Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Oct 25, 2016

Sex-Force 9

Nadia
Ringkasan: Pengalaman Nadia di rumah Joko kali ini akan memaksa Nadia memasuki bab baru dalam kehidupan seksnya.
Kode cerita: mastrb, MF, oral, reluc, voy

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia
* Yusdi: suami Nadia


Sex-Force 9
by: VVN

Sudah lebih dari sepuluh menit Nadia duduk di belakang setir dengan pandangan kosong ke arah jam digital di mobilnya. 16:38. Benaknya dipenuhi kekesalan-kekesalan.

Ia kesal karena Yusdi harus pergi ke kantor meninggalkan dirinya. Ia kesal pada dirinya yang menyetujui saran Yusdi untuk datang ke rumah Joko. Ia bahkan kesal karena sesi bercintanya dengan Yusdi selesai tanpa dirinya mencapai orgasme. Bercinta dengan Yusdi tanpa mendapat orgasme tidak pernah membuat dirinya kesal sebelumnya. Namun hari itu ia merasa kebutuhan seksualnya belum terpuaskan dan hal itu membuatnya kesal. Dan yang paling membuatnya kesal saat itu adalah dirinya, yang masih diliputi birahi, harus berduaan dengan Joko.

"Yusdi berengsek! Dia tinggalkan aku dalam kondisi seperti ini," umpatnya dalam hati. "Dia mah enak udah keluar dua kali. Yang ada sekarang aku malah masih horny."

Akhirnya Nadia memutuskan untuk mematikan mesin dan turun dari mobil. Kakinya melangkah dengan berat menuju pintu pagar rumah Joko. Joko membukakan pintu tak beberapa lama setelah Nadia memencet bel.

"Ayo cepat masuk," ujar Joko sambil menarik lengan Nadia setelah matanya mengamati pakaian Nadia dari atas sampai ke bawah. Joko tidak menyangka Nadia datang ke rumahnya mengenakan rok pendek beberapa sentimeter di atas lutut.

"Eh? Ada apa, Pak? Kok buru-buru?"

"Cepat bantu saya selesaikan laporan-laporan untuk Ardi. Setelah itu barulah kita bisa berpesta."

===

Jam di komputer menunjukkan pukul 6:51 petang. Joko terlihat kesal karena banyaknya laporan-laporan yang masih harus diselesaikan. Sementara itu Nadia harus bergumul dengan gejolak birahinya yang mulai mengkhawatirkan, padahal Nadia sejak tadi sibuk mengerjakan laporan bersama Joko.

Dengan tingkat birahi seperti itu, kerap kali pikiran Nadia didatangi oleh imajinasi 'pesta' yang disebut Joko tadi. Ia menepis imajinasi-imajinasi liar tersebut dengan geram. Nadia berpikir kalau laporan-laporan ini dapat diselesaikan secepat mungkin, berarti semakin cepat ia dapat menyelesaikan 'pesta' itu, yang berarti semakin cepat pula ia dapat pulang ke rumah.

Tepat pukul 7 malam, sebuah SMS masuk ke telepon Nadia.

Yusdi:
nad, aku pngn coblos km lg! punyaku msh tegang n keras nih


Mata Nadia terbelalak membaca isi SMS Yusdi. Tanpa sadar ia berusaha menutupi layar teleponnya, berharap Joko tidak membacanya. Bukan saja Joko tidak menatap telepon Nadia, Joko bahkan tidak melepaskan pandangannya dari layar monitor di hadapannya.

Nadia merasakan wajahnya memerah dan menjadi panas. Lagi-lagi visualisasi penis dalam keadaan ereksi dengan tonjolan-tonjolan urat di sekujur batangnya dan lelehan bening di kepala penis itu merasuki benak Nadia.

Nadia:
STOOOP!! jgn sexting seenaknya. emgnya km nggak tau kalo aku lg di rmh joko?


Yusdi:
hahaha! tau lah. aku cm iseng kok. seru kan ngrasain penis brdenyut2 di dlm km?
gmn km sm joko? seru?


"Mmhhhh…," lirih lembut keluar dari bibir Nadia yang terkatup saat membaca SMS itu. Tersadar apa yang baru saja terjadi, Nadia langsung melirik ke arah Joko. Hatinya lega karena tidak ada tanda-tanda bahwa Joko mendengar suaranya tadi. Denyutan-denyutan kuat mulai terasa di dinding vaginanya. Nadia yakin celana dalamnya sudah basah melekat pada kelopak kemaluannya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Ia membaca SMS itu sampai berulang kali untuk memastikan maksud SMS Yusdi tersebut. Ia mendapat kesan bahwa Yusdi sengaja ingin membuatnya risih di depan Joko.

Nadia:
iiih, apaan sih km? ini aku lg sibuk tau >:(


Yusdi:
waaah, emgnya joko suruh km bj ualan jamu yah? km kan atasan dia, kok mau sih jadi budaknya? mau disuruh2


Bayangan dirinya sedang melumat batang penis Joko muncul di benaknya saat membaca SMS itu. Puting susunya yang sudah sekeras penghapus pensil itu terasa tidak nyaman menekan BH-nya. Nadia bahkan yakin aroma seks yang keluar dari kemaluannya sudah sangat pekat memenuhi ruangan itu.

"AH!" tubuh Nadia terlonjak saat jari Joko menyentuh bagian bawah punggungnya.

"Ya ampun! Kamu ini kenapa sih?" seru Joko yang ikut terperanjat.

"Aduh Pak Joko bikin kaget aja," sanggah Nadia sambil memegangi dadanya seakan mencoba menenangkan debar jantungnya. Nadia merasakan seluruh sarafnya menjadi sangat sensitif secara sensual.

"Carikan berkas laporan PT Antara Berantara tanggal 21 Maret!" perintah Joko.

Setelah menyodorkan laporan yang diminta Joko, Nadia segera menyambar telepon genggamnya dan menulis SMS balasan untuk Yusdi.

Nadia:
YUSDI!!! apa2an sih km kok nulis ky gitu? joko nggak suruh bj!!! kbnyakan nonton porn bikin otakmu ngeres mulu >:|


Yusdi:
ih siapa yg omongin BJ yah? kayanya malah otakmu deh yg mikirin hal2 seputar sex. hahaha


Nadia tak dapat mempercayai matanya saat ia membaca ulang SMS Yusdi.

...emgnya joko suruh km bj ualan jamu yah?...

Wajahnya sontak memerah. Panas yang berpendar dari pipinya seakan mengganggu penglihatan Nadia. Nadia melihat memang ada kata 'BJ' di SMS itu, tapi ia baru sadar itu hanya salah ketik. "Yusdi tidak sedang membicarakan blow job," omel Nadia dalam hati. "Dia bermaksud untuk menulis 'bjualan' atau mungkin saja huruf 'b' di awal kata itu tidak sengaja terketik."

Nadia memutuskan untuk tidak membalas SMS terakhir Yusdi, berharap percakapan mereka berakhir karenanya. Selain itu Nadia juga tidak tahu bagaimana mengelak dari tuduhan Yusdi yang telak mengenai sasaran itu.

Semakin ia memikirkan hal ini, semakin malu Nadia atas dirinya yang tidak berhasil menepis bayangan penis Joko dari benaknya. Saat ini Nadia merasakan birahinya telah mencapai tingkat yang cukup membahayakan. Seluruh sensor tubuhnya menjadi super peka. Ia bahkan dapat merasakan butir-butir keringat mulai merembes keluar dari keningnya.

Dadanya bergerak naik turun mengimbangi nafasnya yang semakin berat dan mendalam. Dengan kepala yang sedikit tertunduk dan dahi yang mengernyit, Nadia membasahi bibirnya dan membiarkan rahang bawahnya jatuh sehingga celah kecil yang terbentuk di antara bibirnya dapat membantu laju nafasnya. Matanya sendu menatap hampa ke atas permukaan meja.

Sangat besar dorongan untuk menggesek-gesekkan kemaluannya ke permukaan kursi yang sedang ia duduki. Terlihat buku-buku jari yang memutih dari kepalan tangannya yang gemetar. Nadia menutup pahanya rapat-rapat dengan harapan dapat meredam hantaman birahinya. Gerakan menutup pahanya itu justru membuat kemaluannya tertekan ke permukaan kursi dan mengirimkan sengatan voltase tinggi ke sekujur tubuhnya.

Dengan sengatan yang membuka tingkap-tingkap indra kenikmatan dalam tubuhnya, pertahanan Nadia sedikit demi sedikit mulai luluh. Nadia mencari cara agar kemaluannya dapat bergesekan dengan permukaan kursi yang ia duduki tanpa harus melakukan gerakan yang kentara. Pahanya mulai naik dan turun secara bergantian sambil dirinya beringsut dari duduknya. Gerakan ini berhasil senantiasa menyuplai bahan bakar bagi api birahinya.

Nadia beringsut dari duduknya untuk yang ke seratus kalinya saat ia sadar bahwa birahinya bukannya semakin terpuaskan tetapi malah semakin menuntut. Tingkat kebasahan celana dalamnya sudah tidak perlu dipertanyakan. "Aku butuh lebih dari ini," benaknya.

Yusdi:
kok ga dibales smsku? hayooo… km memang lg horny yah? mau aku bantu?


Selesai membaca SMS itu Nadia menelungkupkan telepon genggamnya dan kembali ke jagat birahi yang memabukkan. Ia tidak berniat untuk membalas sexting dari suaminya, setidaknya tidak saat ini, mungkin nanti. Tak beberapa lama setelah itu, teleponnya bergetar lagi.

Yusdi:
bayangin deh, penis joko spt apa... penis yg tebal & kekar dgn urat2 yg menonjol... berdenyut2… tiap kali berdenyut, lelehan bening menyembul dr kpala penisnya… aku tau km suka sm precum


Secara refleks Nadia menyelinapkan lidahnya keluar, membalur ujung bibir atasnya. Kemudian Ia menarik masuk lidahnya perlahan lalu menelan isi mulutnya. Yusdi lagi-lagi berhasil mematri gambaran penis Joko dalam benak Nadia.

"Mmmhhh…," tanpa ia sadari lirihan lembut keluar dari tenggorokannya. Kemaluannya semakin terasa panas dan gatal. Dengan kedua pahanya masih rapat menempel, Nadia membuka kedua tungkai kakinya melebar. Posisi kedua lututnya yang lebih rendah dari pangkal pahanya ini membuat kemaluan Nadia semakin terbenam ke permukaan kursi.

Nadia melirik ke teleponnya, setengah berharap Yusdi melanjutkan kiriman SMS-nya. Layar telepon genggamnya tiba-tiba berpendar. SMS Yusdi baru saja masuk. Matanya yang sendu tiba-tiba bercahaya begitu harapannya menjadi nyata.

Yusdi:
vagina km udah basah… cairannya udh keluar merembes ke kelopaknya.
km pengen banget penis joko yg tebal itu menyembul masuk ke dlm vagina km.
km goyang2in pinggul supaya napsu berahi mu bs terpuaskan.


Tanpa berusaha menutup-nutupi gerakan tubuhnya, Nadia menggoyang-goyangkan pinggulnya sedemikian sehingga kemaluannya bergesek-gesekan dengan permukaan kursi. Gesekan demi gesekan mengirim impuls-impuls rangsangan ke sekujur tubuhnya. Semakin diberi makan, alih-alih terpuaskan, nafsu birahi Nadia menjadi semakin lapar.

Yusdi:
km sbnrnya tau apa yg km butuhkan. tp sayang aku ga di sampingmu.


Selesai membaca SMS itu, Nadia meletakkan teleponnya. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam, kedua tangannya terkepal erat ditambah dengan deru nafas yang tak kunjung mereda. Nadia sudah tidak dapat berpikir jernih.

"Iya. Kamu nggak di sampingku," Nadia menjawab SMS Yusdi dalam benaknya. "Dan kamu benar. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."

Dengan kepala yang masih tertunduk, perlahan-lahan kelopak matanya terbuka. Sayu. Pandangannya kosong melekat ke berkas-berkas laporan di atas meja. Nadia menyeret pandangannya ke arah Joko.

Nadia harus memaksa kakinya melangkah menghampiri Joko yang terlihat sedang sibuk di depan layar monitor. Nadia menatap punggung Joko lalu mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pundaknya. Hanya tinggal beberapa senti lagi jari-jari lentik itu mengenai pundak Joko, Nadia menghentikan tangannya. Ia mengepalkan tangannya dan mengurungkan niatnya.

VRRRR!

Telepon genggam Nadia yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba bergetar keras. Joko menoleh ke belakang, mendapati Nadia sedang berdiri begitu dekat dengannya.

"Nadia, ada apa?"

Nadia tidak tahu harus menjawab apa. Matanya mendelik, alisnya terangkat tinggi. Nadia hampir yakin wajahnya mengeluarkan asap saking panasnya. Ia bahkan tidak peduli dengan missed call yang baru saja masuk ke telepon genggamnya.

"Kamu mau apa, Nad?" tanya Joko yang kini sudah memutar arah duduknya sehingga mereka berdua saling berhadapan.

Nadia merasakan birahinya meletup-letup mengguncang seluruh pertahanan dirinya. Delikan matanya berangsur-angsur pudar diganti dengan tatapan sayu. Mulutnya merekah untuk membantu nafasnya yang tersengal.

Mata Joko bersinar-sinar dan terlihat senyum samar dari bibir Joko. Dari tanda-tanda tubuh Nadia, Joko tahu benar Nadia sedang horny berat.

"Saya masih menunggu, Nadia." Joko menghempaskan punggungnya ke sandaran bangku sambil melebarkan pahanya seakan menantang Nadia dengan selangkangannya. Nadia masih berdiri tak bergeming di hadapan Joko.

"Semua aktivitas seks-mu dengan Joko adalah hasil paksaan, Nadia, bukan dari keinginanmu sendiri. Jangan kamu ubah semua itu." Hati nurani Nadia masih mencoba mengingatkan bahwa dirinya adalah seorang wanita baik-baik yang sudah bersuami.

"Aku…"

Joko menunggu dengan sabar.

"Pak Joko, aku… anu," Nadia mencengkram erat-erat ujung roknya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Nadia sebenarnya berharap Joko dapat melihat kondisinya dan mengambil tindakan untuk memulai aksi seksual, seperti yang biasa ia lakukan terhadap tubuhnya. Toh Joko memang sudah berencana untuk 'berpesta' setelah ini, pikirnya lagi.

"Saya bingung, kamu mau apa sih?" Joko terkesan tidak mengharapkan jawaban dari pertanyaannya yang terakhir ini. "Sudah. Ayo lanjut kerja lagi." Joko memutar kursinya menghadap layar komputer kembali, meninggalkan Nadia yang menatap punggungnya.

"Anu, pak. Aku mau tanya tentang berkas tanggal 11."

Tanpa memutar kursinya, Joko menoleh ke Nadia. "Ada apa dengan berkas tanggal 11?"

"Begini, Pak," tiba-tiba Nadia mendapat ide. "Aku tadi kan sudah mencoba untuk mencocokkan nomor seri dari berkas tanggal 11, tapi ternyata nomor seri itu nggak aku temukan." Nadia mendekat. Dengan gerakan gemulai, Nadia membungkukkan badannya untuk menunjukkan berkas itu ke Joko.

Saat membungkukkan badannya, Nadia sama sekali tidak berusaha untuk menutupi leher bajunya yang menggantung terbuka. Selagi ia menerangkan permasalahan yang ada ke Joko, tubuh Nadia sesekali meliuk sensual penuh godaan.

Nadia mendapati Joko melirik berkali-kali ke belahan dadanya. Memang butuh sedikit usaha buat Joko untuk melihat isi di balik helai baju Nadia, tapi dapat dipastikan bahwa Joko mampu untuk melihat bukit kembar Nadia yang masih tertutup BH itu. Namun demikian, Joko masih tidak melakukan tindakan apa-apa selain mendengarkan terus penjelasan Nadia.

Sambil terus berceloteh, Nadia memutuskan untuk memutar arah badannya sedikit supaya dapat berdiri tepat di samping Joko yang sedang duduk. Masih dalam posisi membungkuk, ia menggeser badannya mendekat sehingga lengan kirinya bersentuhan dengan lengan kanan Joko. Joko terlihat acuh. Dalam posisi ini Joko sudah tidak mempunyai akses untuk mengintip belahan dada Nadia lagi.

Nadia meraih dokumen di sebelah kiri Joko dengan memutar badannya sedikit sehingga lengan kirinya menempel di punggung Joko. Tangan kanan Nadia menjulur di depan dada Joko untuk meraih dokumen itu secara amat sangat perlahan.

Joko melirik ke arah Nadia begitu menyadari bukit susu kenyal Nadia menghimpit lengan kanan dan punggungnya. Nadia tersengal merasakan birahinya semakin tersulut. Joko tidak mendengar lirih samar yang keluar dari mulut Nadia. Kehangatan Nadia yang seperti bara unggun di malam hari itu menjalar cepat dari punggung ke seluruh tubuh Joko. Alhasil, batangnya mengembang dan mengeras dalam hitungan detik.

Naluri Nadia merasakan perubahan pada Joko. Dokumen di tangannya ia letakkan di depan Joko. Nadia melanjutkan penjelasannya berdasarkan dokumen tersebut. Ia melirik ke arah selangkangan Joko. Melihat tonjolan keras di antara paha dari balik celana katun yang dikenakan Joko, ujung-ujung bibir Nadia tertarik ke atas sambil mulutnya tak berhenti berceloteh.

"Ayo, ayo, lekaslah kau 'memulai'," batin Nadia.

Nadia tidak habis pikir atas apa yang baru saja ia lakukan. Akan tetapi, Nadia terus menerus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru ia lakukan jauh lebih baik dibanding harus terang-terangan meminta Joko untuk memuaskan birahinya.

Nadia menyelesaikan penjelasannya kepada Joko dan kini giliran Joko untuk menyanggah apa yang baru saja dijelaskan kepadanya. Beberapa menit berlalu tanpa ada tanda-tanda Joko akan segera melancarkan serangan-serangannya.

Kepanikan mulai kembali menyelimuti Nadia karena selang beberapa menit terakhir ini ia membiarkan dirinya dibuai oleh luapan-luapan birahinya yang semakin tak terbendung. Sementara Joko bercuap-cuap, ia membayangkan berbagai macam adegan, apa yang bakal Joko perbuat terhadap tubuhnya.

Penampakan penis Joko yang tebal dan kekar akhirnya kembali merasuki benaknya. Ia tidak mengerti mengapa setiap kali gambaran penis Joko muncul di benaknya selalu diikuti dengan meluapnya nafsu birahinya.

Otak Nadia membayangkan titis cairan bening menyembul dari mulut batang Joko. Begitu beningnya sehingga terlihat seperti tetesan embun di pagi hari. Butiran itu semakin membesar seiring bertambahnya cairan yang keluar dari tubuh Joko. Saking banyaknya cairan yang terkumpul, akhirnya gumpalan cairan bening itu meleleh perlahan membasahi batang Joko. Nadia secara terang-terangan mendesah saat membayangkan semua ini.

"Nnnghhhh…"

Serta merta Joko menghentikan penjelasannya dan melirik menatap mata Nadia. Nadia yang sudah tidak bisa mengontrol birahinya menatap balik dengan tatapan sendu. Pundaknya naik turun karena nafasnya yang semakin berat.

Joko sengaja tidak memberi komentar atau bertanya apa-apa. Duduk di samping Nadia, Joko hanya menatap matanya dalam-dalam - tatapan kosong tanpa ekspresi.

"Pak Joko…"

Masih tidak ada tanggapan apa-apa dari Joko.

"Pak,... aku…," Nadia ragu-ragu sebelum akhirnya melanjutkan, "aku horny, Pak."

Tatapan Joko masih terlihat kosong saat ia menyanggah, "Lantas?"

Nadia yang tidak kuasa menahan rasa hina dalam dirinya akhirnya menundukkan wajahnya. Emosinya bercampur aduk dan tanpa terasa air matanya sudah menggenang.

Nadia tahu bahwa Joko ingin mempermalukan dirinya dengan memaksanya mengemis untuk berhubungan intim. Air matanya menetes saat Nadia menjawab dengan lemah, "Aku berharap Pak Joko bisa segera memulai 'pesta' yang bapak sebut-sebut tadi." Nadia akhirnya memproklamasikan kekalahannya di hadapan Joko. Usaha Nadia untuk mempertahankan harga dirinya sudah gagal total.

"Lah, apa hubungannya 'pesta' dan 'horny'?"

Dengan kepala masih tertunduk, Nadia mendelik mendengar kata-kata Joko. "Apa mungkin Joko sejak awal memang bermaksud untuk berpesta, murni berpesta merayakan selesainya tugas-tugas kantor, tanpa embel-embel seks?" Nadia tertegun.

"Apa cuma pikiranku saja yang mesum beranggapan bahwa pesta yang dimaksud Joko adalah 'pesta' di atas ranjang?"

"Ah, tidak mungkin! Kata-kata seperti itu pasti berkonotasi seksual jika keluar dari mulut orang seperti Joko."

"Kalau memang begitu, berengsek si Joko. Dia sengaja mau mempermalukan aku."

Otak Nadia berputar keras untuk dapat keluar dari situasinya yang sedang kritis. Masih dengan kepala tertunduk, Nadia tanpa sadar melirik lagi ke arah tonjolan batang Joko. Terlihat bercak basah berwarna lebih gelap pada celana katun Joko di daerah kepala penisnya. Lemahnya Nadia terhadap pre-cum membuat nalarnya menjadi tumpul dan akhirnya menyerah pasrah pada dorongan birahi yang kini sudah menguasai tubuhnya secara total.

Tangan Nadia mengelus lembut tonjolan itu. Jemarinya berputar-putar licin pada bercak basah itu. "Mmhhh…," erang Nadia tanpa melepas pandangannya pada tonjolan keras di celana Joko.

"Nadia! Stop!"

Jika saja Nadia tidak dirasuki nafsu birahi seperti ini, pasti ia akan merasa aneh dengan komentar Joko. Nadia seakan tidak mendengar kata-kata Joko. Alih-alih menghentikan perbuatannya, Nadia meraih kancing celana Joko dan membukanya.

Secara perlahan, Nadia menurunkan ritsleting dan membuka celana Joko. Tangannya kembali membelai batang yang masih terbungkus celana dalam itu. Namun kini sensasi yang dirasakan oleh Joko semakin kuat yang membuat tubuhnya menggeliat-geliat. Nadia sekarang dapat melihat lekuk-lekuk batang itu terjiplak jelas dari kain celana dalam Joko yang tipis.

Dengan gerakan lambat namun pasti, Nadia meraih pangkal celana dalam Joko dan memelorotinya sampai ke mata kakinya. Selama beberapa saat Nadia mengagumi batang penis Joko. Batang Joko mempunyai kesan perkasa, liar, dan jantan bagi Nadia.

"Nadia, saya bilang sekali lagi. Stop!" tegas Joko.

Nadia mengurut-urut batang Joko yang berdenyut-denyut liar. Gumpalan lendir bening keluar dari mulut penis Joko. Nadia tidak sanggup membiarkan gumpalan lendir Joko keluar sia-sia. Mulutnya segera mengatup pada kepala penis Joko. Di dalam mulutnya, lidah Nadia berputar-putar membalur cairan Joko lalu menyedotnya penuh tenaga.

"Ngghhh…," akhirnya suara lenguhan Joko keluar dari mulutnya. Badannya bergelinjang.

Batang Joko berdenyut satu kali dengan kuat yang diikuti oleh keluarnya sekali lagi gumpalan besar lendir cinta Joko. Nadia dengan lahap meneguk lendir itu.

Nadia melepaskan batang Joko dari mulutnya. Ia menyapu bibirnya dengan lidahnya kemudian sekali lagi menelan semua yang ada di mulutnya.

Nadia bangkit lalu menarik turun celana dalamnya sementara rok pendeknya masih menutupi paha mulusnya. Matanya sayu saat ia meraih tangan Joko untuk dituntunnya masuk ke antara kedua pahanya. Joko mendapati bulu-bulu kemaluan Nadia sudah basah lepek. Jari-jarinya dapat merasakan hawa panas yang berpendar dari kemaluan Nadia.

Nadia menggosok-gosokkan jari-jari Joko di sepanjang kelopak kemaluannya sambil tangan kanannya mengocok-ngocok batang Joko dengan perlahan. Kedua tangannya naik turun seirama seakan sedang membuat lantunan musik dari suara decak basah kemaluan mereka berdua.

Mata Nadia terpejam, kepalanya mendongak saat mulutnya mendesah lirih, "Mmmhhhhh…."

Yusdi menekan tombol Sex-Force® untuk mematikan alat itu. Ia membuka perlahan pintu lemari besar tempat ia bersembunyi selama ini. Saat ia melangkah perlahan mendekati Nadia dan Joko, tangan kanan Joko masih memegang kamera yang sedari tadi merekam semuanya.

Dengan mata yang masih terpejam, Nadia terus saja mengocok-ngocok batang Joko sementara suaminya sudah berdiri tak jauh darinya, merekam semua adegan ini dengan kamera di tangannya. Joko, di lain pihak, menatap cemas ke arah Yusdi. Keringatnya mengalir dari pelipis turun ke lehernya.

(Bersambung) Baca cerita sebelumnya « Bagian 8

Mar 25, 2015

Sex-Force 8

Nadia
Ringkasan: Tiga kali? Wow!
Kode cerita: MF

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia


Sex-Force 8
by: VVN

Yusdi menundukkan kepalanya saat ia mengarahkan kepala penisnya ke celah bibir kemaluan Nadia. Nadia yang tergolek di atas ranjang hanya memandangi ubun-ubun suaminya. Setelah sepuluh menit melewati foreplay yang biasa dilakukan oleh Yusdi, tubuh Nadia akhirnya memberi respon. Dinding vaginanya mulai basah oleh cairan pelumas walaupun Nadia sebenarnya enggan melakukan hubungan seks.

Sabtu pagi hari Yusdi akhirnya sampai ke rumah setelah 8 jam perjalanan pulang dari dinas luar kotanya. Nadia sedang tertidur lelap ketika Yusdi mengendap-endap masuk ke kamar mereka. Ia tidak ingin membangunkan istrinya, namun saat ia melihat lekuk tubuh istrinya yang sedang tertidur, birahinya mulai tersulut. Terlebih lagi Yusdi dinas di luar kota bersama beberapa rekan kerjanya, yang di antaranya merupakan perempuan-perempuan muda.

Selama dua hari ini perempuan-perempuan itu berhasil membuat birahi Yusdi bertahan pada puncaknya. Yusdi memang tidak pernah ragu-ragu untuk menyalurkan tekanan birahinya yang memuncak dengan cara bermasturbasi, walaupun tanpa sepengetahuan Nadia. Namun walaupun dua hari ini ia rutin menyalurkan birahinya secara swalayan, Yusdi seakan tidak dapat menurunkan birahinya sama sekali. Air maninya senantiasa bergelegak terutama saat ia berada di dekat para perempuan itu..

Sesampainya di rumah lekas-lekas Yusdi mandi dan menggosok giginya. Setelah itu ia menghampiri istrinya yang sedang tidur terlentang. Dengan perlahan ia membelai tubuh Nadia. Dikecupnya bibir Nadia dengan lembut. Tangannya membelai rambut, leher, lengan dan pinggul Nadia.

Setelah berhasil membawa istrinya mencapai klimaks (baca: Bagian 4), Yusdi belum pernah lagi menggunakan Sex-Force yang ditanam di dalam tubuh Nadia. Tujuan Yusdi memasang alat itu, agar dirinya dapat membuat istrinya menggapai orgasme, telah tercapai. Namun walaupun demikian, Yusdi belum memikirkan untuk mencabut alat tersebut dari tubuh Nadia.

Nadia mengejap-ngejapkan matanya begitu ia menyadari Yusdi sedang menciumi lehernya. "Yus, kamu baru pulang?"

"Mm-hm," jawab Yusdi singkat, tangannya tak berhenti membelai tubuh Nadia.

"Yus…," Nadia berusaha bernalar, "kamu lagi horny yah?" Nadia memejamkan matanya, "Aku masih ngantuk, nih…," ucapnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Yusdi.

Tak menggubris ucapan istrinya, Yusdi melanjutkan aksinya. "Terserahlah kamu mau tidur atau tidak. Aku butuh pelepasan sekarang," batinnya dalam hati.

Yusdi melanjutkan aksinya dengan lebih leluasa, tanpa perlu khawatir membangunkan istrinya. Kini ia terang-terangan meremas bulatan bukit dada Nadia, menjilati putingnya sampai akhirnya tegak mengeras. Lama kelamaan Nadia terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali tidur.

Mendapat perlakuan spesial seperti itu, mau tak mau kantuk Nadia menjadi sirna. Memang saat itu matahari juga sudah lumayan tinggi. Sinarnya sudah masuk lewat celah-celah tirai jendela menerangi kamar mereka.

Walaupun sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya, Nadia tetap saja bersikap pasif. Ia membiarkan Yusdi melakukan aksinya sementara ia berbaring terlentang pasrah. Sepuluh menit berlalu sampai akhirnya Yusdi membenamkan sekujur batang penisnya ke dalam vagina Nadia.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

"Mmmmhhh…," lirih Nadia yang merasakan batang keras dan tumpul itu menyeruak masuk membuka dinding vaginanya.

Tubuh Nadia masih terasa penat setelah seharian bekerja lembur kemarin. Setelah makan siang kemarin, Pak Ardi malah memberi Nadia dan Joko kerjaan yang menumpuk. Alhasil Nadia baru tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Setelah membasuh tubuhnya secara kilat barulah ia dapat merebahkan tubuhnya. Nadia bahkan tidak sempat membaca SMS Yusdi mengenai perjalanan pulangnya yang tertunda beberapa jam.

Penis Yusdi bergerak keluar masuk liang kewanitaan Nadia dengan kecepatan konstan. Yusdi terlihat sudah sangat terbawa suasana. Ia berharap Nadia dapat menjadi penawar syahwatnya yang menggebu-gebu.

Yusdi mengangkat pantat Nadia dan menaruh kedua tungkai kaki Nadia melewati pundaknya. Yusdi tahu posisi seks seperti ini adalah salah satu posisi favorit Nadia. Yusdi menaruh seluruh berat tubuhnya pada panggulnya untuk memberi tenaga dorong ekstra.

Nadia menikmatinya, setidaknya selama menit-menit pertama. Tapi setelah beberapa menit berlalu, Nadia mulai kehilangan momen. Gairah birahi yang tadinya sudah meningkat, kini malah menjadi datar. Nadia memejamkan matanya berharap dirinya dapat lebih menikmati hubungan intim dengan suaminya.

Yusdi dengan semangat yang masih berkobar-kobar menggenjot panggulnya sehingga batang penisnya terlihat seperti piston mengilap basah yang keluar masuk liang kemaluan istrinya. Sambil mengerang keras, Yusdi menumpahkan spermanya ke dalam vagina Nadia. Cairan mani panas itu bergelegak muncrat dari batang Yusdi, mengisi saluran rahim istrinya.

Setelah mengosongkan amunisinya Yusdi menghempaskan tubuhnya ke sebelah Nadia. Nadia sebenarnya merasa lega Yusdi sudah menuntaskan hajat birahinya, terlebih lagi karena sperma Yusdi masuk ke dalam vaginanya.

Karena belum ingin hamil, biasanya Nadia-lah yang getol menyuruh Yudsi untuk memakai kondom saat melakukan hubungan intim suami istri. Yusdi sebenarnya tidak menentang ketidakinginan istrinya untuk memiliki anak, akan tetapi ia tidak suka mengenakan kondom saat bersetubuh dengan Nadia. Di beberapa kesempatan Yusdi berpura-pura lupa untuk mengenakan kondom. Dan saat Nadia mengingatkannya, Yusdi selalu berdalih: "sudah tanggung" (yang pada akhirnya Nadia membiarkan Yusdi menggumulinya tanpa kondom).

Pagi itu Nadia malah sengaja tidak mengingatkan Yusdi untuk memakai kondom. Nadia tidak ingin hamil. Akan tetapi kalau sampai ia hamil, ia berharap sperma Yusdi-lah yang membuahi sel telurnya, bukannya sperma Joko yang kemarin siang juga telah berenang masuk ke rahimnya.

Perasaan lega ini membuat Nadia jatuh tertidur di samping Yusdi. Begitu lelapnya, Nadia sama sekali tidak terbangun saat Yusdi melancarkan serangan ke-dua begitu kekuatan dan staminanya pulih kembali. Masih tanpa busana, Yusdi menindih tubuh Nadia. Bibirnya mengecupi Nadia, mulai dari kening, pipi, bibir, leher, dada, perut, sampai ke tungkai kakinya. Setelah puas menciumi sekujur tubuh Nadia, kedua tangan Yusdi menjamah buah dada istrinya. Remasan-remasannya pada bukit kenyal itu tak kunjung membuat Nadia terbangun.

Akhirnya Nadia baru terjaga dari tidurnya saat Yusdi menggigit lembut puting susunya. Nadia mengejap-ngejapkan matanya setengah terpicing, berusaha untuk memperjelas penglihatannya.

"Aw!" mata Nadia terbelalak diiringi dengan pekik pelan dari mulutnya saat gigitan Yusdi semakin terasa.

"Yus…"

Nadia tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Bibir Yusdi sudah dengan lahapnya memagut bibir Nadia. Lidah Yusdi menyelinap masuk dan meliak-liuk di dalam mulut Nadia. Setelah beberapa saat, akhirnya Nadia masuk dalam arus birahi dan menyambut permainan lidah suaminya dengan pilinan lidahnya juga.

Saat itu Nadia dapat merasakan batang keras Yusdi menekan tungkai kakinya. "Ada apa gerangan dengan Yusdi?" gumam Nadia dalam hati. "Tidak seperti biasanya ia bernafsu seperti ini."

Mendapati batang kemaluan Yusdi yang berereksi penuh tertekan pada kakinya, Nadia merasakan gairah seksnya spontan melonjak naik. Ia senang mengetahui dirinya memberi dampak sedemikian rupa pada diri suaminya.

Dengan satu gerakan mengalir, Yusdi kembali mengamblaskan batang penisnya ke dalam liang kemaluan Nadia. Lalu ia mulai menggenjot istrinya dengan lembut. Suara desah dan erang dua insan ini pun bersahutan meramaikan kamar mereka.

Tak lebih dari lima menit mereka bersetubuh, gairah birahi Nadia berangsur-angsur menurun. Ia tidak lagi merasakan sensasi yang ia rasakan lima menit sebelumnya. Dengan mudahnya ia merasa dirinya kosong dan kehilangan getar nikmat itu. Ia berusaha untuk lebih berkonsentrasi agar dapat kembali masuk ke dalam buaian birahi, namun usahanya tidak menemui hasil.

Saat telepon genggamnya berdering, api birahi Nadia sudah hampir pupus. Yusdi menghentikan genjotannya saat telepon itu berdering untuk ke dua kalinya. Tangannya meraih telepon yang Nadia taruh di atas meja di samping ranjang.

"Joko," dengan setengah berbisik Yusdi membacakan nama yang tertera di layar telepon.

Baru saja Nadia hendak menyuruh Yusdi untuk mematikan telepon itu, Yusdi malah sudah menerima panggilan telepon itu. Telepon genggam itu langsung ia tempelkan ke telinga istrinya.

"Halo."

Yusdi dapat mengenali suara Joko walau hanya terdengar sayup-sayup. Ia lanjut menggempur kemaluan istrinya dengan lebih bertenaga sambil meremas-remas payudaranya.

"...mhhh… H-halo."

"Nad, si keparat itu menyuruh saya ngantor hari ini. Jadi saya batal mengunjungi mertua."

"...hhh… OK," setelah meraih telepon itu dari tangan Yusdi, Nadia mencoba untuk menjawab seadanya.

"Iya. Berarti rumah saya kosong sampai besok malam. Istri dan anak-anak baru pulang. Jadi malam ini kamu bisa datang ke rumah."

Spontan Nadia mematikan sambungan telepon itu dan di saat yang bersamaan, Yusdi merasakan dinding kemaluan Nadia mencengkram batang kemaluannya kuat-kuat. Ia melirik untuk menganalisa raut wajah istrinya. Jantung Nadia berdegup lebih kencang setelah mendengar permintaan Joko itu.

Nadia melihat suaminya menatap wajahnya dengan pandangan bertanya-tanya. Tidak tahu harus bersikap apa, Nadia berpura-pura tak menggubris percakapannya dengan Joko barusan. Ia memejamkan matanya, membiarkan telepon itu terjatuh di sebelah kepalanya, lalu melingkarkan tangannya ke leher Yusdi.

"Ooohhh… ayo lanjutkan, Yus."

"Kenapa Joko suruh kamu datang ke rumahnya, Nad?"

"Sial, ternyata ia mendengar ucapan Joko," umpat Nadia dalam hati. Nadia membuka matanya. Otaknya berputar cepat untuk mencari jawaban yang tepat.

"Oh, Pak Joko perlu bantuan mengedit data yang diberi Pak Ardi kemarin sore." Nadia menatap mata suaminya dalam-dalam lalu melanjutkan, "Malas aku meladeni dia."

Yusdi masih belum memberi tanggapan apa-apa. Otaknya masih mencoba mencerna semuanya itu. Melihat masih adanya keraguan pada diri suaminya, Nadia membelai wajah Yusdi, "Tak usah dihiraukan, Yus."

Nadia menghampiri bibir suaminya dan melumatnya penuh gairah sambil memeluk lehernya sehingga tubuh kedua insan ini melekat erat. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk melanjutkan persetubuhan yang sempat terhenti.

Perlahan namun pasti Nadia berhasil menyeret Yusdi kembali ke dalam pusaran birahi. Yusdi membalas keberingasan Nadia dengan senang hati dengan menggenjot panggulnya mengikuti irama tubuh istrinya.

Percakapan dengan Joko masih terngiang-ngiang di telinga Nadia walaupun ia sudah berusaha untuk membungkamnya. Namun semakin ia berusaha untuk menepis suara Joko dari benaknya, justru semakin banyak ingatan atas Joko bermunculan di benaknya. Dan setiap kali bayangan itu muncul di pikirannya, tubuh Nadia bergelinjang dan dadanya membusung terangkat ke atas.

Sekonyong-konyong Yusdi memuntahkan lahar panasnya ke dalam mulut rahim istrinya untuk kedua kalinya pagi itu. Tubuh Nadia masih menggeliat-geliat dan pinggulnya masih bergoyang-goyang saat tubuh Yusdi berkejut-kejut menindihnya.

Setelah penis Yusdi mengecil dan menyusup keluar dari kemaluan Nadia, gerakan yang tersisa dari tubuh Nadia hanyalah gerakan dadanya yang kembang kempis akibat nafas yang masih memburu.

Lalu Yusdi mendorong tubuhnya berguling ke samping dan rebah di sisi kanan Nadia. Yusdi mengangkat lengan kanannya untuk menutupi kedua matanya. Kembang kempis dadanya tidak kalah cepat dari Nadia. Mereka berdua berbaring di sana selama beberapa menit tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kamar itu menjadi sunyi walaupun masih terdengar suara deru nafas dari pasangan suami istri ini.

Nadia membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong menyapu langit-langit kamar. Ia memutar kepalanya untuk memandang suaminya. Lengan Yusdi masih tergolek menutupi matanya. Dari ekor mata Nadia, Nadia mendapati adanya pergerakan kecil di bagian bawah tubuh Yusdi.

Bola mata Nadia pun bergulir ke bawah mengarah ke selangkangan Yusdi. Penis Yusdi sesekali berdenyut. Denyutan demi denyutan membawa penis itu menjadi lebih besar.

"WOW!" pekik Nadia dalam hati. "Tiga kali? Ada apa dengan Yusdi pagi ini? Tidak pernah ia se-horny ini!"

Penis Yusdi belum mencapai ereksi penuh saat Nadia mulai membelai lembut sekujur jenjang batang suaminya. Yusdi tak bergeming namun Nadia tak menghentikan belaian dan usapan lembutnya.

Setelah beberapa menit berlalu Nadia mendapati penis itu tidak menjadi lebih besar ataupun lebih keras di bawah belaian tangannya. Bahkan ia merasa penis suaminya sedikit menciut.

"Hmmm… kelihatannya ia memang sudah lelah."

Dengan tangan kanannya yang ia gunakan untuk menutupi matanya, Yusdi menjamah tangan Nadia yang sedang mengusap-usap kemaluannya.

"Nad," suara Yusdi akhirnya memecah kesunyian semu di kamar itu.

Pandangan Nadia berpaling ke wajah suaminya yang masih memejamkan matanya. Nadia menunggu Yusdi melanjutkan kalimatnya sambil mencoba membaca raut wajahnya. Tidaklah mudah untuk membaca raut wajah seseorang dari samping, walaupun orang tersebut adalah orang yang dekat dengan kita.

"Ada apa, Yus?" Nadia tidak sabar menunggu.

"Hmmm…," Yusdi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nadia mengernyitkan dahinya seakan menolak jawaban suaminya.

Yusdi membuka kedua matanya perlahan lalu menoleh ke samping. Kernyitan Nadia sirna saat Nadia melihat senyum ringan menghias wajah suaminya.

"Tidak apa-apa, Nad," Yusdi membelai rambut Nadia dengan lembut. "Aku tadi lagi mengingat-ingat seberapa sering aku bilang kalau aku sayang kamu."

Yusdi menatap mata Nadia dalam-dalam. "Maaf yah, Nad. Aku jarang kasih tau kamu kalau aku sayang kamu."

Mata Nadia berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya itu.

"Oooh, honey," Nadia merangkulkan tangannya ke leher Yusdi lalu memeluknya erat-erat. "I love you, too," bisik Nadia sambil tersenyum lebar, tidak ingin pernah melepas pelukannya.

Paha Nadia menempel pada selangkangan Yusdi. "Yup! Si buyung sudah mengecil, kembali ke kondisi normal," Nadia berceloteh di dalam benaknya. "Ayo, cooling down, cooling down. Moga-moga nanti malam Yusdi jadi 'sangar' lagi."

"Oh, by the way," ujar Yusdi tiba-tiba, "nanti kayanya aku harus ke kantor untuk ketik laporan yang numpuk. Jadi malah lebih bagus kalau kamu pergi ke tempat Joko. Setidaknya kamu bisa mengisi waktumu secara produktif, tidak cuma bengong menunggu aku di rumah."

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 9
Baca cerita sebelumnya « Bagian 7




May 27, 2014

Sex-Force 7

Nadia
Ringkasan: Kawin di dalam mobil
Kode cerita: Blkm, MF, non-con

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 7
by: VVN

Nadia memandang ke sekeliling ruangan kantor. Tidak ada siapa-siapa. Ia memang sengaja datang lebih awal pagi itu. Ia ingin memulai harinya dengan lebih tenang. Ia merasa lebih lega Joko belum muncul di kantor. Nadia sungguh malas untuk bertemu dengan Joko. Sejak kejadian awal itu (baca: bagian 3), masuk kantor menjadi hal yang menyiksa bagi Nadia.

Kemeja pink ketat lengan pendek yang ia kenakan memberi kesan chic, dipadukan dengan rok span berwarna hitam kemerahan. Hari itu penampilan Nadia terlihat berbeda, dibandingkan dengan kaos berkerah dan celana jins yang biasa ia kenakan pada hari Jumat (pada hari Jumat pegawai diperbolehkan untuk berpakaian lebih santai).

Walau enggan untuk memasuki hari Jumat ini, Nadia sebenarnya sudah mempersiapkan semuanya secara khusus. Ia sengaja memilih setelan baju dan rok yang mudah untuk ditanggalkan. Barang-barang yang berserakan di jok belakang mobilnya pun sudah ia singkirkan pagi tadi. Dua paket kondom juga sudah ia masukkan ke dalam tasnya. Ia bahkan menghabiskan waktu ekstra untuk membersihkan area kemaluannya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Pagi itu Nadia memarkir mobilnya di lokasi yang telah dijabarkan oleh Joko kemarin. Selama bekerja di kantor ini, belum pernah sekalipun Nadia menginjakkan kakinya ke sana, berhubung tempat parkir utama letaknya lebih dekat walaupun sedikit lebih ramai. Tidak ada mobil lain di area parkir belakang saat Nadia memarkir mobilnya.

Nadia membuka laci untuk menaruh tasnya. Hatinya mencelos saat ia mendapati secarik kertas putih terlipat rapih bertengger di dasar laci itu.

"Taruh celana dalam dan BH kamu di dalam laci saya."

Nadia tahu siapa penulis pesan itu walaupun tidak ditulis dengan tulisan tangan. Setelah membacanya beberapa kali, Nadia meremas kertas itu dan membuangnya.

Ia memutuskan untuk tidak melepaskan BH-nya karena ia yakin orang-orang dapat melihat puting susunya tercetak pada kemejanya yang ketat. Saat Nadia menaruh celana dalamnya ke laci Joko, hatinya bersyukur ia datang lebih pagi sehingga tidak ada seorangpun di sekitarnya. Lalu Nadia bergegas kembali ke mejanya.

Sulit bagi Nadia untuk mengusir Joko dari benaknya terutama sejak kejadian kemarin pagi. Nadia menyalakan layar monitornya untuk memulai aktivitas rutinnya: memeriksa email. Larutnya Nadia dalam kesibukan membaca dan membalas email-email membuatnya mulai melupakan Joko.

Lima belas menit berlalu tanpa ada seorangpun yang masuk ke ruangan besar kantor itu. Setelah itu satu per satu mulai datang mengisi meja-meja kosong di ruangan itu.

Pukul 10 pagi Nadia melirik ke arah meja Joko. Meja itu masih kosong, tidak ada tanda-tanda Joko sudah datang. Hatinya sangat berharap Joko tidak masuk kerja hari itu. Namun menjelang makan siang harapannya pupus begitu Nadia melihat email dari Joko masuk ke inbox-nya.

"Saya tunggu di mobilmu."

Nadia cepat-cepat menekan tombol Del untuk menghapus email itu. Selama beberapa menit pikirannya kosong setelah membaca email tersebut. Menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi harus melayani Joko selayaknya suaminya sendiri Nadia merasa hatinya seperti terhempas dari gedung lantai 34, telapak tangannya terasa seperti es, tenggorokannya kering, otot lehernya terasa kencang.

Nadia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menghembuskan nafas keluar lewat mulutnya Nadia membatin, "Ayo, tenang. Semuanya akan segera berlalu."

Pelan-pelan Nadia membuka matanya. Ia melirik ke jam di komputernya. 11:48 AM. Setelah sekali lagi memberi dirinya sugesti, Nadia akhirnya bangkit berdiri, menggaet tasnya lalu meninggalkan ruangan itu menuju area parkir belakang.

Perjalanan ke area parkir belakang terasa sangat jauh buat Nadia saat itu. Ia merasa semua mata menyorotnya dengan pandangan menghakimi. Perempuan jalang! Pelacur! Cewe murahan! Nadia tidak berani menatap ke depan, alih-alih ia memandangi langkah kakinya yang membawanya semakin mendekat ke tempat tujuan.

Dari kejauhan Nadia dapat melihat mobilnya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Joko. Dan benar saja seperti yang Joko katakan, Nadia hanya melihat 3 mobil lainnya di area parkir itu. Baru setelah hampir sepelemparan batu dari mobilnya Nadia dapat melihat bayang-bayang Joko yang sedang bersandar di belakang.

Nadia menekan tombol remote untuk membuka kunci mobilnya. Joko terlonjak mendengar suara alarm mobil bercericip. Nadia terus melangkahkan kakinya ke bagian belakang mobil untuk menemui Joko. Namun Joko sudah menghampirinya sebelum ia sampai, menarik tangannya dan setengah paksa menyeretnya masuk ke kursi belakang.

"Ayo cepat masuk!" Suara Joko terdengar kasar dan marah.

"B-baik, Pak," Nadia tidak memprotes secara ia ingin segera menuntaskan semua ini.

Joko mendorong Nadia masuk terlebih dahulu. Setelah Nadia dan Joko menempati posisi duduknya masing-masing, Joko menarik lengan Nadia agar Nadia menghadap ke arahnya.

Dengan tangannya yang lain, yang ia letakkan di belakang leher Nadia, Joko menarik wajah Nadia mendekat wajahnya. Joko langsung memagut bibir Nadia. Nadia sama sekali tidak menyangka Joko memulai aksinya secepat itu.

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Yang ada hanyalah erangan Joko yang melumat bibir Nadia seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Tanpa menunda-nunda waktu, tangan Joko mulai menggerayangi dada Nadia.

"Heh?! Kok kamu tidak lepas BH?!" Joko melepas ciumannya. Ujung alisnya naik.

Nadia tidak berani menatap wajah Joko saat ia hendak menjawab pertanyaannya. "Aku…"

"Ah, persetan! Sudah, nggak usah banyak ngomong!"

Dengan kasar tangannya membuka paksa kemeja Nadia sehingga kancing-kancing bajunya berlompatan putus.

"Aih! Stop! Jangan begitu dong, Pak!"

"Diam!" Joko mencengkram kerah baju Nadia dan menariknya sehingga wajah mereka berdua hanya terpaut beberapa sentimeter. "Kalau kamu buka mulut lagi…"

Nadia mengatupkan bibirnya ke bibir Joko sebelum Joko sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia melumat bibir Joko dalam-dalam sambil membuka sisa kancing bajunya lalu melepaskan bra yang ia kenakan secepat mungkin. Ia tak ingin Joko membawa kerusakan lebih banyak lagi pada pakaiannya.

Terlihat Joko menanggapi ciuman Nadia secara positif. Lalu Nadia menggiring tangan Joko menyentuh payudaranya, berharap kemarahan Joko mereda.

Setelah tangannya meremas payudara kenyal itu, Joko melepaskan dirinya dari ciuman Nadia. "Lain kali jangan sekali-sekali langgar perintah saya!" kata Joko dengan wajah serius.

Cepat-cepat Nadia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Nadia dapat merasakan ada hal lain yang membuat Joko marah dan kini ia menjadi tumbal pelampiasan amarahnya. Nadia tak ingin memperburuk keadaan sehingga ia membatalkan niatnya untuk menjelaskan alasannya tidak menanggalkan bra.

Joko meremas dengan kasar buah dada montok Nadia. Mulutnya melahap puting susu yang sudah mengeras itu dengan beringas. Nadia sadar amarah Joko belum reda dan setidaknya ia merasa yakin bahwa dirinya bukan penyebab kemarahan Joko.

Tidak berlama-lama menggarap payudara Nadia, Joko pun segera membuka sabuk dan celananya. Gerakan tangannya yang terburu-buru malah memperlambat proses pelepasan burung dari sangkarnya. Nadia diam terpaku menatap batang kejantanan Joko yang akhirnya keluar. Tatapannya kosong tak menunjukkan perasaan apa-apa.

Ini bukan pertama kalinya Nadia melihat batang penis Joko. Akan tetapi ini pertama kalinya Nadia merasa tak berdaya di hadapan Joko dengan penisnya yang mengacung dengan bangga. Nadia sudah pasrah terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya. Saat ini ia hanya ingin semuanya segera berlalu.

Nadia melihat penis Joko tidaklah terlalu berbeda dengan penis suaminya dalam hal ukurannya. Namun penis Joko mempunyai kesan kokoh, sangar, dan bertenaga. Warna penis Joko jauh lebih gelap dibanding milik Yusdi. Kepala penisnya pun lebih bulat, sedangkan kepala penis Yusdi agak pipih.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Joko memutar dan mendorong pundak Nadia sehingga wajahnya menghadap ke sisi mobil yang sama. Lalu dengan kasar Joko mengangkat pinggul Nadia sehingga memaksa Nadia bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya. Ya, Joko akan melakukannya dengan doggy-style.

Seks dengan gaya doggy-style merupakan salah satu gaya yang menunjukkan dominasi, yang berarti membuat si penerima (pihak wanita) dapat merasa takluk di bawah kuasa si pelaku (pihak pria). Dengan seks gaya ini banyak wanita merasakan sensasi yang "lebih penuh" di liang kewanitaannya karena posisi ini memungkinkan penetrasi yang sangat mendalam. Tangan pria pun mendapat akses yang lebih banyak seperti meremas dan menggerayangi payudara pasangannya, merangsang klitoris, dan meremas atau menampar bulatan pantat si wanita, dan lain-lain. Walau gaya seks doggy-style terasa kurang romantis, karena tatap mata sulit untuk dilakukan, pada kenyataannya banyak perempuan yang sangat menikmatinya karena melalui gaya ini mereka dapat dibawa ke puncak orgasme secara total: melalui rangsang vaginal, rangsang pantat, rangsang payudara, rangsang klitoris dan rangsang G-Spot.

Joko menyingkapkan rok span Nadia naik ke punggung pantatnya. Senyum kecil tersungging dari mulut Joko begitu ia mendapati Nadia menuruti perintahnya untuk menanggalkan celana dalamnya. Dengan satu hunjaman kuat Joko mengamblaskan batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Nadia yang belum terlalu basah itu.

"AAAAHHHHH!!!!" Nadia berteriak sejadi-jadinya saat ia merasakan vaginanya seakan disobek-sobek. Matanya yang terpejam erat-erat itu pun meneteskan air mata.

"STOOOP!" Nadia berusaha menarik tubuhnya maju menjauh dari serangan Joko. Ia menoleh ke belakang dan mendapati tidak adanya niat Joko untuk menghentikan gempurannya.

Kedua tangan Joko mengunci pinggul Nadia sehingga Nadia tidak dapat mengelak kemana-mana. Joko menarik batang penisnya namun tidak sampai keluar sepenuhnya lalu menghempaskannya kembali dengan kuat dan cepat ke dalam vagina Nadia.

"AAAAAAWW!!" jeritan Nadia kembali memekakkan telinga mereka berdua.

Joko sama sekali tidak menggubris protes yang Nadia lontarkan, alih-alih ia terus menggenjot pinggul Nadia tanpa mengurangi intensitas dan kecepatannya. Nadia hampir yakin lelehan yang merembes keluar dari kemaluannya adalah darah segar akibat hantaman penis Joko. Namun tidaklah demikian adanya. Tidak ada darah yang keluar, melainkan cairan pelumas yang mengalir dengan deras melumuri dinding vaginanya. Tak henti-hentinya Nadia berteriak kesakitan, seakan berharap teriakan-teriakannya dapat mengurangi rasa sakitnya.

Setelah lebih dari 5 menit terus menerus dihunjami genjotan kuat itu, Nadia mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai hilang digantikan oleh gejolak birahi. Teriakan-teriakannya sudah tidak lagi terdengar, yang ada hanya erang dan sengal hembusan nafas kencang dari mulutnya setiap kali Joko membenamkan batangnya ke dasar liang sanggamanya. Satu telapak tangannya harus ia sanggakan pada kaca jendela mobil di hadapannya untuk menahan hentakan-hentakan tubuhnya.

Pipinya masih basah oleh air matanya saat desahan panjang, tanpa ia sadari, keluar dari mulutnya. Desahannya ini merupakan reaksi bawah sadar tubuhnya saat gesekan penis Joko pada dinding vaginanya membawa birahinya ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan Nadia.

Nadia bahkan tidak sempat untuk mengumpat dalam hati atas birahinya yang muncul di luar keinginannya itu. Ia bak dililit ular birahi secara perlahan. Saat tersadar atas lilitan ular itu, ia sudah tidak sempat berpikir apa-apa lagi selain pasrah 'tersiksa' oleh lilitan maut itu.

Walaupun berhubungan seks tidak membuatnya menderita, sejak dulu Nadia tidak pernah merasakan kenikmatan bersetubuh dengan suaminya. Dengan alasan itulah Yusdi menanam alat canggih Sex-Force® di tubuh Nadia. Nadia sama sekali tidak curiga mengapa ia jadi sering diterpa gelombang nafsu seks di saat-saat yang tidak terduga. Ia bahkan akhirnya dapat merasakan orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya. Oleh karena orgasme tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya, Nadia tidak pernah antusias dalam urusan seks. Namun sejak merasakan kenikmatan orgasme, minat Nadia dalam urusan syahwat ini mulai tergelitik.

Mendengar erangan erotis itu, Joko semakin gencar melancarkan serangannya. Keringatnya bercucuran menetes di punggung Nadia. Ia tak mengurangi intensitas genjotannya walaupun dirinya sudah mulai lelah.

Lalu Nadia mendengar Joko mulai mengerang-erang seirama dengan hentakan pinggulnya. Semakin lama erangan Joko terdengar semakin kuat. "Joko sudah hampir klimaks!" jerit Nadia dalam hati.

Mata Nadia langsung melebar begitu ia teringat, "KONDOM! Pak, stop! Kondomnya ada di dalam tasku!"

Crot... Crot... Crot… "Aaaahhhhhh…," Joko keras-keras mengerang penuh kelegaan.

Nadia berusaha untuk mengibas-ngibaskan pinggulnya supaya penis Joko lepas dari vaginanya. Namun tangan Joko masih mengunci pinggul Nadia kuat-kuat. Ia ingin memastikan Nadia merasakan gumpalan-gumpalan spermanya yang kental dan hangat itu menghantam-hantam dinding vaginanya.

Nadia masih dalam posisi menungging saat tubuh Joko tergolek menindih punggungnya. Pikiran Nadia kosong. Ia membiarkan dirinya merasakan penis Joko perlahan-lahan melembek di dalam kemaluannya. Nadia menutup matanya. Dadanya kembang kempis mengikuti deru nafasnya yang berangsur-angsur mereda.

Joko akhirnya bangkit lalu memakai celananya. Ia terlihat agak tergesa-gesa untuk meninggalkan tempat itu. Sambil mengenakan ban pinggangnya, Joko menatap wajah Nadia. Sulit buat Joko untuk menebak apa yang ada di pikiran Nadia dari raut wajahnya. Raut wajahnya merupakan perpaduan antara lega, lelah, dan puas.

Setelah sekali lagi memastikan celana dan sabuknya terkancing, Joko membuka pintu mobil. "Saya harus segera kembali ke tempat si keparat Ardi. Kita lanjutkan permainan kita hari Senin besok."

Nadia setengah mengacuhkan kata-katanya. Ia masih tenggelam dalam kepasrahannya pada keadaan.

Sosok Joko sudah menghilang masuk ke dalam gedung saat Nadia akhirnya bangkit dan mulai membereskan pakaiannya. Ia mengambil tissue untuk mengelap lelehan sperma Joko yang mengalir keluar dari kemaluannya.

"Aneh… Tidak banyak yang meleleh keluar. Padahal tadi terasa begitu banyaknya yang dia semburkan di dalam." Nadia mencampakkan tissue itu ke keranjang sampah.

Hampir semua kancing-kancing di kemeja yang ia kenakan putus oleh Joko tadi. Nadia mengambil jaket kain berwarna biru gelap yang memang selalu ia siapkan di mobil untuk keperluan darurat. Jaket itu dikenakannya di atas kemejanya, lalu ia menarik resleting jaket itu untuk menutupi dadanya.

Sepanjang perjalanannya kembali menuju gedung kantor, Nadia terus merasakan sperma Joko masih mengalir keluar dari kemaluannya. Kondisinya yang tidak mengenakan celana dalam sama sekali tidak membantunya dalam situasi ini. Nadia harus mengurungkan niatnya untuk berhenti dan memeriksa lelehan sperma di pahanya karena ia tidak ingin perbuatannya itu malah menarik perhatian orang-orang.

Sesampainya di dalam gedung, Nadia segera masuk ke WC. Benar saja sperma itu sudah meleleh turun ke pahanya. Ia menyeka lelehan itu dengan tissue lalu mencuci kemaluannya dengan air dan sabun.

"Kenapa kamu bisa sampai lupa memakai kondom?! Goblok! Sia-sia saja kondom yang telah kau siapkan! Apa jadinya kalau si Joko itu berpenyakit? Bagaimana kalau kamu hamil?!" maki Nadia kepada dirinya sendiri.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 8
Baca cerita sebelumnya « Bagian 6