak,” tambah Nadia kepada Pak Ardi.

“Ah, sama sama, Yus, Nad. Kamu istirahat dulu, deh. Nanti kalau sudah lebih fit baru masuk kerja. Ok?” kata Pak Ardi sambil menepuk bahu Yusdi namun pandangannya tertuju pada Nadia.

“Baik, Pak,” jawab Nadia.

Di dalam perjalanan pulang, Yusdi kembali berpura-pura menanyakan keadaan Nadia, ”Kamu tidak apa-apa, Sayang? Badanmu panas dan berkeringat.”

“Aku… aku tidak apa-apa kok, Yus. Mungkin cuma kelelahan,” kata Nadia setelah terdiam beberapa detik.

Sisa perjalanan pulang hanya Nadia gunakan untuk melamun. Ia memandang ke luar jendela di sampingnya. Pikirannya menerawang kembali ke kejadian-kejadian yang menimpanya belakangan ini.

Akhirnya mereka sampai di rumah. Setelah membopong dan membaringkan Nadia di ranjang, Yusdi beranjak untuk mengambil minum untuk istrinya. Namun belum sampai keluar dari kamar, Nadia memanggilnya. Yusdi berbalik. Ia memandang istrinya dan melihat ada begitu banyak keraguan pada wajah Nadia.

Beberapa detik kemudian Nadia mulai menangis. Ia bangkit dari ranjang, menghampiri Yusdi lalu memeluk suaminya. Untuk beberapa saat Nadia menangis sesenggukan seperti anak kecil di pundak Yusdi. Heran melihat sikap istrinya, Yusdi hanya dapat memeluk balik sambil mengelus-elus punggung Nadia.

Tanpa melepas pelukannya, Nadia berkata dalam tangisan, ”Maafkan aku, Yus… Aku telah berbohong…”

“Aku… Selama ini aku tidak jujur… Ma-maafkan aku…” lanjutnya lagi.

“Sudah, sudah… tenangkan dirimu dulu. Yang penting sekarang kamu sudah tidak apa-apa kan?” kata Yusdi berniat untuk menenangkan Nadia.

“Tidak! A-aku sudah membohongimu…” bantah Nadia yang dilanjutkan dengan tangisan yang semakin menjadi.

Kali ini Yusdi tidak berkata apa-apa. Ia hanya terus mengelus-elus punggung istrinya sampai akhirnya Nadia dapat tenang dan berhenti menangis.

Setelah itu kata-kata mulai keluar dengan lancar dari mulut Nadia. ”Ada yang aneh pada diriku sejak pemeriksaan pap-smear itu, Yus.”

“Beberapa kali aku jadi sangat terangsang pada waktu-waktu yang tak terduga,” lanjut Nadia setelah terdiam sejenak.

Melihat Yusdi hanya diam saja Nadia menjelaskan lagi, ”Iya, benar. Aku terangsang, sama seperti pada saat kita… making love.”

Wajah Nadia merona merah saat ia mengucapkan kata-kata ‘making love’. Yusdi mengambil bangku lalu duduk di depan Nadia yang duduk di pinggir ranjang.

“Kau masih ingat kejadian di meeting waktu itu, kan? Pada waktu kau melihat aku tiba-tiba menjadi tegang di meeting itu?” Nadia menunggu jawaban Yusdi namun Yusdi hanya memandanginya saja.

“Ya. Pada waktu itu aku tiba-tiba merasakan darahku bergejolak dan kemaluanku terasa panas. Dan ini terjadi lagi siang tadi. Hanya saja bedanya hari ini gejolak itu terasa lebih lama dan lebih intens.”

Yusdi mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mengambil tangan Nadia lalu digenggamnya dengan penuh kasih sayang. Mata Nadia mulai berkaca-kaca.

“Aku jadi sangat terangsang dan aku tidak dapat mengontrol tubuhku, Yus. Entah ada apa denganku ini.”

“Waktu terjatuh di kantor dua minggu yang lalu, saat itu aku juga sangat terangsang. Saat itu… saat itu Pak Joko…” Nadia menghentikan kalimatnya. Ia sangat malu saat itu. Tetapi karena melihat suaminya memandanginya dengan pandangan yang penuh kasih itu, ia melanjutkannya.

“Pak Joko mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan melakukan perbuatan yang tak senonoh atas diriku. Dan aku hanya diam saja, Yus!” setelah menyelesaikan kalimat itu, Nadia kembali menangis tersedu-sedu.

Sebenarnya sangat besar keinginan Yusdi untuk menanyakan secara detil apa yang dilakukan Joko atas tubuh Nadia namun ia mengurungkan niatnya dan hanya memeluk istrinya sekali lagi sambil mengelus-elus punggungnya.

Yusdi tidak pernah mempunyai niat untuk merelakan lelaki lain untuk bersetubuh dengan istrinya. Memang Yusdi punya kecenderungan untuk melakukan swing atau tukar pasangan, namun ia berada pada tingkat yang masih pemula. Yusdi sangat suka jika istrinya terangsang oleh tangan-tangan pria lain, terutama saat Nadia berusaha untuk tidak menjadi terangsang. Akan tetapi ia belum ‘berani’ untuk membiarkan mereka menyetubuhi istrinya.

Hanya dengan melihat istrinya yang frigid menjadi terangsang, sudah dapat melipatgandakan sensasi yang Yusdi rasakan. Dan untuk memancing saraf-saraf rangsang birahi Nadia itulah, Yusdi membeli dan memasang Sex-Force® pada tubuh istrinya. Dengan tubuh Nadia yang terus menerus berada dalam nuansa rangsang birahi, Yusdi berharap dapat membantunya dalam menyuguhkan orgasme kepada istrinya.

Nadia masih terus menangis dan akhirnya ia berbisik di telinga suaminya.

“Bukan saja aku diamkan perbuatan Pak Joko itu, Yus… aku malah menikmatinya… Aku… aku…” Nadia ragu untuk memberi tahu Yusdi mengenai orgasmenya. Akhirnya ia melanjutkan, ”Ohhhh… maafkan aku, Yus. Aku sudah tak jujur padamu…”

Nadia kembali menangis. Yusdi terdiam beberapa saat. ”I love you, honey,” kata Yusdi dengan jujur.

“Jangan khawatir. Kita coba periksakan hal ini ke dokter. Ok?” kata Yusdi yang masih belum mau mengungkapkan penyebab rangsangan yang timbul secara acak itu.

Nadia terkejut dan melepaskan pelukan suaminya, ”Jangan. Aku tak mau ke dokter lagi.”

Nadia kembali teringat pengalamannya dengan dokter Doni, teman satu SMA-nya itu. Untuk menutupi rasa bersalah karena tidak menceritakan tentang orgasmenya itu, Nadia menceritakan kejadian pada saat pemeriksaan pap-smear bersama Doni.

“Waktu diperiksa oleh Doni, aku juga terangsang, Yus. Pada saat alat yang ia gunakan untuk mengambil sampel itu masuk ke dalamku, jantungku jadi berdebar-debar. Begitu alat itu dikeluarkan, aku merasa diriku menjadi panas dan ada keinginan agar alat itu segera dimasukkan kembali.”

“Apakah kamu yakin kalau saat itu kamu sedang terangsang, Nad?” Yusdi akhirnya mulai berinteraksi dengan bertanya balik.

“Kamu tahu kan kalau aku tidak mudah untuk terangsang, Yus?” Nadia minta pengakuannya.

Yusdi mengangguk. Lalu Nadia melanjutkan, ”Dan aku tahu jika diriku sedang terangsang atau tidak. Kamupun harusnya tahu kan, Yus?”

Yusdi tidak langsung menjawabnya karena ia masih memikirkan jawabannya. Lalu ia berkata, ”Yah… yang aku tahu jika kamu mulai basah di bawah sana, itu menandakan bahwa kamu mulai terangsang.”

“Nah itu! Benar, kan?” kata Nadia dengan suara yang sedikit bergetar.

Yusdi belum dapat menangkap arah pertanyaan Nadia yang terakhir ini.

“Berarti Doni pun tahu kalau saat itu aku terangsang. Juga Pak Joko. Aduuuhh… aku malu sekali, Yus…”

“Ok. Jangan panik dulu, Nad. Yang lalu biarlah berlalu. Mungkin saja mereka sudah melupakan hal itu atau setidaknya mungkin mereka tidak terlalu menganggap serius hal itu.”

Pikiran Nadia membawanya flashback kembali ke pengalamannya dengan Joko. Ia bertanya-tanya mungkinkah Joko tahu bahwa saat itu ia berorgasme. Atau seperti yang dikatakan Yusdi tadi, malah sebaliknya Joko tidak tahu menahu akan hal ini. Pikiran Nadia terus berlanjut: tetapi jika saja Joko tahu bahwa ia berorgasme pada saat itu, akankah Joko dengan mudah melupakan kejadian itu seperti yang dikatakan Yusdi barusan.

Suara Yusdi membuyarkan semua pikiran tadi, ”Nad, apa yang sedang kamu pikirkan?”

Nadia yang kaget menjawab, ”Oh tidak. Aku hanya takut kamu marah padaku, Yus.”

“Lho, kenapa aku harus marah kepadamu? Seharusnya aku marah kepada Pak Joko. Dasar tua-tua keladi!” kata Yusdi sedikit berpura-pura kesal.

“Sudahlah, Yus. Jangan diungkit-ungkit lagi masalah ini dengan Pak Joko, yah. Aku malu jika hal ini terjadi.”

“Baiklah. Tapi awas saja kalau ia berani macam-macam terhadapmu lagi…!”

“Sudah, sudah… tak usah diributkan lagi.”

“Jadi bagaimana dengan dirimu? Kamu tetap tidak mau memeriksakan kondisimu ini ke dokter, yah?” tanya Yusdi.

Nadia tidak menjawab. Ia tertunduk lalu membaringkan tubuhnya di ranjang itu.

“Baiklah. Tapi aku yang akan mencari dokternya sendiri.”

Malamnya mereka berdua berhubungan seks dengan hebat. Dihujani dengan kata-kata cinta oleh Yusdi, tubuh Nadia menjadi lebih rileks dan responsif terhadap belaian dan ciumannya. Bahkan tanpa bantuan Sex-Force® sedikitpun, Nadia hampir mencapai orgasme saat berhubungan seks dengan Yusdi malam ini. Sayang saja Yusdi sudah mencapai klimaks dan terlelap tidur merangkul istrinya.

Yusdi memang tidak berniat memakai Sex-Force® pada saat berhubungan seks dengan istrinya. Ia ingin secara alami memuaskan Nadia.


* * *


Hari-hari berikutnya jumlah pekerjaan Yusdi di kantor bertambah banyak sehingga ia hampir tidak sempat menggunakan Sex-Force® pada istrinya. Sebaliknya pekerjaan Nadia saat ini justru tidak terlalu banyak.

Akhirnya pada hari Selasa dua minggu berikutnya, Pak Ardi memanggil Nadia. Sebuah perusahaan besar akan mengirim dokumen untuk diproses secepatnya. Dokumen itu akan dikirim sekitar jam 7 besok malam via email. Lalu dokumen itu harus diproses, yang kemudian hasilnya akan dikirim balik ke perusahaan tersebut.

Jadi Pak Ardi mendelegasikan pekerjaan ini kepada Nadia. Dan Nadia butuh salah seorang dari bawahannya untuk membantu memproses dokumen itu. Untuk dapat memproses dokumen tersebut dengan cepat dibutuhkan orang yang sudah biasa melakukannya. Orang itu tak lain adalah Joko. Akhirnya dengan berat hati Nadia memanggil Joko untuk menghadap.

“Pak Joko, besok malam Bapak lembur yah. Tolong Bapak siapkan semuanya.”

Tanpa banyak cakap, Joko menyanggupi dan kembali ke tempatnya. Nadia merasa seperti melihat senyum terselubung pada bibir Joko, namun ia tidak begitu yakin.

“Besok sore, aku lembur, Yus. Jadi aku tidak ikut kamu pulang,” Nadia memberi tahu Yusdi dalam perjalanan pulang.

“Oh ya? Kok tumben?”

“Iya nih. Ada perusahaan yang agak semau jidatnya kasih kerjaan,” lanjut Nadia.

“Jadi, kamu besok pulang sama siapa? Perlu aku jemput?” Yusdi bertanya penuh perhatian.

Nadia tersenyum, ”Tidak usah, Yus. Besok aku pulang sendiri naik taksi saja. Belakangan ini kamu lagi banyak kerjaan dan capek, kan?”

“Oh tidak apa-apa kok, Nad. Cuma jemput aja sih tidak akan jadi tambah capek, kok,” sanggah Yusdi.

“Tidak usah, Yus. Terima kasih, sayang. Besok aku pulang sendiri saja. Barangkali Pak Ardi menyiapkan mobil dari kantor untuk mengantar kami yang bekerja lembur besok.”

“Hmm… baiklah bila itu maumu. Siapa saja yang lembur?” tanya Yusdi.

“Aku berdua dengan Pak Joko.”

Suara Nadia sedikit bergetar pada saat memberi jawaban itu. Yusdi yang sedang menyetir mobil, melirik lewat ekor matanya.

“Wah, sepertinya besok akan seru, nih,” pikir Yusdi yang mulai mempersiapkan rencana untuk istrinya besok.


* * *


Matahari cerah bersinar telah memulai pagi yang indah itu. Yusdi dan Nadia sudah terbangun sejak tadi dan kini bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.

Hari ini Nadia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah kehitam-hitaman yang terbuat dari bahan katun, rok selutut berwarna hitam dan sepatu hak tinggi berwarna merah gelap.

Hari serasa berlalu dengan lambat bagi Yusdi. Ia sudah mempersiapkan rencana baru untuk istrinya yang berlembur malam ini. Ia sudah memasang remote Sex-Force® khusus ke komputernya yang tak jauh dari tempat Nadia. Remote khusus ini dapat diaktifkan melalui internet sehingga nanti pada saat Yusdi sedang berada di rumah, ia tetap dapat menyalakan Sex-Force® yang berada di dalam vagina Nadia.

Pukul 17.30 tepat, kebanyakan dari karyawan di kantor tersebut sudah bergegas menuju mesin absensi. Kecuali Nadia dan Joko, tentunya. Mereka belum beranjak dari tempat duduknya.

Nadia mengisi waktunya dengan membaca tabloid wanita sambil mendengarkan radio yang ada di atas mejanya. Sedangkan Joko mengisi waktunya dengan bermain game yang ada di komputernya. Tak lama kemudian, Yusdi datang menghampiri Nadia untuk berpamitan pulang.

Waktu berlalu begitu lambatnya. Nadia membuka emailnya. Ia menekan tombol ‘refresh’ setiap lima menit, kalau-kalau email yang dinanti-nanti itu sudah masuk ke dalam inboxnya.

Akhirnya pukul 19.38 email itu baru tiba. Nadia langsung membuka email itu lalu segera mencetak isi email tersebut. Hasil cetakan itu diberikannya kepada Joko yang akan ia gunakan sebagai input dalam proses berikutnya.

Setelah itu, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Sudah lewat 1½ jam mereka berdua menginput data-data ke komputer, namun proses ini baru selesai sekitar 60%. Nadia sesekali menghampiri Joko untuk memantau kemajuan dari proses penginputan tersebut.

Pukul 21.45 mereka akhirnya selesai menginput data-data tersebut. Kini saatnya komputer memproses data-data tersebut. Dan setelah itu, hasil dari proses tersebut akan divalidasi oleh Nadia. Barulah kemudian hasil tersebut dikirim balik ke perusahaan itu.

Nadia mengangkat gagang telepon di mejanya. Ia menekan nomor telpon rumahnya.

“Yus, ini aku, Nadia. Penginputan baru saja selesai, tapi aku harus menunggu proses komputer lagi.”

“Oh… begitu? Jadi kapan kamu bisa pulang?”

“Entah lah. Mungkin sekitar satu jam lagi baru beres semuanya.”

“Mmm… tapi kamu tidak usah menunggu aku, Yus,” Nadia segera menambahkan.

“Oh… begitu? Aku belum berniat untuk tidur, sih. Kamu bawa kunci, kan? Siapa tahu aku ketiduran,” kata Yusdi.

“Bawa, kok. Kamu tidur saja. Aku akan segera pulang. Oh iya, Pak Ardi tidak berhasil mendapatkan mobil untuk mengantar kami pulang, jadi nanti aku pulang naik taksi.”

“Kamu yakin tidak mau kujemput?” tanya Yusdi.

“Tidak usah, Yus. Kamu istirahat saja di rumah. Sudah hampir jam 10 nih.”

“Baiklah. Kamu hati-hati yah pulangnya.”

“Baik. Bye…”

“Bye,” kata Yusdi lalu menaruh gagang telponnya.

Yusdi yang sedang berada di kamar, berselonjor di atas ranjang sambil membaca koran. Di sampingnya sudah ia siapkan laptop yang akan ia gunakan untuk menjalankan rencananya.

Ia meraih laptop itu lalu masuk ke website Sex-Force®. Setelah memasukkan user-id dan passwordnya, ia kini berada di halaman pengatur untuk remote khusus yang terhubung ke komputernya di kantor. Di halaman itu terlihat gambar sebuah remote yang sama dengan remote aslinya. Melalui gambar remote itu, ia dapat mengatur rating rangsangan sama seperti pada remote aslinya.

Pertama-tama ia menyalakan remote tersebut. Lampu indikator menyala hijau. Setelah itu tombolnya diputar ke level 1. Lampu indikator menjadi kuning. Setiap sepuluh menit ia akan memutar tombol itu satu tingkat demi satu tingkat.

Sementara itu di kantor, Nadia beranjak keluar untuk menuju ke toilet. Joko yang sedang duduk memperhatikan layar monitor komputer di depannya, melirik sekelebat ke arah Nadia yang berjalan keluar. Setelah memastikan Nadia benar-benar sudah keluar, Joko dengan secepat kilat menghampiri meja Nadia. Ia mengeluarkan sebuah tablet berwarna putih dari saku bajunya lalu dimasukkannya ke dalam gelas Nadia. Tablet tersebut larut dalam waktu yang sangat singkat. Joko mengaduk-aduk air di dalam gelas itu dengan jarinya. Setelah itu Joko kembali ke tempatnya.

Lima menit kemudian Nadia masuk kembali dan duduk di depan komputernya. Sambil menunggu proses komputer selesai, Nadia mengisi waktu dengan merapihkan inboxnya. Ia menghapus email-email yang sudah tidak diperlukan lagi dan mengelompokkan beberapa email yang sejenis.

Joko dari tempat duduknya terus memperhatikan Nadia. Joko berharap agar Nadia segera minum dari gelasnya itu. Semakin cepat ia meminumnya maka semakin banyak waktu yang ia peroleh untuk melakukan rencananya.

Tak berapa lama kemudian Nadia meraih gelasnya lalu meneguk habis air yang ada di dalam gelas tersebut. Nadia tak merasakan ada keanehan pada air minumnya yang berarti ia tidak tahu bahwa Joko telah memasukkan obat tidur ke dalam air minumnya.

Dua menit kemudian, Yusdi yang berada di rumah memutar tombol remote itu ke rating 2. Perlu waktu sepuluh menit lagi untuk naik ke rating berikutnya, pikir Yusdi yang mulai mengantuk.

Sementara itu, Nadia belum merasakan apa-apa. Baik pengaruh obat tidur itu maupun pengaruh Sex-Force® dalam vaginanya. Ia terus mengutak-atik emailnya.

Lima menit setelahnya, Nadia merasakan pandangannya mulai berkunang-kunang sehingga membuat matanya menjadi berat dan berair. Joko melihat Nadia beberapa kali menguap tanda obatnya sudah mulai bekerja.

Menit-menit berikutnya begitu berat bagi Nadia untuk membuka matanya. Lalu akhirnya Nadia merebahkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di meja.

Joko menunggu dari tempat duduknya beberapa menit ekstra sebelum akhirnya ia menghampiri Nadia yang sudah tertidur pulas.

“Mimpiku jadi kenyataan,” seru Joko dalam hatinya.

Joko menarik kursi yang diduduki Nadia sambil memegangi tubuhnya agar tidak jatuh ambruk ke lantai. Tubuh Nadia didudukkan bersandar pada punggung bangku. Lalu Joko mengeluarkan kamera digital yang dipinjamnya dari salah seorang kawannya. Dengan cekatan, Joko memasang kamera itu di atas tripod dan mulai memotret Nadia.

Setelah itu Joko menghampiri Nadia dan mulai melepas satu per satu kancing kemejanya.

Yusdi kaget terbangun dari tidurnya. Ia ketiduran dan telah lewat 15 menit dari waktunya untuk memutar tombol. Dengan setengah tertidur Yusdi memutar tombol itu ke rating 3. Dan tanpa sadar, ia terlelap lagi.

Di kantor, Joko telah berhasil membuka kemeja Nadia dan menanggalkan roknya. Nadia yang hanya memakai BH berwarna krem dan celana dalam berwarna putih didudukkan Joko di bangku Pak Ardi. Bangku Pak Ardi jauh lebih besar dari bangku-bangku lainnya di ruangan itu.

“Aku harus cepat nih. Jangan sampai ia terbangun,” pikir Joko.

Beberapa kali Joko mengubah posisi duduk Nadia ke berbagai pose. Yang pasti semua pose itu dapat membangkitkan birahi lelaki yang melihatnya.

Setelah itu Joko menghampiri Nadia lagi dan kali ini ia elepas BH yang dikenakannya. Setelah terlepas, Joko memperhatikan payudara Nadia dengan kagum.

“Selama ini aku hanya dapat melihat sedikit-sedikit. Tapi kini aku bisa melihat bukit indah ini sepuasnya,” bisik Joko pada dirinya sendiri.

Joko tergoda untuk meraba buah dada Nadia yang montok dan padat itu. Puting susunya sudah membesar dan menegang.

Melihat hal ini Joko berbisik lagi, tapi kali ini ditujukan kepada Nadia, ”Ternyata kamu wanita yang besar nafsunya, yah?” seakan Nadia dapat mendengarnya.

Tentu saja Joko tidak tahu perihal Sex-Force® yang tertanam di dalam vagina Nadia. Joko mengira bahwa dirinyalah yang menyebabkan Nadia terangsang.

Joko meraba payudara kanannya lalu mulai meremas-remasnya dengan lembut. Nadia tidak bergeming sedikitpun.

Sekitar lima menit Joko meremas-remas bukit montok itu. Lalu tiba-tiba ia tersadar bahwa waktunya tidak banyak.

Langsung ia memotret Nadia lagi dengan kondisi topless alias polos bagian atas. Joko memotret lima gambar untuk beberapa pose.

Setelah itu, Joko kembali menghampiri Nadia lalu ia melepas celana dalamnya itu. Bulu-bulu halus menghias kemaluannya. Joko mengelus selangkangan Nadia lalu mulai memotretnya, juga dalam berbagai pose yang sensual.

Untuk foto-foto berikutnya dibutuhkan usaha yang jauh lebih besar. Joko mengatur agar wajah Nadia dapat terlihat dengan jelas di kamera itu. Bukan hanya wajahnya saja yang difoto, namun Nadia harus terpotret seakan sedang menghisap sebuah penis yang tak lain adalah penis Joko.

Tanpa mengalami kesulitan sedikitpun, Joko sudah mendapatkan penisnya dalam kondisi maksimal, baik keras maupun besarnya. Ia menjepit mulut Nadia dengan tangan kirinya agar mulutnya terbuka lalu mendorong masuk batang kemaluannya melalui bibir Nadia yang mungil itu.

Dengan menggunakan pengatur waktu, Joko memotret lima kali untuk ‘adegan’ ini. Joko harus berusaha keras supaya tidak terlanjur mencapai klimaks walau sebenarnya ia sudah sangat amat terangsang oleh kehangatan mulut Nadia. Ia tidak mau mengambil resiko untuk harus mencuci mulut Nadia yang dipenuhi spermanya.

Oleh karena itu ia cepat-cepat menyelesaikan semuanya. Selain itu pengaruh dari obat tidur di dalam tubuhnya sudah berangsur-angsur menurun dan Nadia dapat terbangun sewaktu-waktu.

Joko membereskan semua peralatan lalu memakaikan kembali pakaian Nadia satu per satu. Dalam waktu sepuluh menit, akhirnya Joko selesai dengan mengancingkan kancing terakhir kemeja Nadia. Lalu ia mengatur tubuh Nadia kembali seperti semula.

Joko melihat monitor komputernya dan mendapati bahwa proses data yang mereka nanti-nantikan sudah selesai. Joko menghampiri Nadia lalu mengguncang-guncangkan bahunya untuk membangunkannya.

“Nad, Nadia. Bangun, Nad,” kata Joko berpura-pura.

Setelah sekian lama barulah akhirnya Nadia terbangun. Kepalanya masih terasa berat pada saat ia melihat Joko berdiri di depannya.

“Nad, kamu ketiduran, yah?” tanya Joko berpura-pura.

“Oh, ya?” seru Nadia kaget, ”Jam berapa ini?”

“Hampir jam 11.”

“Wah gawat. Dokumen itu harus sudah dikirim sebelum jam 12. Prosesnya sudah selesai, Pak Joko?” tanya Nadia dengan gusar.

“Sudah. Bahkan sudah saya kirim ke email kamu,” jawab Joko.

Nadia meraih mousenya lalu memeriksa dokumen yang dikirim Joko barusan. Sepuluh menit kemudian Nadia mengotorisasi dokumen tersebut dan mengirim balik ke perusahaan yang bersangkutan.

Selesai sudah pekerjaan mereka. Nadia bersiap-siap untuk pulang ketika Joko berbicara padanya,”Nad, kamu mau saya antar pulang?”

“Hmmm… tidak perlu, Pak Joko. Aku bisa pulang sendiri naik taksi. Terima kasih, Pak,” jawab Nadia ringan.

“Jam segini seorang wanita naik taksi sendirian berbahaya, Nad. Ayolah, aku tunggu kamu di tempat parkir, ya?” kata Joko yang langsung meninggalkan Nadia seorang diri di ruangan itu.

Nadia yang tidak diberi kesempatan untuk menyanggah, sebenarnya sedikit banyak mengakui bahwa pernyataan Joko itu benar adanya. Menyadari tinggal seorang diri dalam ruangan itu, Nadia bergegas mengambil tasnya dan keluar dari kantor.

Di tempat parkir, Joko sudah menunggu di atas motornya. Nadia menghampirinya dengan terburu-buru.

“Maaf sudah menunggu lama, Pak.”

“Tidak apa-apa kok.”

Nadia duduk menyamping di jok belakang lalu bertanya, ”Kita tidak pakai helm, Pak?”

“Ah, malam-malam begini tidak usah pakai helm. Polisi sudah pulang kandang, Nad,” kata Joko sambil tertawa kecil.

Nadia menanyakan helm bukan karena takut ditilang oleh polisi melainkan untuk keselamatannya belaka.

Joko memacu motornya dengan cepat. Begitu kencangnya sampai membuat Nadia takut karenanya.

“Pak, jangan kencang-kencang!” Nadia berteriak dekat telinga Joko untuk melawan suara angin dan suara motor tersebut.

“Tidak usah takut, Nad. Biar cepat asal selamat,” canda Joko.

“Lebih baik kamu pegangan pada tubuh saya, Nad.”

Nadia ragu untuk berpegangan pada tubuhnya. Akhirnya ia menggunakan bagian belakang baju Joko sebagai pegangan. Akan tetapi itu tidak cukup untuk membuatnya merasa aman.

Dengan berat hati Nadia melingkarkan tangan kanannya melewati pinggang dan perut Joko. Dan pada akhirnya, kedua tangannya memeluk pinggang Joko dengan erat. Nadia menempelkan pipinya di atas punggung Joko agar wajahnya tidak diterpa angin yang kencang akibat laju motor yang cepat itu. Sementara itu senyum lebar menghiasi wajah Joko.

Rasa aman perlahan-lahan memenuhi dada Nadia. Dalam temaramnya malam, Nadia merasakan kehangatan tubuh Joko yang kontras berbeda dengan dinginnya angin malam. Detak jantung Joko yang dapat ia rasakan, membuat dirinya jauh lebih tenang dan rileks.

Tanpa disadari, keadaan itu memicu dorongan birahinya yang sejak tadi telah dirangsang oleh Sex-Force® (pada rating 3). Payudaranya sedikit mengencang dan puting susunya menegak.

Tiba-tiba Nadia sadar akan kondisinya itu. Ia mulai merasakan kemaluannya menjadi basah dan klitorisnya mengeras. Perasaan aman dan rileks tadi membuat dirinya lebih responsif terhadap sentuhan terhadap pria, pikirnya.

Awalnya ia berusaha untuk menepis semua gejolak birahi tersebut. Namun karena usahanya tidak membuahkan hasil yang berarti, Nadia memutuskan untuk membiarkan semuanya itu. Bahkan ia memutuskan untuk mencoba menikmatinya.

Akan tetapi tentu saja Nadia tidak ingin Joko mengetahui keadaan dirinya yang sudah terangsang itu. Oleh karena itu Nadia menggesek-gesekkan puting susunya ke punggung Joko dengan gerakan yang tidak kentara.

Dengan vibrasi akibat mesin motor yang sedang melaju itu, Nadia berusaha menekan panggulnya supaya klitorisnya merasakan getaran dari jok secara langsung. Walau getaran pada klitorisnya tidak terlalu terasa, Nadia menikmati setiap gesekan payudara dan puting susunya pada punggung Joko walau terhalang oleh BH dan baju. Nadia yakin dan juga berharap Joko tidak mengetahui perbuatannya ini.

Pada kenyataannya Joko memang tidak mengetahui apa yang diperbuat Nadia dengan tubuhnya. Joko hanya terus memacu motornya dengan kencang.

Sesaat sebelum motor itu berhenti di depan rumahnya, Nadia baru tersadar bahwa perbuatannya ini harus segera dihentikan. Pukul 11.15 mereka sampai di depan gerbang rumah Nadia.

Nadia turun dari motor lalu menghampiri Joko dan berkata, “Terima kasih ya, Pak Joko. Maaf sudah merepotkan.”

“Tidak perlu sungkan, Nad. Oke, saya pulang dan sampai bertemu besok di kantor.”

Joko tidak menyadari wajah dan leher Nadia yang memerah akibat birahinya yang sudah meninggi. Setelah itu ia memacu motornya meninggalkan Nadia seorang diri di depan pintu rumahnya. Nadia memandangi Joko dan motornya menghilang di belokan.

Nadia mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Setelah masuk, segera ia mengunci pintu itu. Lampu ruang tamu tidak ia nyalakan dan langsung menuju kamar.

Gemuruh badai birahinya masih tinggi pada saat ia naik ke loteng menuju kamar tidurnya. Payudara dan puting susunya menegang. Klitorisnya terasa berdenyut-denyut dan membara. Kemaluannya sudah meleleh yang membuat celana dalamnya menjadi kuyup.

“Aku tidak tahu apa yang menimpa pada diriku sehingga membuatku begitu terangsang hanya karena memeluk punggung seorang pria. Kelihatannya aku harus membiasakan diri atas sikap tubuhku yang belakangan ini jadi seperti ini. Saat ini aku tidak ingin tahu, dan saat ini aku hanya ingin menikmatinya,“ pikirnya.

Nadia membuka pintu kamar dan mendapati suaminya tertidur di ranjang dengan laptop yang berada dalam ‘sleep mode’ tergeletak di sampingnya. Nadia tahu bahwa Yusdi tertidur sewaktu menungguinya pulang. Ia tahu suaminya sangat menyayanginya.

Nadia menanggalkan pakaiannya satu per satu sampai tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Lalu secara perlahan ia naik ke ranjang.

Detak jantung dan nafasnya sudah semakin cepat mengimbangi deru ombak birahi yang bergulung-gulung menghantam pesisir saraf-sarafnya. Ia menaiki tubuh suaminya lalu menciumnya dengan sepenuh perasaan cintanya (atau lebih tepat: sepenuh birahinya).

Yusdi langsung terbangun karenanya. Dalam dua detik ia sadar bahwa ia tidak sedang bermimpi dan istrinya menindih tubuhnya sambil mengulum bibirnya. Dengan penuh nafsu Yusdi membalas pagutan bibir Nadia.

“Apa yang terjadi pada Nadia? Jarang-jarang ia bernafsu seperti ini. Apakah saat lembur tadi Joko melakukan perbuatan cabulnya terhadap Nadia yang membuatnya menjadi terangsang seperti ini?” pikirnya lagi.

Ia mendorong perlahan bahu istrinya untuk menghentikan ciuman mereka dan berkata, “Kau sudah pulang, Nad? Sejak kapan?”

Nadia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan menatap suaminya dengan sayu. “Aku lagi horny, Yus.”

Bersamaan dengan kata-kata itu, Nadia merasakan pembuluh darahnya terbuka lebar yang menyebabkan darahnya mengalir deras ke seluruh tubuhnya, terutama ke sekitar selangkangannya yang menyebabkan rasa panas di seputar vaginanya. Otot lehernya menegang, dadanya naik turun karena nafas yang memburu. Detak jantungnya juga bertambah cepat.

Yusdi belum pernah mendengar istrinya menggunakan kata ‘horny’ saat ia terangsang. Ini menandakan bahwa Nadia sudah hanyut terseret arus birahi. Nadia melucuti seluruh pakaian Yusdi sampai suaminya telanjang bulat. Yusdi memeluk Nadia dan mengatakan betapa ia mencintai dirinya lalu menciumnya dengan penuh cinta dan mendalam.

Bibir mereka saling memagut, lidah mereka saling membalur. Nadia membalas ciuman suaminya dengan perasaan yang melambung tinggi. Setelah beberapa lama berciuman, Nadia menggenggam penis Yusdi yang sudah tegang mengeras lalu membimbing batang itu ke dalam liang kewanitaannya yang sudah sangat basah.

Pada posisi Nadia berada di atas, penis Yusdi dengan mudah masuk ke dalam vaginanya. Dengan gerakan perlahan, Nadia mulai menggoyang pinggulnya untuk mengocok penis suaminya dengan menggunakan vaginanya. Yusdi meremas-remas buah dada Nadia yang bergoyang-goyang di depannya. Keduanya berada dalam kondisi yang begitu terangsang.

Lalu tiba-tiba raut wajah Nadia berubah seperti orang yang kesakitan. Alisnya berkerut, matanya dipejamkan, otot lehernya menegang dan mulutnya terbuka lebar seperti hendak berteriak. Kedua tangannya ditariknya ke belakang untuk menopang tubuhnya yang bergetar-getar dengan cepat. Otot dalam vaginanya berkejut-kejut dengan ritme yang sangat cepat seakan memompa batang kemaluan suaminya.

Yusdi yang tidak pernah merasakan sensasi seperti ini, sadar bahwa istrinya sedang mengalami orgasme. Beberapa detik kemudian Nadia terkulai lemas dan berusaha untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Yusdi yang belum mencapai klimaks memutar posisinya dan menyuruh istrinya untuk menungging.

Kini Yusdi berada di belakang Nadia. Yusdi mengoles-oleskan kepala penisnya ke bibir vagina istrinya. Setelah Nadia pulih dari orgasmenya, Yusdi menggenjot vagina istrinya dengan kekuatan penuh dan dengan kecepatan yang makin lama makin cepat. Nadia yang belum lepas dari efek orgasme yang tadi, merasakan dorongan birahinya kembali meningkat dengan cepat. Nadia ikut bergoyang menyamakan irama tubuh suaminya.

Sambil bersanggama, Yusdi meremas-remas payudara Nadia yang menggantung di dadanya. Tak lama setelah itu, penis Yusdi memuntahkan sperma panas dalam semburan-semburan kencang ke dalam liang surga milik istrinya. Kemudian keduanya terkulai lemas dan tertidur sampai esok paginya.

Keesokan harinya Yusdi terbangun dan mendapati Nadia baru keluar dari kamar mandi. Ia bertanya, “Nad, kemarin kamu kenapa?”

“Ehm… tidak kok. Aku sedang ingin bercumbu saja denganmu. Mengapa kamu bertanya?”

“Oh tidak apa-apa. Eh, apakah benar dugaanku bahwa kamu kemarin mencapai klimaks?” Yusdi sudah sangat ingin mengetahui hal ini.

“Iya,” jawab Nadia singkat dan jelas.

“Wah… bagus deh kalau begitu. Enak kan orgasme itu?” sambung Yusdi dengan senyum yang lebar di wajahnya.

Nadia hanya tersipu malu, “Iiihh… kamu ini. Sudah ah, aku tidak mau membicarakan hal ini lagi.”

Yusdi masih tersenyum saja sementara ia bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Saat mereka sedang menyantap sarapan pagi, Yusdi terpikir akan satu hal.

“Mmm… ini pertama kalinya kamu merasakan orgasme, kan?” tanya Yusdi hati-hati.

Nadia terdiam dan terlihat alisnya sedikit berkerut seperti orang yang sedang memikirkan jawaban yang tepat.

“Hm-mh,” gumamnya mengiyakan pertanyaan Yusdi tadi, sembari mengangguk perlahan.

Yusdi melihat ada keraguan dalam menjawab pertanyaannya tersebut. Dalam pikirannya ia menduga-duga: jangan-jangan kemarin Joko sudah menyetubuhi Nadia di kantor. Dan jangan-jangan Nadia juga mengalami orgasme. Hal ini dapat menjelaskan mengapa Nadia ragu pada saat menjawab pertanyaannya tadi.

Yusdi terus memikirkan kemungkinan tersebut. Situasi dan kondisi kemarin malam sudah mendukung buat Joko untuk bercumbu dengan Nadia. Situasi kantor yang kosong dan remang-remang, sepasang insan manusia normal berlainan jenis ditambah dengan Sex-Force® yang menyala, sudah sangat mendukung terjadinya kontak fisik yang membuahkan hubungan seks.

“Oh! Ya ampun! Sex-Force® nya masih menyala!” teriak Yusdi dalam hati.

“Pantas saja Nadia begitu mudahnya mencapai orgasme kemarin,” pikir Yusdi lagi.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 5
Baca cerita sebelumnya « Bagian 3





Sep 17, 2010

Sex-Force 3

Nadia
Ringkasan: Salah seorang bawahan Nadia menggunakan kesempatan dalam kesempitan atas Nadia di kantor.
Kode cerita: mastrb, non-con, toys

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia
* Joko: bawahan Nadia
* Irfan: bawahan Nadia


Sex-Force 3
by: VVN

Pagi ini Yusdi sudah menyiapkan rencana "C". Nadia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna kuning pucat yang dipadukan dengan rok pendek terbuat dari kain yang lembut berwarna coklat gelap. Dua buah kancing kemejanya yang paling atas dibiarkannya terbuka. Singkat kata, Nadia terlihat cantik dan seksi.

Tepat sebelum mereka masuk ke dalam mobil, Yusdi menyalakan remote Sex-Force® lalu memutar tombolnya sampai ke rating 2 dan lampu indikator berubah dari hijau menjadi kuning.

Sepanjang perjalanan Yusdi mengajak Nadia mengobrol sambil memperhatikan kalau-kalau ada perubahan atau reaksi pada istrinya. Sampai mereka berpisah di pintu kantor (karena Nadia ke WC terlebih dahulu), Yusdi tidak melihat adanya reaksi apa-apa pada diri Nadia.

Setelah makan siang Yusdi terus memperhatikan Nadia di meja kerjanya. Seorang bawahannya yang bernama Irfan memanggilnya untuk melakukan otorisasi pencetakan laporan.

Irfan bekerja satu tahun lebih lama dari Nadia. Namun karena menunjukkan kinerja yang lebih baik akhirnya Nadialah yang dipromosikan menjadi asisten Manager. Irfan sejak masih SMA sudah bekerja magang di kantor. Selain itu latar belakang pendidikan antara mereka berdua juga berbeda. Nadia adalah lulusan S1 (jurusan Teknik Industri) dari universitas terkemuka di Jakarta sedangkan Irfan hanyalah lulusan D3.

Seperti biasanya menjelang sore unit kerja Nadia harus mencetak laporan-laporan. Nadia harus melakukan cek ulang atas laporan-laporan tersebut sebelum dicetak. Unit kerja Nadia terdiri dari seorang Manager (Pak Ardi), Nadia sebagai asisten manager, Irfan, Joko, Rini dan Maria.

Nadia menghampiri meja Irfan yang tak jauh dari mejanya. Ia berdiri di samping Irfan yang duduk di sebelah Rini. Lalu Nadia membungkuk dan memperhatikan layar monitor komputer di depannya sambil sesekali menggunakan mouse untuk memeriksa laporan yang akan dicetak itu.

Joko, yang duduk tepat di seberang Irfan, berdiri dari tempat duduknya. Matanya segera jatuh ke bagian dada Nadia yang sedang membungkuk itu. Sambil berpura-pura mencari dokumen di tumpukan di depan mejanya, mata Joko terus memperhatikan bukit dada Nadia dari atas. Hal ini tak lepas dari pandangan Yusdi yang sejak tadi memang memperhatikan istrinya dari meja kerjanya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Joko sudah menikah selama sepuluh tahun namun demikian ia menyukai Nadia, secara seksual. Tanpa sepengetahuan Nadia, Joko sering memandanginya dan menelanjanginya dengan matanya. Kadang pikiran Joko melayang membayangkan hal-hal cabul dengan Nadia. Dan Joko memang sering mencuri-curi pandang untuk melihat payudaranya melalui sela-sela kancing kemeja Nadia. Namun kali ini ia mendapat sudut pandang yang lebih memuaskan.

Kurang lebih selama lima menit, Joko puas memandangi payudara Nadia melalui kerah bajunya yang dua kancingnya tidak dikancing itu. Terlebih lagi posisi Nadia sedang membungkuk, membuat payudaranya yang terbungkus BH berwarna krem itu terlihat sangat jelas oleh Joko. Beberapa kali terlihat Joko membetulkan posisi ‘adiknya’ yang mulai membesar itu.

Yusdi mengeluarkan remote Sex-Force®. Tombolnya masih menunjukkan pada level 2. Lalu ia memutar tombol itu sampai pada level 4. Lampu indikator berubah menjadi jingga.

Tidak beberapa lama setelah itu, Nadia pasti mulai merasakan dampak alat itu karena ia terlihat sedikit cemas. Matanya masih berkonsentrasi pada monitor komputer, namun pikirannya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Lalu ia mendongakkan kepalanya. Wajah Joko tepat berada di hadapannya. Nadia mendapati mata Joko sedang menikmati belahan dadanya. Joko yang tertangkap basah sedang memandangi dada Nadia segera membuang pandangannya ke tempat lain lalu duduk dan pura-pura kembali bekerja.

"Dasar hidung belang," pikir Nadia kesal sambil membetulkan kemejanya agar tidak menggantung seperti tadi.

Lalu Nadia melanjutkan pemeriksaan laporan di komputer Irfan. Wajah Nadia bersemu merah dan lama kelamaan terlihat semakin merah. Pada awalnya Yusdi mengira pipinya memerah karena marah terhadap Joko. Tapi lama kelamaan Yusdi menduga ini dikarenakan Sex-Force® sudah bereaksi pada tubuhnya.

Yusdi meninggalkan meja kerjanya sambil membawa gelasnya. Ia berpura-pura menghampiri dispenser air minum di dekat Nadia berada, agar dapat melihat lebih jelas kondisi istrinya.

Nadia pun mulai tersadar akan kondisi tubuhnya itu. Wajahnya terasa panas. "Malukah atau karena kesal terhadap sikap Joko yang kurang ajar tadi?" pikirnya dalam hati.

Nadia menjadi tidak dapat berkonsentrasi lagi. Jantungnya berdebar-debar, dadanya terasa sesak dan nafasnya menjadi berat.

"Oh tidak! Jangan sampai terjadi lagi pada diriku. Ada apa denganku belakangan ini?" teriaknya dalam hati.

Karena Yusdi telah menyalakan Sex-Force® pada rating 2 sejak pagi tadi (yang berarti telah menyala selama hampir lima jam), hal itu membuat tubuh Nadia menjadi lebih mudah dibawa masuk ke tingkat rangsangan yang lebih tinggi. Saraf-saraf penerima rangsang seksual pada tubuhnya menjadi lebih rileks dan lebih peka. Jadi pada saat Yusdi menaikkan ratingnya menjadi 4, tubuh Nadia sudah lebih mudah terangsang.

Nadia melirik ke arah Joko untuk melihat apakah ia masih mencuri pandang untuk melihat dadanya. Nadia seakan hendak menjadikan Joko sebagai kambing hitam atas kondisinya saat itu. Namun ia mendapati Joko sedang tidak berada di tempat. Dengan agak kecewa ia terus berusaha mencari penyebab kondisinya saat itu.

Tentu saja Nadia tidak dapat menemukan penyebabnya. Sekarang ia harus berkonsentrasi untuk menahan deru nafasnya yang memberat itu. Jika tidak, Irfan yang duduk tepat di sebelahnya akan bertanya-tanya. Dan tampaknya usaha Nadia cukup berhasil.

Setelah mengisi gelasnya dengan air, Yusdi menghampiri temannya yang duduk di sekitar Nadia. Ia berpura-pura mengobrol dengannya sambil sesekali memperhatikan istrinya yang sedang dilanda gelombang ombak birahi yang semakin meninggi.

Sambil berdiri dan tangan kirinya memegang gelas yang sudah penuh terisi itu, Yusdi memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Ia meraba-raba remote Sex-Force® itu sambil terus mengobrol dengan temannya itu.

Setelah menemukan tombol pengatur pada remote tersebut, Yusdi memutar tombol itu 3 level lebih tinggi. Berarti saat ini tingkat rating Sex-Force® dalam vagina Nadia sudah mencapai level 7.

Serta merta dari mulut Nadia keluar lirihan yang panjang dan bergetar. "Oooohhhhhh..." Tangannya sudah tidak memegang mouse lagi melainkan kedua tangannya kini harus digunakannya untuk menopang tubuhnya. Kepalanya tidak lagi menghadap ke monitor melainkan sudah terkulai lemas menghadap ke lantai. Rambutnya menutupi wajahnya dari samping. Punggungnya yang sedikit membungkuk itu terlihat naik turun terengah-engah.

"Bu… ada apa, Bu?" tanya Irfan bingung.

"Hhhh… nnhhhh… hhh… ohhhhh…" tidak ada kata-kata yang dapat keluar dari bibir Nadia karena ia hanya mampu mengeluarkan lirihan pelan dari mulutnya. Selain itu ia juga tidak tahu harus menjawab apa.

Betapa malunya Nadia mendapati dirinya berdiri di sebelah bawahannya, terangsang begitu rupa sampai birahinya mengambil alih kuasa atas tubuhnya sendiri. Ia terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menutupi dampak birahi ini sampai-sampai kedua tangannya bergetar.

Yusdi tertawa kegirangan dalam hatinya. Dengan tenang ia meninggalkan temannya itu dan kembali ke meja kerjanya. Setelah menaruh gelasnya, Yusdi keluar ruangan menuju WC.

Rini dan Irfan yang berada di samping Nadia kebingungan melihat atasannya itu. Namun tidak ada yang dapat mereka lakukan selain berulang-ulang menanyakan keadaan Nadia.

Leher dan kening Nadia mulai berkeringat. Karena tenaganya terkuras untuk menahan birahi yang bergolak dalam tubuhnya, Nadia merasakan lututnya semakin lemas dan kepalanya seperti berputar-putar.

Dan pada saat jari-jari Irfan menyentuh lengannya, Nadia merasakan tubuhnya seperti dilalui aliran listrik bertegangan tinggi.

"Auh!" pekiknya pelan.

Setelah itu Nadia merasa lututnya berubah menjadi agar-agar. Serta merta Nadia ambruk ke lantai dengan nafas yang memburu.

Rini, Irfan dan Maria sangat terkejut melihat Nadia ambruk yang seakan tiba-tiba kehilangan seluruh tulangnya. Joko yang baru kembali ke tempatnya pun terkejut melihat Nadia jatuh. Namun ia lebih sigap dari mereka bertiga.

Joko berlari mengitari mejanya dan mendorong Irfan yang berdiri menghalangi ke sampingnya. Secepat kedipan mata, Joko sudah berlutut di depan Nadia. Lalu ia menyusupkan kedua tangannya dari belakang punggung Nadia ke bawah ketiak Nadia untuk menariknya.

Dasar lelaki hidung belang, Joko menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini untuk meraba payudaranya dari kedua sisi dada Nadia. Maria, Rini maupun Irfan sama sekali tidak menyadari perbuatan Joko ini. Pikiran mereka sudah tertegun atas insiden ini. Walau Joko meraba hampir sepenuh bulatan payudaranya, Nadia tidak benar-benar dapat merasakannya karena saat itu ia sedang dalam kondisi setengah sadar. Joko menarik Nadia sehingga tubuhnya dapat duduk berselonjor di lantai dan membiarkan Nadia bersandar pada bahunya.

Nafas Nadia masih saja berat sehingga ia terdengar seperti mendesis dan kadang terdengar desahannya di antara nafasnya yang memburu itu. Pipi dan lehernya bersemu merah dan basah oleh keringat.

Joko yang sudah beristri dapat dengan mudah menerka apa yang terjadi pada diri Nadia. Rini juga telah menikah namun butuh waktu lebih lama untuk pikirannya sampai ke kesimpulan yang sama dengan kesimpulan Joko. Akan tetapi Rini masih sangat tidak yakin atas pemikiran bahwa saat ini Nadia sedang terangsang. Bagaimana mungkin, pikirnya.

Joko langsung menyuruh Irfan untuk memanggil Yusdi. Irfan segera beranjak dari sana dan dalam hitungan detik ia telah kembali.

"Pak Yusdi tidak ada di tempat!" serunya kebingungan. Tentu saja ia tidak menemukan Yusdi karena Yusdi sedang berada di WC.

"Ah, masa? Baru saja aku melihatnya di sekitar sini. Coba kau cari sekali lagi!" sergah Joko.

"Kalian berdua coba berpencar dan bantu cari Yusdi," tambahnya.

Tanpa berkata apa-apa Maria dan Rini segera bergegas menyusul Irfan mencari Yusdi.

Kini tinggal Joko berdua dengan Nadia di sana. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini, Joko dengan lembut meremas payudara Nadia. Dengan kesadaran Nadia yang sudah pulih juga ditambah dengan Sex-Force® yang aktif menyemburkan impuls-impuls rangsangan dalam vaginanya, setiap remasan pada buah dadanya membuat darah Nadia semakin bergolak.

Kedua mata Nadia setengah terpejam. Pikirannya sudah semakin berkecamuk. Ingin sekali ia menampar Joko atas perbuatannya ini. Namun tubuhnya berkata lain. Remasan demi remasan lembut itu membuatnya melambung setingkat demi setingkat lebih tinggi ke awan-awan.

Alih-alih menamparnya, Nadia malah mendesah sambil menggeliat-geliat atas setiap remasan Joko yang terasa begitu lembut, "Oh… Hhhh… mmmhhh…"

"Oh, tidak mungkin aku menikmati ini! Ada apa dengan diriku? Kenapa aku ini? Oh… stop!" pikiran Nadia terus berputar-putar.

Walau demikian, kedua puting susunya sudah membesar dan mengeras. Bahkan Joko dapat merasakannya walau masih dilapisi kemeja dan BH yang dipakai Nadia.

Merasakan tubuh Nadia memberi respon terhadap sentuhannya, Joko menjadi semakin bersemangat. Dengan tangan kanannya ia meraih selangkangan Nadia. Namun karena Nadia sedang duduk berselonjor, kedua pahanya menutup akses jari-jari Joko ke kemaluannya.

Akan tetapi dalam waktu singkat saja, jari tengah Joko telah berhasil masuk ke dalam celana dalam Nadia. Joko menempelkan jari tengahnya di bibir kemaluan Nadia yang sudah sangat basah itu.

Bukan hanya dapat menembus pertahanan dari pahanya, jari Joko kini malah menekan klitoris Nadia. Klitoris adalah satu-satunya bagian tubuh manusia yang fungsinya hanya untuk seks semata. Selain itu klitoris memiliki saraf dua kali lebih banyak dibanding jumlah saraf di kepala penis. Saat kulit jari Joko tergesek ke klitorisnya, aliran listrik bertegangan tinggi langsung menyambar tubuhnya. Mata Nadia langsung terbelalak. Tubuhnya bergelinjang seakan mendapat kekuatan baru untuk melawan.

"Janganhh… P-pak Jokohhh… Hhahh… jha-janganhhh…" kata-kata pertama yang dapat Nadia ucapkan sejak Sex-Force® menyerang tubuhnya. Ia memprotes dengan suara yang mendesah.

Nadia memanggil Joko dengan panggilan ‘Pak Joko’ karena umurnya yang jauh lebih tua darinya. Joko sudah berumur 37 tahun, terpaut sepuluh tahun dengan Nadia yang baru berumur 27.

Tak menggubris protes Nadia yang terdengar begitu lemah, Joko tetap menggesek-gesekkan jarinya itu ke sepanjang bibir vagina Nadia. Nadia mencoba untuk memberontak. Namun belum sempat usahanya memberi hasil, tiba-tiba Joko dengan cepat sudah mengamblaskan jari tengahnya itu ke dalam liang kewanitaannya itu.

"Orgghhhh……!" Nadia melenguh sambil mencengkram erat lengan Joko. Badannya sedikit terbangun dan matanya membesar.

"Tidakhhh… Pak Joko… hhh… jangan ah… inhh…-ini… ohhh… Stop… hhh… Jangan…" Nadia terus mencoba melawan namun tubuhnya mempunyai hasrat yang berbeda dengan pikirannya.

Detik-detik berikutnya Nadia sudah sangat tidak berdaya karena Joko mulai mengocok jari tengahnya yang berbuku-buku itu dengan perlahan. Cengkraman Nadia pada lengan Joko mulai melemah dan tubuhnya mulai terlihat rileks. Joko merasakan liang surga Nadia begitu basah, panas dan berdenyut-denyut. Bahkan pinggulnya bergerak-gerak seperti mengikuti irama kocokan Joko.

Nafas Nadia kini berubah menjadi terputus-putus dan cepat. "Ohhh! Hhh! Thhh! Mhh…!" seakan bersahut-sahutan dengan gerakan keluar masuknya jari Joko.

Joko memang sudah berpengalaman dengan tubuh wanita, sehingga ia tahu titik-titik rangsang yang jitu. Dan ia mulai melancarkan serangan mautnya. Dengan ibu jarinya, Joko mulai membuat gerakan melingkar-lingkar di sekitar klitoris Nadia.

Nadia kini sudah terseret dalam pusaran birahi yang sangat besar dan kuat. Semakin lama ia semakin terseret masuk ke pusat dari pusaran itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari pusaran itu namun tidak pernah berhasil.

Dalam pikirannya, Nadia sadar benar bahwa ia seharusnya tidak boleh menikmati semuanya ini. Bukan saja tidak boleh menikmatinya, ia bahkan tidak boleh membiarkan Joko melakukan hal ini kepadanya.

Agar tidak terlalu menikmati rangsangan ini, Nadia terus menerus berusaha mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sudah menikah dengan Yusdi dan seorang lelaki yang bukan suaminya sedang menikmati tubuhnya di luar kehendaknya. Terlebih lagi lelaki ini sudah beristri pula.

Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, Nadia sadar bahwa belum pernah seumur hidupnya ia merasakan rangsangan birahi sekuat ini. Masih dalam usahanya untuk berontak dari birahi terlarang ini, Nadia merasakan tubuhnya tiba-tiba seperti tersedot naik terbang oleh kekuatan yang luar biasa.

Ternyata saat ini, Joko sedang melancarkan jurus rahasianya pada klitoris Nadia dengan menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya tubuh Nadia menggelepar-gelepar lalu seluruh ototnya mengejang. Matanya dipejamkannya rapat-rapat. Ya, dirinya baru saja dihantam oleh orgasme untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Pembuluh darah di sekitar leher, bibir, payudara, dan vaginanya melebar. Air mata kenikmatan mengalir dari matanya. Mulutnya terbuka lebar namun suara yang keluar hanya cericit yang tertahan.

Tiba-tiba terdengar suara Irfan di dekat sana, "Bu Nadia tiba-tiba saja terjatuh. Apakah dia sedang sakit, Pak Yusdi?"

Lagi asyik menikmati vagina Nadia yang sedang berkejut-kejut memijit jarinya, Joko harus menarik jarinya keluar lantaran mendengar suara Irfan. Setelah itu tubuh Nadia tergolek lemas kehabisan tenaga, bersandar pada badan Joko.

Ternyata Irfan berpapasan dengan Yusdi yang baru kembali dari WC. Yusdi pura-pura terkejut mendengar penjelasan Irfan dan bergegas mengikutinya.

Begitu melihat istrinya bersandar pada bahu Joko, Yusdi langsung mencermati Joko. Sambil menghampiri istrinya, Yusdi melirik ke jari-jari Joko yang terlihat basah. Selain itu juga tercium aroma seks yang kental di dekat istrinya. Tanpa kesulitan Yusdi dapat menerka apa yang telah diperbuat Joko.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, Yusdi mematikan remote Sex-Force® dari balik kantong celananya dan memapah istrinya yang masih setengah terpejam itu.

"Nadia! Kamu tidak apa-apa?"

Mendengar suara suaminya, Nadia seakan terbangun dari mimpi. Mimpi yang paling erotis dalam hidupnya.

Nadia melihat ke sekelilingnya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih. Terlihat Irfan, Rini dan Maria berdiri berkeliling, serta Yusdi dan Joko berlutut di sampingnya.

"Kamu tidak apa-apa, Nad?" tanya Yusdi sekali lagi sambil mengusap bekas air mata dari pipinya.

Nadia memandangi Yusdi beberapa saat. Keringat Nadia masih mengalir dan wajahnya masih terasa panas. Nadia membuka mulutnya sedikit hendak menjawab. Akhirnya ia mengangguk perlahan.

"Ya… aku tidak apa-apa," katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar karena tenggorokannya kering.

Rini, Irfan dan Maria tersenyum lega mendengarnya. Yusdi juga berpura-pura lega mendengarnya. Sebenarnya ia tahu istrinya memang tidak memiliki masalah apa-apa. Ia tahu bahwa semuanya ini 'berkat' ulah usilnya. Ia tahu sebenarnya apa yang baru terjadi atas istrinya. Lebih tepatnya: Ia pikir ia tahu apa yang terjadi. Namun pada kenyataannya ia tidak tahu bahwa Nadia baru saja merasakan orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya. Ya, orgasme yang sudah lama Yusdi usahakan atas Nadia.

Akhirnya setelah meneguk air yang diberikan Yusdi dan beristirahat beberapa menit, Nadia sudah kembali pulih. Ia terlihat segar kembali (bahkan menurut Yusdi, Nadia terlihat jauh lebih segar dari biasanya). Pipi dan lehernya masih bersemu merah. Nadia berusaha untuk bersikap sealami mungkin untuk menutupi dan melupakan apa yang baru saja terjadi.

Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat melupakan perbuatan Joko terhadap dirinya. Nadia mulai menjaga jarak terhadap Joko. Hal ini dapat dirasakan oleh Joko. Padahal Joko, dengan pikirannya yang dangkal, mengira Nadia justru akan menjadi lebih 'dekat' padanya setelah mendapat servis darinya. Pada dasarnya Nadia sangat membenci perbuatan Joko terhadap dirinya, namun ia tidak berani untuk mengungkit masalah ini dengan Joko.

Hari ini akhirnya berakhir pula. Nadia belum mau juga membahas kejadian tadi dengan Yusdi. Komunikasi terbuka adalah hal yang selalu ditekankan oleh Nadia dan Yusdi dalam keluarga kecil ini. Nadia secara pribadi tidak ingin ada rahasia dalam rumah tangga mereka. Tetapi di lain pihak Nadia takut dan malu untuk memberitahu Yusdi apa yang sebenarnya terjadi tadi. Pada kenyataannya, Nadia sendiri ragu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Nadia sebelumnya tidak pernah merasakan orgasme. Walau sedikit ragu namun ia tahu bahwa yang ia rasakan tadi adalah orgasme pertamanya. Seperti yang pernah ia baca di majalah: "Jika anda bertanya-tanya apakah anda pernah mendapatkan orgasme atau belum, dapat dipastikan anda belum pernah mendapatkannya. Karena jika anda mendapatkan orgasme, anda pasti tahu."

Hari-hari berikutnya, kecanggungan antara Nadia dan Joko semakin terasa. Joko akhirnya menangkap sinyal yang diberikan oleh Nadia. Secara perlahan ia pun membatasi diri untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengan atasannya tersebut. Joko sebenarnya sedikit khawatir perbuatannya waktu itu dibeberkan oleh Nadia kepada jajaran manajemen perusahaan. Irfan, Rini dan Maria juga sudah melupakan kejadian tersebut.

Setidaknya Nadia dapat hidup lebih tenang, ... untuk sementara.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 4
Baca cerita sebelumnya « Bagian 2