Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Sep 24, 2010

Sex-Force 4

Nadia
Ringkasan: Joko melancarkan rencana khusus untuk Nadia.
Kode cerita: dru, humil, MF, non-con, oral, toys

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia
* Pak Ardi: manager Nadia
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 4
by: VVN

Dua minggu akhirnya berlalu dengan cepat tanpa Yusdi mengetahui sama sekali bahwa Nadia pada akhirnya sudah pernah merasakan orgasme. Senin pagi ini Yusdi kembali menyiapkan rencana baru untuk Nadia.

Sehari sebelumnya (hari Minggu), Nadia menghabiskan waktunya seharian di salon kecantikan. Mulai dari merapikan rambut, creambath, facial, luluran sampai spa dilakukannya. Nadia mengatakan bahwa hari ini ia akan membawakan presentasi di hadapan manager-manager kantor mereka. Jadi ia ingin tampil cantik dan percaya diri dalam presentasi ini.

Kebetulan manager Yusdi sedang keluar kota dan mendelegasikan Yusdi untuk ikut dalam presentasi tersebut.

Setelah bangun dari tidur, sejak pagi-pagi Yusdi sudah menyalakan remote Sex-Force® itu dan memutar tombol ke level 2. Dalam perjalanan ke kantor Yusdi memperhatikan istrinya dan melihat adanya sedikit perubahan pada diri Nadia. Ia terlihat lebih gelisah dibanding waktu yang lalu. Tapi mungkin ini bukan disebabkan oleh Sex-Force®.

Nadia mengenakan blazer hitam dengan bahan agak keras. Untuk bagian dalamnya, ia mengenakan tank-top putih tipis dan jika diperhatikan dengan seksama, garis-garis BHnya dapat terlihat dari balik tank-top tersebut. Rok span hitam berbahan katun dipakainya dan dipadukan dengan sepatu baru berwarna hitam dengan hak yang cukup tinggi. Rambutnya disanggul rapih dan ia mengenakan kacamata pemantas sehingga menambah kesan matang, bijaksana dan berwibawa.

Presentasi dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini semua peserta datang tepat waktu; mungkin karena kebanyakan pesertanya dari kalangan petinggi dari perusahaan mereka. Ada lima pria mengenakan setelan jas berdasi dan tiga wanita dengan dandanan elegan yang menghadiri presentasi ini. Sisanya adalah tiga orang pria dengan gaya berpakaian yang berbeda dengan para petinggi itu (termasuk Yusdi). Jadi ada 12 orang di dalam ruang presentasi itu.

Beberapa menit kemudian, Nadia dipersilakan untuk memulai presentasinya. Dengan senyuman yang manis Nadia memulai presentasinya. Lima menit pertama telah berlalu. Semua peserta menyimak dengan serius presentasi tersebut. Yah, setidaknya hampir semua peserta, kecuali Yusdi. Diam-diam ia mengeluarkan remote Sex-Force® dari dalam saku celananya.

Secara berkala (kira-kira setiap lima menit), Yusdi menaikkan ratingnya setingkat demi setingkat. Pada level 3, Nadia masih tidak menunjukkan reaksi yang berarti.

Level 4, lampu indikator berubah dari kuning menjadi jingga. Nadia sempat terdiam sekitar dua detik sebelum melanjutkan lagi presentasinya. Nadia mulai merasakan impuls-impuls seksual pada sarafnya. Namun karena saat itu sedang konsentrasi penuh pada presentasinya, Nadia dapat mengatasi ‘gangguan’ ini.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Level 5 dilalui Nadia dengan lebih berat. Beberapa kali Nadia salah mengucapkan kata-kata dalam presentasinya. Ia juga beberapa kali terdiam di tengah presentasinya, seakan sedang melamun berpikir jauh. Alisnya sedikit mengernyit pada saat ia melamun.

Level 6 mulai membuat Nadia kewalahan. Nafasnya mulai tidak teratur. Dari kening, cuping hidung dan daerah di atas bibirnya mulai keluar butir-butir keringat. Pengucapan kata-kata yang salah semakin sering terjadi. Dan banyak peserta yang mulai jadi gelisah.

Level 7, lampu indikator berubah menjadi merah. Nadia berpegangan pada tembok dan kepalanya tertunduk. Ia terlihat seperti sedang menahan sakit pada tubuhnya. Namun sebenarnya Nadia sedang bergumul menghadapi rangsangan seksual yang tinggi. Sebagai perbandingan, pada rating ini di waktu yang lalu Nadia mendapat orgasme pertamanya dengan bantuan permainan jari-jari nakal Joko.

Setelah lima detik berlalu, Nadia kembali melanjutkan presentasinya. Wajahnya semakin berkeringat. Leher dan pipinya pun terlihat memerah. Pada saat hendak berpindah dari sisi kiri ke sisi kanan dari white-board, Nadia terpelecok lalu terjatuh dengan posisi lutut kirinya bertumpu pada lantai. Hal ini menyebabkan rok span yang dikenakannya robek dari bawah ke atas di sisi kanannya sampai celana dalamnya yang berwarna pink dapat terlihat (walau tidak semua peserta memperhatikan ini). Robeknya rok ini memperlihatkan paha Nadia yang putih mulus itu ke lebih dari 5 pasang mata pria yang ada di dekatnya.

Hampir seluruh peserta bangkit dari duduk. Sebagian bersuara kaget, sebagian lagi hanya ingin melihat apa yang terjadi dan sisanya datang untuk menolong Nadia. Yang terdepan menghampiri Nadia adalah Pak Ardi, manager Nadia.

“Nadia, kau tak apa-apa?” tanyanya sambil membimbing tubuh Nadia untuk duduk di lantai.

Yusdi mematikan remote tersebut lalu bergabung dengan orang-orang yang menghampiri Nadia. Ia berusaha untuk menyeruak dari kerumunan orang-orang yang berdiri di sekeliling Nadia.

Nadia duduk di lantai di hadapan pada Pak Ardi. Kaki kanan Nadia kini berselonjor lurus ke depan. Kaki kirinya yang sedikit tertekuk membuat bagian dalam paha kanannya yang putih mulus terlihat begitu kontras dengan rok hitamnya. Setiap lelaki yang berdiri di sekelilingnya secara insting memandangi paha Nadia yang putih mulus itu. Dan jika mereka memperhatikan dengan seksama, mereka dapat mengintip celana dalam pinknya yang terlihat basah. Dan memang itulah yang terlihat oleh Pak Ardi yang berada begitu dekat dengannya.

Segera Pak Ardi membangunkan Nadia untuk didudukkan pada kursi terdekat. Tanpa disuruh, Nadia merangkul pundak Pak Ardi. Tangan kanannya melingkar melewati belakang punggung Pak Ardi dan telapak tangannya memegang pundak kanan Pak Ardi erat-erat. Dalam kondisinya yang terangsang, Nadia merasakan payudaranya mengencang dan membesar. Dan kini payudara kanannya bulat-bulat menekan dada Pak Ardi yang berbadan tegap.

Pak Ardi langsung merasakan kekenyalan bukit empuk Nadia di dadanya. Ia jadi kikuk mendapati Nadia yang seakan sedang memeluknya dengan penuh kemesraan di depan orang banyak. Dimulai dari melihat paha Nadia yang putih mulus, lalu pemandangan erotis di sekitar selangkangan Nadia dan dilanjutkan dengan payudaranya yang menempel di dadanya, membuat batang kemaluan Pak Ardi membesar secara perlahan namun pasti.

Yusdi yang berhasil menyeruak dari kerumunan orang itu menghampiri Pak Ardi dan membantunya memindahkan Nadia ke kursi di dekatnya. Kaki Nadia begitu lemas sehingga hampir tidak dapat ia gunakan untuk berjalan.

Karena para peserta lainnya berkerumun di sekitar sana, Pak Ardi berseru,”Coba tolong beri ruang dan ke pinggir sedikit. Jangan berkerumun seperti ini!”

Kerumunan sedikit merenggang namun Nadia masih sulit dipindahkan karena kakinya begitu lemas. Akhirnya Pak Ardi menyuruh Yusdi untuk menggendong Nadia untuk dibawa ke bangku.

Yusdi mengambil alih rangkulan Nadia dari pundak Pak Ardi lalu ia meraih bagian belakang lutut Nadia dengan tangan kirinya. Dengan satu gerakan memutar, tubuh Nadia kini sepenuhnya dalam gendongan Yusdi.

Karena bagian kanan rok Nadia robek sampai ke atas maka bagian belakang roknya agak menjuntai sehingga belahan pantat dan celana dalamnya dapat terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Beberapa pasang mata pria di sekitarnya tak dapat lepas dari belahan pantat Nadia. Untung saja seorang wanita, salah satu dari peserta presentasi itu tergopoh-gopoh menghampiri mereka untuk menutupi pantat Nadia yang tersingkap itu.

Setelah didudukkan di kursi, menit-menit berikutnya Nadia diberi minum dan dikipasi oleh beberapa wanita peserta presentasi. Para peserta lainnya sudah tidak berkerumun lagi. Kebanyakan dari mereka berdiri memperhatikan dari jauh dan sebagian lagi duduk sambil berbincang-bincang pelan dengan topik-topik yang beragam (mulai dari kurang gizi, diabetes, serangan jantung, bahkan sampai ke AIDS).

Kebanyakan dari mereka menduga Nadia terkena serangan jantung atau kurang makan sehingga pingsan. Tapi beberapa dari peserta pria di barisan depan tahu bahwa Nadia bukan pingsan melainkan terjatuh. Namun mereka percaya bahwa Nadia memang sedang tidak sehat.

“Nadia, presentasi ini ditunda dulu yah. Setelah ini lebih baik kamu pulang ke rumah dan istirahat,” kata Pak Ardi.

Lalu Pak Ardi berpaling ke Yusdi, ”Yus, kamu bisa temani istrimu pulang, kan? Nanti aku akan sampaikan hal ini kepada Pak Kuncoro (manager Yusdi).”

“Baik. Terima kasih, Pak Ardi.”

“Terima kasih, Pak,” tambah Nadia kepada Pak Ardi.

“Ah, sama sama, Yus, Nad. Kamu istirahat dulu, deh. Nanti kalau sudah lebih fit baru masuk kerja. Ok?” kata Pak Ardi sambil menepuk bahu Yusdi namun pandangannya tertuju pada Nadia.

“Baik, Pak,” jawab Nadia.

Di dalam perjalanan pulang, Yusdi kembali berpura-pura menanyakan keadaan Nadia, ”Kamu tidak apa-apa, Sayang? Badanmu panas dan berkeringat.”

“Aku… aku tidak apa-apa kok, Yus. Mungkin cuma kelelahan,” kata Nadia setelah terdiam beberapa detik.

Sisa perjalanan pulang hanya Nadia gunakan untuk melamun. Ia memandang ke luar jendela di sampingnya. Pikirannya menerawang kembali ke kejadian-kejadian yang menimpanya belakangan ini.

Akhirnya mereka sampai di rumah. Setelah membopong dan membaringkan Nadia di ranjang, Yusdi beranjak untuk mengambil minum untuk istrinya. Namun belum sampai keluar dari kamar, Nadia memanggilnya. Yusdi berbalik. Ia memandang istrinya dan melihat ada begitu banyak keraguan pada wajah Nadia.

Beberapa detik kemudian Nadia mulai menangis. Ia bangkit dari ranjang, menghampiri Yusdi lalu memeluk suaminya. Untuk beberapa saat Nadia menangis sesenggukan seperti anak kecil di pundak Yusdi. Heran melihat sikap istrinya, Yusdi hanya dapat memeluk balik sambil mengelus-elus punggung Nadia.

Tanpa melepas pelukannya, Nadia berkata dalam tangisan, ”Maafkan aku, Yus… Aku telah berbohong…”

“Aku… Selama ini aku tidak jujur… Ma-maafkan aku…” lanjutnya lagi.

“Sudah, sudah… tenangkan dirimu dulu. Yang penting sekarang kamu sudah tidak apa-apa kan?” kata Yusdi berniat untuk menenangkan Nadia.

“Tidak! A-aku sudah membohongimu…” bantah Nadia yang dilanjutkan dengan tangisan yang semakin menjadi.

Kali ini Yusdi tidak berkata apa-apa. Ia hanya terus mengelus-elus punggung istrinya sampai akhirnya Nadia dapat tenang dan berhenti menangis.

Setelah itu kata-kata mulai keluar dengan lancar dari mulut Nadia. ”Ada yang aneh pada diriku sejak pemeriksaan pap-smear itu, Yus.”

“Beberapa kali aku jadi sangat terangsang pada waktu-waktu yang tak terduga,” lanjut Nadia setelah terdiam sejenak.

Melihat Yusdi hanya diam saja Nadia menjelaskan lagi, ”Iya, benar. Aku terangsang, sama seperti pada saat kita… making love.”

Wajah Nadia merona merah saat ia mengucapkan kata-kata ‘making love’. Yusdi mengambil bangku lalu duduk di depan Nadia yang duduk di pinggir ranjang.

“Kau masih ingat kejadian di meeting waktu itu, kan? Pada waktu kau melihat aku tiba-tiba menjadi tegang di meeting itu?” Nadia menunggu jawaban Yusdi namun Yusdi hanya memandanginya saja.

“Ya. Pada waktu itu aku tiba-tiba merasakan darahku bergejolak dan kemaluanku terasa panas. Dan ini terjadi lagi siang tadi. Hanya saja bedanya hari ini gejolak itu terasa lebih lama dan lebih intens.”

Yusdi mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mengambil tangan Nadia lalu digenggamnya dengan penuh kasih sayang. Mata Nadia mulai berkaca-kaca.

“Aku jadi sangat terangsang dan aku tidak dapat mengontrol tubuhku, Yus. Entah ada apa denganku ini.”

“Waktu terjatuh di kantor dua minggu yang lalu, saat itu aku juga sangat terangsang. Saat itu… saat itu Pak Joko…” Nadia menghentikan kalimatnya. Ia sangat malu saat itu. Tetapi karena melihat suaminya memandanginya dengan pandangan yang penuh kasih itu, ia melanjutkannya.

“Pak Joko mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan melakukan perbuatan yang tak senonoh atas diriku. Dan aku hanya diam saja, Yus!” setelah menyelesaikan kalimat itu, Nadia kembali menangis tersedu-sedu.

Sebenarnya sangat besar keinginan Yusdi untuk menanyakan secara detil apa yang dilakukan Joko atas tubuh Nadia namun ia mengurungkan niatnya dan hanya memeluk istrinya sekali lagi sambil mengelus-elus punggungnya.

Yusdi tidak pernah mempunyai niat untuk merelakan lelaki lain untuk bersetubuh dengan istrinya. Memang Yusdi punya kecenderungan untuk melakukan swing atau tukar pasangan, namun ia berada pada tingkat yang masih pemula. Yusdi sangat suka jika istrinya terangsang oleh tangan-tangan pria lain, terutama saat Nadia berusaha untuk tidak menjadi terangsang. Akan tetapi ia belum ‘berani’ untuk membiarkan mereka menyetubuhi istrinya.

Hanya dengan melihat istrinya yang frigid menjadi terangsang, sudah dapat melipatgandakan sensasi yang Yusdi rasakan. Dan untuk memancing saraf-saraf rangsang birahi Nadia itulah, Yusdi membeli dan memasang Sex-Force® pada tubuh istrinya. Dengan tubuh Nadia yang terus menerus berada dalam nuansa rangsang birahi, Yusdi berharap dapat membantunya dalam menyuguhkan orgasme kepada istrinya.

Nadia masih terus menangis dan akhirnya ia berbisik di telinga suaminya.

“Bukan saja aku diamkan perbuatan Pak Joko itu, Yus… aku malah menikmatinya… Aku… aku…” Nadia ragu untuk memberi tahu Yusdi mengenai orgasmenya. Akhirnya ia melanjutkan, ”Ohhhh… maafkan aku, Yus. Aku sudah tak jujur padamu…”

Nadia kembali menangis. Yusdi terdiam beberapa saat. ”I love you, honey,” kata Yusdi dengan jujur.

“Jangan khawatir. Kita coba periksakan hal ini ke dokter. Ok?” kata Yusdi yang masih belum mau mengungkapkan penyebab rangsangan yang timbul secara acak itu.

Nadia terkejut dan melepaskan pelukan suaminya, ”Jangan. Aku tak mau ke dokter lagi.”

Nadia kembali teringat pengalamannya dengan dokter Doni, teman satu SMA-nya itu. Untuk menutupi rasa bersalah karena tidak menceritakan tentang orgasmenya itu, Nadia menceritakan kejadian pada saat pemeriksaan pap-smear bersama Doni.

“Waktu diperiksa oleh Doni, aku juga terangsang, Yus. Pada saat alat yang ia gunakan untuk mengambil sampel itu masuk ke dalamku, jantungku jadi berdebar-debar. Begitu alat itu dikeluarkan, aku merasa diriku menjadi panas dan ada keinginan agar alat itu segera dimasukkan kembali.”

“Apakah kamu yakin kalau saat itu kamu sedang terangsang, Nad?” Yusdi akhirnya mulai berinteraksi dengan bertanya balik.

“Kamu tahu kan kalau aku tidak mudah untuk terangsang, Yus?” Nadia minta pengakuannya.

Yusdi mengangguk. Lalu Nadia melanjutkan, ”Dan aku tahu jika diriku sedang terangsang atau tidak. Kamupun harusnya tahu kan, Yus?”

Yusdi tidak langsung menjawabnya karena ia masih memikirkan jawabannya. Lalu ia berkata, ”Yah… yang aku tahu jika kamu mulai basah di bawah sana, itu menandakan bahwa kamu mulai terangsang.”

“Nah itu! Benar, kan?” kata Nadia dengan suara yang sedikit bergetar.

Yusdi belum dapat menangkap arah pertanyaan Nadia yang terakhir ini.

“Berarti Doni pun tahu kalau saat itu aku terangsang. Juga Pak Joko. Aduuuhh… aku malu sekali, Yus…”

“Ok. Jangan panik dulu, Nad. Yang lalu biarlah berlalu. Mungkin saja mereka sudah melupakan hal itu atau setidaknya mungkin mereka tidak terlalu menganggap serius hal itu.”

Pikiran Nadia membawanya flashback kembali ke pengalamannya dengan Joko. Ia bertanya-tanya mungkinkah Joko tahu bahwa saat itu ia berorgasme. Atau seperti yang dikatakan Yusdi tadi, malah sebaliknya Joko tidak tahu menahu akan hal ini. Pikiran Nadia terus berlanjut: tetapi jika saja Joko tahu bahwa ia berorgasme pada saat itu, akankah Joko dengan mudah melupakan kejadian itu seperti yang dikatakan Yusdi barusan.

Suara Yusdi membuyarkan semua pikiran tadi, ”Nad, apa yang sedang kamu pikirkan?”

Nadia yang kaget menjawab, ”Oh tidak. Aku hanya takut kamu marah padaku, Yus.”

“Lho, kenapa aku harus marah kepadamu? Seharusnya aku marah kepada Pak Joko. Dasar tua-tua keladi!” kata Yusdi sedikit berpura-pura kesal.

“Sudahlah, Yus. Jangan diungkit-ungkit lagi masalah ini dengan Pak Joko, yah. Aku malu jika hal ini terjadi.”

“Baiklah. Tapi awas saja kalau ia berani macam-macam terhadapmu lagi…!”

“Sudah, sudah… tak usah diributkan lagi.”

“Jadi bagaimana dengan dirimu? Kamu tetap tidak mau memeriksakan kondisimu ini ke dokter, yah?” tanya Yusdi.

Nadia tidak menjawab. Ia tertunduk lalu membaringkan tubuhnya di ranjang itu.

“Baiklah. Tapi aku yang akan mencari dokternya sendiri.”

Malamnya mereka berdua berhubungan seks dengan hebat. Dihujani dengan kata-kata cinta oleh Yusdi, tubuh Nadia menjadi lebih rileks dan responsif terhadap belaian dan ciumannya. Bahkan tanpa bantuan Sex-Force® sedikitpun, Nadia hampir mencapai orgasme saat berhubungan seks dengan Yusdi malam ini. Sayang saja Yusdi sudah mencapai klimaks dan terlelap tidur merangkul istrinya.

Yusdi memang tidak berniat memakai Sex-Force® pada saat berhubungan seks dengan istrinya. Ia ingin secara alami memuaskan Nadia.


* * *


Hari-hari berikutnya jumlah pekerjaan Yusdi di kantor bertambah banyak sehingga ia hampir tidak sempat menggunakan Sex-Force® pada istrinya. Sebaliknya pekerjaan Nadia saat ini justru tidak terlalu banyak.

Akhirnya pada hari Selasa dua minggu berikutnya, Pak Ardi memanggil Nadia. Sebuah perusahaan besar akan mengirim dokumen untuk diproses secepatnya. Dokumen itu akan dikirim sekitar jam 7 besok malam via email. Lalu dokumen itu harus diproses, yang kemudian hasilnya akan dikirim balik ke perusahaan tersebut.

Jadi Pak Ardi mendelegasikan pekerjaan ini kepada Nadia. Dan Nadia butuh salah seorang dari bawahannya untuk membantu memproses dokumen itu. Untuk dapat memproses dokumen tersebut dengan cepat dibutuhkan orang yang sudah biasa melakukannya. Orang itu tak lain adalah Joko. Akhirnya dengan berat hati Nadia memanggil Joko untuk menghadap.

“Pak Joko, besok malam Bapak lembur yah. Tolong Bapak siapkan semuanya.”

Tanpa banyak cakap, Joko menyanggupi dan kembali ke tempatnya. Nadia merasa seperti melihat senyum terselubung pada bibir Joko, namun ia tidak begitu yakin.

“Besok sore, aku lembur, Yus. Jadi aku tidak ikut kamu pulang,” Nadia memberi tahu Yusdi dalam perjalanan pulang.

“Oh ya? Kok tumben?”

“Iya nih. Ada perusahaan yang agak semau jidatnya kasih kerjaan,” lanjut Nadia.

“Jadi, kamu besok pulang sama siapa? Perlu aku jemput?” Yusdi bertanya penuh perhatian.

Nadia tersenyum, ”Tidak usah, Yus. Besok aku pulang sendiri naik taksi saja. Belakangan ini kamu lagi banyak kerjaan dan capek, kan?”

“Oh tidak apa-apa kok, Nad. Cuma jemput aja sih tidak akan jadi tambah capek, kok,” sanggah Yusdi.

“Tidak usah, Yus. Terima kasih, sayang. Besok aku pulang sendiri saja. Barangkali Pak Ardi menyiapkan mobil dari kantor untuk mengantar kami yang bekerja lembur besok.”

“Hmm… baiklah bila itu maumu. Siapa saja yang lembur?” tanya Yusdi.

“Aku berdua dengan Pak Joko.”

Suara Nadia sedikit bergetar pada saat memberi jawaban itu. Yusdi yang sedang menyetir mobil, melirik lewat ekor matanya.

“Wah, sepertinya besok akan seru, nih,” pikir Yusdi yang mulai mempersiapkan rencana untuk istrinya besok.


* * *


Matahari cerah bersinar telah memulai pagi yang indah itu. Yusdi dan Nadia sudah terbangun sejak tadi dan kini bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.

Hari ini Nadia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah kehitam-hitaman yang terbuat dari bahan katun, rok selutut berwarna hitam dan sepatu hak tinggi berwarna merah gelap.

Hari serasa berlalu dengan lambat bagi Yusdi. Ia sudah mempersiapkan rencana baru untuk istrinya yang berlembur malam ini. Ia sudah memasang remote Sex-Force® khusus ke komputernya yang tak jauh dari tempat Nadia. Remote khusus ini dapat diaktifkan melalui internet sehingga nanti pada saat Yusdi sedang berada di rumah, ia tetap dapat menyalakan Sex-Force® yang berada di dalam vagina Nadia.

Pukul 17.30 tepat, kebanyakan dari karyawan di kantor tersebut sudah bergegas menuju mesin absensi. Kecuali Nadia dan Joko, tentunya. Mereka belum beranjak dari tempat duduknya.

Nadia mengisi waktunya dengan membaca tabloid wanita sambil mendengarkan radio yang ada di atas mejanya. Sedangkan Joko mengisi waktunya dengan bermain game yang ada di komputernya. Tak lama kemudian, Yusdi datang menghampiri Nadia untuk berpamitan pulang.

Waktu berlalu begitu lambatnya. Nadia membuka emailnya. Ia menekan tombol ‘refresh’ setiap lima menit, kalau-kalau email yang dinanti-nanti itu sudah masuk ke dalam inboxnya.

Akhirnya pukul 19.38 email itu baru tiba. Nadia langsung membuka email itu lalu segera mencetak isi email tersebut. Hasil cetakan itu diberikannya kepada Joko yang akan ia gunakan sebagai input dalam proses berikutnya.

Setelah itu, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Sudah lewat 1½ jam mereka berdua menginput data-data ke komputer, namun proses ini baru selesai sekitar 60%. Nadia sesekali menghampiri Joko untuk memantau kemajuan dari proses penginputan tersebut.

Pukul 21.45 mereka akhirnya selesai menginput data-data tersebut. Kini saatnya komputer memproses data-data tersebut. Dan setelah itu, hasil dari proses tersebut akan divalidasi oleh Nadia. Barulah kemudian hasil tersebut dikirim balik ke perusahaan itu.

Nadia mengangkat gagang telepon di mejanya. Ia menekan nomor telpon rumahnya.

“Yus, ini aku, Nadia. Penginputan baru saja selesai, tapi aku harus menunggu proses komputer lagi.”

“Oh… begitu? Jadi kapan kamu bisa pulang?”

“Entah lah. Mungkin sekitar satu jam lagi baru beres semuanya.”

“Mmm… tapi kamu tidak usah menunggu aku, Yus,” Nadia segera menambahkan.

“Oh… begitu? Aku belum berniat untuk tidur, sih. Kamu bawa kunci, kan? Siapa tahu aku ketiduran,” kata Yusdi.

“Bawa, kok. Kamu tidur saja. Aku akan segera pulang. Oh iya, Pak Ardi tidak berhasil mendapatkan mobil untuk mengantar kami pulang, jadi nanti aku pulang naik taksi.”

“Kamu yakin tidak mau kujemput?” tanya Yusdi.

“Tidak usah, Yus. Kamu istirahat saja di rumah. Sudah hampir jam 10 nih.”

“Baiklah. Kamu hati-hati yah pulangnya.”

“Baik. Bye…”

“Bye,” kata Yusdi lalu menaruh gagang telponnya.

Yusdi yang sedang berada di kamar, berselonjor di atas ranjang sambil membaca koran. Di sampingnya sudah ia siapkan laptop yang akan ia gunakan untuk menjalankan rencananya.

Ia meraih laptop itu lalu masuk ke website Sex-Force®. Setelah memasukkan user-id dan passwordnya, ia kini berada di halaman pengatur untuk remote khusus yang terhubung ke komputernya di kantor. Di halaman itu terlihat gambar sebuah remote yang sama dengan remote aslinya. Melalui gambar remote itu, ia dapat mengatur rating rangsangan sama seperti pada remote aslinya.

Pertama-tama ia menyalakan remote tersebut. Lampu indikator menyala hijau. Setelah itu tombolnya diputar ke level 1. Lampu indikator menjadi kuning. Setiap sepuluh menit ia akan memutar tombol itu satu tingkat demi satu tingkat.

Sementara itu di kantor, Nadia beranjak keluar untuk menuju ke toilet. Joko yang sedang duduk memperhatikan layar monitor komputer di depannya, melirik sekelebat ke arah Nadia yang berjalan keluar. Setelah memastikan Nadia benar-benar sudah keluar, Joko dengan secepat kilat menghampiri meja Nadia. Ia mengeluarkan sebuah tablet berwarna putih dari saku bajunya lalu dimasukkannya ke dalam gelas Nadia. Tablet tersebut larut dalam waktu yang sangat singkat. Joko mengaduk-aduk air di dalam gelas itu dengan jarinya. Setelah itu Joko kembali ke tempatnya.

Lima menit kemudian Nadia masuk kembali dan duduk di depan komputernya. Sambil menunggu proses komputer selesai, Nadia mengisi waktu dengan merapihkan inboxnya. Ia menghapus email-email yang sudah tidak diperlukan lagi dan mengelompokkan beberapa email yang sejenis.

Joko dari tempat duduknya terus memperhatikan Nadia. Joko berharap agar Nadia segera minum dari gelasnya itu. Semakin cepat ia meminumnya maka semakin banyak waktu yang ia peroleh untuk melakukan rencananya.

Tak berapa lama kemudian Nadia meraih gelasnya lalu meneguk habis air yang ada di dalam gelas tersebut. Nadia tak merasakan ada keanehan pada air minumnya yang berarti ia tidak tahu bahwa Joko telah memasukkan obat tidur ke dalam air minumnya.

Dua menit kemudian, Yusdi yang berada di rumah memutar tombol remote itu ke rating 2. Perlu waktu sepuluh menit lagi untuk naik ke rating berikutnya, pikir Yusdi yang mulai mengantuk.

Sementara itu, Nadia belum merasakan apa-apa. Baik pengaruh obat tidur itu maupun pengaruh Sex-Force® dalam vaginanya. Ia terus mengutak-atik emailnya.

Lima menit setelahnya, Nadia merasakan pandangannya mulai berkunang-kunang sehingga membuat matanya menjadi berat dan berair. Joko melihat Nadia beberapa kali menguap tanda obatnya sudah mulai bekerja.

Menit-menit berikutnya begitu berat bagi Nadia untuk membuka matanya. Lalu akhirnya Nadia merebahkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di meja.

Joko menunggu dari tempat duduknya beberapa menit ekstra sebelum akhirnya ia menghampiri Nadia yang sudah tertidur pulas.

“Mimpiku jadi kenyataan,” seru Joko dalam hatinya.

Joko menarik kursi yang diduduki Nadia sambil memegangi tubuhnya agar tidak jatuh ambruk ke lantai. Tubuh Nadia didudukkan bersandar pada punggung bangku. Lalu Joko mengeluarkan kamera digital yang dipinjamnya dari salah seorang kawannya. Dengan cekatan, Joko memasang kamera itu di atas tripod dan mulai memotret Nadia.

Setelah itu Joko menghampiri Nadia dan mulai melepas satu per satu kancing kemejanya.

Yusdi kaget terbangun dari tidurnya. Ia ketiduran dan telah lewat 15 menit dari waktunya untuk memutar tombol. Dengan setengah tertidur Yusdi memutar tombol itu ke rating 3. Dan tanpa sadar, ia terlelap lagi.

Di kantor, Joko telah berhasil membuka kemeja Nadia dan menanggalkan roknya. Nadia yang hanya memakai BH berwarna krem dan celana dalam berwarna putih didudukkan Joko di bangku Pak Ardi. Bangku Pak Ardi jauh lebih besar dari bangku-bangku lainnya di ruangan itu.

“Aku harus cepat nih. Jangan sampai ia terbangun,” pikir Joko.

Beberapa kali Joko mengubah posisi duduk Nadia ke berbagai pose. Yang pasti semua pose itu dapat membangkitkan birahi lelaki yang melihatnya.

Setelah itu Joko menghampiri Nadia lagi dan kali ini ia elepas BH yang dikenakannya. Setelah terlepas, Joko memperhatikan payudara Nadia dengan kagum.

“Selama ini aku hanya dapat melihat sedikit-sedikit. Tapi kini aku bisa melihat bukit indah ini sepuasnya,” bisik Joko pada dirinya sendiri.

Joko tergoda untuk meraba buah dada Nadia yang montok dan padat itu. Puting susunya sudah membesar dan menegang.

Melihat hal ini Joko berbisik lagi, tapi kali ini ditujukan kepada Nadia, ”Ternyata kamu wanita yang besar nafsunya, yah?” seakan Nadia dapat mendengarnya.

Tentu saja Joko tidak tahu perihal Sex-Force® yang tertanam di dalam vagina Nadia. Joko mengira bahwa dirinyalah yang menyebabkan Nadia terangsang.

Joko meraba payudara kanannya lalu mulai meremas-remasnya dengan lembut. Nadia tidak bergeming sedikitpun.

Sekitar lima menit Joko meremas-remas bukit montok itu. Lalu tiba-tiba ia tersadar bahwa waktunya tidak banyak.

Langsung ia memotret Nadia lagi dengan kondisi topless alias polos bagian atas. Joko memotret lima gambar untuk beberapa pose.

Setelah itu, Joko kembali menghampiri Nadia lalu ia melepas celana dalamnya itu. Bulu-bulu halus menghias kemaluannya. Joko mengelus selangkangan Nadia lalu mulai memotretnya, juga dalam berbagai pose yang sensual.

Untuk foto-foto berikutnya dibutuhkan usaha yang jauh lebih besar. Joko mengatur agar wajah Nadia dapat terlihat dengan jelas di kamera itu. Bukan hanya wajahnya saja yang difoto, namun Nadia harus terpotret seakan sedang menghisap sebuah penis yang tak lain adalah penis Joko.

Tanpa mengalami kesulitan sedikitpun, Joko sudah mendapatkan penisnya dalam kondisi maksimal, baik keras maupun besarnya. Ia menjepit mulut Nadia dengan tangan kirinya agar mulutnya terbuka lalu mendorong masuk batang kemaluannya melalui bibir Nadia yang mungil itu.

Dengan menggunakan pengatur waktu, Joko memotret lima kali untuk ‘adegan’ ini. Joko harus berusaha keras supaya tidak terlanjur mencapai klimaks walau sebenarnya ia sudah sangat amat terangsang oleh kehangatan mulut Nadia. Ia tidak mau mengambil resiko untuk harus mencuci mulut Nadia yang dipenuhi spermanya.

Oleh karena itu ia cepat-cepat menyelesaikan semuanya. Selain itu pengaruh dari obat tidur di dalam tubuhnya sudah berangsur-angsur menurun dan Nadia dapat terbangun sewaktu-waktu.

Joko membereskan semua peralatan lalu memakaikan kembali pakaian Nadia satu per satu. Dalam waktu sepuluh menit, akhirnya Joko selesai dengan mengancingkan kancing terakhir kemeja Nadia. Lalu ia mengatur tubuh Nadia kembali seperti semula.

Joko melihat monitor komputernya dan mendapati bahwa proses data yang mereka nanti-nantikan sudah selesai. Joko menghampiri Nadia lalu mengguncang-guncangkan bahunya untuk membangunkannya.

“Nad, Nadia. Bangun, Nad,” kata Joko berpura-pura.

Setelah sekian lama barulah akhirnya Nadia terbangun. Kepalanya masih terasa berat pada saat ia melihat Joko berdiri di depannya.

“Nad, kamu ketiduran, yah?” tanya Joko berpura-pura.

“Oh, ya?” seru Nadia kaget, ”Jam berapa ini?”

“Hampir jam 11.”

“Wah gawat. Dokumen itu harus sudah dikirim sebelum jam 12. Prosesnya sudah selesai, Pak Joko?” tanya Nadia dengan gusar.

“Sudah. Bahkan sudah saya kirim ke email kamu,” jawab Joko.

Nadia meraih mousenya lalu memeriksa dokumen yang dikirim Joko barusan. Sepuluh menit kemudian Nadia mengotorisasi dokumen tersebut dan mengirim balik ke perusahaan yang bersangkutan.

Selesai sudah pekerjaan mereka. Nadia bersiap-siap untuk pulang ketika Joko berbicara padanya,”Nad, kamu mau saya antar pulang?”

“Hmmm… tidak perlu, Pak Joko. Aku bisa pulang sendiri naik taksi. Terima kasih, Pak,” jawab Nadia ringan.

“Jam segini seorang wanita naik taksi sendirian berbahaya, Nad. Ayolah, aku tunggu kamu di tempat parkir, ya?” kata Joko yang langsung meninggalkan Nadia seorang diri di ruangan itu.

Nadia yang tidak diberi kesempatan untuk menyanggah, sebenarnya sedikit banyak mengakui bahwa pernyataan Joko itu benar adanya. Menyadari tinggal seorang diri dalam ruangan itu, Nadia bergegas mengambil tasnya dan keluar dari kantor.

Di tempat parkir, Joko sudah menunggu di atas motornya. Nadia menghampirinya dengan terburu-buru.

“Maaf sudah menunggu lama, Pak.”

“Tidak apa-apa kok.”

Nadia duduk menyamping di jok belakang lalu bertanya, ”Kita tidak pakai helm, Pak?”

“Ah, malam-malam begini tidak usah pakai helm. Polisi sudah pulang kandang, Nad,” kata Joko sambil tertawa kecil.

Nadia menanyakan helm bukan karena takut ditilang oleh polisi melainkan untuk keselamatannya belaka.

Joko memacu motornya dengan cepat. Begitu kencangnya sampai membuat Nadia takut karenanya.

“Pak, jangan kencang-kencang!” Nadia berteriak dekat telinga Joko untuk melawan suara angin dan suara motor tersebut.

“Tidak usah takut, Nad. Biar cepat asal selamat,” canda Joko.

“Lebih baik kamu pegangan pada tubuh saya, Nad.”

Nadia ragu untuk berpegangan pada tubuhnya. Akhirnya ia menggunakan bagian belakang baju Joko sebagai pegangan. Akan tetapi itu tidak cukup untuk membuatnya merasa aman.

Dengan berat hati Nadia melingkarkan tangan kanannya melewati pinggang dan perut Joko. Dan pada akhirnya, kedua tangannya memeluk pinggang Joko dengan erat. Nadia menempelkan pipinya di atas punggung Joko agar wajahnya tidak diterpa angin yang kencang akibat laju motor yang cepat itu. Sementara itu senyum lebar menghiasi wajah Joko.

Rasa aman perlahan-lahan memenuhi dada Nadia. Dalam temaramnya malam, Nadia merasakan kehangatan tubuh Joko yang kontras berbeda dengan dinginnya angin malam. Detak jantung Joko yang dapat ia rasakan, membuat dirinya jauh lebih tenang dan rileks.

Tanpa disadari, keadaan itu memicu dorongan birahinya yang sejak tadi telah dirangsang oleh Sex-Force® (pada rating 3). Payudaranya sedikit mengencang dan puting susunya menegak.

Tiba-tiba Nadia sadar akan kondisinya itu. Ia mulai merasakan kemaluannya menjadi basah dan klitorisnya mengeras. Perasaan aman dan rileks tadi membuat dirinya lebih responsif terhadap sentuhan terhadap pria, pikirnya.

Awalnya ia berusaha untuk menepis semua gejolak birahi tersebut. Namun karena usahanya tidak membuahkan hasil yang berarti, Nadia memutuskan untuk membiarkan semuanya itu. Bahkan ia memutuskan untuk mencoba menikmatinya.

Akan tetapi tentu saja Nadia tidak ingin Joko mengetahui keadaan dirinya yang sudah terangsang itu. Oleh karena itu Nadia menggesek-gesekkan puting susunya ke punggung Joko dengan gerakan yang tidak kentara.

Dengan vibrasi akibat mesin motor yang sedang melaju itu, Nadia berusaha menekan panggulnya supaya klitorisnya merasakan getaran dari jok secara langsung. Walau getaran pada klitorisnya tidak terlalu terasa, Nadia menikmati setiap gesekan payudara dan puting susunya pada punggung Joko walau terhalang oleh BH dan baju. Nadia yakin dan juga berharap Joko tidak mengetahui perbuatannya ini.

Pada kenyataannya Joko memang tidak mengetahui apa yang diperbuat Nadia dengan tubuhnya. Joko hanya terus memacu motornya dengan kencang.

Sesaat sebelum motor itu berhenti di depan rumahnya, Nadia baru tersadar bahwa perbuatannya ini harus segera dihentikan. Pukul 11.15 mereka sampai di depan gerbang rumah Nadia.

Nadia turun dari motor lalu menghampiri Joko dan berkata, “Terima kasih ya, Pak Joko. Maaf sudah merepotkan.”

“Tidak perlu sungkan, Nad. Oke, saya pulang dan sampai bertemu besok di kantor.”

Joko tidak menyadari wajah dan leher Nadia yang memerah akibat birahinya yang sudah meninggi. Setelah itu ia memacu motornya meninggalkan Nadia seorang diri di depan pintu rumahnya. Nadia memandangi Joko dan motornya menghilang di belokan.

Nadia mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Setelah masuk, segera ia mengunci pintu itu. Lampu ruang tamu tidak ia nyalakan dan langsung menuju kamar.

Gemuruh badai birahinya masih tinggi pada saat ia naik ke loteng menuju kamar tidurnya. Payudara dan puting susunya menegang. Klitorisnya terasa berdenyut-denyut dan membara. Kemaluannya sudah meleleh yang membuat celana dalamnya menjadi kuyup.

“Aku tidak tahu apa yang menimpa pada diriku sehingga membuatku begitu terangsang hanya karena memeluk punggung seorang pria. Kelihatannya aku harus membiasakan diri atas sikap tubuhku yang belakangan ini jadi seperti ini. Saat ini aku tidak ingin tahu, dan saat ini aku hanya ingin menikmatinya,“ pikirnya.

Nadia membuka pintu kamar dan mendapati suaminya tertidur di ranjang dengan laptop yang berada dalam ‘sleep mode’ tergeletak di sampingnya. Nadia tahu bahwa Yusdi tertidur sewaktu menungguinya pulang. Ia tahu suaminya sangat menyayanginya.

Nadia menanggalkan pakaiannya satu per satu sampai tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Lalu secara perlahan ia naik ke ranjang.

Detak jantung dan nafasnya sudah semakin cepat mengimbangi deru ombak birahi yang bergulung-gulung menghantam pesisir saraf-sarafnya. Ia menaiki tubuh suaminya lalu menciumnya dengan sepenuh perasaan cintanya (atau lebih tepat: sepenuh birahinya).

Yusdi langsung terbangun karenanya. Dalam dua detik ia sadar bahwa ia tidak sedang bermimpi dan istrinya menindih tubuhnya sambil mengulum bibirnya. Dengan penuh nafsu Yusdi membalas pagutan bibir Nadia.

“Apa yang terjadi pada Nadia? Jarang-jarang ia bernafsu seperti ini. Apakah saat lembur tadi Joko melakukan perbuatan cabulnya terhadap Nadia yang membuatnya menjadi terangsang seperti ini?” pikirnya lagi.

Ia mendorong perlahan bahu istrinya untuk menghentikan ciuman mereka dan berkata, “Kau sudah pulang, Nad? Sejak kapan?”

Nadia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan menatap suaminya dengan sayu. “Aku lagi horny, Yus.”

Bersamaan dengan kata-kata itu, Nadia merasakan pembuluh darahnya terbuka lebar yang menyebabkan darahnya mengalir deras ke seluruh tubuhnya, terutama ke sekitar selangkangannya yang menyebabkan rasa panas di seputar vaginanya. Otot lehernya menegang, dadanya naik turun karena nafas yang memburu. Detak jantungnya juga bertambah cepat.

Yusdi belum pernah mendengar istrinya menggunakan kata ‘horny’ saat ia terangsang. Ini menandakan bahwa Nadia sudah hanyut terseret arus birahi. Nadia melucuti seluruh pakaian Yusdi sampai suaminya telanjang bulat. Yusdi memeluk Nadia dan mengatakan betapa ia mencintai dirinya lalu menciumnya dengan penuh cinta dan mendalam.

Bibir mereka saling memagut, lidah mereka saling membalur. Nadia membalas ciuman suaminya dengan perasaan yang melambung tinggi. Setelah beberapa lama berciuman, Nadia menggenggam penis Yusdi yang sudah tegang mengeras lalu membimbing batang itu ke dalam liang kewanitaannya yang sudah sangat basah.

Pada posisi Nadia berada di atas, penis Yusdi dengan mudah masuk ke dalam vaginanya. Dengan gerakan perlahan, Nadia mulai menggoyang pinggulnya untuk mengocok penis suaminya dengan menggunakan vaginanya. Yusdi meremas-remas buah dada Nadia yang bergoyang-goyang di depannya. Keduanya berada dalam kondisi yang begitu terangsang.

Lalu tiba-tiba raut wajah Nadia berubah seperti orang yang kesakitan. Alisnya berkerut, matanya dipejamkan, otot lehernya menegang dan mulutnya terbuka lebar seperti hendak berteriak. Kedua tangannya ditariknya ke belakang untuk menopang tubuhnya yang bergetar-getar dengan cepat. Otot dalam vaginanya berkejut-kejut dengan ritme yang sangat cepat seakan memompa batang kemaluan suaminya.

Yusdi yang tidak pernah merasakan sensasi seperti ini, sadar bahwa istrinya sedang mengalami orgasme. Beberapa detik kemudian Nadia terkulai lemas dan berusaha untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Yusdi yang belum mencapai klimaks memutar posisinya dan menyuruh istrinya untuk menungging.

Kini Yusdi berada di belakang Nadia. Yusdi mengoles-oleskan kepala penisnya ke bibir vagina istrinya. Setelah Nadia pulih dari orgasmenya, Yusdi menggenjot vagina istrinya dengan kekuatan penuh dan dengan kecepatan yang makin lama makin cepat. Nadia yang belum lepas dari efek orgasme yang tadi, merasakan dorongan birahinya kembali meningkat dengan cepat. Nadia ikut bergoyang menyamakan irama tubuh suaminya.

Sambil bersanggama, Yusdi meremas-remas payudara Nadia yang menggantung di dadanya. Tak lama setelah itu, penis Yusdi memuntahkan sperma panas dalam semburan-semburan kencang ke dalam liang surga milik istrinya. Kemudian keduanya terkulai lemas dan tertidur sampai esok paginya.

Keesokan harinya Yusdi terbangun dan mendapati Nadia baru keluar dari kamar mandi. Ia bertanya, “Nad, kemarin kamu kenapa?”

“Ehm… tidak kok. Aku sedang ingin bercumbu saja denganmu. Mengapa kamu bertanya?”

“Oh tidak apa-apa. Eh, apakah benar dugaanku bahwa kamu kemarin mencapai klimaks?” Yusdi sudah sangat ingin mengetahui hal ini.

“Iya,” jawab Nadia singkat dan jelas.

“Wah… bagus deh kalau begitu. Enak kan orgasme itu?” sambung Yusdi dengan senyum yang lebar di wajahnya.

Nadia hanya tersipu malu, “Iiihh… kamu ini. Sudah ah, aku tidak mau membicarakan hal ini lagi.”

Yusdi masih tersenyum saja sementara ia bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Saat mereka sedang menyantap sarapan pagi, Yusdi terpikir akan satu hal.

“Mmm… ini pertama kalinya kamu merasakan orgasme, kan?” tanya Yusdi hati-hati.

Nadia terdiam dan terlihat alisnya sedikit berkerut seperti orang yang sedang memikirkan jawaban yang tepat.

“Hm-mh,” gumamnya mengiyakan pertanyaan Yusdi tadi, sembari mengangguk perlahan.

Yusdi melihat ada keraguan dalam menjawab pertanyaannya tersebut. Dalam pikirannya ia menduga-duga: jangan-jangan kemarin Joko sudah menyetubuhi Nadia di kantor. Dan jangan-jangan Nadia juga mengalami orgasme. Hal ini dapat menjelaskan mengapa Nadia ragu pada saat menjawab pertanyaannya tadi.

Yusdi terus memikirkan kemungkinan tersebut. Situasi dan kondisi kemarin malam sudah mendukung buat Joko untuk bercumbu dengan Nadia. Situasi kantor yang kosong dan remang-remang, sepasang insan manusia normal berlainan jenis ditambah dengan Sex-Force® yang menyala, sudah sangat mendukung terjadinya kontak fisik yang membuahkan hubungan seks.

“Oh! Ya ampun! Sex-Force® nya masih menyala!” teriak Yusdi dalam hati.

“Pantas saja Nadia begitu mudahnya mencapai orgasme kemarin,” pikir Yusdi lagi.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 5
Baca cerita sebelumnya « Bagian 3





7 comments:

  1. akhirnya yusdi dapet jatah hehehe

    ReplyDelete
  2. Buset dah, masih bersambung juga???
    Ampe episode berapa nih???

    ReplyDelete
  3. anjritttt mantap ceritanya gan

    ReplyDelete
  4. @GS
    Kudu dong... Yusdi harus dapat jatah ngbikin Nadia orgasme.
    BTW, thank you yah udah ingetin ttg hal itu (yg gue lupa ungkapin di seri sebelumnya 1-3).

    @Vengxi
    Iya nih, Veng. Masih lanjut terus, soalnya otaknya masih lancar mikir nih. Tetep setia ngikutin yah... Kasih tau gw kalo ceritanya udah mulai ngbosenin or kepanjangan.

    @Anon
    Aih, senangnya kalo hasil jerih payah kita dihargai ^_^
    Thanks.

    ReplyDelete
  5. Sudah seminggu ane nungguin. Tapi ampe sekarang belon ada juga sambungannya. Kapannya lanjutan ceritanya.. Semoga gak berhenti kayak cerita-cerita yang lainnya hehehe...

    ReplyDelete
  6. @Vengxi
    Iya sebisa mungkin gw post ceritanya seminggu sekali. Itu pun harus ngebut nulisnya (dan kalo otaknya lancar).
    Sekarang masih dalam tahap penulisan 'adegan' utk SF5. Moga-moga malem ini or besok, SF5 udah bisa dirilis.
    Kalo dikira-kira serial SF minimal bakalan sampe 6 bagian sih.

    ReplyDelete
  7. Asek... Asek... Ane tunggu deh hehehe...

    6 bagian??? Sedikit sekali. Padahal ampe sekarang belon ada ecek-eceknya hehehe...

    ReplyDelete