Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Apr 18, 2007

Di Saat Istri Tertidur (bagian satu)

Istri Tertidur
Ringkasan: Atas ijin Krisna, Lilo mempergunakan istri Krisna yang sedang tertidur sebagai bahan berfantasi seks. Namun keadaan menjadi berbeda saat di lapangan.
Kode Cerita: gang, mastrb, mult, non-con, voy
Tokoh: (lihat/tutup...)
* Krisna: Pencerita
* Sandra: Istri Krisna
* Lilo: Teman Krisna


===
Cerita ini adalah hasil terjemahan bebas dari salah satu cerita favorit saya.
===

Di Saat Istri Tertidur (bagian satu)
translated by: VVN

Sebuah insiden terjadi beberapa malam yang lalu. Insiden yang tidak disengaja - yang membangunkan sesuatu yang tanpa kusadari telah ada di dalam diriku. Kamis malam kemarin, temanku Lilo mampir untuk mengobrol, minum dan nonton TV di rumahku. Lilo bekerja di kantor yang sama denganku. Hari Jumat besok adalah hari libur sehingga akhir minggu kali ini kami mempunyai 3 hari libur (Jumat - Minggu). Karena itulah kami tidak terburu-buru menghabiskan malam itu. Berbeda dengan istriku, Sandra; ia harus bekerja besok. Dan karena tidak suka tidur larut malam, ia pergi tidur sekitar jam 10:30 malam. Sandra adalah orang yang sangat lelap saat tertidur. Beberapa kali aku pernah mencoba mengguncang-guncangkan bahunya untuk membangunkannya, namun selalu gagal. Ia terus saja tertidur.

Setelah Sandra pergi tidur, aku dan Lilo duduk di ruang tamu dan menonton DVD porno yang sengaja kami beli. Selain itu Sandra juga tidak pernah suka menonton film-film seperti itu.

Setelah beberapa adegan, Lilo berkata, “Wah, pasti enak yah kalo punya cewe untuk diajak ngeseks! Udah lama banget nih, gue kagak begituan!”

Aku sedikit kaget mendengar komentarnya. Lilo bukanlah pria yang buruk rupa. Dengan tinggi 175 cm dan berat sekitar 70 kg, aku malah menduga ia mempunyai banyak teman wanita.

“Emangnya elu lagi ga jalan sama siapa-siapa, Lo?” tanyaku.

“Kagak. Sejak Bunga putus sama gue 2 taon yang lalu, gue agak malu untuk ngajak cewe jalan,” jawabnya.

Kami mengobrol tentang Bunga yang ternyata tidak serius dengan Lilo. Setelah beberapa botol bir dan beberapa adegan dari film porno yang kami tonton, Lilo bangkit berdiri untuk pergi buang air kecil.

Aku tetap duduk dan menonton adegan-adegan di layar televisi untuk beberapa saat dan baru menyadari bahwa Lilo setelah cukup lama pergi kencing belum juga kembali. Aku berdiri dan menghampiri WC untuk memeriksa apakah ia baik-baik saja. Saat aku berada pada jarak yang cukup dekat dengan WC, aku melihat pintu WC itu terbuka. Aku masuk ke WC dan mendapati Lilo berdiri di pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Ia terlompat kaget melihat aku masuk.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

“Wah, sorry banget nih,” katanya. “Waktu gue masuk, pintu ini memang udah terbuka kok. Dan pas gue mau keluar, gue ngliat dia terbaring seperti itu.”

Aku berjalan mendekati tempat Lilo berdiri dan melihat ke arah kamar tidurku. Sandra terbaring menyamping sehingga punggungnya menghadap ke arah kami dengan kaki yang sedikit tertekuk. Sandra tidur dengan mengenakan daster panjang namun bagian bawahnya tersingkap sampai ke pinggul sehingga menampakkan bulatan pantat yang halus, mulus dan terlihat tidak mengenakan celana dalam. Pundaknya sedikit tertarik ke belakang sehingga memperlihatkan kami sisi bukit dadanya dan tonjolan puting susunya dari balik daster yang sedikit tembus pandang.

Ia terlihat sangat seksi terbaring seperti itu dengan remang-remang cahaya dari WC. Bibirnya sedikit terbuka dan rambutnya yang panjang terhampar di atas bantal. Dengan posisi tubuh seperti itu, Sandra seakan sedang berpose untuk pemotretan majalah dewasa.

“Gila! Cakep banget!” kata Lilo sambil menahan nafas. “Gue mau disuruh apa aja untuk mendapatkan cewe seperti dia, Kris.”

Pada awalnya aku sedikit kesal mendengar perkataan Lilo. Namun pada saat yang bersamaan, melihat Lilo memandang istriku seperti itu tanpa sepengetahuan Sandra, justru membuat diriku terangsang.

“Aduh, sorry nih, Kris. Gue rasa udah waktunya buat gue untuk pulang,” kata Lilo berbalik badan untuk keluar.

“Eh, tunggu, Lo,” kataku. “Ayo masuk ke sini sebentar aja. Tapi jalannya pelan-pelan, oke?”

“Ha?! Elu mau gue masuk ke kamar elu?”

“Kalo cuma lihat doang mah ga ada yang dirugikan, kan? Tapi kita engga boleh buat dia terbangun, oke?”

Bahkan diriku sendiri tidak percaya apa yang baru saja aku katakan. Aku mengijinkan pria lain masuk ke kamar tidurku sehingga ia dapat memandangi istriku yang tergolek dalam keadaan ‘setengah’ telanjang. Aku pun masih tidak yakin apa dan sejauh apa yang akan aku lakukan berikutnya.

Saat kami berjingkat memasuki kamar, aku mendorong Lilo untuk mendekat ke samping ranjang. Bahkan Lilo sendiri terlihat tidak yakin. Pandangannya berpindah-pindah antara aku dan Sandra. Semakin mendekat ke ranjang, pandangannya lebih terpaku pada tubuh Sandra. Sandra terbaring di pinggir ranjang di sisi tempat kami berdiri dan semakin kami mendekat, kedua bukit payudaranya semakin jelas terlihat.

Puting susunya dapat terlihat dari balik dasternya yang tipis. Walau bagian bawah dasternya sudah naik tersingkap namun kami belum dapat melihat bibir vaginanya karena masih tertutup oleh pahanya.

Dengan cengiran lebar, aku hanya berdiri di sana memandangi Lilo dan istriku bergantian. Mulut Lilo menganga sementara ia memandangi istriku dengan takjub dan kagum.

“Gila, Kris. Seksi banget sih! Gue ga percaya elu kasih gue liat bini elu dalam kondisi begini!”

Dengan hati-hati aku meraih tali daster Sandra dan menariknya melewati pundaknya turun ke lengan sehingga bagian atas dasternya tersingkap dan memperlihatkan lebih banyak lagi bagian payudaranya. Gerakanku terhenti saat kain bagian atas daster itu tertahan oleh puting Sandra.

“Mau lihat lebih banyak?” aku berbisik.

“I-iyah!” Lilo berbisik balik.

Dengan sangat lembut aku mencoba untuk menurunkan tali daster itu lagi namun puting susunya tetap menahan kain itu sehingga tidak dapat tersingkap lebih jauh. Aku menyelipkan jari-jariku ke bawah daster tersebut lalu dengan hati-hati mengangkatnya sedikit melewati puting Sandra. Lilo menahan nafasnya tanpa bersuara.

Sekarang payudara kirinya sudah terbuka. Putingnya yang sangat halus dan berwarna merah muda itu berdiri tegang karena mendapat rangsangan dari gesekan kain dasternya tadi. Lalu aku meraih tali dasternya yang lain dan meloloskannya dari pundak kanan Sandra. Dengan lembut aku menarik kain daster itu melewati puting sebelah kanannya. Kini kami dapat melihat kedua payudara Sandra tanpa ditutupi benang sehelaipun. Aku membiarkan kedua tali dasternya menggelantung di lengan dekat sikunya karena aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau istriku terbangun.

Lilo masih berdiri di sampingku. Dan dengan mulut yang terus ternganga ia menatapi payudara dan pantat Sandra yang padat berisi. Sesekali Lilo mengusap-usap tonjolan di selakangannya walau ia berusaha agar aku tidak melihatnya. Penisku sendiri sudah membesar dan berusaha memberontak keluar dari celana jeans yang kupakai. Aku terangsang bukan hanya karena melihat tubuh istriku namun juga karena apa yang sedang kuperbuat.

“Jadi, bagaimana menurut elu?” aku berbisik lagi.

“Gila, man! Gue masih ga percaya elu berbuat ini untuk gue! Dia cantik banget! Gue sih cuma berharap…,” jawabnya sambil mengusap tonjolan penisnya sendiri.

Aku berpikir sejenak, “Bagaimana kalau sampai ia terbangun…? Tapi…, aku memang ingin mencobanya.”

Aku menarik Lilo semakin mendekat ke ranjang lalu aku menunjuk ke payudara istriku.

“Ayo, pegang susunya. Tapi harus dengan lembut, oke? Gue nggak mau ambil resiko nih.”

Mata Lilo terbuka lebar sekali. Lalu ia mendekatkan dirinya ke tepi ranjang. Ia membungkuk sedikit dan menjulurkan tangan kirinya untuk meraih bulatan payudara istriku. Tangannya sedikit bergetar dan tangan kanannya ditekankan di selangkangannya seakan digunakannya sebagai penopang. Tapi aku tahu apa yang sebenarnya ia lakukan.

Jari-jari itu dijulurkan makin lama semakin mendekat, sampai akhirnya ujung jari itu menyentuh kulit payudara Sandra tepat di bawah areola. Dengan hati-hati Lilo meletakkan ibu jarinya di bagian bawah payudara Sandra sebelum akhirnya ia geser perlahan-lahan naik ke puting susu tersebut.

Sandra tidak bergerak. Saat ibu jarinya mencapai bagian areola, Lilo menggerakkan telunjuknya melingkari puting Sandra dengan lembut.

Aku kenal Sandra dari sekolah. Sejak saat itu kami berpacaran dan akhirnya menikah. Dan sepengetahuanku, tidak pernah ada pria lain yang pernah melihat tubuh Sandra sampai sejauh ini apalagi menyentuhnya.

Lalu Lilo mulai meraba payudara itu dengan sangat lembut dari yang satu berpindah ke payudara yang lain. Sandra masih tak bergerak dalam tidurnya walaupun nafasnya terlihat jadi lebih cepat. Lilo menjadi semakin berani dan dengan menambahkan sedikit tenaga, ia meremas payudara Sandra.

Lilo sudah tidak menutup-nutupi usahanya untuk mengusap-usap penisnya. Tampaknya ia berniat untuk menyemprotkan spermanya di dalam celananya. Namun aku masih belum puas untuk membiarkan semua ini berakhir saat itu, jadi aku menyuruhnya mundur sejenak, sementara aku melepaskan tali-tali daster itu dari lengan Sandra.

Aku menarik turun daster itu sejauh mungkin, tanpa harus menariknya secara paksa. Akhirnya aku berhasil membuka tubuh bagian atas Sandra sampai pada bagian bawah tulang rusuknya. Lalu aku bergerak ke bagian pinggulnya. Dengan hati-hati aku menarik daster yang menutupi bagian bawah pantatnya lalu melepaskan daster itu dari kakinya yang tertekuk. Dengan demikian aku dapat melihat seluruh bulatan pantatnya dan sebagian dari bibir vaginanya dengan leluasa.

Lilo masih belum bisa melihatnya dari tempat ia berdiri saat ini. Lalu aku mendengar ia melakukan sesuatu di belakangku. Dan begitu berbalik badan, aku mendapati celana jeans Lilo sudah turun sebatas paha sehingga ia dapat leluasa mengocok penisnya. Aku berbalik ke Sandra untuk meluruskan kaki kirinya.

Hal ini membuat bulu-bulu halus kemaluannya dapat terlihat bahkan sampai hampir ke bibir vaginanya. Sambil bermasturbasi, Lilo melongokkan badannya melewati bahuku untuk melihat tubuh Sandra lebih jelas. Aku menarik kaki kiri Sandra dengan lembut sehingga kini tubuhnya berbaring terlentang menghadap ke atas dan memperlihatkan seluruh tubuhnya secara frontal.

“Wahhhh, gila, man!” Lilo berbisik dan mulai mengocok penisnya lebih cepat.

“Jangan cepet-cepet, brur,” aku memperingatkan dia. “Elu mau pegang memeknya sebelum elu klimaks, kan?”

Sontak Lilo berhenti mengocok dan menatapku dengan pandangan seperti anak kecil yang dihadiahi sepeda baru.

“Mantap, man! Elu kasih gue…, ahhh, mantap, man!"

Penisnya yang berada di genggaman tangan kanannya dipindahkan ke tangan kiri. Ia tidak mengocok penisnya. Lalu dengan tangan kanannya, yang sedari tadi digunakan untuk mengocok penisnya, Lilo menyentuh bulu-bulu kemaluan Sandra dengan perlahan.

Dengan jemarinya Lilo mulai membelai bulu-bulu kemaluan Sandra, namun belum sampai ke bibir vaginanya. Sandra masih terlelap namun begitu Lilo mengusap-usap kemaluannya, nafas Sandra semakin bertambah cepat. Setelah itu dengan menggunakan jari tengah dan telunjuknya, Lilo mengusap turun sepanjang bibir vagina Sandra lalu mengusap naik lagi sambil menaruh jari tengahnya di antara bibir kemaluan tersebut. Begitu ia menarik tangannya ke atas, jari tengahnya membuka bibir vagina itu dan wangi harum vagina Sandra mulai memenuhi kamar.

“Gilaaaaa, man!” desah Lilo sambil menarik ke atas jari-jarinya yang sudah masuk sedikit ke dalam liang kewanitaan istriku.

Saat jari Lilo menyentuh klitorisnya, tubuh Sandra sedikit tersentak, lalu ia mendesah dengan suara yang nyaris tak terdengar. Melihat hal ini Lilo segera menarik tangannya.

Kami berdua diam tak bergerak untuk beberapa saat. Aku dapat melihat istriku masih terlelap, namun aku tidak yakin apakah semua ini dapat membuatnya terbangun atau tidak. Lilo menatap wajahku. Aku menganggukkan kepalaku memberi isyarat bahwa ia boleh melanjutkan permainan ini.

Karena vagina Sandra masih kering, Lilo berniat untuk menggunakan cairan pelumas alami yang keluar dari penisnya. Dengan menggunakan tangan kirinya, Lilo mengocok penisnya sampai cairan pelumasnya menyembul keluar. Lilo menyapu cairan yang keluar membasahi kepala penisnya dengan jari tengahnya. Cairan tersebut ia oleskan ke bibir vagina Sandra lalu membalurnya ke sekujur kemaluan Sandra dengan lembut. Kadang ia membuka bibir vagina Sandra dengan jari tengahnya. Sesekali Sandra tanpa sadar menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Melihat hal tersebut, ditambah dengan desahan lembut yang keluar dari mulut Sandra, Lilo mulai mengocok penisnya lagi. Lalu tiba-tiba sebuah ide timbul dalam pikiranku.

Dengan hati-hati aku menarik kaki kiri Sandra keluar dari ranjang sehingga posisi vaginanya berada tak jauh dari ujung ranjang, namun masih cukup jauh bagi Lilo untuk bisa melakukan penetrasi. Penis Lilo tidaklah sepanjang itu dan lagipula aku ragu penetrasi penis Lilo tidak membuat istriku terbangun. Selain itu aku juga tidak yakin apakah aku ingin Lilo menyetubuhi istriku, karena hal ini masih baru buatku.

“Lo, ke sini deh,” aku berbisik sambil menarik lengannya. “Elu berdiri di antara pahanya. Dari sini elu bisa lebih leluasa mengusap-usap memeknya sambil ngocok. Tapi jangan ngentotin dia, ya? Elu denger, nggak?”

Lilo mengangguk-angguk penuh keyakinan dan segera pindah ke antara kedua paha Sandra. Lilo mengusap-usap vagina Sandra dengan tangan kirinya dan mengocok penisnya dengan tangan kanan.

Lilo menempatkan tubuhnya sedekat mungkin dengan tubuh Sandra. Penis Lilo hampir sejajar tingginya dengan vagina Sandra dan berjarak sekitar 10 cm sementara ia mengocok penisnya dengan penuh nafsu. Dengan menggunakan ibu jarinya untuk mengusap-usap vagina Sandra, Lilo mendapatkan beberapa cm tambahan lebih mendekat lagi ke tubuh Sandra, sampai jarak antara penis dan vagina Sandra kurang dari 1½ cm.

Pinggul Sandra masih sesekali menggeliat-geliat dan terlihat semakin gencar seakan sedang mencari-cari batang penis yang dapat dilahapnya. Tiba-tiba dalam satu gerakannya menggeliat ke bawah, kepala penis Lilo menggesek sepanjang bibir kemaluan istriku, dari bawah sampai ke atas. Langsung saja Lilo meledak dan berejakulasi.

Spermanya menyembur ke mana-mana dan sebagian besar tersemprot ke bibir vagina Sandra. Pada setiap semprotan, Lilo melenguh dan beberapa kali dengan ‘tanpa disengaja” menorehkan kepala penisnya ke bagian atas bibir vagina istriku. Dilihat dari banyaknya sperma yang dikeluarkannya, Lilo pasti sudah lama tidak berejakulasi.

Selesai klimaksnya reda, Lilo mengurut penisnya untuk mengeluarkan lelehan sperma yang masih tersisa di saluran penisnya. Ia membiarkan lelehan itu menetes ke bibir vagina Sandra yang sedikit terbuka. Dan saat mengalir ke bawah, terlihat lelehan itu meresap masuk ke vagina Sandra. Lelehan sperma Lilo lenyap begitu saja seakan diteguk vagina istriku.

Lilo memandangku dan berbisik, “Gilaaaa, man! Gue ga tau cara berterima kasih sama elu, Kris!”

Aku tersenyum kepadanya dan memapahnya mundur secara ia telah selesai dengan urusannya.

Sekarang saatnya giliranku. Aku berdiri di antara kaki Sandra lalu melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku.

“Lilo, elu keluar sebentar deh. Gue mau coba tarik badannya lebih ke luar supaya gue bisa ngentotin dia dari pinggir ranjang,” aku berbisik dengan lebih kencang.

Lilo menurut dan berjalan menuju pintu kamar. Kalau-kalau istriku terbangun, aku tidak mau ia melihat Lilo juga berada di dalam kamar.

Aku menarik tubuhnya sampai pantat sebelah kirinya menggantung di pinggir ranjang. Selama itu Sandra tidak terbangun sama sekali, namun nafasnya masih berat dan dari vaginanya keluar cairan cintanya yang bercampur dengan sperma Lilo.

Lalu aku menyuruh Lilo masuk ke kamar lagi untuk membantuku dengan menyangga kaki dan pantat kiri Sandra sehingga tanganku dapat kugunakan dengan bebas. Lilo meraih kaki kiri Sandra dengan tangan kirinya lalu dengan tangan kanannya ia menopang pantat Sandra. Aku melihat ia meremas-remas pantat istriku saat ia mencoba menopangnya. Dan aku mulai menggesek-gesekkan penisku naik dan turun ke bibir vaginanya yang sudah basah.

Vaginanya amat sangat basah. Cairan vagina yang bercampur dengan sperma Lilo membuat liang kewanitaan Sandra menjadi sangaaaat licin. Aku bahkan sudah hampir klimaks hanya dengan mengoles-oleskan kepala penisku ke bibir vagina Sandra. Tak dapat menunggu lebih lama lagi, aku dengan lembut menyusupkan batang penisku ke dalam liang kemaluan Sandra yang terasa panas.

Walau sudah sangat basah namun liang vagina Sandra masih sangat sempit secara Lilo tidak sempat melakukan penetrasi. Walau demikian penisku dapat menembus masuk dengan mudah. Segera saja aku memompa vagina Sandra. Setelah tak lebih dari 15 pompaan maju mundur, Sandra mengalami orgasme dalam tidurnya!!! Otot-otot dinding vaginanya berkedut-kedut seakan memijiti batang penisku yang sudah sangat sensitif. Dengan gemilang orgasme Sandra memicu orgasmeku. Tubuhku mulai menyemburkan lelehan benih-benih birahi masuk ke dalam vaginanya dan setiap muncratan seakan tersembur langsung dari buah zakarku. Sandra mengerang-erang dalam tiap desahannya dan begitu pula aku.

Lilo berkata, “Gila, maaaan!” namun kali ini ia tidak berbisik. Hal ini tidak menjadi masalah karena Sandra tidak terbangun sedikitpun selama kami menggarap tubuhnya.

Ketika aku menarik penisku, Lilo menaruh pantat dan kaki Sandra kembali ke ranjang. Lalu ia menunduk dan mengecup puting susu Sandra dan menyedotnya sebelum kembali menegakkan badannya.

Aku sudah terlalu lemas untuk berkomentar dan akhirnya aku hanya menarik tangannya untuk keluar kamar.

Saat aku berjalan mengantarnya ke luar rumah, Lilo tak habis-habisnya berterima kasih kepadaku. Aku melambaikan tangan melepas kepergiannya, lalu mengunci pintu.

Aku masuk ke kamar, berbaring di samping Sandra dan langsung terlelap begitu saja.

Keesokan harinya, Sandra membangunkanku dengan ciuman di telingaku.

“Elu ga bakalan percaya apa yang gue mimpiin kemarin malam!” katanya membuka pembicaraan.

“Gue mimpi ada banyak tangan yang meraba-raba badan gue. Ngomong-ngomong, kemarin malam kita ngapa-ngapain ga, yah?”

Aku baru teringat kalau aku tidak sempat membersihkan sperma yang tercecer di tubuhnya dan di ranjang sebelum beranjak tidur kemarin.

“Eeehhh…, iya lah. Memangnya elu engga ingat apa-apa?”

“Yaah…, gue ga tau yah. Semuanya kaya dalam mimpi gitu. Mungkin gue setengah tidur kali. Tapi yang pasti asyik deh. Bagaimana? Apa elu berniat untuk melakukannya sekali lagi sekarang selagi gue ga ketiduran?”

Pikiranku melayang ke kejadian kemarin malam…, “Hmmmm, bagaimana yah? Menurut elu bagaimana?” aku tersenyum.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 2








1 comment: