Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Mar 25, 2015

Sex-Force 8

Nadia
Ringkasan: Tiga kali? Wow!
Kode cerita: MF

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia


Sex-Force 8
by: VVN

Yusdi menundukkan kepalanya saat ia mengarahkan kepala penisnya ke celah bibir kemaluan Nadia. Nadia yang tergolek di atas ranjang hanya memandangi ubun-ubun suaminya. Setelah sepuluh menit melewati foreplay yang biasa dilakukan oleh Yusdi, tubuh Nadia akhirnya memberi respon. Dinding vaginanya mulai basah oleh cairan pelumas walaupun Nadia sebenarnya enggan melakukan hubungan seks.

Sabtu pagi hari Yusdi akhirnya sampai ke rumah setelah 8 jam perjalanan pulang dari dinas luar kotanya. Nadia sedang tertidur lelap ketika Yusdi mengendap-endap masuk ke kamar mereka. Ia tidak ingin membangunkan istrinya, namun saat ia melihat lekuk tubuh istrinya yang sedang tertidur, birahinya mulai tersulut. Terlebih lagi Yusdi dinas di luar kota bersama beberapa rekan kerjanya, yang di antaranya merupakan perempuan-perempuan muda.

Selama dua hari ini perempuan-perempuan itu berhasil membuat birahi Yusdi bertahan pada puncaknya. Yusdi memang tidak pernah ragu-ragu untuk menyalurkan tekanan birahinya yang memuncak dengan cara bermasturbasi, walaupun tanpa sepengetahuan Nadia. Namun walaupun dua hari ini ia rutin menyalurkan birahinya secara swalayan, Yusdi seakan tidak dapat menurunkan birahinya sama sekali. Air maninya senantiasa bergelegak terutama saat ia berada di dekat para perempuan itu..

Sesampainya di rumah lekas-lekas Yusdi mandi dan menggosok giginya. Setelah itu ia menghampiri istrinya yang sedang tidur terlentang. Dengan perlahan ia membelai tubuh Nadia. Dikecupnya bibir Nadia dengan lembut. Tangannya membelai rambut, leher, lengan dan pinggul Nadia.

Setelah berhasil membawa istrinya mencapai klimaks (baca: Bagian 4), Yusdi belum pernah lagi menggunakan Sex-Force yang ditanam di dalam tubuh Nadia. Tujuan Yusdi memasang alat itu, agar dirinya dapat membuat istrinya menggapai orgasme, telah tercapai. Namun walaupun demikian, Yusdi belum memikirkan untuk mencabut alat tersebut dari tubuh Nadia.

Nadia mengejap-ngejapkan matanya begitu ia menyadari Yusdi sedang menciumi lehernya. "Yus, kamu baru pulang?"

"Mm-hm," jawab Yusdi singkat, tangannya tak berhenti membelai tubuh Nadia.

"Yus…," Nadia berusaha bernalar, "kamu lagi horny yah?" Nadia memejamkan matanya, "Aku masih ngantuk, nih…," ucapnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Yusdi.

Tak menggubris ucapan istrinya, Yusdi melanjutkan aksinya. "Terserahlah kamu mau tidur atau tidak. Aku butuh pelepasan sekarang," batinnya dalam hati.

Yusdi melanjutkan aksinya dengan lebih leluasa, tanpa perlu khawatir membangunkan istrinya. Kini ia terang-terangan meremas bulatan bukit dada Nadia, menjilati putingnya sampai akhirnya tegak mengeras. Lama kelamaan Nadia terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali tidur.

Mendapat perlakuan spesial seperti itu, mau tak mau kantuk Nadia menjadi sirna. Memang saat itu matahari juga sudah lumayan tinggi. Sinarnya sudah masuk lewat celah-celah tirai jendela menerangi kamar mereka.

Walaupun sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya, Nadia tetap saja bersikap pasif. Ia membiarkan Yusdi melakukan aksinya sementara ia berbaring terlentang pasrah. Sepuluh menit berlalu sampai akhirnya Yusdi membenamkan sekujur batang penisnya ke dalam vagina Nadia.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

"Mmmmhhh…," lirih Nadia yang merasakan batang keras dan tumpul itu menyeruak masuk membuka dinding vaginanya.

Tubuh Nadia masih terasa penat setelah seharian bekerja lembur kemarin. Setelah makan siang kemarin, Pak Ardi malah memberi Nadia dan Joko kerjaan yang menumpuk. Alhasil Nadia baru tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Setelah membasuh tubuhnya secara kilat barulah ia dapat merebahkan tubuhnya. Nadia bahkan tidak sempat membaca SMS Yusdi mengenai perjalanan pulangnya yang tertunda beberapa jam.

Penis Yusdi bergerak keluar masuk liang kewanitaan Nadia dengan kecepatan konstan. Yusdi terlihat sudah sangat terbawa suasana. Ia berharap Nadia dapat menjadi penawar syahwatnya yang menggebu-gebu.

Yusdi mengangkat pantat Nadia dan menaruh kedua tungkai kaki Nadia melewati pundaknya. Yusdi tahu posisi seks seperti ini adalah salah satu posisi favorit Nadia. Yusdi menaruh seluruh berat tubuhnya pada panggulnya untuk memberi tenaga dorong ekstra.

Nadia menikmatinya, setidaknya selama menit-menit pertama. Tapi setelah beberapa menit berlalu, Nadia mulai kehilangan momen. Gairah birahi yang tadinya sudah meningkat, kini malah menjadi datar. Nadia memejamkan matanya berharap dirinya dapat lebih menikmati hubungan intim dengan suaminya.

Yusdi dengan semangat yang masih berkobar-kobar menggenjot panggulnya sehingga batang penisnya terlihat seperti piston mengilap basah yang keluar masuk liang kemaluan istrinya. Sambil mengerang keras, Yusdi menumpahkan spermanya ke dalam vagina Nadia. Cairan mani panas itu bergelegak muncrat dari batang Yusdi, mengisi saluran rahim istrinya.

Setelah mengosongkan amunisinya Yusdi menghempaskan tubuhnya ke sebelah Nadia. Nadia sebenarnya merasa lega Yusdi sudah menuntaskan hajat birahinya, terlebih lagi karena sperma Yusdi masuk ke dalam vaginanya.

Karena belum ingin hamil, biasanya Nadia-lah yang getol menyuruh Yudsi untuk memakai kondom saat melakukan hubungan intim suami istri. Yusdi sebenarnya tidak menentang ketidakinginan istrinya untuk memiliki anak, akan tetapi ia tidak suka mengenakan kondom saat bersetubuh dengan Nadia. Di beberapa kesempatan Yusdi berpura-pura lupa untuk mengenakan kondom. Dan saat Nadia mengingatkannya, Yusdi selalu berdalih: "sudah tanggung" (yang pada akhirnya Nadia membiarkan Yusdi menggumulinya tanpa kondom).

Pagi itu Nadia malah sengaja tidak mengingatkan Yusdi untuk memakai kondom. Nadia tidak ingin hamil. Akan tetapi kalau sampai ia hamil, ia berharap sperma Yusdi-lah yang membuahi sel telurnya, bukannya sperma Joko yang kemarin siang juga telah berenang masuk ke rahimnya.

Perasaan lega ini membuat Nadia jatuh tertidur di samping Yusdi. Begitu lelapnya, Nadia sama sekali tidak terbangun saat Yusdi melancarkan serangan ke-dua begitu kekuatan dan staminanya pulih kembali. Masih tanpa busana, Yusdi menindih tubuh Nadia. Bibirnya mengecupi Nadia, mulai dari kening, pipi, bibir, leher, dada, perut, sampai ke tungkai kakinya. Setelah puas menciumi sekujur tubuh Nadia, kedua tangan Yusdi menjamah buah dada istrinya. Remasan-remasannya pada bukit kenyal itu tak kunjung membuat Nadia terbangun.

Akhirnya Nadia baru terjaga dari tidurnya saat Yusdi menggigit lembut puting susunya. Nadia mengejap-ngejapkan matanya setengah terpicing, berusaha untuk memperjelas penglihatannya.

"Aw!" mata Nadia terbelalak diiringi dengan pekik pelan dari mulutnya saat gigitan Yusdi semakin terasa.

"Yus…"

Nadia tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Bibir Yusdi sudah dengan lahapnya memagut bibir Nadia. Lidah Yusdi menyelinap masuk dan meliak-liuk di dalam mulut Nadia. Setelah beberapa saat, akhirnya Nadia masuk dalam arus birahi dan menyambut permainan lidah suaminya dengan pilinan lidahnya juga.

Saat itu Nadia dapat merasakan batang keras Yusdi menekan tungkai kakinya. "Ada apa gerangan dengan Yusdi?" gumam Nadia dalam hati. "Tidak seperti biasanya ia bernafsu seperti ini."

Mendapati batang kemaluan Yusdi yang berereksi penuh tertekan pada kakinya, Nadia merasakan gairah seksnya spontan melonjak naik. Ia senang mengetahui dirinya memberi dampak sedemikian rupa pada diri suaminya.

Dengan satu gerakan mengalir, Yusdi kembali mengamblaskan batang penisnya ke dalam liang kemaluan Nadia. Lalu ia mulai menggenjot istrinya dengan lembut. Suara desah dan erang dua insan ini pun bersahutan meramaikan kamar mereka.

Tak lebih dari lima menit mereka bersetubuh, gairah birahi Nadia berangsur-angsur menurun. Ia tidak lagi merasakan sensasi yang ia rasakan lima menit sebelumnya. Dengan mudahnya ia merasa dirinya kosong dan kehilangan getar nikmat itu. Ia berusaha untuk lebih berkonsentrasi agar dapat kembali masuk ke dalam buaian birahi, namun usahanya tidak menemui hasil.

Saat telepon genggamnya berdering, api birahi Nadia sudah hampir pupus. Yusdi menghentikan genjotannya saat telepon itu berdering untuk ke dua kalinya. Tangannya meraih telepon yang Nadia taruh di atas meja di samping ranjang.

"Joko," dengan setengah berbisik Yusdi membacakan nama yang tertera di layar telepon.

Baru saja Nadia hendak menyuruh Yusdi untuk mematikan telepon itu, Yusdi malah sudah menerima panggilan telepon itu. Telepon genggam itu langsung ia tempelkan ke telinga istrinya.

"Halo."

Yusdi dapat mengenali suara Joko walau hanya terdengar sayup-sayup. Ia lanjut menggempur kemaluan istrinya dengan lebih bertenaga sambil meremas-remas payudaranya.

"...mhhh… H-halo."

"Nad, si keparat itu menyuruh saya ngantor hari ini. Jadi saya batal mengunjungi mertua."

"...hhh… OK," setelah meraih telepon itu dari tangan Yusdi, Nadia mencoba untuk menjawab seadanya.

"Iya. Berarti rumah saya kosong sampai besok malam. Istri dan anak-anak baru pulang. Jadi malam ini kamu bisa datang ke rumah."

Spontan Nadia mematikan sambungan telepon itu dan di saat yang bersamaan, Yusdi merasakan dinding kemaluan Nadia mencengkram batang kemaluannya kuat-kuat. Ia melirik untuk menganalisa raut wajah istrinya. Jantung Nadia berdegup lebih kencang setelah mendengar permintaan Joko itu.

Nadia melihat suaminya menatap wajahnya dengan pandangan bertanya-tanya. Tidak tahu harus bersikap apa, Nadia berpura-pura tak menggubris percakapannya dengan Joko barusan. Ia memejamkan matanya, membiarkan telepon itu terjatuh di sebelah kepalanya, lalu melingkarkan tangannya ke leher Yusdi.

"Ooohhh… ayo lanjutkan, Yus."

"Kenapa Joko suruh kamu datang ke rumahnya, Nad?"

"Sial, ternyata ia mendengar ucapan Joko," umpat Nadia dalam hati. Nadia membuka matanya. Otaknya berputar cepat untuk mencari jawaban yang tepat.

"Oh, Pak Joko perlu bantuan mengedit data yang diberi Pak Ardi kemarin sore." Nadia menatap mata suaminya dalam-dalam lalu melanjutkan, "Malas aku meladeni dia."

Yusdi masih belum memberi tanggapan apa-apa. Otaknya masih mencoba mencerna semuanya itu. Melihat masih adanya keraguan pada diri suaminya, Nadia membelai wajah Yusdi, "Tak usah dihiraukan, Yus."

Nadia menghampiri bibir suaminya dan melumatnya penuh gairah sambil memeluk lehernya sehingga tubuh kedua insan ini melekat erat. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk melanjutkan persetubuhan yang sempat terhenti.

Perlahan namun pasti Nadia berhasil menyeret Yusdi kembali ke dalam pusaran birahi. Yusdi membalas keberingasan Nadia dengan senang hati dengan menggenjot panggulnya mengikuti irama tubuh istrinya.

Percakapan dengan Joko masih terngiang-ngiang di telinga Nadia walaupun ia sudah berusaha untuk membungkamnya. Namun semakin ia berusaha untuk menepis suara Joko dari benaknya, justru semakin banyak ingatan atas Joko bermunculan di benaknya. Dan setiap kali bayangan itu muncul di pikirannya, tubuh Nadia bergelinjang dan dadanya membusung terangkat ke atas.

Sekonyong-konyong Yusdi memuntahkan lahar panasnya ke dalam mulut rahim istrinya untuk kedua kalinya pagi itu. Tubuh Nadia masih menggeliat-geliat dan pinggulnya masih bergoyang-goyang saat tubuh Yusdi berkejut-kejut menindihnya.

Setelah penis Yusdi mengecil dan menyusup keluar dari kemaluan Nadia, gerakan yang tersisa dari tubuh Nadia hanyalah gerakan dadanya yang kembang kempis akibat nafas yang masih memburu.

Lalu Yusdi mendorong tubuhnya berguling ke samping dan rebah di sisi kanan Nadia. Yusdi mengangkat lengan kanannya untuk menutupi kedua matanya. Kembang kempis dadanya tidak kalah cepat dari Nadia. Mereka berdua berbaring di sana selama beberapa menit tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kamar itu menjadi sunyi walaupun masih terdengar suara deru nafas dari pasangan suami istri ini.

Nadia membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong menyapu langit-langit kamar. Ia memutar kepalanya untuk memandang suaminya. Lengan Yusdi masih tergolek menutupi matanya. Dari ekor mata Nadia, Nadia mendapati adanya pergerakan kecil di bagian bawah tubuh Yusdi.

Bola mata Nadia pun bergulir ke bawah mengarah ke selangkangan Yusdi. Penis Yusdi sesekali berdenyut. Denyutan demi denyutan membawa penis itu menjadi lebih besar.

"WOW!" pekik Nadia dalam hati. "Tiga kali? Ada apa dengan Yusdi pagi ini? Tidak pernah ia se-horny ini!"

Penis Yusdi belum mencapai ereksi penuh saat Nadia mulai membelai lembut sekujur jenjang batang suaminya. Yusdi tak bergeming namun Nadia tak menghentikan belaian dan usapan lembutnya.

Setelah beberapa menit berlalu Nadia mendapati penis itu tidak menjadi lebih besar ataupun lebih keras di bawah belaian tangannya. Bahkan ia merasa penis suaminya sedikit menciut.

"Hmmm… kelihatannya ia memang sudah lelah."

Dengan tangan kanannya yang ia gunakan untuk menutupi matanya, Yusdi menjamah tangan Nadia yang sedang mengusap-usap kemaluannya.

"Nad," suara Yusdi akhirnya memecah kesunyian semu di kamar itu.

Pandangan Nadia berpaling ke wajah suaminya yang masih memejamkan matanya. Nadia menunggu Yusdi melanjutkan kalimatnya sambil mencoba membaca raut wajahnya. Tidaklah mudah untuk membaca raut wajah seseorang dari samping, walaupun orang tersebut adalah orang yang dekat dengan kita.

"Ada apa, Yus?" Nadia tidak sabar menunggu.

"Hmmm…," Yusdi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nadia mengernyitkan dahinya seakan menolak jawaban suaminya.

Yusdi membuka kedua matanya perlahan lalu menoleh ke samping. Kernyitan Nadia sirna saat Nadia melihat senyum ringan menghias wajah suaminya.

"Tidak apa-apa, Nad," Yusdi membelai rambut Nadia dengan lembut. "Aku tadi lagi mengingat-ingat seberapa sering aku bilang kalau aku sayang kamu."

Yusdi menatap mata Nadia dalam-dalam. "Maaf yah, Nad. Aku jarang kasih tau kamu kalau aku sayang kamu."

Mata Nadia berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya itu.

"Oooh, honey," Nadia merangkulkan tangannya ke leher Yusdi lalu memeluknya erat-erat. "I love you, too," bisik Nadia sambil tersenyum lebar, tidak ingin pernah melepas pelukannya.

Paha Nadia menempel pada selangkangan Yusdi. "Yup! Si buyung sudah mengecil, kembali ke kondisi normal," Nadia berceloteh di dalam benaknya. "Ayo, cooling down, cooling down. Moga-moga nanti malam Yusdi jadi 'sangar' lagi."

"Oh, by the way," ujar Yusdi tiba-tiba, "nanti kayanya aku harus ke kantor untuk ketik laporan yang numpuk. Jadi malah lebih bagus kalau kamu pergi ke tempat Joko. Setidaknya kamu bisa mengisi waktumu secara produktif, tidak cuma bengong menunggu aku di rumah."

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya »
Baca cerita sebelumnya « Bagian 7




May 27, 2014

Sex-Force 7

Nadia
Ringkasan: Kawin di dalam mobil
Kode cerita: Blkm, MF, non-con

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 7
by: VVN

Nadia memandang ke sekeliling ruangan kantor. Tidak ada siapa-siapa. Ia memang sengaja datang lebih awal pagi itu. Ia ingin memulai harinya dengan lebih tenang. Ia merasa lebih lega Joko belum muncul di kantor. Nadia sungguh malas untuk bertemu dengan Joko. Sejak kejadian awal itu (baca: bagian 3), masuk kantor menjadi hal yang menyiksa bagi Nadia.

Kemeja pink ketat lengan pendek yang ia kenakan memberi kesan chic, dipadukan dengan rok span berwarna hitam kemerahan. Hari itu penampilan Nadia terlihat berbeda, dibandingkan dengan kaos berkerah dan celana jins yang biasa ia kenakan pada hari Jumat (pada hari Jumat pegawai diperbolehkan untuk berpakaian lebih santai).

Walau enggan untuk memasuki hari Jumat ini, Nadia sebenarnya sudah mempersiapkan semuanya secara khusus. Ia sengaja memilih setelan baju dan rok yang mudah untuk ditanggalkan. Barang-barang yang berserakan di jok belakang mobilnya pun sudah ia singkirkan pagi tadi. Dua paket kondom juga sudah ia masukkan ke dalam tasnya. Ia bahkan menghabiskan waktu ekstra untuk membersihkan area kemaluannya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Pagi itu Nadia memarkir mobilnya di lokasi yang telah dijabarkan oleh Joko kemarin. Selama bekerja di kantor ini, belum pernah sekalipun Nadia menginjakkan kakinya ke sana, berhubung tempat parkir utama letaknya lebih dekat walaupun sedikit lebih ramai. Tidak ada mobil lain di area parkir belakang saat Nadia memarkir mobilnya.

Nadia membuka laci untuk menaruh tasnya. Hatinya mencelos saat ia mendapati secarik kertas putih terlipat rapih bertengger di dasar laci itu.

"Taruh celana dalam dan BH kamu di dalam laci saya."

Nadia tahu siapa penulis pesan itu walaupun tidak ditulis dengan tulisan tangan. Setelah membacanya beberapa kali, Nadia meremas kertas itu dan membuangnya.

Ia memutuskan untuk tidak melepaskan BH-nya karena ia yakin orang-orang dapat melihat puting susunya tercetak pada kemejanya yang ketat. Saat Nadia menaruh celana dalamnya ke laci Joko, hatinya bersyukur ia datang lebih pagi sehingga tidak ada seorangpun di sekitarnya. Lalu Nadia bergegas kembali ke mejanya.

Sulit bagi Nadia untuk mengusir Joko dari benaknya terutama sejak kejadian kemarin pagi. Nadia menyalakan layar monitornya untuk memulai aktivitas rutinnya: memeriksa email. Larutnya Nadia dalam kesibukan membaca dan membalas email-email membuatnya mulai melupakan Joko.

Lima belas menit berlalu tanpa ada seorangpun yang masuk ke ruangan besar kantor itu. Setelah itu satu per satu mulai datang mengisi meja-meja kosong di ruangan itu.

Pukul 10 pagi Nadia melirik ke arah meja Joko. Meja itu masih kosong, tidak ada tanda-tanda Joko sudah datang. Hatinya sangat berharap Joko tidak masuk kerja hari itu. Namun menjelang makan siang harapannya pupus begitu Nadia melihat email dari Joko masuk ke inbox-nya.

"Saya tunggu di mobilmu."

Nadia cepat-cepat menekan tombol Del untuk menghapus email itu. Selama beberapa menit pikirannya kosong setelah membaca email tersebut. Menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi harus melayani Joko selayaknya suaminya sendiri Nadia merasa hatinya seperti terhempas dari gedung lantai 34, telapak tangannya terasa seperti es, tenggorokannya kering, otot lehernya terasa kencang.

Nadia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menghembuskan nafas keluar lewat mulutnya Nadia membatin, "Ayo, tenang. Semuanya akan segera berlalu."

Pelan-pelan Nadia membuka matanya. Ia melirik ke jam di komputernya. 11:48 AM. Setelah sekali lagi memberi dirinya sugesti, Nadia akhirnya bangkit berdiri, menggaet tasnya lalu meninggalkan ruangan itu menuju area parkir belakang.

Perjalanan ke area parkir belakang terasa sangat jauh buat Nadia saat itu. Ia merasa semua mata menyorotnya dengan pandangan menghakimi. Perempuan jalang! Pelacur! Cewe murahan! Nadia tidak berani menatap ke depan, alih-alih ia memandangi langkah kakinya yang membawanya semakin mendekat ke tempat tujuan.

Dari kejauhan Nadia dapat melihat mobilnya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Joko. Dan benar saja seperti yang Joko katakan, Nadia hanya melihat 3 mobil lainnya di area parkir itu. Baru setelah hampir sepelemparan batu dari mobilnya Nadia dapat melihat bayang-bayang Joko yang sedang bersandar di belakang.

Nadia menekan tombol remote untuk membuka kunci mobilnya. Joko terlonjak mendengar suara alarm mobil bercericip. Nadia terus melangkahkan kakinya ke bagian belakang mobil untuk menemui Joko. Namun Joko sudah menghampirinya sebelum ia sampai, menarik tangannya dan setengah paksa menyeretnya masuk ke kursi belakang.

"Ayo cepat masuk!" Suara Joko terdengar kasar dan marah.

"B-baik, Pak," Nadia tidak memprotes secara ia ingin segera menuntaskan semua ini.

Joko mendorong Nadia masuk terlebih dahulu. Setelah Nadia dan Joko menempati posisi duduknya masing-masing, Joko menarik lengan Nadia agar Nadia menghadap ke arahnya.

Dengan tangannya yang lain, yang ia letakkan di belakang leher Nadia, Joko menarik wajah Nadia mendekat wajahnya. Joko langsung memagut bibir Nadia. Nadia sama sekali tidak menyangka Joko memulai aksinya secepat itu.

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Yang ada hanyalah erangan Joko yang melumat bibir Nadia seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Tanpa menunda-nunda waktu, tangan Joko mulai menggerayangi dada Nadia.

"Heh?! Kok kamu tidak lepas BH?!" Joko melepas ciumannya. Ujung alisnya naik.

Nadia tidak berani menatap wajah Joko saat ia hendak menjawab pertanyaannya. "Aku…"

"Ah, persetan! Sudah, nggak usah banyak ngomong!"

Dengan kasar tangannya membuka paksa kemeja Nadia sehingga kancing-kancing bajunya berlompatan putus.

"Aih! Stop! Jangan begitu dong, Pak!"

"Diam!" Joko mencengkram kerah baju Nadia dan menariknya sehingga wajah mereka berdua hanya terpaut beberapa sentimeter. "Kalau kamu buka mulut lagi…"

Nadia mengatupkan bibirnya ke bibir Joko sebelum Joko sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia melumat bibir Joko dalam-dalam sambil membuka sisa kancing bajunya lalu melepaskan bra yang ia kenakan secepat mungkin. Ia tak ingin Joko membawa kerusakan lebih banyak lagi pada pakaiannya.

Terlihat Joko menanggapi ciuman Nadia secara positif. Lalu Nadia menggiring tangan Joko menyentuh payudaranya, berharap kemarahan Joko mereda.

Setelah tangannya meremas payudara kenyal itu, Joko melepaskan dirinya dari ciuman Nadia. "Lain kali jangan sekali-sekali langgar perintah saya!" kata Joko dengan wajah serius.

Cepat-cepat Nadia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Nadia dapat merasakan ada hal lain yang membuat Joko marah dan kini ia menjadi tumbal pelampiasan amarahnya. Nadia tak ingin memperburuk keadaan sehingga ia membatalkan niatnya untuk menjelaskan alasannya tidak menanggalkan bra.

Joko meremas dengan kasar buah dada montok Nadia. Mulutnya melahap puting susu yang sudah mengeras itu dengan beringas. Nadia sadar amarah Joko belum reda dan setidaknya ia merasa yakin bahwa dirinya bukan penyebab kemarahan Joko.

Tidak berlama-lama menggarap payudara Nadia, Joko pun segera membuka sabuk dan celananya. Gerakan tangannya yang terburu-buru malah memperlambat proses pelepasan burung dari sangkarnya. Nadia diam terpaku menatap batang kejantanan Joko yang akhirnya keluar. Tatapannya kosong tak menunjukkan perasaan apa-apa.

Ini bukan pertama kalinya Nadia melihat batang penis Joko. Akan tetapi ini pertama kalinya Nadia merasa tak berdaya di hadapan Joko dengan penisnya yang mengacung dengan bangga. Nadia sudah pasrah terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya. Saat ini ia hanya ingin semuanya segera berlalu.

Nadia melihat penis Joko tidaklah terlalu berbeda dengan penis suaminya dalam hal ukurannya. Namun penis Joko mempunyai kesan kokoh, sangar, dan bertenaga. Warna penis Joko jauh lebih gelap dibanding milik Yusdi. Kepala penisnya pun lebih bulat, sedangkan kepala penis Yusdi agak pipih.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Joko memutar dan mendorong pundak Nadia sehingga wajahnya menghadap ke sisi mobil yang sama. Lalu dengan kasar Joko mengangkat pinggul Nadia sehingga memaksa Nadia bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya. Ya, Joko akan melakukannya dengan doggy-style.

Seks dengan gaya doggy-style merupakan salah satu gaya yang menunjukkan dominasi, yang berarti membuat si penerima (pihak wanita) dapat merasa takluk di bawah kuasa si pelaku (pihak pria). Dengan seks gaya ini banyak wanita merasakan sensasi yang "lebih penuh" di liang kewanitaannya karena posisi ini memungkinkan penetrasi yang sangat mendalam. Tangan pria pun mendapat akses yang lebih banyak seperti meremas dan menggerayangi payudara pasangannya, merangsang klitoris, dan meremas atau menampar bulatan pantat si wanita, dan lain-lain. Walau gaya seks doggy-style terasa kurang romantis, karena tatap mata sulit untuk dilakukan, pada kenyataannya banyak perempuan yang sangat menikmatinya karena melalui gaya ini mereka dapat dibawa ke puncak orgasme secara total: melalui rangsang vaginal, rangsang pantat, rangsang payudara, rangsang klitoris dan rangsang G-Spot.

Joko menyingkapkan rok span Nadia naik ke punggung pantatnya. Senyum kecil tersungging dari mulut Joko begitu ia mendapati Nadia menuruti perintahnya untuk menanggalkan celana dalamnya. Dengan satu hunjaman kuat Joko mengamblaskan batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Nadia yang belum terlalu basah itu.

"AAAAHHHHH!!!!" Nadia berteriak sejadi-jadinya saat ia merasakan vaginanya seakan disobek-sobek. Matanya yang terpejam erat-erat itu pun meneteskan air mata.

"STOOOP!" Nadia berusaha menarik tubuhnya maju menjauh dari serangan Joko. Ia menoleh ke belakang dan mendapati tidak adanya niat Joko untuk menghentikan gempurannya.

Kedua tangan Joko mengunci pinggul Nadia sehingga Nadia tidak dapat mengelak kemana-mana. Joko menarik batang penisnya namun tidak sampai keluar sepenuhnya lalu menghempaskannya kembali dengan kuat dan cepat ke dalam vagina Nadia.

"AAAAAAWW!!" jeritan Nadia kembali memekakkan telinga mereka berdua.

Joko sama sekali tidak menggubris protes yang Nadia lontarkan, alih-alih ia terus menggenjot pinggul Nadia tanpa mengurangi intensitas dan kecepatannya. Nadia hampir yakin lelehan yang merembes keluar dari kemaluannya adalah darah segar akibat hantaman penis Joko. Namun tidaklah demikian adanya. Tidak ada darah yang keluar, melainkan cairan pelumas yang mengalir dengan deras melumuri dinding vaginanya. Tak henti-hentinya Nadia berteriak kesakitan, seakan berharap teriakan-teriakannya dapat mengurangi rasa sakitnya.

Setelah lebih dari 5 menit terus menerus dihunjami genjotan kuat itu, Nadia mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai hilang digantikan oleh gejolak birahi. Teriakan-teriakannya sudah tidak lagi terdengar, yang ada hanya erang dan sengal hembusan nafas kencang dari mulutnya setiap kali Joko membenamkan batangnya ke dasar liang sanggamanya. Satu telapak tangannya harus ia sanggakan pada kaca jendela mobil di hadapannya untuk menahan hentakan-hentakan tubuhnya.

Pipinya masih basah oleh air matanya saat desahan panjang, tanpa ia sadari, keluar dari mulutnya. Desahannya ini merupakan reaksi bawah sadar tubuhnya saat gesekan penis Joko pada dinding vaginanya membawa birahinya ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan Nadia.

Nadia bahkan tidak sempat untuk mengumpat dalam hati atas birahinya yang muncul di luar keinginannya itu. Ia bak dililit ular birahi secara perlahan. Saat tersadar atas lilitan ular itu, ia sudah tidak sempat berpikir apa-apa lagi selain pasrah 'tersiksa' oleh lilitan maut itu.

Walaupun berhubungan seks tidak membuatnya menderita, sejak dulu Nadia tidak pernah merasakan kenikmatan bersetubuh dengan suaminya. Dengan alasan itulah Yusdi menanam alat canggih Sex-Force® di tubuh Nadia. Nadia sama sekali tidak curiga mengapa ia jadi sering diterpa gelombang nafsu seks di saat-saat yang tidak terduga. Ia bahkan akhirnya dapat merasakan orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya. Oleh karena orgasme tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya, Nadia tidak pernah antusias dalam urusan seks. Namun sejak merasakan kenikmatan orgasme, minat Nadia dalam urusan syahwat ini mulai tergelitik.

Mendengar erangan erotis itu, Joko semakin gencar melancarkan serangannya. Keringatnya bercucuran menetes di punggung Nadia. Ia tak mengurangi intensitas genjotannya walaupun dirinya sudah mulai lelah.

Lalu Nadia mendengar Joko mulai mengerang-erang seirama dengan hentakan pinggulnya. Semakin lama erangan Joko terdengar semakin kuat. "Joko sudah hampir klimaks!" jerit Nadia dalam hati.

Mata Nadia langsung melebar begitu ia teringat, "KONDOM! Pak, stop! Kondomnya ada di dalam tasku!"

Crot... Crot... Crot… "Aaaahhhhhh…," Joko keras-keras mengerang penuh kelegaan.

Nadia berusaha untuk mengibas-ngibaskan pinggulnya supaya penis Joko lepas dari vaginanya. Namun tangan Joko masih mengunci pinggul Nadia kuat-kuat. Ia ingin memastikan Nadia merasakan gumpalan-gumpalan spermanya yang kental dan hangat itu menghantam-hantam dinding vaginanya.

Nadia masih dalam posisi menungging saat tubuh Joko tergolek menindih punggungnya. Pikiran Nadia kosong. Ia membiarkan dirinya merasakan penis Joko perlahan-lahan melembek di dalam kemaluannya. Nadia menutup matanya. Dadanya kembang kempis mengikuti deru nafasnya yang berangsur-angsur mereda.

Joko akhirnya bangkit lalu memakai celananya. Ia terlihat agak tergesa-gesa untuk meninggalkan tempat itu. Sambil mengenakan ban pinggangnya, Joko menatap wajah Nadia. Sulit buat Joko untuk menebak apa yang ada di pikiran Nadia dari raut wajahnya. Raut wajahnya merupakan perpaduan antara lega, lelah, dan puas.

Setelah sekali lagi memastikan celana dan sabuknya terkancing, Joko membuka pintu mobil. "Saya harus segera kembali ke tempat si keparat Ardi. Kita lanjutkan permainan kita hari Senin besok."

Nadia setengah mengacuhkan kata-katanya. Ia masih tenggelam dalam kepasrahannya pada keadaan.

Sosok Joko sudah menghilang masuk ke dalam gedung saat Nadia akhirnya bangkit dan mulai membereskan pakaiannya. Ia mengambil tissue untuk mengelap lelehan sperma Joko yang mengalir keluar dari kemaluannya.

"Aneh… Tidak banyak yang meleleh keluar. Padahal tadi terasa begitu banyaknya yang dia semburkan di dalam." Nadia mencampakkan tissue itu ke keranjang sampah.

Hampir semua kancing-kancing di kemeja yang ia kenakan putus oleh Joko tadi. Nadia mengambil jaket kain berwarna biru gelap yang memang selalu ia siapkan di mobil untuk keperluan darurat. Jaket itu dikenakannya di atas kemejanya, lalu ia menarik resleting jaket itu untuk menutupi dadanya.

Sepanjang perjalanannya kembali menuju gedung kantor, Nadia terus merasakan sperma Joko masih mengalir keluar dari kemaluannya. Kondisinya yang tidak mengenakan celana dalam sama sekali tidak membantunya dalam situasi ini. Nadia harus mengurungkan niatnya untuk berhenti dan memeriksa lelehan sperma di pahanya karena ia tidak ingin perbuatannya itu malah menarik perhatian orang-orang.

Sesampainya di dalam gedung, Nadia segera masuk ke WC. Benar saja sperma itu sudah meleleh turun ke pahanya. Ia menyeka lelehan itu dengan tissue lalu mencuci kemaluannya dengan air dan sabun.

"Kenapa kamu bisa sampai lupa memakai kondom?! Goblok! Sia-sia saja kondom yang telah kau siapkan! Apa jadinya kalau si Joko itu berpenyakit? Bagaimana kalau kamu hamil?!" maki Nadia kepada dirinya sendiri.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 8
Baca cerita sebelumnya « Bagian 6





May 17, 2014

Sex-Force 6

Nadia
Ringkasan: Mengantor tanpa mengenakan celana dalam? Bikin horny or malah bikin melempem?
Kode cerita: Blkm, MF, mastrb, non-con, no-sex

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia
* Pak Ardi: manager Nadia


Sex-Force 6
by: VVN

Sejak kejadian hari Sabtu lalu itu hampir setiap hari Joko menagih Nadia untuk menuruti setiap permintaannya. Beberapa kali Nadia harus bernegosiasi atas permintaan-permintaan Joko yang menurutnya sulit untuk dipenuhi. Bahkan ada beberapa permintaan yang ia tolak mentah-mentah. Namun secara keseluruhan, permintaan-permintaan Joko cukup masuk akal. Ia tidak meminta Nadia untuk melakukan hal-hal yang jelas-jelas melanggar pidana, seperti mencuri, membunuh, dan sebagainya. Ia juga tidak meminta Nadia untuk menaikkan gajinya atau menceraikan Yusdi.

Tingkat kesulitan permintaan-permintaan Joko juga beragam. Dari yang sangat mudah, seperti membuatkan kopi, mengambilkan berkas file di kabinet; yang masuk ke tingkat menengah, seperti mengambil pen yang sengaja ia jatuhkan di kolong meja supaya ia dapat menikmati pantat Nadia yang menungging sewaktu mengambilnya, membiarkan satu kancing kemejanya terbuka sepanjang hari, memijit pundak Joko selagi tidak ada orang lain di sekitar mereka; sampai ke tingkat yang sulit, di antaranya seperti menciumnya, membiarkan puting susunya dijilati Joko, mengulum batang penis Joko, dan lain-lain.

Setiap harinya paling sedikit lima permintaan yang Joko ajukan kepada Nadia. Demikian pula yang terjadi pada hari Kamis. Pagi harinya Joko sudah meminta Nadia untuk menanggalkan celana dalamnya dan menaruhnya di atas meja Joko. Nadia sempat menolak permintaan ini, namun Joko tetap bersikeras. Ia memang sudah menunggu-nunggu Nadia mengenakan rok pendek model A-Line ini (di bagian pinggang kecil dan makin ke bawah semakin lebar) untuk mengajukan permintaan ini.

Rok pendek Nadia berayun lemah saat Nadia melangkahkan kakinya menuju meja Joko. Tangannya menggenggam erat celana dalam putih yang telah ia masukkan ke dalam kantong plastik. Walaupun orang-orang lain tidak ada yang tahu, Nadia tetap merasa canggung berjalan di tengah teman-teman kantornya tanpa mengenakan celana dalam.

Tanpa berhenti sama sekali Nadia melewati meja Joko lalu meletakkan dengan hati-hati bungkusan plastik di atas meja.

"Bu Nadia," panggil Joko dengan resmi walaupun situasi kantor masih sepi.

Nadia menghentikan langkahnya. Ia menarik dua nafas panjang lalu berbalik dan menghampiri Joko. "Mau apa lagi dia?" pikirnya dalam hati.

"Ada apa, Pak?" setengah berbisik Nadia berusaha bersikap seprofesional mungkin.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

"Besok kamu jangan parkir di tempat biasa," ujar Joko dengan nada yang penuh otoritas. "Kamu parkir di area parkir belakang, di samping pohon besar di pojokan."

"Lho Bapak tahu dari mana besok aku bawa mobil?"

"Saya kan tau Yusdi sedang dinas luar kota 2 hari ini," jawab Joko.

"Lalu, kenapa aku harus parkir di sana?"

"Akhir pekan ini saya harus pergi mengunjungi mertua. Jadi saya mau minta 'jatah besar'-nya besok saja."

Nadia berpikir keras mencari-cari alasan untuk menolak permintaan itu. "Bapak mau kita melakukannya di tempat parkir??"

"Lebih baik di sana dari pada di ruang makan, kan?"

Nadia mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menahan emosinya yang mulai naik.

"Tenang, Nad. Area parkir belakang itu selalu sepi," Joko menjelaskan untuk menenangkan hati Nadia. "Paling banyak juga 1 atau 2 mobil. Apalagi kalau hari Jumat."

Setelah berhasil meredam emosinya Nadia menyanggupi permintaan tersebut. "Aku balik ke mejaku kalau sudah tidak ada permintaan apa-apa."

"Sampai saat ini saya cuma butuh celana dalammu," jawab Joko sambil mengintip ke dalam kantong plastik di tangannya. Kemudian ia mendongak dan menatap Nadia dalam-dalam.

"Apa?"

Joko tersenyum penuh kelicikan. "Saya kan masih perlu memastikan kalau kamu benar-benar menanggalkan celanamu."

"Aku tidak mau mengangkat rokku!" sanggah Nadia spontan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan ingin menunjukkan kekuatirannya kalau-kalau ada orang yang bisa melihat apa yang mereka berdua kerjakan.

"Sini mendekat."

Nadia dengan enggan melangkah mendekati lelaki paruh baya bertubuh kurus ini, sampai ia berdiri tepat di sampingnya. Joko yang tadinya duduk menghadap Nadia langsung memutar bangkunya sehingga mereka sama-sama menghadap ruangan besar kantor mereka.

Nadia berdiri tak bergeming menunggu aksi Joko. Walaupun sudah mengantisipasi apa yang akan terjadi, tubuh Nadia tetap terlonjak saat ia merasakan jari-jari Joko menyentuh paha bagian dalamnya. Joko menyelusupkan jari-jarinya dari belakang paha Nadia sambil pandangan mereka berdua menyapu ke sekeliling ruangan untuk memastikan tak ada seorangpun yang melihat.

Sentuhan itu bergerak perlahan naik menuju ke selangkangannya. Semakin dekat jari-jari Joko ke kemaluannya, otot-otot leher dan pinggul Nadia semakin mengencang. Tanpa melupakan radar yang ia pancarkan untuk mendeteksi orang yang melihat mereka, Nadia menggerak-gerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat karena lehernya kini sudah menjadi kaku yang menyebabkan dirinya tidak leluasa lagi untuk menoleh ke kiri atau ke kanan.

Setelah ujung-ujung jarinya menyentuh bulu-bulu halus di selangkangan Nadia sebenarnya Joko sudah diyakinkan bahwa Nadia telah menanggalkan celana dalamnya. Namun ia belum puas sebelum menancapkan jari-jarinya ke dalam liang kewanitaan Nadia.

Joko menekan jari tengahnya ke celung di selangkangan Nadia. Masih kering. Lalu ia mulai mengusap-usap dengan lembut kelopak bibir kemaluan Nadia menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, dengan harapan vagina Nadia meleleh basah sehingga memudahkan aksi pencelupan jarinya.

Setelah beberapa saat, dengan gerakan agak tergopoh, Nadia membuka pahanya sedikit lebih lebar. Joko tidak menyangka Nadia membuka pahanya tanpa diminta. "Mendengar suara nafasnya yang berat, saya tau dia udah horny sih," Joko membatin. "Tapi benar-benar nggak nyangka dia bakalan buka pahanya tanpa disuruh."

Joko melirik ke wajah Nadia. Dengan dada yang mengembang dan mengempis bergantian, Nadia menggigit bibirnya sehingga nafasnya yang berat itu keluar masuk hanya melalui hidungnya. Alisnya sedikit mengernyit dan kelopak matanya sedikit tertutup seperti orang yang sedang menahan kantuk.

"Sialan! Apa dia mau orang-orang kantor sampai tahu apa yang sedang ia perbuat??" jerit Nadia dalam hati.

Sesekali Joko menyelusupkan jari ke celah kemaluan Nadia untuk memastikan apakah lelehannya sudah merembes keluar. Dan terkadang Joko mengusap lingkaran di sekeliling kelentit Nadia untuk memberi setrum tambahan.

Bibir Nadia yang sejak tadi terkatup rapat tiba-tiba terbuka. Ia menghembuskan nafas panjang dan berat disertai dengan erangan yang nyaris tak terdengar. "Hhhhh…"

Tak lama setelah itu dapat terdengar suara decak becek dari selangkangan Nadia. Jari-jari Joko sudah memenangkan pertandingan dan cairan cinta Nadia merupakan imbalannya.

Serta merta jari-jari Joko mengeruk cairan yang seakan luber meluap dari dalam liang sanggama itu lalu mengolesinya ke sepanjang jari-jarinya. Berlimpahnya lelehan yang mengalir itu ditandai oleh suara berkecipak-kecipak di kemaluan Nadia.

Pandangan mata Nadia masih nanar saat Joko membuka suara. "Nad, kalau kamu nggak mau orang lain curiga," kata Joko tanpa menghentikan aksi jari-jarinya, "lebih baik kita pura-pura lagi ngomong tentang kerjaan."

Nadia menutup mulutnya yang sedikit terbuka itu. Diikuti dengan satu hembusan nafas berat melalui hidungnya, Nadia membungkukkan tubuhnya lalu mengambil kertas di meja Joko, berpura-pura hendak membahas sesuatu dengan Joko.

Jari-jari yang sudah basah itu terus menari-nari di bibir kemaluan Nadia, membuat dadanya kembang kempis mengikuti nafasnya yang semakin berat. Karena sudah licin oleh lelehan cinta, dengan mudahnya Joko menekan masuk jari tengahnya ke dalam celah lipatan kelopak vagina Nadia.

"Anhhhh…," secara refleks Nadia kembali membuka bibirnya, mengeluarkan lenguh lirih yang terdengar sangat erotis.

Joko menambahkan jari telunjuknya juga masuk ke liang kewanitaan Nadia lalu mulai mengocok-ngocok relung sempit itu. Kepalanya yang tertunduk, matanya yang terpejam, dahinya yang mengkerut serta tubuh bagian atasnya ditopang kedua tangan yang mengepal kuat di atas meja, memberi bukti kuat bahwa Nadia sedang bergumul untuk menahan gejolak birahi yang sudah tersulut.

"Ehem!" deham Joko terdengar dibuat-buat.

Nadia langsung membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat apa maksud isyarat Joko. Nadia heran karena tidak menemukan hal-hal yang patut diwaspadai.

Tujuan Joko bukanlah untuk memberi isyarat, melainkan ingin mengembalikan arwah Nadia yang seakan sedang terperangkap dalam dunia kenikmatan birahi. "Nad, kamu boleh saja sih menikmati semua ini. Tapi kalau kamu cuma berdiam-diam kaya gitu, orang-orang bisa curiga melihatnya," ujar Joko setengah berbisik. Jari telunjuk dan jari tengahnya itu kini meliak-liuk dengan gerakan seperti gerakan jari-jari yang sedang berjalan. "Ayo dong, ngomong sesuatu kek, diskusi mengenai apa kek, apa saja. Ayo."

"Mmmmhhh… hhhhh…," aksi jari-jari Joko membuat desah basah berulang kali keluar dari mulut yang Nadia katupkan rapat-rapat. Nadia masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendesah. Dan setelah beberapa saat akhirnya ia berhasil menjaga sikapnya menjadi lebih tenang.

"Baik, Pak Joko…," kalimat Nadia terhenti sejenak untuk menarik nafas dalam. "Untuk laporan… nhhh… laporannhh… laporan kwartal…"

Nadia masih belum berhasil menyelesaikan kalimat itu. Tiba-tiba tubuhnya tersengal maju ke depan. "Nghhh…," erangannya terdengar lebih seperti rengek manja.

Senyum lebar tak henti-hentinya menghias wajah Joko lantaran menahan tawa geli melihat Nadia yang terus berusaha menjaga sikapnya. "Laporan kwartal apa, Bu?" tanya Joko dibuat-buat sembari jarinya ia tekan ke G-Spot Nadia.

Istilah G-Spot diambil dari inisial nama Gräfenberg, seorang peneliti asal Jerman, yang mempelajari hubungan antara saluran kencing dan orgasme pada wanita. Dalam laporannya disebutkan bahwa rangsangan fisik di liang vagina bagian depan sepanjang saluran kencing, terutama di area terbawah kandung kemih, membuat wanita sangat terangsang birahinya. Ketika area ini dirangsang, gairah birahi timbul hampir secara spontan atau sangat cepat. Dan ketika dirangsang secara seksual di area ini, sebagian wanita dapat memproduksi cairan yang diklaim berbeda dengan air seni maupun cairan lubrikasi vagina dan secara kontroversi dimuncratkan dari saluran kencing (yang biasa dikenal dengan female ejaculation).

Kepala yang akhirnya tertunduk lunglai menjadi saksi bisu atas ketidakmampuan Nadia untuk menahan birahinya. Kepalan tangannya pun menjadi lebih kencang sampai buku-buku jarinya menjadi putih. Joko hampir yakin bahwa Nadia sedang mengalami orgasme mini.

Tak ada suara yang keluar dari mulut Nadia. Yang terdengar hanyalah suara kecipak basah dari bawah sana. Setelah sekian lama menahan gejolak dalam dirinya, Nadia menoleh ke Joko. "Pak, aku mohon… nhhh… stop…," lirih Nadia dengan kepala yang masih tertunduk.

Kedua jari Joko secara bergantian menekan-nekan G-Spot Nadia sampai akhirnya tubuh wanita itu bergelinjang-gelinjang kecil, masih tanpa adanya suara yang keluar dari mulut Nadia.

"Pak… mmmhhh… pleasehhhh…," suara desah Nadia bergetar.

Perlahan-lahan Joko menarik jari-jarinya keluar dari liang sanggama Nadia. Begitu jari-jari itu keluar sepenuhnya, tanpa menunggu lebih lama lagi Nadia langsung lari berhamburan keluar dari ruangan itu. Perhatian Joko jatuh pada jari-jarinya yang berlumuran lelehan lendir atasannya itu sehingga ia tidak menggubris Nadia yang pergi meninggalkannya.

Joko menggunakan sikunya untuk menopang kedua tangannya di atas meja. Dengan telapak tangan kirinya menutupi punggung tangan lainnya, Joko sembunyi-sembunyi menjilati lendir yang mulai menetes-netes dari jari-jari tangan kanannya.

Lima menit kemudian Nadia kembali masuk ke ruangan itu, bergegas langsung ke mejanya. Dari ekor matanya, Joko melihat Nadia berjalan tanpa berpaling ke arahnya. Ia memutuskan untuk membiarkan Nadia untuk beberapa waktu.

Tak terasa beberapa jam telah berlalu. Menjelang makan siang Joko menghampiri Nadia yang terlihat sejak tadi duduk dengan gelisah. Saat Joko menepuk pundaknya, Nadia terlonjak seakan baru saja mendengar mercon meledak di dekatnya.

"Aduh! Pak Joko! Jangan kagetin aku seperti itu dong!" omel Nadia.

"Lha, saya nggak berniat ngagetin kamu kok," bisik Joko sopan. "Saya lihat dari tadi kamu kayanya gelisah, karena itulah saya mampir ke sini."

"Aku baik-baik saja," jawab Nadia sedikit ketus. "Terima kasih atas perhatiannya."

"Oh, bagus. Kalau begitu saya mau minta tolong diambilkan teh hangat yah, Nad."

Nadia menghentikan apa yang sedang ia kerjakan. Ia terdiam untuk beberapa saat, seakan ragu apa yang harus ia kerjakan. Akhirnya dengan enggan ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ruang makan.

Setelah memastikan Nadia sudah menghilang masuk ke ruang makan, Joko langsung menghampiri kursi di hadapannya. Kursi berukuran besar itu dilapisi oleh kulit sintetis berwarna merah kehitaman. Bagian sandarannya berlapis busa empuk layaknya kursi-kursi para boss.

Joko memperhatikan area tempat Nadia duduk. Senyum lebar Joko kembali menghias wajah yang mulai dipenuhi oleh kerut-kerut penuaan. Dugaannya tepat!

Dengan perlahan namun sigap Joko berlutut di depan kursi Nadia. Jari-jari Joko mengusap-usap licin area yang berlumuran lendir itu. Joko mengangkat jari tengah dan telunjuknya sehingga dari jari-jari itu terjuntai lelehan lendir panjang.

Nadia masuk kembali ke ruangan itu dengan secangkir teh hangat di tangannya. Air muka yang memancarkan kedongkolan itu tiba-tiba berubah memancarkan keterkejutan begitu ia mendapati Joko sedang setengah berjongkok di depan kursinya.

"Sial! Ternyata dia melihat kursiku!" umpat Nadia dalam hati.

Langkah kakinya yang berat sama sekali tidak membantu Nadia untuk menghilangkan rasa cemas dan malu dalam dirinya. Sesampainya di sana Nadia segera meletakkan cangkir berisi teh itu di atas meja, berpura-pura tidak menghiraukan apa yang sedang Joko lakukan pada kursinya.

"Ini teh yang Bapak minta."

Masih dalam posisi setengah berlutut Joko menoleh dan menatap mata Nadia. Jari-jarinya basah meliak-liuk saling melumuri satu dengan yang lainnya. Mau tidak mau pandangan Nadia jatuh pada jari-jari Joko yang basah itu.

"Kamu tau apa ini, Nad?" tanya Joko sambil bangkit berdiri, mengacuhkan teh yang dihidangkan Nadia.

"Pak, jangan diangkat tinggi-tinggi dong. Nanti terlihat oleh yang lain," bisikan Nadia terdengar penuh desakan, ditambah dengan tangannya yang memaksa turun tangan Joko.

"Jadi…, kamu tau apa ini?"

Nadia menggigit-gigit bibir bawahnya. Terpancar dari raut wajahnya ketidakinginan untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya telah Joko ketahui jawabannya.

"Jawab dong."

"Iya, iya! Itu cairanku. Puas?" jawab Nadia ketus masih setengah berbisik.

"Lho, saya kan cuma tanya kamu tau atau nggak," Joko mencibir.

Joko mengecup jari telunjuknya yang basah oleh lelehan Nadia sebelum bertanya, "Lalu, kamu tau apa artinya kalau seorang wanita mengeluarkan cairan ini?"

"Tahu."

"Apa artinya?"

Nadia semakin kesal dengan pertanyaan-pertanyaan konyol Joko. "Artinya perempuan itu terangsang," jawabnya singkat.

"Hahahaha!" suara bahak Joko membuat Irfan dan Rini menengok ke arah mereka.

"Sssstt! Jangan keras-keras!" bisik Nadia.

"Hehehe, jawabanmu itu lho, Nad, to-the-point banget," kekeh Joko.

Nadia semakin gelisah melihat Irfan dan Rini yang memandangi mereka dengan penuh tanya. Menyadari bahwa Joko tidak akan melepaskan dirinya, Nadia memutuskan untuk melanjutkan percakapan ini di meja Joko yang lebih terpencil dibanding mejanya.

"Kita lanjutkan percakapan ini di meja Bapak," ucap Nadia dengan nada memerintah.

Tanpa menunggu persetujuan Joko, Nadia sudah berjalan menuju meja Joko. Joko memandangi pinggul Nadia yang berayun dengan sensual ke kanan dan ke kiri semakin lama semakin menjauh darinya, sambil membayangkan kemaluan Nadia yang tak bercelana dalam. Ia akhirnya menyusul Nadia.

Joko melihat Nadia berdiri di belakang mejanya sambil berpura-pura meneliti berkas-berkas di atas meja itu. Joko memutuskan untuk mengikuti permainan sandiwara Nadia. Ia mengitari Nadia dan langsung duduk di kursinya.

"Kamu mau tau apa artinya menurut saya?" suara Joko terdengar lebih berat dan dalam. Butuh beberapa detik untuk Nadia menyadari bahwa Joko masih merujuk pada pertanyaannya tadi mengenai cairan yang keluar dari vaginanya.

Tubuh Nadia sontak terlonjak maju saat ia merasakan jari-jari Joko menyelinap licin dengan mudahnya masuk ke dalam liang vaginanya. "Ah!" pekiknya lemah.

Nadia memejamkan matanya saat jari-jari berbonggol itu memulai aksinya keluar masuk kemaluannya. Suara berkecipak kembali terdengar oleh telinga mereka berdua. Ia menggigit kedua bibirnya untuk menahan suara desah yang keluar dari mulutnya. Usahanya ini pun ditandai oleh kernyit di dahinya yang tak kunjung pudar.

"Kalau seorang wanita mengeluarkan cairan ini," Joko memutar-mutar jari-jarinya yang masih berada di dalam vagina Nadia sebelum melanjutkan penjelasannya, "artinya tubuhnya sudah siap untuk disetubuhi."

Mendengar penjelasan Joko, Nadia tiba-tiba merasa seakan ada gelombang hangat yang masuk melalui selangkangannya, mengalir dan menyebar ke sekujur badannya. Dan secara tiba-tiba pula jari-jari Joko ditarik keluar dari tubuhnya.

"Brengsek! Dia sengaja ingin menyiksaku!" umpat Nadia dalam hati. Ada bagian dari dirinya yang berharap jari-jari itu tidak keluar dari kemaluannya.

Perlahan-lahan Nadia membuka matanya sayu. Bibirnya mengelopak terbuka dan mengeluarkan hembusan panjang dari dalam dadanya. Pandangannya masih nanar dan kosong, sampai tiba-tiba sosok di hadapannya menjadi semakin jelas.

Matanya terbelalak saat ia sadar sosok yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua tak lain adalah Pak Ardi, managernya. Dengan secepat kilat Nadia meluruskan posisi berdirinya, merapihkan rok pendek yang ia kenakan, lalu mengambil secara asal lembaran-lembaran dari meja Joko.

"Terima kasih atas laporannya, Pak Joko," ucap Nadia tidak peduli lagi pada Joko yang saat itu sedang berpura-pura menulis sesuatu di kertas. Rupanya Joko sudah melihat Pak Ardi datang menghampiri mereka sehingga ia cepat-cepat menarik tangannya dari selangkangan Nadia.

Melihat wajah Pak Ardi yang seperti baru saja melihat hantu, Nadia dapat mengira-ngira apa yang baru saja beliau lihat. Otaknya segera berpikir keras agar ia dapat keluar dari permasalahan yang mungkin terjadi. Dengan langkah pasti, Nadia menghampiri Pak Ardi.

"Pak Ardi mencari aku?"

"Ah, a-a-anu…," mata Pak Ardi berkejap-kejap karena tidak berhasil menemukan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Otaknya malah mendaftar hal-hal yang membuat Nadia terlihat begitu cantik menggoda hari ini: bibirnya yang penuh dan merah merekah, dadanya yang terbungkus ketat oleh kemeja putih, pinggulnya yang gemulai, pahanya yang putih mulus, betisnya yang jenjang, ditambah lagi dengan rona merah di pipi dan lehernya seperti wanita yang baru saja selesai bersanggama.

"Iya, aku menelpon mejamu tapi tidak dijawab," jawab Pak Ardi cepat-cepat.

"Oh, aku sedang mencari laporan kwartal terakhir tahun lalu di tempat Pak Joko," dusta Nadia.

Pak Ardi melirik curiga ke arah Joko, lalu kembali menatap Nadia. "Hmmm… Baiklah," lanjutnya.

Nadia berdiri mematung menunggui Pak Ardi. Tanpa ada yang tahu selain oleh dirinya sendiri, lelehan dari vagina Nadia mulai mengalir turun perlahan ke paha bagian dalamnya.

Pak Ardi tampak bingung mendapati mereka berdua memandanginya. Matanya bolak-balik melirik ke Nadia lalu ke Joko bergantian.

"Kenapa?" pertanyaan Pak Ardi lebih ditujukan ke mereka berdua walaupun wajahnya menghadap ke Nadia.

"Oh, tadi Bapak kan bilang Bapak mencari aku. Ada perlu apa?"

"Oooohhh…. Hahahaha…," perutnya yang besar itu berguncang-guncang.

Gelak tawa Pak Ardi tiba-tiba terinterupsi begitu ia kembali mencoba mengingat apa alasan dia mencari Nadia.

"A-anu… aku udah lupa jadinya," cengiran Pak Ardi tampak kikuk setelah ia berusaha keras untuk menelusuri ingatannya.

Mengingat lendir yang meleleh di pahanya semakin lama semakin turun, Nadia melihat ini sebagai kesempatan yang baik untuk kabur dari sana. "Baiklah kalau begitu. Aku kembali ke mejaku untuk melanjutkan laporanku," katanya tegas.

Meninggalkan Pak Ardi yang masih termenung berdiri di depan meja Joko, Nadia melangkahkan kakinya sambil berharap agar cairannya tidak meleleh lebih jauh lagi.

Belum lagi sampai ke mejanya, Nadia mendengar Pak Ardi berseru, "Ah, aku ingat sekarang!"

Nadia berhenti dan menoleh ke Pak Ardi. "Oh, bukan," jelas Pak Ardi yang menatap Nadia. "Aku ternyata bukan mencari kamu, Nadia. Aku butuh berkas laporan dari Pak Joko. Hahaha… Ya, kamu boleh lanjutkan kerjaanmu, Nad."

Suara kekeh Pak Ardi masih terdengar samar-samar saat Nadia sampai di mejanya. Nadia lekas-lekas duduk. Lalu dengan gerakan yang tak kentara ia memeriksa pahanya.

Menggunakan tangan kanannya, Nadia meraba paha bagian dalamnya. Ia tidak mendapati cairan apa-apa. "Aneh," pikirnya, "aku kira sudah meleleh ke bawah."

Ia merogoh selangkangannya jauh lebih dalam dan saat ibu jarinya hampir mencapai ke pangkal paha, barulah ia mendapati lelehannya. Rabaan yang tadinya terasa halus berubah menjadi licin oleh lendir itu.

"Hmmm… ternyata masih jauh di atas. Mungkin tadi itu semua hanya perasaanku saja," Nadia bergumam pada dirinya sendiri.

Setelah makan siang Pak Ardi terus menerus mendatangi Joko sehingga sisa hari itu dilewati Nadia tanpa adanya perintah tambahan dari Joko. Walau demikian sore itu boleh dibilang bukanlah sore yang tenang buat Nadia. Birahinya sudah terlanjur tersulut dan terus berkobar bahkan sampai waktu jam pulang kantor.

Nadia sudah merelakan celana dalamnya yang masih disimpan Joko. Ia malah lebih memikirkan untuk berendam air hangat di bathtub malam ini. Sebenarnya ia merasa enggan mengingat harus melewati dua malam ini tanpa adanya Yusdi. Terlebih lagi kala ia memikirkan apa yang akan terjadi esok bersama Joko. Membayangkan dirinya bersetubuh dengan Joko di dalam mobilnya membuat Nadia bergidik.

Nadia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya bangkit dari kursi. Saat merapatkan kursi itu ke meja, ia melihat banyaknya cairan lendir yang membasahi kursi itu.

Dari dalam tasnya ia mengeluarkan tissue untuk menyeka kursinya. Setelah membuang tissue itu ke tong sampah di dekat mejanya, Nadia berjalan meninggalkan ruangan menuju ke tempat parkir.

Berjalan tanpa mengenakan celana dalam memberi Nadia sensasi tersendiri. Terlebih lagi cairan cinta yang meleleh keluar itu membuat gesekan-gesekan dinding vaginanya terasa licin dan sexy. Nadia menggigit bibir bawahnya untuk meredam birahi yang masih saja bergejolak.

"Ah, persetan dengan Joko!" Nadia menepis bayangan Joko mencumbu dirinya di dalam mobilnya. "Malam ini aku mau menikmati berendam air hangat dengan tenang."

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 7
Baca cerita sebelumnya « Bagian 5