Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

May 27, 2014

Sex-Force 7

Nadia
Ringkasan: Kawin di dalam mobil
Kode cerita: Blkm, MF, non-con

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 7
by: VVN

Nadia memandang ke sekeliling ruangan kantor. Tidak ada siapa-siapa. Ia memang sengaja datang lebih awal pagi itu. Ia ingin memulai harinya dengan lebih tenang. Ia merasa lebih lega Joko belum muncul di kantor. Nadia sungguh malas untuk bertemu dengan Joko. Sejak kejadian awal itu (baca: bagian 3), masuk kantor menjadi hal yang menyiksa bagi Nadia.

Kemeja pink ketat lengan pendek yang ia kenakan memberi kesan chic, dipadukan dengan rok span berwarna hitam kemerahan. Hari itu penampilan Nadia terlihat berbeda, dibandingkan dengan kaos berkerah dan celana jins yang biasa ia kenakan pada hari Jumat (pada hari Jumat pegawai diperbolehkan untuk berpakaian lebih santai).

Walau enggan untuk memasuki hari Jumat ini, Nadia sebenarnya sudah mempersiapkan semuanya secara khusus. Ia sengaja memilih setelan baju dan rok yang mudah untuk ditanggalkan. Barang-barang yang berserakan di jok belakang mobilnya pun sudah ia singkirkan pagi tadi. Dua paket kondom juga sudah ia masukkan ke dalam tasnya. Ia bahkan menghabiskan waktu ekstra untuk membersihkan area kemaluannya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Pagi itu Nadia memarkir mobilnya di lokasi yang telah dijabarkan oleh Joko kemarin. Selama bekerja di kantor ini, belum pernah sekalipun Nadia menginjakkan kakinya ke sana, berhubung tempat parkir utama letaknya lebih dekat walaupun sedikit lebih ramai. Tidak ada mobil lain di area parkir belakang saat Nadia memarkir mobilnya.

Nadia membuka laci untuk menaruh tasnya. Hatinya mencelos saat ia mendapati secarik kertas putih terlipat rapih bertengger di dasar laci itu.

"Taruh celana dalam dan BH kamu di dalam laci saya."

Nadia tahu siapa penulis pesan itu walaupun tidak ditulis dengan tulisan tangan. Setelah membacanya beberapa kali, Nadia meremas kertas itu dan membuangnya.

Ia memutuskan untuk tidak melepaskan BH-nya karena ia yakin orang-orang dapat melihat puting susunya tercetak pada kemejanya yang ketat. Saat Nadia menaruh celana dalamnya ke laci Joko, hatinya bersyukur ia datang lebih pagi sehingga tidak ada seorangpun di sekitarnya. Lalu Nadia bergegas kembali ke mejanya.

Sulit bagi Nadia untuk mengusir Joko dari benaknya terutama sejak kejadian kemarin pagi. Nadia menyalakan layar monitornya untuk memulai aktivitas rutinnya: memeriksa email. Larutnya Nadia dalam kesibukan membaca dan membalas email-email membuatnya mulai melupakan Joko.

Lima belas menit berlalu tanpa ada seorangpun yang masuk ke ruangan besar kantor itu. Setelah itu satu per satu mulai datang mengisi meja-meja kosong di ruangan itu.

Pukul 10 pagi Nadia melirik ke arah meja Joko. Meja itu masih kosong, tidak ada tanda-tanda Joko sudah datang. Hatinya sangat berharap Joko tidak masuk kerja hari itu. Namun menjelang makan siang harapannya pupus begitu Nadia melihat email dari Joko masuk ke inbox-nya.

"Saya tunggu di mobilmu."

Nadia cepat-cepat menekan tombol Del untuk menghapus email itu. Selama beberapa menit pikirannya kosong setelah membaca email tersebut. Menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi harus melayani Joko selayaknya suaminya sendiri Nadia merasa hatinya seperti terhempas dari gedung lantai 34, telapak tangannya terasa seperti es, tenggorokannya kering, otot lehernya terasa kencang.

Nadia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menghembuskan nafas keluar lewat mulutnya Nadia membatin, "Ayo, tenang. Semuanya akan segera berlalu."

Pelan-pelan Nadia membuka matanya. Ia melirik ke jam di komputernya. 11:48 AM. Setelah sekali lagi memberi dirinya sugesti, Nadia akhirnya bangkit berdiri, menggaet tasnya lalu meninggalkan ruangan itu menuju area parkir belakang.

Perjalanan ke area parkir belakang terasa sangat jauh buat Nadia saat itu. Ia merasa semua mata menyorotnya dengan pandangan menghakimi. Perempuan jalang! Pelacur! Cewe murahan! Nadia tidak berani menatap ke depan, alih-alih ia memandangi langkah kakinya yang membawanya semakin mendekat ke tempat tujuan.

Dari kejauhan Nadia dapat melihat mobilnya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Joko. Dan benar saja seperti yang Joko katakan, Nadia hanya melihat 3 mobil lainnya di area parkir itu. Baru setelah hampir sepelemparan batu dari mobilnya Nadia dapat melihat bayang-bayang Joko yang sedang bersandar di belakang.

Nadia menekan tombol remote untuk membuka kunci mobilnya. Joko terlonjak mendengar suara alarm mobil bercericip. Nadia terus melangkahkan kakinya ke bagian belakang mobil untuk menemui Joko. Namun Joko sudah menghampirinya sebelum ia sampai, menarik tangannya dan setengah paksa menyeretnya masuk ke kursi belakang.

"Ayo cepat masuk!" Suara Joko terdengar kasar dan marah.

"B-baik, Pak," Nadia tidak memprotes secara ia ingin segera menuntaskan semua ini.

Joko mendorong Nadia masuk terlebih dahulu. Setelah Nadia dan Joko menempati posisi duduknya masing-masing, Joko menarik lengan Nadia agar Nadia menghadap ke arahnya.

Dengan tangannya yang lain, yang ia letakkan di belakang leher Nadia, Joko menarik wajah Nadia mendekat wajahnya. Joko langsung memagut bibir Nadia. Nadia sama sekali tidak menyangka Joko memulai aksinya secepat itu.

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Yang ada hanyalah erangan Joko yang melumat bibir Nadia seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Tanpa menunda-nunda waktu, tangan Joko mulai menggerayangi dada Nadia.

"Heh?! Kok kamu tidak lepas BH?!" Joko melepas ciumannya. Ujung alisnya naik.

Nadia tidak berani menatap wajah Joko saat ia hendak menjawab pertanyaannya. "Aku…"

"Ah, persetan! Sudah, nggak usah banyak ngomong!"

Dengan kasar tangannya membuka paksa kemeja Nadia sehingga kancing-kancing bajunya berlompatan putus.

"Aih! Stop! Jangan begitu dong, Pak!"

"Diam!" Joko mencengkram kerah baju Nadia dan menariknya sehingga wajah mereka berdua hanya terpaut beberapa sentimeter. "Kalau kamu buka mulut lagi…"

Nadia mengatupkan bibirnya ke bibir Joko sebelum Joko sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia melumat bibir Joko dalam-dalam sambil membuka sisa kancing bajunya lalu melepaskan bra yang ia kenakan secepat mungkin. Ia tak ingin Joko membawa kerusakan lebih banyak lagi pada pakaiannya.

Terlihat Joko menanggapi ciuman Nadia secara positif. Lalu Nadia menggiring tangan Joko menyentuh payudaranya, berharap kemarahan Joko mereda.

Setelah tangannya meremas payudara kenyal itu, Joko melepaskan dirinya dari ciuman Nadia. "Lain kali jangan sekali-sekali langgar perintah saya!" kata Joko dengan wajah serius.

Cepat-cepat Nadia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Nadia dapat merasakan ada hal lain yang membuat Joko marah dan kini ia menjadi tumbal pelampiasan amarahnya. Nadia tak ingin memperburuk keadaan sehingga ia membatalkan niatnya untuk menjelaskan alasannya tidak menanggalkan bra.

Joko meremas dengan kasar buah dada montok Nadia. Mulutnya melahap puting susu yang sudah mengeras itu dengan beringas. Nadia sadar amarah Joko belum reda dan setidaknya ia merasa yakin bahwa dirinya bukan penyebab kemarahan Joko.

Tidak berlama-lama menggarap payudara Nadia, Joko pun segera membuka sabuk dan celananya. Gerakan tangannya yang terburu-buru malah memperlambat proses pelepasan burung dari sangkarnya. Nadia diam terpaku menatap batang kejantanan Joko yang akhirnya keluar. Tatapannya kosong tak menunjukkan perasaan apa-apa.

Ini bukan pertama kalinya Nadia melihat batang penis Joko. Akan tetapi ini pertama kalinya Nadia merasa tak berdaya di hadapan Joko dengan penisnya yang mengacung dengan bangga. Nadia sudah pasrah terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya. Saat ini ia hanya ingin semuanya segera berlalu.

Nadia melihat penis Joko tidaklah terlalu berbeda dengan penis suaminya dalam hal ukurannya. Namun penis Joko mempunyai kesan kokoh, sangar, dan bertenaga. Warna penis Joko jauh lebih gelap dibanding milik Yusdi. Kepala penisnya pun lebih bulat, sedangkan kepala penis Yusdi agak pipih.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Joko memutar dan mendorong pundak Nadia sehingga wajahnya menghadap ke sisi mobil yang sama. Lalu dengan kasar Joko mengangkat pinggul Nadia sehingga memaksa Nadia bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya. Ya, Joko akan melakukannya dengan doggy-style.

Seks dengan gaya doggy-style merupakan salah satu gaya yang menunjukkan dominasi, yang berarti membuat si penerima (pihak wanita) dapat merasa takluk di bawah kuasa si pelaku (pihak pria). Dengan seks gaya ini banyak wanita merasakan sensasi yang "lebih penuh" di liang kewanitaannya karena posisi ini memungkinkan penetrasi yang sangat mendalam. Tangan pria pun mendapat akses yang lebih banyak seperti meremas dan menggerayangi payudara pasangannya, merangsang klitoris, dan meremas atau menampar bulatan pantat si wanita, dan lain-lain. Walau gaya seks doggy-style terasa kurang romantis, karena tatap mata sulit untuk dilakukan, pada kenyataannya banyak perempuan yang sangat menikmatinya karena melalui gaya ini mereka dapat dibawa ke puncak orgasme secara total: melalui rangsang vaginal, rangsang pantat, rangsang payudara, rangsang klitoris dan rangsang G-Spot.

Joko menyingkapkan rok span Nadia naik ke punggung pantatnya. Senyum kecil tersungging dari mulut Joko begitu ia mendapati Nadia menuruti perintahnya untuk menanggalkan celana dalamnya. Dengan satu hunjaman kuat Joko mengamblaskan batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Nadia yang belum terlalu basah itu.

"AAAAHHHHH!!!!" Nadia berteriak sejadi-jadinya saat ia merasakan vaginanya seakan disobek-sobek. Matanya yang terpejam erat-erat itu pun meneteskan air mata.

"STOOOP!" Nadia berusaha menarik tubuhnya maju menjauh dari serangan Joko. Ia menoleh ke belakang dan mendapati tidak adanya niat Joko untuk menghentikan gempurannya.

Kedua tangan Joko mengunci pinggul Nadia sehingga Nadia tidak dapat mengelak kemana-mana. Joko menarik batang penisnya namun tidak sampai keluar sepenuhnya lalu menghempaskannya kembali dengan kuat dan cepat ke dalam vagina Nadia.

"AAAAAAWW!!" jeritan Nadia kembali memekakkan telinga mereka berdua.

Joko sama sekali tidak menggubris protes yang Nadia lontarkan, alih-alih ia terus menggenjot pinggul Nadia tanpa mengurangi intensitas dan kecepatannya. Nadia hampir yakin lelehan yang merembes keluar dari kemaluannya adalah darah segar akibat hantaman penis Joko. Namun tidaklah demikian adanya. Tidak ada darah yang keluar, melainkan cairan pelumas yang mengalir dengan deras melumuri dinding vaginanya. Tak henti-hentinya Nadia berteriak kesakitan, seakan berharap teriakan-teriakannya dapat mengurangi rasa sakitnya.

Setelah lebih dari 5 menit terus menerus dihunjami genjotan kuat itu, Nadia mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai hilang digantikan oleh gejolak birahi. Teriakan-teriakannya sudah tidak lagi terdengar, yang ada hanya erang dan sengal hembusan nafas kencang dari mulutnya setiap kali Joko membenamkan batangnya ke dasar liang sanggamanya. Satu telapak tangannya harus ia sanggakan pada kaca jendela mobil di hadapannya untuk menahan hentakan-hentakan tubuhnya.

Pipinya masih basah oleh air matanya saat desahan panjang, tanpa ia sadari, keluar dari mulutnya. Desahannya ini merupakan reaksi bawah sadar tubuhnya saat gesekan penis Joko pada dinding vaginanya membawa birahinya ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan Nadia.

Nadia bahkan tidak sempat untuk mengumpat dalam hati atas birahinya yang muncul di luar keinginannya itu. Ia bak dililit ular birahi secara perlahan. Saat tersadar atas lilitan ular itu, ia sudah tidak sempat berpikir apa-apa lagi selain pasrah 'tersiksa' oleh lilitan maut itu.

Walaupun berhubungan seks tidak membuatnya menderita, sejak dulu Nadia tidak pernah merasakan kenikmatan bersetubuh dengan suaminya. Dengan alasan itulah Yusdi menanam alat canggih Sex-Force® di tubuh Nadia. Nadia sama sekali tidak curiga mengapa ia jadi sering diterpa gelombang nafsu seks di saat-saat yang tidak terduga. Ia bahkan akhirnya dapat merasakan orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya. Oleh karena orgasme tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya, Nadia tidak pernah antusias dalam urusan seks. Namun sejak merasakan kenikmatan orgasme, minat Nadia dalam urusan syahwat ini mulai tergelitik.

Mendengar erangan erotis itu, Joko semakin gencar melancarkan serangannya. Keringatnya bercucuran menetes di punggung Nadia. Ia tak mengurangi intensitas genjotannya walaupun dirinya sudah mulai lelah.

Lalu Nadia mendengar Joko mulai mengerang-erang seirama dengan hentakan pinggulnya. Semakin lama erangan Joko terdengar semakin kuat. "Joko sudah hampir klimaks!" jerit Nadia dalam hati.

Mata Nadia langsung melebar begitu ia teringat, "KONDOM! Pak, stop! Kondomnya ada di dalam tasku!"

Crot... Crot... Crot… "Aaaahhhhhh…," Joko keras-keras mengerang penuh kelegaan.

Nadia berusaha untuk mengibas-ngibaskan pinggulnya supaya penis Joko lepas dari vaginanya. Namun tangan Joko masih mengunci pinggul Nadia kuat-kuat. Ia ingin memastikan Nadia merasakan gumpalan-gumpalan spermanya yang kental dan hangat itu menghantam-hantam dinding vaginanya.

Nadia masih dalam posisi menungging saat tubuh Joko tergolek menindih punggungnya. Pikiran Nadia kosong. Ia membiarkan dirinya merasakan penis Joko perlahan-lahan melembek di dalam kemaluannya. Nadia menutup matanya. Dadanya kembang kempis mengikuti deru nafasnya yang berangsur-angsur mereda.

Joko akhirnya bangkit lalu memakai celananya. Ia terlihat agak tergesa-gesa untuk meninggalkan tempat itu. Sambil mengenakan ban pinggangnya, Joko menatap wajah Nadia. Sulit buat Joko untuk menebak apa yang ada di pikiran Nadia dari raut wajahnya. Raut wajahnya merupakan perpaduan antara lega, lelah, dan puas.

Setelah sekali lagi memastikan celana dan sabuknya terkancing, Joko membuka pintu mobil. "Saya harus segera kembali ke tempat si keparat Ardi. Kita lanjutkan permainan kita hari Senin besok."

Nadia setengah mengacuhkan kata-katanya. Ia masih tenggelam dalam kepasrahannya pada keadaan.

Sosok Joko sudah menghilang masuk ke dalam gedung saat Nadia akhirnya bangkit dan mulai membereskan pakaiannya. Ia mengambil tissue untuk mengelap lelehan sperma Joko yang mengalir keluar dari kemaluannya.

"Aneh… Tidak banyak yang meleleh keluar. Padahal tadi terasa begitu banyaknya yang dia semburkan di dalam." Nadia mencampakkan tissue itu ke keranjang sampah.

Hampir semua kancing-kancing di kemeja yang ia kenakan putus oleh Joko tadi. Nadia mengambil jaket kain berwarna biru gelap yang memang selalu ia siapkan di mobil untuk keperluan darurat. Jaket itu dikenakannya di atas kemejanya, lalu ia menarik resleting jaket itu untuk menutupi dadanya.

Sepanjang perjalanannya kembali menuju gedung kantor, Nadia terus merasakan sperma Joko masih mengalir keluar dari kemaluannya. Kondisinya yang tidak mengenakan celana dalam sama sekali tidak membantunya dalam situasi ini. Nadia harus mengurungkan niatnya untuk berhenti dan memeriksa lelehan sperma di pahanya karena ia tidak ingin perbuatannya itu malah menarik perhatian orang-orang.

Sesampainya di dalam gedung, Nadia segera masuk ke WC. Benar saja sperma itu sudah meleleh turun ke pahanya. Ia menyeka lelehan itu dengan tissue lalu mencuci kemaluannya dengan air dan sabun.

"Kenapa kamu bisa sampai lupa memakai kondom?! Goblok! Sia-sia saja kondom yang telah kau siapkan! Apa jadinya kalau si Joko itu berpenyakit? Bagaimana kalau kamu hamil?!" maki Nadia kepada dirinya sendiri.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya »
Baca cerita sebelumnya « Bagian 6





May 17, 2014

Sex-Force 6

Nadia
Ringkasan: Mengantor tanpa mengenakan celana dalam? Bikin horny or malah bikin melempem?
Kode cerita: Blkm, MF, mastrb, non-con, no-sex

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia
* Pak Ardi: manager Nadia


Sex-Force 6
by: VVN

Sejak kejadian hari Sabtu lalu itu hampir setiap hari Joko menagih Nadia untuk menuruti setiap permintaannya. Beberapa kali Nadia harus bernegosiasi atas permintaan-permintaan Joko yang menurutnya sulit untuk dipenuhi. Bahkan ada beberapa permintaan yang ia tolak mentah-mentah. Namun secara keseluruhan, permintaan-permintaan Joko cukup masuk akal. Ia tidak meminta Nadia untuk melakukan hal-hal yang jelas-jelas melanggar pidana, seperti mencuri, membunuh, dan sebagainya. Ia juga tidak meminta Nadia untuk menaikkan gajinya atau menceraikan Yusdi.

Tingkat kesulitan permintaan-permintaan Joko juga beragam. Dari yang sangat mudah, seperti membuatkan kopi, mengambilkan berkas file di kabinet; yang masuk ke tingkat menengah, seperti mengambil pen yang sengaja ia jatuhkan di kolong meja supaya ia dapat menikmati pantat Nadia yang menungging sewaktu mengambilnya, membiarkan satu kancing kemejanya terbuka sepanjang hari, memijit pundak Joko selagi tidak ada orang lain di sekitar mereka; sampai ke tingkat yang sulit, di antaranya seperti menciumnya, membiarkan puting susunya dijilati Joko, mengulum batang penis Joko, dan lain-lain.

Setiap harinya paling sedikit lima permintaan yang Joko ajukan kepada Nadia. Demikian pula yang terjadi pada hari Kamis. Pagi harinya Joko sudah meminta Nadia untuk menanggalkan celana dalamnya dan menaruhnya di atas meja Joko. Nadia sempat menolak permintaan ini, namun Joko tetap bersikeras. Ia memang sudah menunggu-nunggu Nadia mengenakan rok pendek model A-Line ini (di bagian pinggang kecil dan makin ke bawah semakin lebar) untuk mengajukan permintaan ini.

Rok pendek Nadia berayun lemah saat Nadia melangkahkan kakinya menuju meja Joko. Tangannya menggenggam erat celana dalam putih yang telah ia masukkan ke dalam kantong plastik. Walaupun orang-orang lain tidak ada yang tahu, Nadia tetap merasa canggung berjalan di tengah teman-teman kantornya tanpa mengenakan celana dalam.

Tanpa berhenti sama sekali Nadia melewati meja Joko lalu meletakkan dengan hati-hati bungkusan plastik di atas meja.

"Bu Nadia," panggil Joko dengan resmi walaupun situasi kantor masih sepi.

Nadia menghentikan langkahnya. Ia menarik dua nafas panjang lalu berbalik dan menghampiri Joko. "Mau apa lagi dia?" pikirnya dalam hati.

"Ada apa, Pak?" setengah berbisik Nadia berusaha bersikap seprofesional mungkin.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

"Besok kamu jangan parkir di tempat biasa," ujar Joko dengan nada yang penuh otoritas. "Kamu parkir di area parkir belakang, di samping pohon besar di pojokan."

"Lho Bapak tahu dari mana besok aku bawa mobil?"

"Saya kan tau Yusdi sedang dinas luar kota 2 hari ini," jawab Joko.

"Lalu, kenapa aku harus parkir di sana?"

"Akhir pekan ini saya harus pergi mengunjungi mertua. Jadi saya mau minta 'jatah besar'-nya besok saja."

Nadia berpikir keras mencari-cari alasan untuk menolak permintaan itu. "Bapak mau kita melakukannya di tempat parkir??"

"Lebih baik di sana dari pada di ruang makan, kan?"

Nadia mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menahan emosinya yang mulai naik.

"Tenang, Nad. Area parkir belakang itu selalu sepi," Joko menjelaskan untuk menenangkan hati Nadia. "Paling banyak juga 1 atau 2 mobil. Apalagi kalau hari Jumat."

Setelah berhasil meredam emosinya Nadia menyanggupi permintaan tersebut. "Aku balik ke mejaku kalau sudah tidak ada permintaan apa-apa."

"Sampai saat ini saya cuma butuh celana dalammu," jawab Joko sambil mengintip ke dalam kantong plastik di tangannya. Kemudian ia mendongak dan menatap Nadia dalam-dalam.

"Apa?"

Joko tersenyum penuh kelicikan. "Saya kan masih perlu memastikan kalau kamu benar-benar menanggalkan celanamu."

"Aku tidak mau mengangkat rokku!" sanggah Nadia spontan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan ingin menunjukkan kekuatirannya kalau-kalau ada orang yang bisa melihat apa yang mereka berdua kerjakan.

"Sini mendekat."

Nadia dengan enggan melangkah mendekati lelaki paruh baya bertubuh kurus ini, sampai ia berdiri tepat di sampingnya. Joko yang tadinya duduk menghadap Nadia langsung memutar bangkunya sehingga mereka sama-sama menghadap ruangan besar kantor mereka.

Nadia berdiri tak bergeming menunggu aksi Joko. Walaupun sudah mengantisipasi apa yang akan terjadi, tubuh Nadia tetap terlonjak saat ia merasakan jari-jari Joko menyentuh paha bagian dalamnya. Joko menyelusupkan jari-jarinya dari belakang paha Nadia sambil pandangan mereka berdua menyapu ke sekeliling ruangan untuk memastikan tak ada seorangpun yang melihat.

Sentuhan itu bergerak perlahan naik menuju ke selangkangannya. Semakin dekat jari-jari Joko ke kemaluannya, otot-otot leher dan pinggul Nadia semakin mengencang. Tanpa melupakan radar yang ia pancarkan untuk mendeteksi orang yang melihat mereka, Nadia menggerak-gerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat karena lehernya kini sudah menjadi kaku yang menyebabkan dirinya tidak leluasa lagi untuk menoleh ke kiri atau ke kanan.

Setelah ujung-ujung jarinya menyentuh bulu-bulu halus di selangkangan Nadia sebenarnya Joko sudah diyakinkan bahwa Nadia telah menanggalkan celana dalamnya. Namun ia belum puas sebelum menancapkan jari-jarinya ke dalam liang kewanitaan Nadia.

Joko menekan jari tengahnya ke celung di selangkangan Nadia. Masih kering. Lalu ia mulai mengusap-usap dengan lembut kelopak bibir kemaluan Nadia menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, dengan harapan vagina Nadia meleleh basah sehingga memudahkan aksi pencelupan jarinya.

Setelah beberapa saat, dengan gerakan agak tergopoh, Nadia membuka pahanya sedikit lebih lebar. Joko tidak menyangka Nadia membuka pahanya tanpa diminta. "Mendengar suara nafasnya yang berat, saya tau dia udah horny sih," Joko membatin. "Tapi benar-benar nggak nyangka dia bakalan buka pahanya tanpa disuruh."

Joko melirik ke wajah Nadia. Dengan dada yang mengembang dan mengempis bergantian, Nadia menggigit bibirnya sehingga nafasnya yang berat itu keluar masuk hanya melalui hidungnya. Alisnya sedikit mengernyit dan kelopak matanya sedikit tertutup seperti orang yang sedang menahan kantuk.

"Sialan! Apa dia mau orang-orang kantor sampai tahu apa yang sedang ia perbuat??" jerit Nadia dalam hati.

Sesekali Joko menyelusupkan jari ke celah kemaluan Nadia untuk memastikan apakah lelehannya sudah merembes keluar. Dan terkadang Joko mengusap lingkaran di sekeliling kelentit Nadia untuk memberi setrum tambahan.

Bibir Nadia yang sejak tadi terkatup rapat tiba-tiba terbuka. Ia menghembuskan nafas panjang dan berat disertai dengan erangan yang nyaris tak terdengar. "Hhhhh…"

Tak lama setelah itu dapat terdengar suara decak becek dari selangkangan Nadia. Jari-jari Joko sudah memenangkan pertandingan dan cairan cinta Nadia merupakan imbalannya.

Serta merta jari-jari Joko mengeruk cairan yang seakan luber meluap dari dalam liang sanggama itu lalu mengolesinya ke sepanjang jari-jarinya. Berlimpahnya lelehan yang mengalir itu ditandai oleh suara berkecipak-kecipak di kemaluan Nadia.

Pandangan mata Nadia masih nanar saat Joko membuka suara. "Nad, kalau kamu nggak mau orang lain curiga," kata Joko tanpa menghentikan aksi jari-jarinya, "lebih baik kita pura-pura lagi ngomong tentang kerjaan."

Nadia menutup mulutnya yang sedikit terbuka itu. Diikuti dengan satu hembusan nafas berat melalui hidungnya, Nadia membungkukkan tubuhnya lalu mengambil kertas di meja Joko, berpura-pura hendak membahas sesuatu dengan Joko.

Jari-jari yang sudah basah itu terus menari-nari di bibir kemaluan Nadia, membuat dadanya kembang kempis mengikuti nafasnya yang semakin berat. Karena sudah licin oleh lelehan cinta, dengan mudahnya Joko menekan masuk jari tengahnya ke dalam celah lipatan kelopak vagina Nadia.

"Anhhhh…," secara refleks Nadia kembali membuka bibirnya, mengeluarkan lenguh lirih yang terdengar sangat erotis.

Joko menambahkan jari telunjuknya juga masuk ke liang kewanitaan Nadia lalu mulai mengocok-ngocok relung sempit itu. Kepalanya yang tertunduk, matanya yang terpejam, dahinya yang mengkerut serta tubuh bagian atasnya ditopang kedua tangan yang mengepal kuat di atas meja, memberi bukti kuat bahwa Nadia sedang bergumul untuk menahan gejolak birahi yang sudah tersulut.

"Ehem!" deham Joko terdengar dibuat-buat.

Nadia langsung membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat apa maksud isyarat Joko. Nadia heran karena tidak menemukan hal-hal yang patut diwaspadai.

Tujuan Joko bukanlah untuk memberi isyarat, melainkan ingin mengembalikan arwah Nadia yang seakan sedang terperangkap dalam dunia kenikmatan birahi. "Nad, kamu boleh saja sih menikmati semua ini. Tapi kalau kamu cuma berdiam-diam kaya gitu, orang-orang bisa curiga melihatnya," ujar Joko setengah berbisik. Jari telunjuk dan jari tengahnya itu kini meliak-liuk dengan gerakan seperti gerakan jari-jari yang sedang berjalan. "Ayo dong, ngomong sesuatu kek, diskusi mengenai apa kek, apa saja. Ayo."

"Mmmmhhh… hhhhh…," aksi jari-jari Joko membuat desah basah berulang kali keluar dari mulut yang Nadia katupkan rapat-rapat. Nadia masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendesah. Dan setelah beberapa saat akhirnya ia berhasil menjaga sikapnya menjadi lebih tenang.

"Baik, Pak Joko…," kalimat Nadia terhenti sejenak untuk menarik nafas dalam. "Untuk laporan… nhhh… laporannhh… laporan kwartal…"

Nadia masih belum berhasil menyelesaikan kalimat itu. Tiba-tiba tubuhnya tersengal maju ke depan. "Nghhh…," erangannya terdengar lebih seperti rengek manja.

Senyum lebar tak henti-hentinya menghias wajah Joko lantaran menahan tawa geli melihat Nadia yang terus berusaha menjaga sikapnya. "Laporan kwartal apa, Bu?" tanya Joko dibuat-buat sembari jarinya ia tekan ke G-Spot Nadia.

Istilah G-Spot diambil dari inisial nama Gräfenberg, seorang peneliti asal Jerman, yang mempelajari hubungan antara saluran kencing dan orgasme pada wanita. Dalam laporannya disebutkan bahwa rangsangan fisik di liang vagina bagian depan sepanjang saluran kencing, terutama di area terbawah kandung kemih, membuat wanita sangat terangsang birahinya. Ketika area ini dirangsang, gairah birahi timbul hampir secara spontan atau sangat cepat. Dan ketika dirangsang secara seksual di area ini, sebagian wanita dapat memproduksi cairan yang diklaim berbeda dengan air seni maupun cairan lubrikasi vagina dan secara kontroversi dimuncratkan dari saluran kencing (yang biasa dikenal dengan female ejaculation).

Kepala yang akhirnya tertunduk lunglai menjadi saksi bisu atas ketidakmampuan Nadia untuk menahan birahinya. Kepalan tangannya pun menjadi lebih kencang sampai buku-buku jarinya menjadi putih. Joko hampir yakin bahwa Nadia sedang mengalami orgasme mini.

Tak ada suara yang keluar dari mulut Nadia. Yang terdengar hanyalah suara kecipak basah dari bawah sana. Setelah sekian lama menahan gejolak dalam dirinya, Nadia menoleh ke Joko. "Pak, aku mohon… nhhh… stop…," lirih Nadia dengan kepala yang masih tertunduk.

Kedua jari Joko secara bergantian menekan-nekan G-Spot Nadia sampai akhirnya tubuh wanita itu bergelinjang-gelinjang kecil, masih tanpa adanya suara yang keluar dari mulut Nadia.

"Pak… mmmhhh… pleasehhhh…," suara desah Nadia bergetar.

Perlahan-lahan Joko menarik jari-jarinya keluar dari liang sanggama Nadia. Begitu jari-jari itu keluar sepenuhnya, tanpa menunggu lebih lama lagi Nadia langsung lari berhamburan keluar dari ruangan itu. Perhatian Joko jatuh pada jari-jarinya yang berlumuran lelehan lendir atasannya itu sehingga ia tidak menggubris Nadia yang pergi meninggalkannya.

Joko menggunakan sikunya untuk menopang kedua tangannya di atas meja. Dengan telapak tangan kirinya menutupi punggung tangan lainnya, Joko sembunyi-sembunyi menjilati lendir yang mulai menetes-netes dari jari-jari tangan kanannya.

Lima menit kemudian Nadia kembali masuk ke ruangan itu, bergegas langsung ke mejanya. Dari ekor matanya, Joko melihat Nadia berjalan tanpa berpaling ke arahnya. Ia memutuskan untuk membiarkan Nadia untuk beberapa waktu.

Tak terasa beberapa jam telah berlalu. Menjelang makan siang Joko menghampiri Nadia yang terlihat sejak tadi duduk dengan gelisah. Saat Joko menepuk pundaknya, Nadia terlonjak seakan baru saja mendengar mercon meledak di dekatnya.

"Aduh! Pak Joko! Jangan kagetin aku seperti itu dong!" omel Nadia.

"Lha, saya nggak berniat ngagetin kamu kok," bisik Joko sopan. "Saya lihat dari tadi kamu kayanya gelisah, karena itulah saya mampir ke sini."

"Aku baik-baik saja," jawab Nadia sedikit ketus. "Terima kasih atas perhatiannya."

"Oh, bagus. Kalau begitu saya mau minta tolong diambilkan teh hangat yah, Nad."

Nadia menghentikan apa yang sedang ia kerjakan. Ia terdiam untuk beberapa saat, seakan ragu apa yang harus ia kerjakan. Akhirnya dengan enggan ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ruang makan.

Setelah memastikan Nadia sudah menghilang masuk ke ruang makan, Joko langsung menghampiri kursi di hadapannya. Kursi berukuran besar itu dilapisi oleh kulit sintetis berwarna merah kehitaman. Bagian sandarannya berlapis busa empuk layaknya kursi-kursi para boss.

Joko memperhatikan area tempat Nadia duduk. Senyum lebar Joko kembali menghias wajah yang mulai dipenuhi oleh kerut-kerut penuaan. Dugaannya tepat!

Dengan perlahan namun sigap Joko berlutut di depan kursi Nadia. Jari-jari Joko mengusap-usap licin area yang berlumuran lendir itu. Joko mengangkat jari tengah dan telunjuknya sehingga dari jari-jari itu terjuntai lelehan lendir panjang.

Nadia masuk kembali ke ruangan itu dengan secangkir teh hangat di tangannya. Air muka yang memancarkan kedongkolan itu tiba-tiba berubah memancarkan keterkejutan begitu ia mendapati Joko sedang setengah berjongkok di depan kursinya.

"Sial! Ternyata dia melihat kursiku!" umpat Nadia dalam hati.

Langkah kakinya yang berat sama sekali tidak membantu Nadia untuk menghilangkan rasa cemas dan malu dalam dirinya. Sesampainya di sana Nadia segera meletakkan cangkir berisi teh itu di atas meja, berpura-pura tidak menghiraukan apa yang sedang Joko lakukan pada kursinya.

"Ini teh yang Bapak minta."

Masih dalam posisi setengah berlutut Joko menoleh dan menatap mata Nadia. Jari-jarinya basah meliak-liuk saling melumuri satu dengan yang lainnya. Mau tidak mau pandangan Nadia jatuh pada jari-jari Joko yang basah itu.

"Kamu tau apa ini, Nad?" tanya Joko sambil bangkit berdiri, mengacuhkan teh yang dihidangkan Nadia.

"Pak, jangan diangkat tinggi-tinggi dong. Nanti terlihat oleh yang lain," bisikan Nadia terdengar penuh desakan, ditambah dengan tangannya yang memaksa turun tangan Joko.

"Jadi…, kamu tau apa ini?"

Nadia menggigit-gigit bibir bawahnya. Terpancar dari raut wajahnya ketidakinginan untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya telah Joko ketahui jawabannya.

"Jawab dong."

"Iya, iya! Itu cairanku. Puas?" jawab Nadia ketus masih setengah berbisik.

"Lho, saya kan cuma tanya kamu tau atau nggak," Joko mencibir.

Joko mengecup jari telunjuknya yang basah oleh lelehan Nadia sebelum bertanya, "Lalu, kamu tau apa artinya kalau seorang wanita mengeluarkan cairan ini?"

"Tahu."

"Apa artinya?"

Nadia semakin kesal dengan pertanyaan-pertanyaan konyol Joko. "Artinya perempuan itu terangsang," jawabnya singkat.

"Hahahaha!" suara bahak Joko membuat Irfan dan Rini menengok ke arah mereka.

"Sssstt! Jangan keras-keras!" bisik Nadia.

"Hehehe, jawabanmu itu lho, Nad, to-the-point banget," kekeh Joko.

Nadia semakin gelisah melihat Irfan dan Rini yang memandangi mereka dengan penuh tanya. Menyadari bahwa Joko tidak akan melepaskan dirinya, Nadia memutuskan untuk melanjutkan percakapan ini di meja Joko yang lebih terpencil dibanding mejanya.

"Kita lanjutkan percakapan ini di meja Bapak," ucap Nadia dengan nada memerintah.

Tanpa menunggu persetujuan Joko, Nadia sudah berjalan menuju meja Joko. Joko memandangi pinggul Nadia yang berayun dengan sensual ke kanan dan ke kiri semakin lama semakin menjauh darinya, sambil membayangkan kemaluan Nadia yang tak bercelana dalam. Ia akhirnya menyusul Nadia.

Joko melihat Nadia berdiri di belakang mejanya sambil berpura-pura meneliti berkas-berkas di atas meja itu. Joko memutuskan untuk mengikuti permainan sandiwara Nadia. Ia mengitari Nadia dan langsung duduk di kursinya.

"Kamu mau tau apa artinya menurut saya?" suara Joko terdengar lebih berat dan dalam. Butuh beberapa detik untuk Nadia menyadari bahwa Joko masih merujuk pada pertanyaannya tadi mengenai cairan yang keluar dari vaginanya.

Tubuh Nadia sontak terlonjak maju saat ia merasakan jari-jari Joko menyelinap licin dengan mudahnya masuk ke dalam liang vaginanya. "Ah!" pekiknya lemah.

Nadia memejamkan matanya saat jari-jari berbonggol itu memulai aksinya keluar masuk kemaluannya. Suara berkecipak kembali terdengar oleh telinga mereka berdua. Ia menggigit kedua bibirnya untuk menahan suara desah yang keluar dari mulutnya. Usahanya ini pun ditandai oleh kernyit di dahinya yang tak kunjung pudar.

"Kalau seorang wanita mengeluarkan cairan ini," Joko memutar-mutar jari-jarinya yang masih berada di dalam vagina Nadia sebelum melanjutkan penjelasannya, "artinya tubuhnya sudah siap untuk disetubuhi."

Mendengar penjelasan Joko, Nadia tiba-tiba merasa seakan ada gelombang hangat yang masuk melalui selangkangannya, mengalir dan menyebar ke sekujur badannya. Dan secara tiba-tiba pula jari-jari Joko ditarik keluar dari tubuhnya.

"Brengsek! Dia sengaja ingin menyiksaku!" umpat Nadia dalam hati. Ada bagian dari dirinya yang berharap jari-jari itu tidak keluar dari kemaluannya.

Perlahan-lahan Nadia membuka matanya sayu. Bibirnya mengelopak terbuka dan mengeluarkan hembusan panjang dari dalam dadanya. Pandangannya masih nanar dan kosong, sampai tiba-tiba sosok di hadapannya menjadi semakin jelas.

Matanya terbelalak saat ia sadar sosok yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua tak lain adalah Pak Ardi, managernya. Dengan secepat kilat Nadia meluruskan posisi berdirinya, merapihkan rok pendek yang ia kenakan, lalu mengambil secara asal lembaran-lembaran dari meja Joko.

"Terima kasih atas laporannya, Pak Joko," ucap Nadia tidak peduli lagi pada Joko yang saat itu sedang berpura-pura menulis sesuatu di kertas. Rupanya Joko sudah melihat Pak Ardi datang menghampiri mereka sehingga ia cepat-cepat menarik tangannya dari selangkangan Nadia.

Melihat wajah Pak Ardi yang seperti baru saja melihat hantu, Nadia dapat mengira-ngira apa yang baru saja beliau lihat. Otaknya segera berpikir keras agar ia dapat keluar dari permasalahan yang mungkin terjadi. Dengan langkah pasti, Nadia menghampiri Pak Ardi.

"Pak Ardi mencari aku?"

"Ah, a-a-anu…," mata Pak Ardi berkejap-kejap karena tidak berhasil menemukan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Otaknya malah mendaftar hal-hal yang membuat Nadia terlihat begitu cantik menggoda hari ini: bibirnya yang penuh dan merah merekah, dadanya yang terbungkus ketat oleh kemeja putih, pinggulnya yang gemulai, pahanya yang putih mulus, betisnya yang jenjang, ditambah lagi dengan rona merah di pipi dan lehernya seperti wanita yang baru saja selesai bersanggama.

"Iya, aku menelpon mejamu tapi tidak dijawab," jawab Pak Ardi cepat-cepat.

"Oh, aku sedang mencari laporan kwartal terakhir tahun lalu di tempat Pak Joko," dusta Nadia.

Pak Ardi melirik curiga ke arah Joko, lalu kembali menatap Nadia. "Hmmm… Baiklah," lanjutnya.

Nadia berdiri mematung menunggui Pak Ardi. Tanpa ada yang tahu selain oleh dirinya sendiri, lelehan dari vagina Nadia mulai mengalir turun perlahan ke paha bagian dalamnya.

Pak Ardi tampak bingung mendapati mereka berdua memandanginya. Matanya bolak-balik melirik ke Nadia lalu ke Joko bergantian.

"Kenapa?" pertanyaan Pak Ardi lebih ditujukan ke mereka berdua walaupun wajahnya menghadap ke Nadia.

"Oh, tadi Bapak kan bilang Bapak mencari aku. Ada perlu apa?"

"Oooohhh…. Hahahaha…," perutnya yang besar itu berguncang-guncang.

Gelak tawa Pak Ardi tiba-tiba terinterupsi begitu ia kembali mencoba mengingat apa alasan dia mencari Nadia.

"A-anu… aku udah lupa jadinya," cengiran Pak Ardi tampak kikuk setelah ia berusaha keras untuk menelusuri ingatannya.

Mengingat lendir yang meleleh di pahanya semakin lama semakin turun, Nadia melihat ini sebagai kesempatan yang baik untuk kabur dari sana. "Baiklah kalau begitu. Aku kembali ke mejaku untuk melanjutkan laporanku," katanya tegas.

Meninggalkan Pak Ardi yang masih termenung berdiri di depan meja Joko, Nadia melangkahkan kakinya sambil berharap agar cairannya tidak meleleh lebih jauh lagi.

Belum lagi sampai ke mejanya, Nadia mendengar Pak Ardi berseru, "Ah, aku ingat sekarang!"

Nadia berhenti dan menoleh ke Pak Ardi. "Oh, bukan," jelas Pak Ardi yang menatap Nadia. "Aku ternyata bukan mencari kamu, Nadia. Aku butuh berkas laporan dari Pak Joko. Hahaha… Ya, kamu boleh lanjutkan kerjaanmu, Nad."

Suara kekeh Pak Ardi masih terdengar samar-samar saat Nadia sampai di mejanya. Nadia lekas-lekas duduk. Lalu dengan gerakan yang tak kentara ia memeriksa pahanya.

Menggunakan tangan kanannya, Nadia meraba paha bagian dalamnya. Ia tidak mendapati cairan apa-apa. "Aneh," pikirnya, "aku kira sudah meleleh ke bawah."

Ia merogoh selangkangannya jauh lebih dalam dan saat ibu jarinya hampir mencapai ke pangkal paha, barulah ia mendapati lelehannya. Rabaan yang tadinya terasa halus berubah menjadi licin oleh lendir itu.

"Hmmm… ternyata masih jauh di atas. Mungkin tadi itu semua hanya perasaanku saja," Nadia bergumam pada dirinya sendiri.

Setelah makan siang Pak Ardi terus menerus mendatangi Joko sehingga sisa hari itu dilewati Nadia tanpa adanya perintah tambahan dari Joko. Walau demikian sore itu boleh dibilang bukanlah sore yang tenang buat Nadia. Birahinya sudah terlanjur tersulut dan terus berkobar bahkan sampai waktu jam pulang kantor.

Nadia sudah merelakan celana dalamnya yang masih disimpan Joko. Ia malah lebih memikirkan untuk berendam air hangat di bathtub malam ini. Sebenarnya ia merasa enggan mengingat harus melewati dua malam ini tanpa adanya Yusdi. Terlebih lagi kala ia memikirkan apa yang akan terjadi esok bersama Joko. Membayangkan dirinya bersetubuh dengan Joko di dalam mobilnya membuat Nadia bergidik.

Nadia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya bangkit dari kursi. Saat merapatkan kursi itu ke meja, ia melihat banyaknya cairan lendir yang membasahi kursi itu.

Dari dalam tasnya ia mengeluarkan tissue untuk menyeka kursinya. Setelah membuang tissue itu ke tong sampah di dekat mejanya, Nadia berjalan meninggalkan ruangan menuju ke tempat parkir.

Berjalan tanpa mengenakan celana dalam memberi Nadia sensasi tersendiri. Terlebih lagi cairan cinta yang meleleh keluar itu membuat gesekan-gesekan dinding vaginanya terasa licin dan sexy. Nadia menggigit bibir bawahnya untuk meredam birahi yang masih saja bergejolak.

"Ah, persetan dengan Joko!" Nadia menepis bayangan Joko mencumbu dirinya di dalam mobilnya. "Malam ini aku mau menikmati berendam air hangat dengan tenang."

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 7
Baca cerita sebelumnya « Bagian 5





Oct 2, 2010

Sex-Force 5

Nadia
Ringkasan: Joko VS Nadia. Adu cepat atau adu lambat?
Kode cerita: Blkm, dru, MF, mastrb, non-con, oral

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 5
by: VVN

Joko menghampiri Nadia yang sedang duduk di depan mejanya. Ia menyerahkan amplop coklat besar kepada Nadia.

"Apa ini, Pak?" tanya Nadia bingung.

"Sesuatu yang sangat penting. Dan lebih baik kamu tidak membukanya di sini atau tempat ramai lainnya. Sebab barang ini sangat rahasia, Nad," kata Joko sambil tersenyum penuh arti.

Nadia sangat penasaran. Saat ia ingin bertanya lebih lanjut, Joko sudah kembali ke tempat duduknya.

Nadia memperhatikan amplop di tangannya. Pada bagian depan amplop tertulis: "Kepada: Nadia Wijaya" dan di pojok kiri bawah tertulis: "SANGAT RAHASIA". Nadia membalik amplop itu untuk melihat bagian belakangnya. Tidak ada apa-apa pada bagian belakangnya. Nadia mencoba untuk meraba untuk merasakan kira-kira apa isi dari amplop tersebut.

Nadia hanya dapat menduga-duga amplop tersebut berisi kertas atau dokumen lainnya. Tidak dapat menahan rasa penasarannya, Nadia memutuskan untuk tidak menuruti saran Joko. Akhirnya Nadia membuka amplop tersebut saat itu juga.

Nadia menggunting sepanjang pinggiran amplop itu. Setelah meletakkan gunting kembali pada tempatnya, Nadia mengintip ke dalam amplop tersebut. Ia melihat ternyata isinya tak lain adalah foto-foto dalam ukuran besar (ukuran 10 R).

Tanpa menunggu lebih lama lagi ia mengeluarkan salah satu foto tersebut. Belum sampai foto itu keluar seluruhnya, jantung Nadia seperti putus dan berhenti berdetak. Tanpa sadar ia memekik (walau tidak terlalu kencang) namun beberapa orang di sekelilingnya menengok karena mendengar pekikannya itu.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Cepat-cepat dimasukannya kembali foto itu ke dalam amplop. Tangannya bergetar dan keringat dingin keluar dari dahinya. Ia memandang ke sekelilingnya untuk melihat adakah orang yang sempat melihat foto tersebut.

Setelah lebih tenang, Nadia berjalan keluar dengan membawa amplop itu menuju ke WC. Di dalam WC, Nadia membuka dengan cepat amplop itu dan mengeluarkan isinya.

Ada sekitar 20 lembar foto dirinya dalam berbagai pose. Hanya satu foto yang memperlihatkan dirinya mengenakan pakaian lengkap. Tiga lembar dari foto-foto yang ada, walau dengan berpakaian lengkap, menampilkan bulatan bukit dadanya yang masih tertutup BH tersembul mengintip dari balik baju yang beberapa kancingnya terbuka. Beberapa foto lainnya menampilkan Nadia hanya mengenakan pakaian dalam dan sebagian besar sisanya adalah foto dirinya dalam keadaan telanjang. Bahkan beberapa dari foto telanjang itu menunjukkan dirinya sedang menghisap penis seorang pria.

Jantung Nadia seakan berhenti berdetak dan nafasnya mulai terasa sesak. Nadia tidak percaya atas penglihatannya ini. Ia memperhatikan kembali tiap lembar foto yang berada di tangannya dan berharap semuanya ini hanya lelucon konyol. Namun pada akhirnya ia hanya pasrah dan terduduk lemas.

Nadia menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk tetap tenang dan mencari jalan keluar. Ia memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop. Pada saat itu Nadia menemukan di dalam amplop tersebut secarik kertas yang terlipat. Ia menarik keluar kertas itu dan membaca isinya.


Nadia, kamu pasti kaget melihat foto-foto indah ini. Ya, memang sayalah yang mengambil foto-foto tersebut pada waktu lembur kemarin. Foto-foto ini sebenarnya ingin saya gunakan sebagai kenang-kenangan dan untuk menemani saya di saat sendirian (tentu kamu tahu maksud saya).


Namun, kemarin saya mendapat ide-ide yang lebih baik. Benar, lebih baik bagi saya dan mungkin juga bagi kamu. Saya memberi kamu dua pilihan, Nad.


Pilihan pertama: kamu menuruti setiap permintaan saya. Dan pilihan kedua: kamu akan melihat foto-foto ini beredar di seluruh kantor dan bahkan di tabloid-tabloid murahan di pinggir jalan. Saya dapat dengan mudah menjual foto-foto ini ke redaksi majalah dewasa.


Saya berkeyakinan bahwa kamu akan memilih dengan bijaksana. Juga saya yakin kamu tidak akan melaporkan ini ke polisi atau suamimu. Begitu saya mengetahui kamu mencoba melakukan hal-hal yang bodoh, saya akan langsung menjual foto ini dan bahkan jika perlu menyebarkannya di internet.


Kamu tahu di mana harus menghubungi saya, kan? Baiklah saya tunggu kabar baik darimu.


Tertanda: Joko



Selesai membaca surat itu, air mata Nadia sudah mengalir di pipinya. Lalu ia merobek-robek surat itu dengan kesalnya. Setelah beberapa lama berdiam di dalam WC itu, akhirnya Nadia memaksakan dirinya untuk bangkit dan kembali ke mejanya.

Setelah masuk ke ruangan kantor, Nadia melirik dengan pandangan geram pada Joko. Joko tersenyum penuh kemenangan. Setelah duduk, Nadia menatap layar monitor di hadapannya. Pandangannya kosong.

Ada satu email baru yang masuk ke dalam inboxnya. Dengan enggan ia membuka email tersebut.

"Bagaimana, Nad?" isi dari email tersebut.

Itu Email dari Joko. Nadia menoleh dan mendapati Joko yang sedang tersenyum padanya. Betapa bencinya ia pada Joko saat itu. Ia juga membenci dirinya karena tidak dapat menjaga dirinya sendiri selama ini.

Nadia mengetik email balasan: "Apa yang Bapak mau? Bapak mau uang? Katakan saja berapa yang Bapak mau!!"

Joko lalu membalas: "Hohoho… saya tidak berminat dengan uangmu, Nad. Pilihan yang saya beri hanya dua, bukan? Jadi silakan kamu pilih."

Nadia mulai mengetik lagi: "Baiklah. Aku akan menuruti semua perintah Bapak. Tetapi hanya dalam batas kemampuanku. Selain itu: tidak. Dan kapan aku dapat mengambil film dari foto-foto tersebut?"

Tak beberapa lama kemudian datang email balasan dari Joko: "Bagus. Saya tahu bahwa kamu bijaksana, Nad. Film tersebut aman di tangan saya selama satu bulan penuh. Setelah itu kamu boleh memilikinya. Perintah pertama akan kamu peroleh Sabtu ini jam 1 siang di rumah saya. Sampai jumpa. Hahaha…"

Nadia tidak berdaya menghadapi pemerasan yang dilakukan oleh Joko terhadap dirinya. Hatinya berkecamuk. Berbagai perasaan bergolak dalam batinnya. Marah, kesal, benci, sedih, takut, menyesal, bimbang, dan sebagainya.

Hari-hari dilalui Nadia seperti tanpa arti. Otaknya dipenuhi oleh perkiraan-perkiraannya mengenai perintah pertama yang akan ia terima Sabtu ini.

Akhirnya hari Sabtu tiba. Nadia mencari alasan agar ia dapat keluar rumah tanpa dicurigai oleh Yusdi. Dan alasan yang paling mudah adalah pergi ke salon untuk creambath. Yusdi yang sedang asyik bermain game, tidak curiga sedikit pun.

Dengan mengendarai mobilnya, Nadia menuju rumah Joko yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Nadia mengenakan blouse biru gelap, celana jeans biru keputih-putihan, dan sepatu sandal dari kulit. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja.

Tepat jam 1, Nadia memencet bel rumah Joko. Joko keluar menyambutnya dengan senang. Setelah masuk, Joko mempersilakan Nadia duduk di ruang tamu.

"Jangan tegang begitu, Nad. Saya ke dalam sebentar untuk buat minuman."

"Tidak usah repot-repot, Pak Joko. Katakan saja apa perintah Bapak?" kata Nadia dengan ketus.

"Jangan terburu-buru. Kita rileks dulu. Kemudian baru kita bicarakan hal itu," jawabnya sambil masuk ke dalam.

Nadia duduk dengan tegang di salah satu kursi di ruang tamu itu. Ia duduk di ujung kursi sehingga hanya sebagian dari pantatnya menempel di kursi tersebut.

Ruang tamu tersebut tidaklah terlalu besar. Di tengah-tengah terdapat meja pendek yang alasnya terbuat dari kaca. Beberapa majalah tergeletak di bawah meja. Di sekelilingnya terdapat satu kursi panjang dan dua kursi biasa. Dinding ruangan itu dihiasi dengan sebuah lukisan pemandangan yang sudah agak tua dan sebuah foto keluarga yang cukup besar.

Dalam foto itu Nadia melihat Joko duduk di samping istrinya. Kedua anaknya berdiri di samping kiri dan kanan. Istrinya ternyata sangat cantik. Nadia tidak tahu Joko mempunyai istri yang begitu cantik, bahkan lebih cantik dari dirinya.

Pada waktu Joko kembali dengan membawa dua gelas berisi air jeruk dingin, Nadia bertanya kepadanya, "Istri dan anak-anak sedang tidak di rumah?"

"Oh… istri saya pergi mengunjungi ayahnya yang sedang sakit. Ia membawa anak-anak ikut dengannya. Jadi tak perlu khawatir, di rumah ini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua, kok."

Mendengar penuturan Joko itu justru membuat Nadia jadi lebih khawatir.

"Ayo, diminum. Di luar udara panas sekali. Pasti menyegarkan kalau minum air jeruk dingin. Ya… bukan air jeruk asli sih, cuma air sirop biasa."

Nadia tidak bergeming lalu berkata, "Ayo cepat katakan apa perintah pertamanya! Aku tidak punya waktu seharian untuk ini."

"Wah, rupanya kamu sudah sangat bernafsu, Nad. Baiklah. Saya yakin kamu pasti sudah bisa menebak-nebak kira-kira apa yang saya inginkan dari kamu."

Joko tidak melanjutkan penjelasannya karena memang sengaja ingin membiarkan pikiran Nadia terbang bebas dalam imajinasi liar. Pipi Nadia bersemu merah mendapati otaknya memikirkan hal-hal cabul yang mungkin harus ia lakukan bersama Joko. Ia menjadi semakin kikuk mendapti Joko sedang menatapnya dalam-dalam.

Melihat perubahan pada wajah Nadia, Joko langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha... Berarti tepat dugaan saya."

"Nah, mengingat kamu sudah mengambil keputusan untuk menuruti perintah saya dan kamu juga sudah tahu kira-kira apa yang saya inginkan, berarti kamu tidak akan keberatan untuk minum air jeruk spesial ini."

"Spesial?" tanya Nadia bingung.

"Hehehehe," Joko terkekeh. "Saya memasukkan bumbu tambahan ke dalam minumanmu," kata Joko dengan nakal sambil memain-mainkan alisnya naik turun.

Belum sempat Nadia bertanya lebih lanjut, Joko berkata, "Saya yakin kamu tidak akan keberatan. Malah mungkin dengan meminumnya kamu jadi lebih rileks. Coba kita pikir bersama. Kamu sudah mengambil keputusan untuk menuruti perintah saya. Dan kamu sedikit banyak sudah tahu apa yang saya inginkan. Kecuali... kamu berubah pikiran dan membiarkan saya menjual dan menyebarkan foto-foto kamu."

"Jadi jika kamu memang pada akhirnya harus melakukan perintah saya, bukankah lebih baik bila kamu melakukannya dengan kondisi yang lebih rileks dan mungkin lebih... menyenangkan?" tanya Joko retoris.

Nadia termenung memikirkan penjelasan yang Joko utarakan.

"Hmmm... memang ada benarnya kata-kata Joko tadi," pikir Nadia. "Akan tetapi, apa sih yang ia masukkan ke dalam gelasku? Obat penenang? Obat tidur? Atau... obat perangsang?"

"Aku rasa ia menggunakan obat perangsang. Tidak banyak keuntungan yang ia dapat jika ia menggunakan obat penenang atau obat tidur dalam minumanku. Ya! Aku yakin ia menaruh obat perangsang," otak Nadia terus berpikir keras.

"Tidak. Aku tidak akan membiarkan diriku menikmati perbuatan cabulnya. Apalagi dengan meminum obat perangsang! Aku harus cari cara agar aku tidak perlu meminumnya," Nadia melanjutkan pemikirannya.

Tiba-tiba Nadia dikagetkan oleh suara telepon yang berdering.

"Sebentar yah, Nad," kata Joko sambil bangkit menghampiri telepon di meja seberang.

Sesaat setelah Joko tidak melihat ke arahnya, Nadia segera memikirkan cara agar ia dapat menghindari minuman perangsang di hadapannya.

"Ayo, ayo, cepat berpikir! Ini kesempatanku untuk membuang air jeruk ini. Tapi... akan percuma kalau ia tahu aku membuangnya. Ia pasti akan meramu minuman yang baru untukku. Jadi jangan sampai ia tahu kalau aku membuang minumanku."

"Oh, Mira. Bagaimana keadaan ayah? Sudah membaik?" Nadia mendengar sebagian percakapan Joko di telepon dengan istrinya (menurut dugaan Nadia).

Pandangan Nadia menyapu ke sekeliling ruangan. Ia tidak menemukan cara untuk membuang air jeruk di gelasnya tanpa sepengetahuan Joko. "Huh, kalau saja ada pot tanaman di dalam ruangan ini. Tidak mungkin aku membawa gelas ini ke WC. Joko pasti tahu apa yang kuperbuat terhadap air jeruk ini di dalam WC."

"Ok, lah kalau begitu. Kamu juga harus jaga kesehatan ya, Mir," perbincangan Joko dengan istrinya terdengar sudah hampir selesai.

Nadia masih terus berusaha mencari cara untuk membuang air jeruk di gelasnya. "Atau... mungkin aku tidak harus membuangnya. Yang penting, aku jangan sampai meminumnya saja... Ya, jangan minum air jeruk yang ada di gelasku. Oh! Benar juga! Kalau begitu..."

Secepat kilat Nadia meraih gelas Joko yang berada di ujung meja dan menukarnya dengan gelas miliknya. Sesaat setelah Nadia kembali duduk, Joko menaruh gagang telepon lalu berbalik menghampiri Nadia.

Joko tersenyum melihat Nadia yang sedang memegang gelas berisi air jeruk. "Ayo, silakan diminum. Semakin cepat dimulai, akan semakin cepat pula kamu bisa pulang."

Saat mengangkat gelas untuk meminumnya, tangan Nadia sedikit gemetar karena was-was kalau-kalau Joko mengetahui perbuatannya tadi. Ia mulai meneguk air jeruk dari gelas itu, gelas yang baru ia tukar dengan gelas Joko.

Air jeruk yang dingin tersebut sungguh membantu menyegarkan tenggorokannya yang kering, terlebih lagi dalam cuaca sepanas hari itu. Sudah setengah gelas habis direguknya saat Joko meraih gelas di hadapannya.

Nadia berhenti sesaat untuk melihat apakah Joko menyadari gelasnya sudah ia tukar dengan miliknya.

"Ayo, cepat dihabiskan air jeruknya," perintah Joko yang juga mulai meminum air jeruknya.

Nadia melanjutkan meminum air jeruk yang tinggal setengah itu perlahan-lahan sambil melirik ke arah Joko. Ia ingin melihat adakah tanda-tanda kalau Joko menyadari perbedaan rasa pada air jeruknya. Air jeruk di gelas Joko habis bersamaan dengan habisnya air jeruk di gelas Nadia.

"Hahaha... biar tahu rasa! Senjata makan tuan. Mengapa tidak terpikirkan cara ini olehku sebelumnya? Dengan Joko meminum obat perangsang dalam air jeruk itu, justru akan membuatnya mencapai klimaks lebih cepat," pikir Nadia bersemangat.

Senyum Joko semakin lebar saat ia melihat Nadia menegak habis air jeruk itu. Joko mengambil gelas kosong dari tangan Nadia, lalu beranjak ke dapur untuk menaruh gelas-gelas kosong itu di tempat cuci piring.

Setelah itu ia menghampiri Nadia di ruang tamu dan menyodorkan tangannya ke Nadia.

"Ayo, ikut saya."

Alih-alih menggubris uluran tangan Joko, Nadia malah bertanya, "Ikut ke mana?"

"Kita pindah ke kamar. Di sini terlalu panas dan kurang pas untuk melakukan aktifitas tertentu. Pasti akan lebih afdol kalau kita masuk ke kamar yang ber-AC dan naik ke ranjang yang empuk," Joko menjelaskan sambil menyengir kuda.

Nadia enggan untuk masuk ke dalam kamar dengan Joko. Tidak pantas baginya untuk berduaan di dalam kamar dengan pria yang bukan suaminya. Terlebih lagi pria ini adalah bawahannya, orang yang bekerja bersama dengannya di kantor setiap hari. Namun Nadia lebih enggan lagi jika harus membiarkan Joko melakukan perbuatan cabulnya di ruang tamu. Setidaknya berada di dalam kamar memberi kesan lebih tertutup dibanding dengan ruang tamu.

Tanpa merespon uluran tangan Joko, Nadia bangkit berdiri lalu berkata, "Tunjukkan saja di mana kamarnya."

Dengan sedikit kecewa, Joko bergerak menuju kamar di lantai atas. Ia membukakan pintu kamar dan mempersilakan Nadia untuk masuk. Setelah Nadia masuk, Joko menutup daun pintu lalu memutar anak kunci untuk mengunci pintu itu. Ia menarik anak kunci itu dari pintu lalu memasukkannya ke dalam saku celana pendeknya. Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan sebuah handphone dari saku tersebut.

Setelah meletakkan handphone itu di meja dekat ranjang, ia melompat dengan riang ke atas ranjang.

"Yes! Saya sudah tidak sabar untuk memulainya."

Jantung Nadia mulai berdegup lebih keras. Ia berdiri di depan ranjang dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.

"Ok. Perintah saya untuk hari ini sebenarnya sederhana saja, kok."

Ia berhenti sejenak untuk menelanjangi Nadia dengan tatapannya yang bergerak naik turun dari kaki sampai ke ujung rambutnya. Nadia merasa risih melihat mata Joko jelalatan pada tubuhnya dengan pandangan mesum.

"Apa? Apa perintahnya?" tanya Nadia kesal karena tidak sabar.

"Perintah saya hari ini adalah: Tanpa mengenakan pakaian apa-apa, kamu harus membuat saya klimaks!" seru Joko dengan wajah yang lebih serius.

Nadia merasa tubuhnya seakan dilempar dari gedung tinggi dan terhempas di trotoar. Hatinya menciut mendengar perintah Joko. Sebenarnya ia sudah dapat menduga kira-kira seperti apa perintah Joko, namun hati kecilnya tetap berharap agar Joko tidak memberikan perintah yang bersifat seksual.

Nadia tidak bergeming berdiri di hadapan Joko. Ia sebenarnya tahu apa yang harus ia lakukan saat itu, tapi ia sangat ragu untuk melakukannya.

"Ayo, silakan tanggalkan pakaianmu. Semuanya!"

"Baik. Setelah kamu mencapai klimaks, aku boleh segera pulang, kan?"

Joko hanya mengangguk.

"Janji, yah?" Nadia meminta kepastian.

"Iya, saya janji."

Nadia belum yakin strategi apa yang harus ia ambil. Setidaknya ada dua strategi yang terlintas di otaknya. Strategi pertama: konsentrasi pada teknik andalan. Teknik andalan yang ia tahu dapat membuat seorang pria klimaks dengan cepat adalah dengan oral seks. Jadi ia hanya perlu menanggalkan semua pakaiannya dengan cepat dan segera mulai mengoral Joko. Namun ia sangat enggan memasukkan batang penis pria bejat ini ke dalam mulutnya. Hal ini membawanya ke strategi kedua.

Strategi kedua: konsentrasi pada teknik cadangan dengan bantuan media rangsangan lainnya. Dengan strategi kedua ini, Nadia akan mencoba untuk menggelitik saraf rangsang Joko dengan cara-cara ‘aman’ sampai mencapai tingkat birahi yang cukup. Setelah itu ia akan melanjutkannya dengan teknik cadangan, yaitu handjob atau mengocok batang penisnya sampai klimaks.

Setelah menimbang-nimbang dua pilihan strategi ini, Nadia akhirnya memutuskan untuk menggunakan strategi kedua. "Lagipula Joko tadi sudah minum obat perangsang," pikir Nadia. "Jadi seharusnya ia akan lebih mudah mencapai klimaks, tanpa perlu memberikan oral seks padanya," pikirnya lagi.

Perlahan-lahan Nadia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya seperti sedang menari. Dimulai dengan membuka ikat pinggangnya, Nadia mulai melepaskan satu demi satu pakaiannya. Nadia melepaskan ikat pinggangnya tanpa terburu-buru. Tubuhnya berayun ke kanan dan ke kiri dengan lembut. Ikat pinggang itu ia biarkan jatuh begitu saja ke lantai.

Jari-jarinya bergerak ke kancing celana jeansnya. Dengan gerakan yang menggoda, ia membuka kancing itu lalu membalikkan badannya. Kini Joko hanya dapat melihat bagian belakang tubuh Nadia. Perlahan-lahan celana jeans itu melorot sedikit demi sedikit. Paha Nadia yang putih mulus sudah tersingkap sepenuhnya. Pantat Nadia yang tertutup blouse-nya bergoyang-goyang seperti nyiur yang melambai. Nadia melangkah keluar dari celana jeans yang sudah tergeletak di lantai.

Masih membelakangi Joko, Nadia menyilangkan tangan di depan perutnya dan meraih ujung blouse dengan kedua tangannya. Ia menarik ke atas blouse itu. Senyum Joko semakin lebar melihat lekuk indah tubuh Nadia. BH dan celana dalam hitam Nadia terlihat kontras pada kulit tubuhnya yang sangat lembut dan putih bersih.

Setelah meyakinkan dirinya untuk melanjutkan ‘pertunjukan’ erotis ini, Nadia membalikkan tubuhnya dan menghadap Joko. Mata Joko setengah tertutup menonton tarian erotis Nadia. Mata Nadia jatuh pada tangan Joko yang sedang mengusap-usap selangkangannya yang menonjol di celana pendeknya.

Sedikit banyak ada perasaan bangga dalam diri Nadia atas kemampuannya dalam merangsang pria. Walau ‘hasil’ yang terlihat pada tonjolan di celana Joko itu mungkin diperoleh berkat obat perangsang yang Joko minum, Nadia percaya bahwa tarian dan keindahan tubuhnya mempunyai peran penting dalam tergugahnya birahi Joko.

Nadia melangkah maju mendekati Joko yang masih mengelus-elus tonjolan pada selangkangannya. Lalu Nadia duduk di ranjang di hadapan Joko. Tangan kiri Nadia terjulur maju meraih tangan Joko dan menghentikan elusan Joko. Dengan tangan kanannya yang masih bebas, Nadia membelai dengan lembut tonjolan yang seakan terlihat membesar seiring dengan belaian-belaian tangan Nadia.

"Aha! Kalau melihat kondisinya yang seperti ini, aku yakin dapat membuatnya klimaks dengan cepat," pikir Nadia penuh percaya diri.

"Bukannya saya tidak suka penis saya dielus-elus, Nad, tapi ‘kan perjanjiannya kamu harus telanjang dulu?" bisik Joko dengan suara parau.

Nadia tidak menggubris kata-kata Joko. Tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan Joko. Belaian demi belaian lembut menghujani batang yang kelihatannya sudah mengeras sempurna itu.

Melihat Nadia tidak mendengarkan protesnya, Joko akhirnya mengambil inisiatif untuk membuka BH Nadia. Ia menarik tangan kanannya sehingga lepas dari genggaman Nadia lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nadia sehingga kedua tangannya dapat meraih kait BH di belakang punggung Nadia.

Nadia menghentikan belaiannya pada batang Joko. Ia memegangi kedua lengan Joko untuk menghentikan perbuatannya. "Ok, ok... Aku akan buka sendiri," kata Nadia setengah berbisik.

Tepat saat itulah Nadia mulai merasakan api birahi terpercik dari sekitar puting susunya. Ia tidak menghiraukan hal tersebut dan kembali berkonsentrasi pada usahanya membuat Joko klimaks secepat mungkin, tanpa harus mengoral atau bahkan berhubungan badan.

Nadia bergerak mundur sedikit agar kedua tangan Joko lepas dari BH-nya. Setelah itu dengan mudah ia melepaskan kait BH itu, namun Nadia tidak langsung menanggalkannya. Ia menahan BH-nya dari depan dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya membelai-belai paha Joko. Jangkauan tangannya kurang panjang untuk meraih batang penis Joko.

Nadia menggigit bibir bawahnya dengan nakal saat menyadari Joko sedang menatap wajahnya. Tangan kiri Nadia akhirnya menyingkap BH hitam itu dari dadanya. BH itu ia letakkan di atas ranjang di sampingnya. Kini hanya tertinggal celana dalamnya, dan setelah itu barulah ia boleh memberikan handjob kepada Joko.

Mata Joko terlihat berbinar-binar saat dua bukit kembar terpampang indah menggantung di hadapannya. Wajahnya seperti bocah yang kegirangan melihat hadiah mainan barunya. Joko tak kuasa menahan dirinya. Tangan kanannya tiba-tiba sudah meremas dengan lembut perangkat lunak Nadia.

Percikan api birahi kembali meletik dari puting susu Nadia. Nadia terkejut, bukan karena remasan Joko, namun karena kali ini sengatan percik api birahi di putingnya terasa lebih kuat.

Nadia langsung bangkit dari duduknya. Tidak ingin berdiam diri dan membuang waktu, Nadia kembali meliuk-liukkan tubuhnya seperti penari striptease. Tak lama setelah itu, ia menyelipkan jari-jarinya ke kedua sisi celana dalamnya. Dengan gerakan yang sensual, Nadia mendorong ke bawah celana dalam itu. Lututnya ditekuk sampai berjongkok sehingga celana dalamnya menyentuh lantai.

Tanpa berkedip, Joko memandangi tubuh Nadia yang telanjang bulat. Bulu-bulu halus di atas kemaluan Nadia terlihat rapih terpotong. "Hmmm... terlihat beda dibanding dengan waktu itu. Apakah ia mencukurnya khusus untuk acara ini?" pikir Joko.

Risih karena dirinya menjadi pusat dari perhatian Joko, Nadia segera kembali duduk di hadapannya untuk melanjutkan buaian jemarinya pada tubuh Joko.

Nadia menurunkan wajahnya ke selangkangan Joko. Ia mendekatkan wajahnya sedekat mungkin ke batang penis yang masih tertutup celana itu. Tangan kanannya kembali menari-nari di sepanjang tonjolan batang penis Joko.

Tak lama kemudian, Nadia mendapati secemplok bagian atas celana Joko berubah warna perlahan-lahan menjadi semakin gelap.

"Yes! Cairan pelumas Joko sudah luber keluar dari salurannya," teriak Nadia dalam hati.

Cairan pelumas diproduksi oleh tubuh pria selain untuk melumasi penis sehingga mempermudah untuk melakukan penetrasi, juga berguna untuk menetralisir sisa-sisa urine yang berada di saluran penis.

Permainan jari-jari Nadia semakin gencar begitu ia melihat tanda-tanda cairan itu pada celana pendek Joko. Selama dalam keadaan terangsang, cairan pelumas terus diproduksi oleh tubuh pria dan terkumpul di buah zakar yang pada akhirnya meleleh keluar melalui saluran di dalam penis. Joko merasakan cairan itu sudah menggumpal di buah zakarnya. Gumpalan itu sedikit demi sedikit menyembul naik di sepanjang saluran penisnya.

Sambil menarik kepalanya ke belakang, Joko melenguh perlahan, "Nnnghhh..."

Bersamaan dengan lenguhannya itu, gumpalan cairan itu menyeruak keluar dari mulut penis Joko merembes melalui noda basah di celana tersebut. Lelehan bening yang keluar dari ujung batang penis Joko terlihat jelas oleh Nadia.

Serta merta percikan api birahi langsung meletik lagi di payudara dan di selangkangannya. Nadia tidak mengerti mengapa saat itu ia mendapat dorongan untuk menjilat cairan bening itu. Ia mengalihkan pandangannya dari tonjolan batang penis di celana Joko dan berharap dapat membantunya untuk meredakan dorongan itu.

Beberapa saat setelah dorongan itu reda, Nadia mengembalikan konsentrasinya pada penis Joko. Dengan lembut ia mengurut batang Joko. Semakin diurut, semakin banyak lelehan bening yang keluar. Dorongan untuk menjilat dan menyedot cairan itu kembali muncul dan kali ini dorongan itu lebih kuat.

Nadia menahan dirinya untuk tidak menjilat carian itu. Nafasnya menjadi terengah akibat pergumulan dalam dirinya. Lalu ia baru menyadari selangkangannya sudah basah oleh cairan yang meleleh dari dalam vaginanya dan puting susunya mulai mengeras.

"Lho? Ada apa ini?" pikir Nadia yang tidak mengerti atas apa yang terjadi pada dirinya.

Sambil terus mengurut batang penis itu, wajah Nadia semakin lama semakin mendekat ke bagian noda basah di celana Joko. Mulutnya sudah terbuka dan lidahnya sudah siap menjemput cairan bening yang terlihat sangat menggiurkan itu.

Joko yang tidak ingin cepat-cepat mencapai klimaks terpaksa harus menghentikan Nadia. Ia mendorong tangan Nadia menjauh dari selangkangannya. Lalu dengan jarinya di dagu Nadia, Joko membimbing wajah Nadia mendekat ke wajahnya.

Joko memagut bibir Nadia penuh nafsu. Kumis di atas bibir Joko menggelitik Nadia. Nadia tidak membalas ciuman Joko. Ia hanya membuka mulutnya dan membiarkan Joko melumat bibirnya.

Walau tidak membalas ciuman itu, birahi Nadia bergerak menjalar ke sekujur tubuhnya. Payudaranya terasa mengencang, puting susunya sudah mencapai keras yang maksimal, dinding vaginanya seperti lumer menjadi lelehan yang merembes keluar dengan lancar.

"Kenapa aku jadi terangsang seperti ini? Tidak mungkin aku terangsang semudah ini. Apalagi bersama dengan pria yang tidak aku sukai," pikiran Nadia kembali bertanya-tanya.

Belum sempat berpikir jauh, tubuh Nadia terlonjak saat jari-jari Joko memilin puting kanannya.

"Mmmmmpphhhh...," Nadia mengerang dibalik ciuman Joko.

"Tidak! Tidak mungkin! Jangan-jangan... Oh! Obat perangsang di air jeruk! Apakah Joko sebelumnya sudah menduga kalau aku akan menukar gelasnya dengan gelasku? Jadi, sejak awal ia malah menaruh obat perangsang di gelasnya sendiri sehingga waktu aku menukarnya, aku malah menegak obat perangsang itu yang ada di gelasnya?" pikiran Nadia berkecamuk begitu mendapati gejolak seksual yang tak diundang itu berusaha mendobrak pertahanannya.

"Apa jadinya kalau aku tadi tidak menukar gelas itu? Tidak..., tidak mungkin ia mau mengambil resiko meminum obatnya sendiri. Ataukah ada perbedaan pada gelas-gelas tersebut sehingga ia dapat mengetahui apakah gelas-gelas itu aku tukar atau tidak? Atau jangan-jangan... Jangan-jangan ia menaruh obat perangsang di kedua gelas itu, sehingga gelas manapun yang kuminum, aku pasti meminum obat perangsang tersebut?"

Pertanyaan-pertanyaan dalam otak Nadia terhenti saat ia merasakan puting susunya dijilat oleh Joko.

"Pak Joko,... (mmmhh)..., " Nadia berusaha untuk berbicara.

Joko tidak berhenti untuk mendengarkan penuturan Nadia dan terus menjilati putingnya.

"Pak Joko, stoph... (oohhhh)...", Joko menekan puting Nadia dengan lidahnya. "Obat perangsang yang kamu taruh... (mmmhhh)... kenapa kamu taruh di kedua gelas? (mmmhhhh)..."

Joko masih melanjutkan permainan lidahnya untuk beberapa saat. Akhirnya ia berhenti dan menatap Nadia yang matanya sudah menjadi sayu.

"Obat perangsang apa?" Joko bertanya balik dengan nada nakal.

Nadia berusaha membuat nafasnya menjadi teratur kembali sebelum berkata, "Tadi kamu bilang kamu taruh obat perangsang di gelasku. Kamu bohong, yah?"

"Kamu mengerjai aku dengan menaruh obat perangsang di kedua gelas itu!" kata Nadia kesal.

"Hahahaha! Jadi kamu menukar gelas kita?"

Nadia mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan tidak menjawab pertanyaan Joko. Ia terlihat sangat seksi dengan wajahnya yang cemberut dan dadanya yang naik turun akibat nafasnya yang memburu.

Dengan cepat Joko bangkit meraih handphonenya. Setelah menekan tombol khusus di handphonenya, terdengar suara dering telepon dari ruang tamu.

Joko menekan satu tombol lalu telepon di ruang tamu berhenti berdering. Kemudian Joko berbicara di handphonenya, "Oh, Mira! Apa kabar sayang? Ayahmu baik-baik saja?" Terdengar jelas ia sedang berpura-pura.

"Jadi... waktu kita berada di ruang tamu... perbincangan kamu dengan Mira... Kamu hanya berpura-pura?" tanya Nadia yang mencoba menyambung-nyambungkan potongan misteri di otaknya.

"Yah, saya sengaja memberi kamu waktu untuk melakukan apapun yang kamu anggap perlu. Seperti... menukar gelas kita. Hahahaha!"

"Tapi," sela Joko sebelum Nadia membuka mulutnya lagi, "tidak menjadi masalah gelas mana yang kamu minum."

"Brengsek! Berarti benar kamu menaruh obat perangsang di kedua gelas itu," geram Nadia.

Pipinya bersemu semakin merah dan berkali-kali ia beringsut dalam duduknya dengan gelisah. Nadia semakin merasakan pengaruh obat perangsang bekerja dalam tubuhnya.

"Lalu mengapa obatnya hanya bereaksi pada diriku?" tanya Nadia.

"Oh, siapa bilang saya minum obat perangsang itu?" jawab Joko dengan pertanyaan baru.

Tampang Nadia menjadi semakin bingung.

Joko semakin gemas melihat wajah imut Nadia yang kebingungan. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, ia langsung menanggalkan semua pakaiannya. Ia kini berdiri bugil di hadapan Nadia.

Melihat batang kejantanan Joko yang berwarna gelap dan berdenyut-denyut itu, tanpa sadar Nadia bergumam, "Oohhhhhh..."

Suara seksi dan menggoda yang keluar dari mulut Nadia membuat Joko langsung menerjang Nadia yang duduk di atas ranjang. Bibir mereka kembali bersua. Mulut Joko melumat bibir Nadia seakan hendak menyedot roh dan jiwa Nadia keluar dari raganya. Penis Joko tertekan di atas selangkangan Nadia. Penis itu seperti batang besi yang membara terasa begitu keras dan panas di kulitnya.

Sambil terus melumat bibir Nadia, Joko menggerak-gerakkan pinggulnya supaya penisnya dapat masuk ke liang surga milik Nadia. Tanpa melihat vagina Nadia, Joko mendapat kesulitan mengarahkan penisnya masuk. Penis Joko meliuk-liuk seperti ular liar dan kepala penisnya mengoles-oles di sepanjang bibir kemaluan Nadia yang sudah basah total. Tubuh Nadia bergelinjang setiap kali klitorisnya tergesek akibat ulah batang milik Joko.

Akhirnya Joko menghentikan ciumannya dan berusaha menggunakan tangannya untuk membantu batang itu terarah ke vagina Nadia. Saat itulah Nadia tersadar atas kondisinya.

"Kemana semua rencanaku tadi? Aku seharusnya hanya perlu memberinya handjob tapi sekarang keadaanku malah lebih parah. Bahkan lebih parah dibanding dengan oral seks!"

Namun terlambat sudah. Saat itu Nadia dapat merasakan kepala penis Joko sudah berada pada posisi yang tepat untuk melakukan penetrasi. Dengan satu dorongan yang mantap penis Joko menyeruak masuk menembus lekuk dan lipat dinding vagina Nadia.

"OOOooooohhhhh!" Nadia melenguh panjang.

Joko meletakkan seluruh berat tubuhnya pada selangkangannya sehingga Nadia tidak dapat bergerak kemana-mana. Joko menikmati setiap detiknya dengan membiarkan penisnya bersemayam di dalam hangatnya balutan dinding vagina Nadia yang basah.

Ada perasaan ‘penuh’ yang mengisi kekosongan di dalam lubang kewanitaannya. Sejak melihat Joko bertelanjang di hadapannya, Nadia memang sudah menyadari bahwa penis Joko jauh lebih besar dibanding dengan milik Yusdi. Sebelum melihat penis Joko, bagi Nadia penis Yusdi sudah tergolong besar. Ia sering mendengar penjelasan mengenai besar penis akan mempengaruhi kenikmatan yang dirasakan wanita dalam hubungan seks. Hampir semua majalah yang ia baca mengatakan bahwa itu hanyalah mitos belaka.

Tentu saja Nadia tidak berniat untuk membuktikan apakah mitos tersebut benar atau salah karena ia tidak berniat untuk berhubungan seks dengan Joko (setidaknya ia akan berusaha untuk keluar dari kondisinya sekarang ini). Diluar dari konteks nikmat atau tidaknya hubungan seks dengan penis yang besar, Nadia dengan mudah dapat merasakan perbedaan antara penis suaminya dan penis Joko. Level atau tingkat kepenuhan pada liang sanggamanya terasa jauh berbeda. Ya, walau dalam keadaan diam, lekuk dan bentuk penis Joko sangat terasa menekan dinding vaginanya dibanding dengan penis Yusdi yang baru terasa saat penis itu bergerak keluar masuk.

Membayangkan perbedaan tersebut, tanpa sengaja tubuh Nadia bereaksi dan mengeluarkan cairan cinta lebih banyak lagi dalam liang kewanitaannya. Ia dapat merasakan lendir cinta itu merembes diluar keinginannya secara perlahan-lahan dari dinding vaginanya. Dan perasaan tersebut mengakibatkan jantungnya berdebar lebih cepat, nafasnya semakin cepat dan pendek seakan sedang berlomba-lomba untuk meraup udara sebanyak mungkin.

Joko menarik nafas panjang. Ia bersiap untuk menggenjot pinggulnya supaya penisnya dapat keluar masuk vagina Nadia. Nadia tahu apa yang akan Joko perbuat. Setidaknya Joko harus menarik keluar penisnya yang kemudian dimasukkannya lagi, dan keluar, masuk, dan seterusnya. Untuk menarik keluar penisnya, Joko harus memindahkan sebagian berat tubuhnya ke tempat lain dan Nadia tahu bahwa saat itulah kesempatannya untuk kabur.

Dan benar saja. Joko menekan kedua tangannya ke ranjang untuk menarik penisnya keluar sehingga berat tubuhnya sebagian besar berpindah ke kedua tangan Joko.

Saat penis itu hampir keluar seluruhnya, Nadia menggeser pinggulnya sehingga penis itu keluar total dari bibir vaginanya. Begitu keluar, Nadia langsung mendorong tubuhnya ke bawah sehingga wajahnya tepat berada di depan dada Joko. Dengan kekuatan yang tersisa ia memutar tubuh Joko sedemikian rupa sehingga dirinya kini membelakangi dan menindih perut Joko.

"(Hhhh)... mmmh... bagaimana kalau (hhhh)... aku saja (hhhh).... yang memimpin (hhhh)... permainan ini?" Nadia masih terengah-engah saat ia menoleh ke belakang mengutarakan usulnya kepada Joko.

Dengan gerakan yang efisien, Nadia meraih batang lambang keperkasaan di hadapannya dan mulai mengocoknya dengan perlahan. Batang itu terlihat sangat indah mengkilat oleh cairan miliknya dan milik Joko yang bercampur jadi satu.

Tampaknya Joko tidak berkeberatan atas perubahan posisi yang tiba-tiba itu. Nadia merasa lebih tenang karena setidaknya sampai saat ini ia sudah lepas dari persetubuhan yang sangat ia hindari itu.

Setelah beberapa menit berlalu, Nadia sudah menggunakan segala teknik yang ia tahu demi tercapainya klimaks Joko secepat mungkin. Nadia takjub melihat banyaknya cairan pelumas yang terus meleleh keluar dari mulut penis Joko. Namun demikian Joko belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera mencapai puncak.

Kedua tangan Joko tiba-tiba melingkar dari bawah paha Nadia. Dengan satu gerakan kuat, Joko menarik mundur paha Nadia sehingga selangkangan Nadia berada di dekat mukanya.

Nadia terkejut atas gerakan Joko yang tiba-tiba ini namun ia masih tidak melepaskan genggamannya pada penis Joko. Ia terus berkonsentrasi pada target yang harus ia capai dan mengocok-ngocok penis itu dengan lebih cepat.

"Hmmmhhh..." tiba-tiba Nadia mendesah. Tangannya berhenti mengocok dan kepalanya tertunduk lemas.

Jari-jari liar Joko ternyata sudah beraksi. Karena vagina Nadia sudah sangat basah, jari tengah dan telunjuk Joko meluncur licin dan bebas di bibir kemaluan itu.

Nadia menggigit bibirnya untuk membungkam desahan-desahan yang sudah berada di ujung mulutnya. Setelah sedikit demi sedikit dapat menahan gejolak birahinya, Nadia melanjutkan mengocok penis Joko. Namun dengan kemaluannya yang kini sudah di bawah kuasa jari-jari maut Joko, sangat sulit bagi Nadia untuk berkonsentrasi, yang mengakibatkan kocokan-kocokannya menjadi semakin hambar.

Setelah beberapa saat, tiba-tiba Nadia merasakan arus listrik tercetus dari klitorisnya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Aaaaaahhhhhhhh..." desahan yang panjang itu akhirnya lepas juga setelah sekian lama Nadia berhasil membungkam mulutnya. Nadia melepaskan penis Joko dari genggamannya. Kedua tangannya harus menopang tubuhnya yang tiba-tiba lemas itu.

Joko baru saja menggunakan jurus maut andalannya pada klitoris Nadia. Ibu jarinya sudah bersemayam di singgasana kemaluan Nadia. Jurus maut inilah yang sebelumnya telah membawa Nadia mencapai orgasme yang paling pertama dalam hidupnya. Merasakan tubuhnya yang tidak bisa diajak kompromi, harapan Nadia semakin pupus saja.

Di bawah kuasa jari Joko, tubuh Nadia menari-nari seperti boneka yang dikendalikan dengan tali dari atas oleh sang dalang. Di luar kendali Nadia, pinggulnya bergerak sendiri ke atas dan ke bawah, haus mencari sumber kenikmatan.

Nadia masih berada dalam arus birahi yang menanjak tajam saat Joko mendekap pantat Nadia dari bawah. Lalu Joko menekan pinggul itu sehingga bibir kemaluan Nadia tepat berada di depan mulutnya. Lidah Joko menjulur keluar.

"Ggaaaaaaahhhh..." Nadia mendesah lebih keras saat arus listrik itu kembali menghajar sekujur tubuhnya.

Joko menggunakan lidahnya sebagai pengganti ibu jari yang sudah turun dari singgasana. Tubuh Nadia bergelinjang merasakan kenikmatan surgawi itu. Tekstur lidah yang lembut dan hangat sangatlah berbeda dengan tekstur jari.

Dalam keputusasaannya, Nadia langsung melahap batang penis yang sejak tadi berdiri menantang di hadapannya. "Oh, tidak! Sepertinya sebentar lagi aku akan mencapai klimaks! Aku harus lebih dulu membuatnya klimaks!" teriak Nadia dalam hati.

Kepala Nadia bergerak naik turun. Bibirnya menjepit lingkar batang yang keras itu. Lidahnya membalur kepala penis Joko. Suara desahannya yang terbungkam penis Joko terdengar seperti suara kucing yang mengeong-ngeong tinggi.

"Oh! TIDAK! Aku kalah!"

"UAAAAAAAAAAHHHH!" Nadia berteriak bersamaan dengan orgasmenya.

Sekujur tubuh Nadia mengejang dan bergetar dengan cepat. Sakit yang ia rasakan pada klitorisnya sungguh terasa nikmat. Matanya terpejam kuat dan mulutnya tanpa sadar menganga seakan hendak memproklamirkan kepuasan tiada tara yang ia rasakan saat itu. Air liur bercampur cairan Joko meleleh keluar dari pinggir mulutnya. Saat itu Nadia merasa roh dan jiwanya seakan tertarik keluar dari raganya.

Selesai orgasme tenaga Nadia benar-benar habis terkuras. Tangan dan kaki Nadia sudah tidak dapat menopang berat tubuhnya sendiri sehingga ia jatuh terjerembab menindih tubuh Joko. Dampak orgasme yang begitu kuat masih terasa oleh Nadia karena terlihat sesekali tubuhnya masih bergelinjang.

Joko membiarkan tubuh Nadia tergolek lemas di atas badannya sampai jiwa Nadia kembali masuk ke raganya.

"Bagaimana? Enak? Sudah puas?" suara Joko mengembalikan Nadia ke dunia nyata.

Wajahnya masih terkulai di atas paha Joko. Pertanyaan Joko seakan memecut harga dirinya dan membuatnya kehilangan muka. Namun masih ada hutang tanggung jawab yang harus ia tunaikan. Ia melihat batang penis Joko masih mengacung dengan bangga di hadapannya.

Dengan tenaga yang mulai pulih, Nadia meraih penis itu lalu mulai mengocoknya lagi.

"Dihisap saja, Nad," kata Joko santai.

Rupanya Joko menyukai hisapan Nadia. Bahkan ia lebih memilih mulut Nadia daripada vaginanya. Bisa saja Joko menancapkan penisnya ke dalam vaginanya sewaktu Nadia tidak berdaya barusan, namun ia sengaja memilih mulut Nadia.

Nadia masih ragu untuk memasukkan penis Joko ke dalam mulutnya. "Ah, sudah kepalang tanggung. Ada baiknya kalau aku selesaikan secepat mungkin," pikir Nadia dengan pasrah.

Nadia membuka mulutnya dengan lidah yang sedikit terjulur ke depan. Saat lidahnya menyentuh kepala penis Joko, Nadia memejamkan matanya erat-erat.

Nadia mulai melakukan manuver-manuver dengan lidah dan bibirnya pada batang penis itu. Setelah beberapa menit, mulai terlihat tanda-tanda keberhasilan atas usahanya. Otot-otot perut dan paha Joko sesekali mengeras dan mengejang, sepertinya ia sedang menahan ejakulasinya.

Sudah tidak sabar untuk menyelesaikan semua ini, tangan Nadia ikut beraksi untuk membantu mempercepat tercapainya klimaks oleh Joko. Tangan Nadia mengocok-ngocok batang penisnya sementara mulutnya mengulum bulatan kepala penis itu seperti sedang mengulum lolipop.

Hanya selang beberapa detik, tangan Joko mencengkeram paha Nadia, lalu sekujur tubuhnya mengejang. Gumpalan-gumpalan sperma panas seakan meledak dengan kekuatan dahsyat dari penis Joko dan menghantam langit-langit mulut Nadia. Dua atau tiga semburan setelah itu, penis Joko akhirnya berhenti memuntahkan sperma.

Mulut Nadia terasa penuh oleh sperma yang bergumpal-gumpal mengambang di atas lidahnya. Kemudian ia memuntahkan sisa sperma Joko di mulutnya ke telapak tangannya yang ia bentuk seperti mangkuk. Nadia yakin satu atau dua teguk sempat tertelan olehnya tadi.

Dengan tangannya yang masih bebas, Nadia mengambil beberapa lembar tisue yang berada di samping meja. Sperma yang tertampung di tangannya, ia tuang ke tisue yang baru ia ambil. Pekatnya aroma dan rasa sperma Joko masih terasa oleh Nadia.

"Ahhh... sudah lama saya tidak ejakulasi seperti itu," Joko berkata puas.

"Itu bukan urusanku. Sekarang aku pulang," sanggah Nadia sambil mengenakan pakaiannya satu per satu.

Sementara Nadia mengenakan pakaiannya, Joko berceloteh ringan, "Jadi kamu pikir saya memasukkan obat perangsang ke dalam minuman kamu, yah? Hahaha... Memang, tadi saya bilang kalau saya menambahkan bumbu khusus ke dalam minuman kamu. Dan saya memang menambahkan sesuatu ke dalam minuman kamu. Tapi... yang saya tambahkan itu tak lain hanyalah gula pasir biasa, kok. Tidak ada obat-obatan apapun yang saya tambahkan, baik di gelasmu maupun di gelas saya."

Lalu Joko melanjutkan, "Berarti, sejak tadi kamu pikir kamu berada di bawah pengaruh obat perangsang, ya? Hahahaha..."

Nadia terbengong-bengong mendengar penjelasan Joko.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 6
Baca cerita sebelumnya « Bagian 4