Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

May 17, 2014

Sex-Force 6

Nadia
Ringkasan: Mengantor tanpa mengenakan celana dalam? Bikin horny or malah bikin melempem?
Kode cerita: Blkm, MF, mastrb, non-con, no-sex

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia
* Pak Ardi: manager Nadia


Sex-Force 6
by: VVN

Sejak kejadian hari Sabtu lalu itu hampir setiap hari Joko menagih Nadia untuk menuruti setiap permintaannya. Beberapa kali Nadia harus bernegosiasi atas permintaan-permintaan Joko yang menurutnya sulit untuk dipenuhi. Bahkan ada beberapa permintaan yang ia tolak mentah-mentah. Namun secara keseluruhan, permintaan-permintaan Joko cukup masuk akal. Ia tidak meminta Nadia untuk melakukan hal-hal yang jelas-jelas melanggar pidana, seperti mencuri, membunuh, dan sebagainya. Ia juga tidak meminta Nadia untuk menaikkan gajinya atau menceraikan Yusdi.

Tingkat kesulitan permintaan-permintaan Joko juga beragam. Dari yang sangat mudah, seperti membuatkan kopi, mengambilkan berkas file di kabinet; yang masuk ke tingkat menengah, seperti mengambil pen yang sengaja ia jatuhkan di kolong meja supaya ia dapat menikmati pantat Nadia yang menungging sewaktu mengambilnya, membiarkan satu kancing kemejanya terbuka sepanjang hari, memijit pundak Joko selagi tidak ada orang lain di sekitar mereka; sampai ke tingkat yang sulit, di antaranya seperti menciumnya, membiarkan puting susunya dijilati Joko, mengulum batang penis Joko, dan lain-lain.

Setiap harinya paling sedikit lima permintaan yang Joko ajukan kepada Nadia. Demikian pula yang terjadi pada hari Kamis. Pagi harinya Joko sudah meminta Nadia untuk menanggalkan celana dalamnya dan menaruhnya di atas meja Joko. Nadia sempat menolak permintaan ini, namun Joko tetap bersikeras. Ia memang sudah menunggu-nunggu Nadia mengenakan rok pendek model A-Line ini (di bagian pinggang kecil dan makin ke bawah semakin lebar) untuk mengajukan permintaan ini.

Rok pendek Nadia berayun lemah saat Nadia melangkahkan kakinya menuju meja Joko. Tangannya menggenggam erat celana dalam putih yang telah ia masukkan ke dalam kantong plastik. Walaupun orang-orang lain tidak ada yang tahu, Nadia tetap merasa canggung berjalan di tengah teman-teman kantornya tanpa mengenakan celana dalam.

Tanpa berhenti sama sekali Nadia melewati meja Joko lalu meletakkan dengan hati-hati bungkusan plastik di atas meja.

"Bu Nadia," panggil Joko dengan resmi walaupun situasi kantor masih sepi.

Nadia menghentikan langkahnya. Ia menarik dua nafas panjang lalu berbalik dan menghampiri Joko. "Mau apa lagi dia?" pikirnya dalam hati.

"Ada apa, Pak?" setengah berbisik Nadia berusaha bersikap seprofesional mungkin.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

"Besok kamu jangan parkir di tempat biasa," ujar Joko dengan nada yang penuh otoritas. "Kamu parkir di area parkir belakang, di samping pohon besar di pojokan."

"Lho Bapak tahu dari mana besok aku bawa mobil?"

"Saya kan tau Yusdi sedang dinas luar kota 2 hari ini," jawab Joko.

"Lalu, kenapa aku harus parkir di sana?"

"Akhir pekan ini saya harus pergi mengunjungi mertua. Jadi saya mau minta 'jatah besar'-nya besok saja."

Nadia berpikir keras mencari-cari alasan untuk menolak permintaan itu. "Bapak mau kita melakukannya di tempat parkir??"

"Lebih baik di sana dari pada di ruang makan, kan?"

Nadia mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menahan emosinya yang mulai naik.

"Tenang, Nad. Area parkir belakang itu selalu sepi," Joko menjelaskan untuk menenangkan hati Nadia. "Paling banyak juga 1 atau 2 mobil. Apalagi kalau hari Jumat."

Setelah berhasil meredam emosinya Nadia menyanggupi permintaan tersebut. "Aku balik ke mejaku kalau sudah tidak ada permintaan apa-apa."

"Sampai saat ini saya cuma butuh celana dalammu," jawab Joko sambil mengintip ke dalam kantong plastik di tangannya. Kemudian ia mendongak dan menatap Nadia dalam-dalam.

"Apa?"

Joko tersenyum penuh kelicikan. "Saya kan masih perlu memastikan kalau kamu benar-benar menanggalkan celanamu."

"Aku tidak mau mengangkat rokku!" sanggah Nadia spontan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan ingin menunjukkan kekuatirannya kalau-kalau ada orang yang bisa melihat apa yang mereka berdua kerjakan.

"Sini mendekat."

Nadia dengan enggan melangkah mendekati lelaki paruh baya bertubuh kurus ini, sampai ia berdiri tepat di sampingnya. Joko yang tadinya duduk menghadap Nadia langsung memutar bangkunya sehingga mereka sama-sama menghadap ruangan besar kantor mereka.

Nadia berdiri tak bergeming menunggu aksi Joko. Walaupun sudah mengantisipasi apa yang akan terjadi, tubuh Nadia tetap terlonjak saat ia merasakan jari-jari Joko menyentuh paha bagian dalamnya. Joko menyelusupkan jari-jarinya dari belakang paha Nadia sambil pandangan mereka berdua menyapu ke sekeliling ruangan untuk memastikan tak ada seorangpun yang melihat.

Sentuhan itu bergerak perlahan naik menuju ke selangkangannya. Semakin dekat jari-jari Joko ke kemaluannya, otot-otot leher dan pinggul Nadia semakin mengencang. Tanpa melupakan radar yang ia pancarkan untuk mendeteksi orang yang melihat mereka, Nadia menggerak-gerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat karena lehernya kini sudah menjadi kaku yang menyebabkan dirinya tidak leluasa lagi untuk menoleh ke kiri atau ke kanan.

Setelah ujung-ujung jarinya menyentuh bulu-bulu halus di selangkangan Nadia sebenarnya Joko sudah diyakinkan bahwa Nadia telah menanggalkan celana dalamnya. Namun ia belum puas sebelum menancapkan jari-jarinya ke dalam liang kewanitaan Nadia.

Joko menekan jari tengahnya ke celung di selangkangan Nadia. Masih kering. Lalu ia mulai mengusap-usap dengan lembut kelopak bibir kemaluan Nadia menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, dengan harapan vagina Nadia meleleh basah sehingga memudahkan aksi pencelupan jarinya.

Setelah beberapa saat, dengan gerakan agak tergopoh, Nadia membuka pahanya sedikit lebih lebar. Joko tidak menyangka Nadia membuka pahanya tanpa diminta. "Mendengar suara nafasnya yang berat, saya tau dia udah horny sih," Joko membatin. "Tapi benar-benar nggak nyangka dia bakalan buka pahanya tanpa disuruh."

Joko melirik ke wajah Nadia. Dengan dada yang mengembang dan mengempis bergantian, Nadia menggigit bibirnya sehingga nafasnya yang berat itu keluar masuk hanya melalui hidungnya. Alisnya sedikit mengernyit dan kelopak matanya sedikit tertutup seperti orang yang sedang menahan kantuk.

"Sialan! Apa dia mau orang-orang kantor sampai tahu apa yang sedang ia perbuat??" jerit Nadia dalam hati.

Sesekali Joko menyelusupkan jari ke celah kemaluan Nadia untuk memastikan apakah lelehannya sudah merembes keluar. Dan terkadang Joko mengusap lingkaran di sekeliling kelentit Nadia untuk memberi setrum tambahan.

Bibir Nadia yang sejak tadi terkatup rapat tiba-tiba terbuka. Ia menghembuskan nafas panjang dan berat disertai dengan erangan yang nyaris tak terdengar. "Hhhhh…"

Tak lama setelah itu dapat terdengar suara decak becek dari selangkangan Nadia. Jari-jari Joko sudah memenangkan pertandingan dan cairan cinta Nadia merupakan imbalannya.

Serta merta jari-jari Joko mengeruk cairan yang seakan luber meluap dari dalam liang sanggama itu lalu mengolesinya ke sepanjang jari-jarinya. Berlimpahnya lelehan yang mengalir itu ditandai oleh suara berkecipak-kecipak di kemaluan Nadia.

Pandangan mata Nadia masih nanar saat Joko membuka suara. "Nad, kalau kamu nggak mau orang lain curiga," kata Joko tanpa menghentikan aksi jari-jarinya, "lebih baik kita pura-pura lagi ngomong tentang kerjaan."

Nadia menutup mulutnya yang sedikit terbuka itu. Diikuti dengan satu hembusan nafas berat melalui hidungnya, Nadia membungkukkan tubuhnya lalu mengambil kertas di meja Joko, berpura-pura hendak membahas sesuatu dengan Joko.

Jari-jari yang sudah basah itu terus menari-nari di bibir kemaluan Nadia, membuat dadanya kembang kempis mengikuti nafasnya yang semakin berat. Karena sudah licin oleh lelehan cinta, dengan mudahnya Joko menekan masuk jari tengahnya ke dalam celah lipatan kelopak vagina Nadia.

"Anhhhh…," secara refleks Nadia kembali membuka bibirnya, mengeluarkan lenguh lirih yang terdengar sangat erotis.

Joko menambahkan jari telunjuknya juga masuk ke liang kewanitaan Nadia lalu mulai mengocok-ngocok relung sempit itu. Kepalanya yang tertunduk, matanya yang terpejam, dahinya yang mengkerut serta tubuh bagian atasnya ditopang kedua tangan yang mengepal kuat di atas meja, memberi bukti kuat bahwa Nadia sedang bergumul untuk menahan gejolak birahi yang sudah tersulut.

"Ehem!" deham Joko terdengar dibuat-buat.

Nadia langsung membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat apa maksud isyarat Joko. Nadia heran karena tidak menemukan hal-hal yang patut diwaspadai.

Tujuan Joko bukanlah untuk memberi isyarat, melainkan ingin mengembalikan arwah Nadia yang seakan sedang terperangkap dalam dunia kenikmatan birahi. "Nad, kamu boleh saja sih menikmati semua ini. Tapi kalau kamu cuma berdiam-diam kaya gitu, orang-orang bisa curiga melihatnya," ujar Joko setengah berbisik. Jari telunjuk dan jari tengahnya itu kini meliak-liuk dengan gerakan seperti gerakan jari-jari yang sedang berjalan. "Ayo dong, ngomong sesuatu kek, diskusi mengenai apa kek, apa saja. Ayo."

"Mmmmhhh… hhhhh…," aksi jari-jari Joko membuat desah basah berulang kali keluar dari mulut yang Nadia katupkan rapat-rapat. Nadia masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendesah. Dan setelah beberapa saat akhirnya ia berhasil menjaga sikapnya menjadi lebih tenang.

"Baik, Pak Joko…," kalimat Nadia terhenti sejenak untuk menarik nafas dalam. "Untuk laporan… nhhh… laporannhh… laporan kwartal…"

Nadia masih belum berhasil menyelesaikan kalimat itu. Tiba-tiba tubuhnya tersengal maju ke depan. "Nghhh…," erangannya terdengar lebih seperti rengek manja.

Senyum lebar tak henti-hentinya menghias wajah Joko lantaran menahan tawa geli melihat Nadia yang terus berusaha menjaga sikapnya. "Laporan kwartal apa, Bu?" tanya Joko dibuat-buat sembari jarinya ia tekan ke G-Spot Nadia.

Istilah G-Spot diambil dari inisial nama Gräfenberg, seorang peneliti asal Jerman, yang mempelajari hubungan antara saluran kencing dan orgasme pada wanita. Dalam laporannya disebutkan bahwa rangsangan fisik di liang vagina bagian depan sepanjang saluran kencing, terutama di area terbawah kandung kemih, membuat wanita sangat terangsang birahinya. Ketika area ini dirangsang, gairah birahi timbul hampir secara spontan atau sangat cepat. Dan ketika dirangsang secara seksual di area ini, sebagian wanita dapat memproduksi cairan yang diklaim berbeda dengan air seni maupun cairan lubrikasi vagina dan secara kontroversi dimuncratkan dari saluran kencing (yang biasa dikenal dengan female ejaculation).

Kepala yang akhirnya tertunduk lunglai menjadi saksi bisu atas ketidakmampuan Nadia untuk menahan birahinya. Kepalan tangannya pun menjadi lebih kencang sampai buku-buku jarinya menjadi putih. Joko hampir yakin bahwa Nadia sedang mengalami orgasme mini.

Tak ada suara yang keluar dari mulut Nadia. Yang terdengar hanyalah suara kecipak basah dari bawah sana. Setelah sekian lama menahan gejolak dalam dirinya, Nadia menoleh ke Joko. "Pak, aku mohon… nhhh… stop…," lirih Nadia dengan kepala yang masih tertunduk.

Kedua jari Joko secara bergantian menekan-nekan G-Spot Nadia sampai akhirnya tubuh wanita itu bergelinjang-gelinjang kecil, masih tanpa adanya suara yang keluar dari mulut Nadia.

"Pak… mmmhhh… pleasehhhh…," suara desah Nadia bergetar.

Perlahan-lahan Joko menarik jari-jarinya keluar dari liang sanggama Nadia. Begitu jari-jari itu keluar sepenuhnya, tanpa menunggu lebih lama lagi Nadia langsung lari berhamburan keluar dari ruangan itu. Perhatian Joko jatuh pada jari-jarinya yang berlumuran lelehan lendir atasannya itu sehingga ia tidak menggubris Nadia yang pergi meninggalkannya.

Joko menggunakan sikunya untuk menopang kedua tangannya di atas meja. Dengan telapak tangan kirinya menutupi punggung tangan lainnya, Joko sembunyi-sembunyi menjilati lendir yang mulai menetes-netes dari jari-jari tangan kanannya.

Lima menit kemudian Nadia kembali masuk ke ruangan itu, bergegas langsung ke mejanya. Dari ekor matanya, Joko melihat Nadia berjalan tanpa berpaling ke arahnya. Ia memutuskan untuk membiarkan Nadia untuk beberapa waktu.

Tak terasa beberapa jam telah berlalu. Menjelang makan siang Joko menghampiri Nadia yang terlihat sejak tadi duduk dengan gelisah. Saat Joko menepuk pundaknya, Nadia terlonjak seakan baru saja mendengar mercon meledak di dekatnya.

"Aduh! Pak Joko! Jangan kagetin aku seperti itu dong!" omel Nadia.

"Lha, saya nggak berniat ngagetin kamu kok," bisik Joko sopan. "Saya lihat dari tadi kamu kayanya gelisah, karena itulah saya mampir ke sini."

"Aku baik-baik saja," jawab Nadia sedikit ketus. "Terima kasih atas perhatiannya."

"Oh, bagus. Kalau begitu saya mau minta tolong diambilkan teh hangat yah, Nad."

Nadia menghentikan apa yang sedang ia kerjakan. Ia terdiam untuk beberapa saat, seakan ragu apa yang harus ia kerjakan. Akhirnya dengan enggan ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ruang makan.

Setelah memastikan Nadia sudah menghilang masuk ke ruang makan, Joko langsung menghampiri kursi di hadapannya. Kursi berukuran besar itu dilapisi oleh kulit sintetis berwarna merah kehitaman. Bagian sandarannya berlapis busa empuk layaknya kursi-kursi para boss.

Joko memperhatikan area tempat Nadia duduk. Senyum lebar Joko kembali menghias wajah yang mulai dipenuhi oleh kerut-kerut penuaan. Dugaannya tepat!

Dengan perlahan namun sigap Joko berlutut di depan kursi Nadia. Jari-jari Joko mengusap-usap licin area yang berlumuran lendir itu. Joko mengangkat jari tengah dan telunjuknya sehingga dari jari-jari itu terjuntai lelehan lendir panjang.

Nadia masuk kembali ke ruangan itu dengan secangkir teh hangat di tangannya. Air muka yang memancarkan kedongkolan itu tiba-tiba berubah memancarkan keterkejutan begitu ia mendapati Joko sedang setengah berjongkok di depan kursinya.

"Sial! Ternyata dia melihat kursiku!" umpat Nadia dalam hati.

Langkah kakinya yang berat sama sekali tidak membantu Nadia untuk menghilangkan rasa cemas dan malu dalam dirinya. Sesampainya di sana Nadia segera meletakkan cangkir berisi teh itu di atas meja, berpura-pura tidak menghiraukan apa yang sedang Joko lakukan pada kursinya.

"Ini teh yang Bapak minta."

Masih dalam posisi setengah berlutut Joko menoleh dan menatap mata Nadia. Jari-jarinya basah meliak-liuk saling melumuri satu dengan yang lainnya. Mau tidak mau pandangan Nadia jatuh pada jari-jari Joko yang basah itu.

"Kamu tau apa ini, Nad?" tanya Joko sambil bangkit berdiri, mengacuhkan teh yang dihidangkan Nadia.

"Pak, jangan diangkat tinggi-tinggi dong. Nanti terlihat oleh yang lain," bisikan Nadia terdengar penuh desakan, ditambah dengan tangannya yang memaksa turun tangan Joko.

"Jadi…, kamu tau apa ini?"

Nadia menggigit-gigit bibir bawahnya. Terpancar dari raut wajahnya ketidakinginan untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya telah Joko ketahui jawabannya.

"Jawab dong."

"Iya, iya! Itu cairanku. Puas?" jawab Nadia ketus masih setengah berbisik.

"Lho, saya kan cuma tanya kamu tau atau nggak," Joko mencibir.

Joko mengecup jari telunjuknya yang basah oleh lelehan Nadia sebelum bertanya, "Lalu, kamu tau apa artinya kalau seorang wanita mengeluarkan cairan ini?"

"Tahu."

"Apa artinya?"

Nadia semakin kesal dengan pertanyaan-pertanyaan konyol Joko. "Artinya perempuan itu terangsang," jawabnya singkat.

"Hahahaha!" suara bahak Joko membuat Irfan dan Rini menengok ke arah mereka.

"Sssstt! Jangan keras-keras!" bisik Nadia.

"Hehehe, jawabanmu itu lho, Nad, to-the-point banget," kekeh Joko.

Nadia semakin gelisah melihat Irfan dan Rini yang memandangi mereka dengan penuh tanya. Menyadari bahwa Joko tidak akan melepaskan dirinya, Nadia memutuskan untuk melanjutkan percakapan ini di meja Joko yang lebih terpencil dibanding mejanya.

"Kita lanjutkan percakapan ini di meja Bapak," ucap Nadia dengan nada memerintah.

Tanpa menunggu persetujuan Joko, Nadia sudah berjalan menuju meja Joko. Joko memandangi pinggul Nadia yang berayun dengan sensual ke kanan dan ke kiri semakin lama semakin menjauh darinya, sambil membayangkan kemaluan Nadia yang tak bercelana dalam. Ia akhirnya menyusul Nadia.

Joko melihat Nadia berdiri di belakang mejanya sambil berpura-pura meneliti berkas-berkas di atas meja itu. Joko memutuskan untuk mengikuti permainan sandiwara Nadia. Ia mengitari Nadia dan langsung duduk di kursinya.

"Kamu mau tau apa artinya menurut saya?" suara Joko terdengar lebih berat dan dalam. Butuh beberapa detik untuk Nadia menyadari bahwa Joko masih merujuk pada pertanyaannya tadi mengenai cairan yang keluar dari vaginanya.

Tubuh Nadia sontak terlonjak maju saat ia merasakan jari-jari Joko menyelinap licin dengan mudahnya masuk ke dalam liang vaginanya. "Ah!" pekiknya lemah.

Nadia memejamkan matanya saat jari-jari berbonggol itu memulai aksinya keluar masuk kemaluannya. Suara berkecipak kembali terdengar oleh telinga mereka berdua. Ia menggigit kedua bibirnya untuk menahan suara desah yang keluar dari mulutnya. Usahanya ini pun ditandai oleh kernyit di dahinya yang tak kunjung pudar.

"Kalau seorang wanita mengeluarkan cairan ini," Joko memutar-mutar jari-jarinya yang masih berada di dalam vagina Nadia sebelum melanjutkan penjelasannya, "artinya tubuhnya sudah siap untuk disetubuhi."

Mendengar penjelasan Joko, Nadia tiba-tiba merasa seakan ada gelombang hangat yang masuk melalui selangkangannya, mengalir dan menyebar ke sekujur badannya. Dan secara tiba-tiba pula jari-jari Joko ditarik keluar dari tubuhnya.

"Brengsek! Dia sengaja ingin menyiksaku!" umpat Nadia dalam hati. Ada bagian dari dirinya yang berharap jari-jari itu tidak keluar dari kemaluannya.

Perlahan-lahan Nadia membuka matanya sayu. Bibirnya mengelopak terbuka dan mengeluarkan hembusan panjang dari dalam dadanya. Pandangannya masih nanar dan kosong, sampai tiba-tiba sosok di hadapannya menjadi semakin jelas.

Matanya terbelalak saat ia sadar sosok yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua tak lain adalah Pak Ardi, managernya. Dengan secepat kilat Nadia meluruskan posisi berdirinya, merapihkan rok pendek yang ia kenakan, lalu mengambil secara asal lembaran-lembaran dari meja Joko.

"Terima kasih atas laporannya, Pak Joko," ucap Nadia tidak peduli lagi pada Joko yang saat itu sedang berpura-pura menulis sesuatu di kertas. Rupanya Joko sudah melihat Pak Ardi datang menghampiri mereka sehingga ia cepat-cepat menarik tangannya dari selangkangan Nadia.

Melihat wajah Pak Ardi yang seperti baru saja melihat hantu, Nadia dapat mengira-ngira apa yang baru saja beliau lihat. Otaknya segera berpikir keras agar ia dapat keluar dari permasalahan yang mungkin terjadi. Dengan langkah pasti, Nadia menghampiri Pak Ardi.

"Pak Ardi mencari aku?"

"Ah, a-a-anu…," mata Pak Ardi berkejap-kejap karena tidak berhasil menemukan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Otaknya malah mendaftar hal-hal yang membuat Nadia terlihat begitu cantik menggoda hari ini: bibirnya yang penuh dan merah merekah, dadanya yang terbungkus ketat oleh kemeja putih, pinggulnya yang gemulai, pahanya yang putih mulus, betisnya yang jenjang, ditambah lagi dengan rona merah di pipi dan lehernya seperti wanita yang baru saja selesai bersanggama.

"Iya, aku menelpon mejamu tapi tidak dijawab," jawab Pak Ardi cepat-cepat.

"Oh, aku sedang mencari laporan kwartal terakhir tahun lalu di tempat Pak Joko," dusta Nadia.

Pak Ardi melirik curiga ke arah Joko, lalu kembali menatap Nadia. "Hmmm… Baiklah," lanjutnya.

Nadia berdiri mematung menunggui Pak Ardi. Tanpa ada yang tahu selain oleh dirinya sendiri, lelehan dari vagina Nadia mulai mengalir turun perlahan ke paha bagian dalamnya.

Pak Ardi tampak bingung mendapati mereka berdua memandanginya. Matanya bolak-balik melirik ke Nadia lalu ke Joko bergantian.

"Kenapa?" pertanyaan Pak Ardi lebih ditujukan ke mereka berdua walaupun wajahnya menghadap ke Nadia.

"Oh, tadi Bapak kan bilang Bapak mencari aku. Ada perlu apa?"

"Oooohhh…. Hahahaha…," perutnya yang besar itu berguncang-guncang.

Gelak tawa Pak Ardi tiba-tiba terinterupsi begitu ia kembali mencoba mengingat apa alasan dia mencari Nadia.

"A-anu… aku udah lupa jadinya," cengiran Pak Ardi tampak kikuk setelah ia berusaha keras untuk menelusuri ingatannya.

Mengingat lendir yang meleleh di pahanya semakin lama semakin turun, Nadia melihat ini sebagai kesempatan yang baik untuk kabur dari sana. "Baiklah kalau begitu. Aku kembali ke mejaku untuk melanjutkan laporanku," katanya tegas.

Meninggalkan Pak Ardi yang masih termenung berdiri di depan meja Joko, Nadia melangkahkan kakinya sambil berharap agar cairannya tidak meleleh lebih jauh lagi.

Belum lagi sampai ke mejanya, Nadia mendengar Pak Ardi berseru, "Ah, aku ingat sekarang!"

Nadia berhenti dan menoleh ke Pak Ardi. "Oh, bukan," jelas Pak Ardi yang menatap Nadia. "Aku ternyata bukan mencari kamu, Nadia. Aku butuh berkas laporan dari Pak Joko. Hahaha… Ya, kamu boleh lanjutkan kerjaanmu, Nad."

Suara kekeh Pak Ardi masih terdengar samar-samar saat Nadia sampai di mejanya. Nadia lekas-lekas duduk. Lalu dengan gerakan yang tak kentara ia memeriksa pahanya.

Menggunakan tangan kanannya, Nadia meraba paha bagian dalamnya. Ia tidak mendapati cairan apa-apa. "Aneh," pikirnya, "aku kira sudah meleleh ke bawah."

Ia merogoh selangkangannya jauh lebih dalam dan saat ibu jarinya hampir mencapai ke pangkal paha, barulah ia mendapati lelehannya. Rabaan yang tadinya terasa halus berubah menjadi licin oleh lendir itu.

"Hmmm… ternyata masih jauh di atas. Mungkin tadi itu semua hanya perasaanku saja," Nadia bergumam pada dirinya sendiri.

Setelah makan siang Pak Ardi terus menerus mendatangi Joko sehingga sisa hari itu dilewati Nadia tanpa adanya perintah tambahan dari Joko. Walau demikian sore itu boleh dibilang bukanlah sore yang tenang buat Nadia. Birahinya sudah terlanjur tersulut dan terus berkobar bahkan sampai waktu jam pulang kantor.

Nadia sudah merelakan celana dalamnya yang masih disimpan Joko. Ia malah lebih memikirkan untuk berendam air hangat di bathtub malam ini. Sebenarnya ia merasa enggan mengingat harus melewati dua malam ini tanpa adanya Yusdi. Terlebih lagi kala ia memikirkan apa yang akan terjadi esok bersama Joko. Membayangkan dirinya bersetubuh dengan Joko di dalam mobilnya membuat Nadia bergidik.

Nadia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya bangkit dari kursi. Saat merapatkan kursi itu ke meja, ia melihat banyaknya cairan lendir yang membasahi kursi itu.

Dari dalam tasnya ia mengeluarkan tissue untuk menyeka kursinya. Setelah membuang tissue itu ke tong sampah di dekat mejanya, Nadia berjalan meninggalkan ruangan menuju ke tempat parkir.

Berjalan tanpa mengenakan celana dalam memberi Nadia sensasi tersendiri. Terlebih lagi cairan cinta yang meleleh keluar itu membuat gesekan-gesekan dinding vaginanya terasa licin dan sexy. Nadia menggigit bibir bawahnya untuk meredam birahi yang masih saja bergejolak.

"Ah, persetan dengan Joko!" Nadia menepis bayangan Joko mencumbu dirinya di dalam mobilnya. "Malam ini aku mau menikmati berendam air hangat dengan tenang."

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 7
Baca cerita sebelumnya « Bagian 5





3 comments:

  1. cakeepss, akhirnya terbit juga. ditunggu karya karya yg lain :beer

    ReplyDelete
  2. akirnya setelah penantian selama bertahun-tahun terbayar juga, muncul lagi cerita baru yang tentu saja sangat meransang dan sarat memainkan emosi. salah satu pengarang favorit gw nih. lanjutin ya gan, jangan membuat penggemarmu kembali menunggu lama lagi,hehe

    kalo cerita ini dibentuk ebook hingga selesai, bakal gw pertimbangkan untuk beli. :D

    ReplyDelete
  3. ternyata udah muncul ni cerita. Kirain masih lama, keduluan deh ma yg lain. Hehe...
    Ni cerita masih bersambung? Bukannya rencananya tamat? Semoga memang masih ada sambungannya hehe...
    Terima kasih sudah update ceritanya.

    ReplyDelete