Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Nov 16, 2007

Santi & Novi: Berusaha Menaklukkan Novi

Santi & Novi
Ringkasan: Novi menjaga keponakannya selama Santi pergi ke luar kota. Di hari pertama Novi menghadapi kejadian yang sangat mengejutkan.
Kode Cerita: Blkm, dru, inc, oral, swing
Tokoh: (lihat/tutup...)
* Novi: Adik Santi
* Santi: Kakak Novi
* Ferry: Suami Novi
* Tomy: Suami Santi
* Kirani: Anak putri Santi & Tomy
* Hermanto: Rekan kerja Santi


Berusaha Menaklukkan Novi
by: VVN

Novi berpikir keras apa yang harus ia kerjakan sekarang agar Ferry tidak curiga sedikitpun atas apa yang baru saja berlalu. Santi, kakak kandungnya sendiri, menggantikan posisinya sebagai istri Ferry dalam melayani suaminya secara badaniah. Memang saat itu mata Ferry ditutup oleh kain hitam dan kedua telinganya ditutup dengan headphone yang mengalunkan musik instrumental klasik. Namun Novi terus mencari kemungkinan celah bobolnya rahasia ini.

Novi masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar lalu membuka keran air di wastafel. Ia menadahkan air di tangannya lalu berkumur beberapa kali. Setelah itu Novi keluar menghampiri suaminya yang duduk terkulai lemas setelah seluruh energi keperkasaannya disedot Santi.

Novi melepaskan headphone dari kepala Ferry lalu membuka ikatan kain hitam yang menutup kedua matanya. Kedua mata Ferry terpejam dan Novi melihat beberapa kerutan di antara alis matanya. Raut wajahnya terlihat begitu lepas walau masih terbesit sedikit kelelahan juga.

Saat bibir Novi menyentuh bibirnya, Ferry membuka matanya. Karena sekian lama matanya tertutup gelap, Ferry harus memicingkan matanya saat cahaya kamar yang terang menghujani kornea matanya. Matanya berkedip-kedip beberapa saat. Setelah dapat melihat dengan normal, Ferry melepaskan ciumannya dengan Novi.

"Wah, Nov. Aku ngga nyangka kamu bisa melakukannya. Bukan hanya itu, bahkan melakukan dengan mahir."

Hati Novi menjadi kecewa karena ia tahu kepuasan seks yang baru saja didapat suaminya berasal dari Santi, bukan dari dirinya. Namun demikian Novi mencoba untuk tersenyum lalu melingkarkan kedua lengannya di leher suaminya.

"Aku masih harus belajar banyak," kata Novi tidak ingin berdusta.

"Ah, omong kosong. Dengan kemahiran seperti itu aku tidak yakin apakah kamu perlu belajar lagi," Ferry berkata sambil menempelkan hidungnya dengan hidung Novi.

"Kamu bisa aja deh, Fer."

"Tapi aku jadi ingin tahu...," Ferry menghentikan kalimatnya.

Ferry sebenarnya ingin menanyakan dari mana Novi belajar melakukan oral seks. Karena dari sepengetahuannya, sejak pertama kali mengenal Novi di SMA, Novi termasuk gadis alim. Novi termasuk murid berprestasi karena selain pintar ia juga rajin. Walau memakai kacamata, kecantikan Novi tidak dapat ditutupi. Banyak teman laki-lakinya yang mengejarnya. Singkat kata, Novi adalah primadona sekolah.

Walaupun dirinya bukan pacar Novi yang pertama, namun Ferry yakin Novi belum pernah melakukan hal-hal semacam ini dengan pacar-pacar terdahulunya. Pada malam pertama mereka, Ferry mendapati Novi masih perawan (dari darah yang keluar dari liang kewanitaannya). Jadi Ferry benar-benar tidak dapat mengira-ngira sedikitpun darimana Novi belajar melakukan oral seks. Dan Ferry mengurungkan niatnya untuk bertanya.


[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Novi yang dapat membaca arah pikiran Ferry segera bangkit dan menjawab nakal, “Ada deh.”

Novi tidak ingin memperpanjang hal ini sehingga ia mengganti topik pembicaraan, “Besok pagi-pagi jangan lupa antar aku ke rumah Ka Santi, yah.”

Ferry yang juga tidak ingin memperdalam penyelidikannya terhadap masalah tadi menjawab, “Oh, iya. Dia besok keluar kota yah? Kenapa mereka tidak mencari suster baru saja sih?”

“Ka Santi mendadak mendapat dinas ke luar kota. Dan kebetulan sekali suster yang mereka pakai sekarang harus pulang menjenguk orang tuanya yang sakit. Lagipula hanya tiga hari saja kok. Ka Santi sudah sering menolongku,” kata-kata Novi terhenti sejenak sementara pikirannya kembali menerawang pada ‘bantuan’ Santi dalam dua hari ini, “dan aku rasa sudah sepantasnya jika aku membalas kebaikannya.”

“Selain itu, dia itu kakakku satu-satunya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang dapat dia harapkan?”

“Yah terserah kamu, deh,” jawab Ferry. “Kalau begitu lebih baik kita tidur sekarang. Jam berapa kita harus tiba di rumah mereka?”

“Jam tujuh pagi.”


“Kamu ikut turun dong, Fer. Kamu ini seperti orang luar saja. Ini kan keluargamu juga,” wajah Novi cemberut karena Ferry enggan turun dari mobil.

“Baik, baik. Aku ikut turun. Tapi aku tidak janji bisa bertandang lama. Aku harus pergi kerja,” kata Ferry dengan wajah yang sengaja dibuat ikut cemberut.

“Sekarang kan baru jam 7 kurang 5 menit. Setiap hari kamu berangkat kerja hampir jam 9 dan itu berarti dua jam lagi. Jangan cari-cari alasan, deh,” kata Novi sambil mencubit lengan Ferry dengan manja.

Novi menekan bel dan tak lama pintu depan dibuka oleh Santi. Pagi itu Santi sangat terlihat cantik, bahkan Novi dan Ferry merasa Santi bertambah cantik. Santi mengenakan padanan blazer dan rok pendek berwarna merah menyala. Di dalam blazer itu, Santi mengenakan camisole berwarna putih. Rambutnya yang panjang disanggul sehingga menonjolkan keindahan lehernya yang jenjang.

“Hai, Nov, Fer. Terima kasih yah, Fer, sudah mau mengantarkan Novi ke mari,” kata Santi sambil meletakkan tangannya di bahu Ferry.

Novi melirik sekilas ke tangan Santi yang masih berada di atas bahu suaminya lalu memandang kakaknya. Novi hampir tidak dapat mempercayai penglihatannya saat Santi tanpa sadar memberikan tatapan menggoda pada Ferry. Santi membasahi bibirnya dengan lidahnya tanpa melepaskan tatapannya pada Ferry.

Novi menyentuh lengan Santi sambil berkata, “Ah, sudah menjadi kewajiban dia kok sebagai suamiku.”

Seperti terkejut dari lamunan, Santi menarik tangannya lalu tersipu memalingkan wajahnya dari Ferry dan terutama dari Novi.

“Ka Santi baik-baik saja?” tanya Novi.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit tegang dengan tugas dinas seperti ini,” kali ini Santi berkata sambil tersenyum menatap adiknya.

Kemudian Santi mengajak Novi ke dapur untuk memberi tahu letak semua yang ia butuhkan untuk memasak. Tomy mengajak Ferry bergabung untuk menikmati sarapan. Ferry menolak dengan sopan, “Novi sudah menyiapkan sarapan untukku di rumah. Thanks, Tom.”

Setelah memberi tahu semua informasi yang dibutuhkan oleh Novi, Santi mengajak Novi untuk duduk di ruang tamu di mana Tomy dan Ferry sedang mengobrol tentang pertandingan tinju hari Minggu kemarin.

“Jadi jam berapa kamu berangkat, Kak?” tanya Novi.

“Sebentar lagi rekan kerjaku akan datang menjemput. Jam setengah delapan.”

“Wah baik sekali dia mau menjemput?”

“Oh dari sini kami akan langsung ke airport. Jadi aku tidak sendirian kali ini,” jawab Santi.

Walau Novi dan Santi sedang mengobrol berdua, namun Ferry dapat mendengar pembicaraan mereka. “Jadi rekan kerjamu ini laki-laki, yah?”

Santi menoleh ke Ferry untuk menjawab pertanyaannya. Saat ia menatap wajah Ferry, kejadian kemarin malam di kamar Novi kembali berkelebatan dalam otaknya. Langsung saja wajah Santi terasa panas. Kedua pipinya merona merah.

“Oh, iya. Namanya Hermanto. Tahu dari mana kalau teman kerjaku ini laki-laki?”

Semua yang ada di ruangan itu mengira Santi tersipu karena ketahuan pergi berdua dengan pria, teman kerjanya. “Ah aku cuma menebak saja, deh. Ngga usah malu begitu, San. Kita kan sudah dewasa, jadi pasti tahu cara menjaga diri. Iya kan, Tom?” kata Ferry.

“Iya, Fer. Aku tidak cemburu kok Santi pergi berduaan dengan lelaki lain. Lha wong ini kan kewajiban dalam pekerjaannya?” sanggah Tomy sembari tersenyum pada Santi.

Lalu bel rumah berbunyi. “Itu pasti Hermanto. Baik, berarti sudah waktunya aku untuk pergi,” kata Santi. “Nanti setelah Kirani bangun sekitar jam delapan, tolong paksa dia untuk sarapan dulu baru setelah itu diberi obat batuk,” katanya kepada Novi.

“Baik, Kak. Tenang saja, kalau ada yang aku lupa, aku pasti telpon kamu atau Tomy. Oke?”

Tomy mengangkat koper Santi dan membuka pintu. Hermanto sudah berdiri menunggu Santi. “Selamat pagi,” katanya.

“Selamat pagi,” jawab mereka hampir bersamaan.

Dari belakang Santi bergerak ke luar menghampiri Hermanto lalu memperkenalkan dirinya, “Perkenalkan, ini Hermanto. Hermanto, ini keluargaku.”

Hermanto mempunyai postur tubuh tipikal pria setengah baya. Walau umurnya baru 45 tahun, namun karena perutnya yang membuncit dan rambutnya yang sudah menipis membuatnya kelihatan lebih tua. Belum lagi ditambah dengan model kacamata tebal yang dipakainya benar-benar sudah ketinggalan jaman.

“Halo. Santi selalu bercerita tentang keluarganya di kantor. Baru kali ini aku mendapat kesempatan untuk bertemu langsung.”

“Mudah-mudahan dia tidak bercerita yang jelek-jelek, nih,” celetuk Novi.

“Oh, tidak. Santi selalu bercerita yang baik-baik tentang kalian.”

“Baik. Aku pergi dulu yah, Tom. Hati-hati di jalan,” kata Santi sambil mengecup pipi Tomy.

“Iya. Kamu juga hati-hati di jalan,” jawab Tomy.


Santi sudah pergi sekitar 15 menit yang lalu dan Ferry pulang tidak lama setelah itu. Kini Novi hanya tinggal berdua dengan Tomy. Kirani masih tertidur di kamarnya.

“Aku harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor yah, Nov,” Tomy berkata kepada Novi yang sedang menyiapkan sarapan untuk Kirani.

“Baik, Tom. Kamu lakukan apa saja yang biasa kau lakukan, dan anggap saja aku tidak ada di sini,” jawab Novi.

Tomy masuk ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap untuk kerja. Lima belas menit kemudian ia keluar dari kamar dan mendapati Kirani sedang duduk di ruang keluarga menonton TV.

“Kirani, kok pagi-pagi begini sudah bangun?” tanya ayahnya.

Kirani, putrinya yang masih berumur 3 tahun, dengan nada kecewa berkata, “Aku mau mengantarkan mama tapi mama sudah pergi.”

“Oh tidak apa-apa, Rani sayang. Nanti tante Novi akan membantu kamu untuk menelpon mama. Oke?” kata Tomy sambil memandang Novi yang masuk bergabung dengan mereka.

“Oke,” jawab Kirani dengan lantang.

Tomy menghampiri Novi lalu berbisik, “Sembunyikan telponnya setelah menelpon Santi. Aku tidak mau tagihan telponku membengkak gara-gara ia terus menerus menelpon mamanya.”

“Oh baik, Tom,” jawab Novi. Jantung Novi berdegup kencang ketika wajah Tomy berada dekat dengan wajahnya saat ia berbisik di telinganya.

Tomy menghirup dalam-dalam wangi lembut dari rambut Novi. “Wangi sekali,” pikirnya. Tiba-tiba saja ingatan Tom kembali pada kejadian kemarin malam. Dengan wajah masih berada dekat dengan wajah Novi, otak Tomy memutar ulang setiap adegan satu per satu secara berurutan.

“Ada apa ini?” pikir Novi bingung. “Mengapa dia berdiri diam di dekatku seperti ini?”

“Ummm, Tom…,” Novi membuka suara.

Tomy terlonjak karena lamunannya dibuyarkan oleh suara lembut Novi.

“Oh, aku harus segera berangkat, Nov. Jangan sungkan untuk makan makanan di kulkas atau lemari. Kalau ada apa-apa, telpon HP-ku saja. Bye,” Tomy berpamitan sambil bergerak ke luar rumah dengan cepat.


Tomy membuka pintu dan mendapati Novi berbaring di sofa sedangkan Kirani tertidur di lantai. Tomy berjingkat masuk berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun. Dengan perlahan Tomy mengangkat tubuh mungil Kirani dan menggedongnya masuk ke kamar. Kirani masih terlelap saat Tomy keluar dari kamarnya.

Setelah tangannya menutup daun pintu kamar itu, mata Tomy melihat ke arah meja makan dan melihat botol orange juice berada di atas meja. Ia tersenyum lebar mengetahui semuanya berjalan sesuai dengan rencananya. Ia meraih botol orange juice itu dan senyumnya semakin melebar. Botol itu sudah kosong.

“Dengan dosis yang kumasukkan tadi pagi, obat itu akan bekerja selama 8 jam. Ia pasti meminumnya saat makan siang tadi, berarti aku masih mempunyai waktu sekitar 2 jam,” otak Tomy berputar.

Tomy menghampiri Novi yang terbaring lelap di sofa. Tanpa membuang waktu Tomy meremas payudara Novi, ia langsung menyantap hidangan utama yang selalu menggoda hatinya. Sejak menikah dengan Santi, Tomy selalu mempunyai pikiran-pikiran cabul terhadap adik iparnya. Setiap kali Novi berkunjung ke rumahnya, dengan sembunyi-sembunyi Tomy memperhatikan bentuk lekuk tubuh Novi dan membayangkan tubuh Novi tanpa pakaian. Dan dua bagian tubuh yang selalu menggetarkan hatinya tak lain adalah buah dada dan pantat Novi.

Saat ini Novi terbaring terlentang di hadapannya dan menjadikan payudaranya sebagai hidangan utama. Setelah meremas-remas payudara itu beberapa menit, Tomy menyelusupkan tangannya masuk ke balik baju Novi dan membuka BH yang dipakainya. Tomy benar-benar tidak ingin membuang waktu sedikitpun. Setelah menarik BH Novi lepas dari tubuhnya, Tomy dengan lebih leluasa meremas-remas payudaranya. Novi tidak bergeming. Ia tergolek seperti mayat tanpa reaksi.

“Nanti setelah selesai dengan tubuhnya, berarti aku harus mengenakan BH itu kembali ke tubuhnya. Dan berarti aku harus membuka bajunya terlebih dahulu. Kalau begitu mengapa tidak aku buka saja bajunya saat ini juga?” pikirnya lagi.

Dengan gerak cepat, Tomy menanggalkan baju Novi. Walau berukuran lebih kecil dari milik istrinya, bentuk payudara Novi sama indahnya dengan payudara Santi dan terlihat lebih padat. Puting susunya tidak sebesar puting susu Santi, namun warna puting Novi tidak segelap puting Santi. Walau secara keseluruhan tubuh Novi sekilas terlihat sama dengan tubuh Santi (karena memang kakak beradik), namun Tomy menjadi sangat terangsang melihat tubuh adik iparnya yang bukan tubuh istrinya yang sudah biasa dilihatnya.

Tomy langsung melahap puting susu Novi. Sementara tangan kanannya bermain-main dengan putingnya yang lain, lidah Tomy menjilat, menekan, berputar, dan memilin puting itu. Tak lama kemudian, Tomy merasakan puting itu mengeras di bawah permainan lidahnya. Rupanya tubuh Novi baru mulai bereaksi. Pergerakan naik turun dadanya akibat volume pernafasan yang bertambah mulai terlihat. Melihat hal ini, penis Tomy melejit dan mengeras di balik celananya.

Tangan kanannya meremas-remas payudara Novi dengan lebih bertenaga karena nafsu yang telah bergelora. Sementara itu, Tomy terus melancarkan serangan lidahnya atas puting susu Novi yang lainnya. Sesekali Tomy menggigit lembut puting yang sudah mengeras itu.

Setelah puas meremas-remas payudaranya, tangan kanan Tomy menyelusup masuk ke balik celana dalam Novi dan bergerilya ke daerah selangkangan Novi. Ia merasakan bulu-bulu halus terusap pada jari-jarinya yang berarti tangannya berada pada jalur yang benar. Kemudian jari-jari itu mendapati celah lembab di ujung penjelajahannya yang menyatakan bahwa pencariannya sudah berakhir. Jari-jari itu kini bersemayam di atas bibir kemaluan Novi. Tomy mengusap-usap jari-jarinya di sepanjang bibir vagina Novi. Tak lama setelah itu terdengar suara erangan dari mulut Novi dan deru nafasnya sudah terdengar dengan jelas. Pergerakan naik turun dadanya juga semakin jelas terlihat dan semakin bertambah intensitasnya. Di balik hisapan dan permainan lidahnya, Tomy tersenyum lebar setelah tubuh liang senggama Novi melelehkan cairan cinta keluar ke bibir vaginanya.

“Kalau di luarnya saja sudah basah seperti ini, apalagi bagian dalamnya yah?” pikir Tomy lagi.

Tanpa pikir panjang Tomy langsung menyelusupkan jari tengahnya masuk ke dalam liang kemaluan Novi. Tiba-tiba mata Novi terbuka, terbelalak dan menatap kosong ke langit-langit dan tanpa mengeluarkan suara, mulut mungilnya juga membentuk huruf “A” dan kepalanya terangkat dari sofa. Semua itu hanya berlangsung sepersekian detik sehingga Tomy tak dapat berbuat apa-apa. Jari tengahnya masih berada di dalam tubuh Novi dan mulutnya masih mengatup di atas payudaranya. Tomy berusaha memutar otaknya dengan cepat untuk mencari-cari alasan namun tentu saja usahanya sia-sia. Tubuh Novi mengejang masih pada posisi yang sama.

“Belum juga satu jam berlalu, mengapa efek obatnya sudah hilang?” otaknya terus berputar.

Sekitar lima detik kemudian, bola mata Novi mulai bergerak dan melirik ke arah dadanya. Begitu melihat mulut Tomy melahap payudaranya, Novi langsung bangkit berdiri dan menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Mereka berdua saling bertatap-tatapan lalu Novi mulai memandang ke sekelilingnya. Ia mencari-cari pakaiannya. Setelah menemukan bajunya, Novi segera mengenakan baju itu tanpa mengenakan BH terlebih dahulu.

“Apa yang sedang kamu lakukan, Tom?” tanya Novi setengah berbisik namun tegas. Ia tidak ingin suaranya terdengar oleh Kirani yang ia tahu sedang berada di kamarnya.

“Ah.. anu… aku… a-anu…,” Tomy belum menemukan kata-kata yang dapat digunakan untuk menutupi semua perbuatannya itu.

“Kamu sudah hilang akal, yah? Aku ini kan adik Santi, istrimu?”

“Jangan salah paham, Nov…, a-aku…,” Tomy masih berusaha menenangkan Novi.

“Kamu sudah mempunyai istri bahkan sudah mempunyai seorang putri. Apa jadinya kalau mereka tahu apa yang kau perbuat barusan? Aku juga sudah bersuami!” tambah Novi dengan suara bisikan yang lebih tegas.

Merasa terpojok dan tidak dapat membela diri, Tomy malah balas menyerang, “Ah, kamu tak perlu menggunakan alasan sudah bersuami dan jangan berpura-pura, deh. Aku tahu kamu juga menikmatinya, kan?”

Novi tidak dapat mempercayai pendengarannya. “Apa maksudmu? Aku tidak tahu menahu apa yang sedang kau lakukan saat aku tertidur. Yang aku tahu saat aku terjaga kamu sedang melakukan perbuatan hina terhadap tubuhku.”

Memang benar Novi tidak tahu apa yang dilakukan Tomy terhadap dirinya, akan tetapi tubuhnya masih berfungsi dengan normal dan memberi respon sesuai dengan rangsangan yang diberikan. Nafas yang memburu, puting yang mengeras, dan cairan yang keluar dari vaginanya merupakan reaksi normal saat tubuh seorang wanita mendapat rangsangan seksual.

“Tak perlu berbohong, Nov. Tubuhmu sendiri yang berkata demikian. Kamu pasti merasakan vaginamu mengeluarkan cairan pelumas dan kamu juga dapat merasakan betapa kerasnya puting susu kamu. Itu tandanya kamu sudah terangsang. Pria manapun yang kau tanya pasti tahu hal itu,” Tomy menjelaskan.

Novi terdiam dan kini ia baru merasakan kebenaran kata-kata Tomy. Walau sudah tidak banyak, namun Novi masih dapat merasakan vaginanya basah dan saat ia mendapati tubuhnya merespon terhadap perbuatan bejat Tomy, ia merasakan putingnya semakin mengeras. Wajahnya langsung menjadi merah padam.

Tomy yang melihat Novi tidak dapat menyangkali pernyataannya barusan menjadi semakin bersemangat, “Nah, betul, kan Nov? Tidak perlu malu untuk mengakuinya. Lagipula hari Sabtu kemarin kamu juga tidak malu-malu menghisap penisku.”

Seperti mendengar halilintar di siang bolong, Novi tidak dapat mempercayai pendengarannya, “APA?!?!”

“Sudahlah, tidak perlu bersandiwara lagi. Aku tahu permainan kalian berdua,” kata Tomy.

“T-t-tapi, kamu… bagaimana… a-apakah Ka Santi yang memberi tahu?” tanya Novi tak habis pikir.

“Oho, tidak, tidak. Dia tidak bercerita sedikit pun. Apa kau ingat saat aku menyentuh payudaramu malam itu? Malam itu aku mendapati payudara itu masih tertutup BH namun pada kenyataannya Santi tidak mengenakan BH malam itu. Jadi aku tahu ada sesuatu yang tidak wajar. Dan pagi ini saat aku mencium wangi rambutmu aku tahu bahwa yang mengoralku Sabtu lalu tak lain adalah kau, Novi.”

Wajah Novi menjadi pucat, kerongkongannya terasa kering dan kepalanya terasa berputar-putar. Detik berikutnya ia sudah mendapati tubuhnya terduduk di sofa dengan Tomy duduk di sampingnya.

“Aku tidak tahu kalau kau begitu menginginkan diriku sampai kau meminta Santi untuk mengatur permainan ini. Begini saja, Nov. Aku berjanji tak akan mengadukan hal ini ke Ferry asal kau melakukan apa yang kusuruh,” usul Tomy.

“Bukan, bukan begitu ceritanya. Aku… aku bukan wanita seperti itu,” bantah Novi.

“Ah aku tidak perduli. Apa pun alasannya, aku yakin Ferry tidak tahu menahu atas perbuatanmu. Oleh karena itu demi tersimpannya rahasiamu dari Ferry, aku menganjurkan kamu untuk menuruti perintahku. Mengerti, Nov?”

Novi tidak dapat menjawab. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Tomy membelai-belai kepala Novi untuk menenangkannya, “Sudah, sudah. Tidak perlu menangis seperti itu. Ayo kita nikmati saja bersama semua ini. Santi jelas-jelas menyetujui hubungan kita berdua. Lagipula ia sedang tidak berada di sini. Dan kau juga tidak perlu khawatir atas Ferry. Ia tidak akan menjemputmu malam ini. Aku tadi sudah menelponnya dan memberi tahu bahwa aku akan mengantarmu pulang.”

Dalam waktu lima menit ke depan, Novi masih terus menangis. Tomy beberapa kali masih mencoba untuk menenangkan Novi. Dan akhirnya Novi menyadari bahwa keadaannya tidak akan bertambah baik jika ia tidak menuruti kemauan Tomy. Novi tidak ingin menerima kenyataan ini. Ia terus berusaha mencari celah agar ia dapat keluar dari jerat Tomy dan usahanya mencapai jalan buntu. Novi mencoba pasrah dan berhenti menangis.

Melihat hal ini Tomy segera memulai permainannya. Dengan lembut ia mengecup pipi Novi. Secara refleks Novi menghindari kecupan itu. Tomy mencoba sekali lagi namun kali ini Novi malah mencoba mendorong tubuh Tomy menjauh darinya.

“Hei, bukankah kita sudah sepakat?” sergah Tomy.

Tomy meraih wajah Novi lalu mengatupkan bibirnya ke atas bibir Novi. Bibir Tomy melumat bibir Novi dengan penuh nafsu. Novi yang diam saja, membiarkan bibirnya dilumat oleh Tomy.

Pandangan Novi kosong sementara pikirannya penuh dengan kekhawatiran. Apa jadinya jika Ferry mengetahui hal ini? Apalagi jika ia tahu kejadian Sabtu malam itu, saat mulutnya membungkus batang kemaluan lelaki lain. Lalu bagaimana kalau ia tahu bahwa lelaki lain itu adalah Tomy, kakak iparnya sendiri? Apa jadinya hubungan keluarganya dengan keluarga Santi? Bagaimana pula hubungannya dengan Ferry?

Semakin dipikir semua kekhawatiran itu terasa semakin mengambil alih setiap sel dalam otaknya. Dan tanpa disadari, mulut Novi sudah terbuka dan menyerah terhadap ciuman Tomy. Bukan hanya itu, lidahnya malah ikut menari-nari membalas liak-liuk lidah Tomy di dalam mulutnya. Tomy meraih bagian bawah baju Novi dan menariknya ke atas melewati kepala Novi. Hal ini membuat kedua tangan Novi terangkat naik.

Tersadar dengan apa yang sedang terjadi, secepat kilat Novi menarik lidahnya dan menutup bibirnya serta menurunkan lengannya agar bajunya tidak ditanggalkan oleh Tomy. Namun terlambat sudah. Tomy melemparkan baju itu jauh-jauh supaya Novi tidak berusaha untuk mengambilnya lagi.

Dengan hanya mengenakan celana dalam, Novi terduduk dengan kedua lengannya bersilangan di depan dadanya untuk menutupi payudaranya dari Tomy. Novi melihat Tomy sedikit mundur dan sambil terus memandangi tubuhnya dengan tatapan cabul Tomy membuka baju dan celananya satu persatu. Saat sampai Tomy hendak melepaskan celana dalamnya, Novi menoleh ke samping dan memejamkan matanya karena tidak berniat untuk melihat kemaluan kakak iparnya.

“Kenapa, Nov? Kamu tidak mau melihat penisku?” tanya Tomy dengan bercanda sambil terus menanggalkan celana dalamnya.

“Ayo Nov, tidak perlu malu. Apalagi takut. Kamu toh sudah pernah mencicipi batangku?” Novi semakin rapat memejamkan matanya berusah untuk mengusir gambaran penis Tomy dari pikirannya.

Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Tomy. Melihat Novi yang sedang lengah langsung saja ia meraih celana dalam Novi dan menariknya sehingga lepas dari tubuhnya. Novi terpekik kaget dan saat membuka matanya, ia mendapati mereka berdua sudah telanjang bulat.

(Bersambung)

Baca cerita sebelumnya « Bagian 2





No comments:

Post a Comment