Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

May 27, 2014

Sex-Force 7

Nadia
Ringkasan: Kawin di dalam mobil
Kode cerita: Blkm, MF, non-con

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Joko: bawahan Nadia


Sex-Force 7
by: VVN

Nadia memandang ke sekeliling ruangan kantor. Tidak ada siapa-siapa. Ia memang sengaja datang lebih awal pagi itu. Ia ingin memulai harinya dengan lebih tenang. Ia merasa lebih lega Joko belum muncul di kantor. Nadia sungguh malas untuk bertemu dengan Joko. Sejak kejadian awal itu (baca: bagian 3), masuk kantor menjadi hal yang menyiksa bagi Nadia.

Kemeja pink ketat lengan pendek yang ia kenakan memberi kesan chic, dipadukan dengan rok span berwarna hitam kemerahan. Hari itu penampilan Nadia terlihat berbeda, dibandingkan dengan kaos berkerah dan celana jins yang biasa ia kenakan pada hari Jumat (pada hari Jumat pegawai diperbolehkan untuk berpakaian lebih santai).

Walau enggan untuk memasuki hari Jumat ini, Nadia sebenarnya sudah mempersiapkan semuanya secara khusus. Ia sengaja memilih setelan baju dan rok yang mudah untuk ditanggalkan. Barang-barang yang berserakan di jok belakang mobilnya pun sudah ia singkirkan pagi tadi. Dua paket kondom juga sudah ia masukkan ke dalam tasnya. Ia bahkan menghabiskan waktu ekstra untuk membersihkan area kemaluannya.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Pagi itu Nadia memarkir mobilnya di lokasi yang telah dijabarkan oleh Joko kemarin. Selama bekerja di kantor ini, belum pernah sekalipun Nadia menginjakkan kakinya ke sana, berhubung tempat parkir utama letaknya lebih dekat walaupun sedikit lebih ramai. Tidak ada mobil lain di area parkir belakang saat Nadia memarkir mobilnya.

Nadia membuka laci untuk menaruh tasnya. Hatinya mencelos saat ia mendapati secarik kertas putih terlipat rapih bertengger di dasar laci itu.

"Taruh celana dalam dan BH kamu di dalam laci saya."

Nadia tahu siapa penulis pesan itu walaupun tidak ditulis dengan tulisan tangan. Setelah membacanya beberapa kali, Nadia meremas kertas itu dan membuangnya.

Ia memutuskan untuk tidak melepaskan BH-nya karena ia yakin orang-orang dapat melihat puting susunya tercetak pada kemejanya yang ketat. Saat Nadia menaruh celana dalamnya ke laci Joko, hatinya bersyukur ia datang lebih pagi sehingga tidak ada seorangpun di sekitarnya. Lalu Nadia bergegas kembali ke mejanya.

Sulit bagi Nadia untuk mengusir Joko dari benaknya terutama sejak kejadian kemarin pagi. Nadia menyalakan layar monitornya untuk memulai aktivitas rutinnya: memeriksa email. Larutnya Nadia dalam kesibukan membaca dan membalas email-email membuatnya mulai melupakan Joko.

Lima belas menit berlalu tanpa ada seorangpun yang masuk ke ruangan besar kantor itu. Setelah itu satu per satu mulai datang mengisi meja-meja kosong di ruangan itu.

Pukul 10 pagi Nadia melirik ke arah meja Joko. Meja itu masih kosong, tidak ada tanda-tanda Joko sudah datang. Hatinya sangat berharap Joko tidak masuk kerja hari itu. Namun menjelang makan siang harapannya pupus begitu Nadia melihat email dari Joko masuk ke inbox-nya.

"Saya tunggu di mobilmu."

Nadia cepat-cepat menekan tombol Del untuk menghapus email itu. Selama beberapa menit pikirannya kosong setelah membaca email tersebut. Menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi harus melayani Joko selayaknya suaminya sendiri Nadia merasa hatinya seperti terhempas dari gedung lantai 34, telapak tangannya terasa seperti es, tenggorokannya kering, otot lehernya terasa kencang.

Nadia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menghembuskan nafas keluar lewat mulutnya Nadia membatin, "Ayo, tenang. Semuanya akan segera berlalu."

Pelan-pelan Nadia membuka matanya. Ia melirik ke jam di komputernya. 11:48 AM. Setelah sekali lagi memberi dirinya sugesti, Nadia akhirnya bangkit berdiri, menggaet tasnya lalu meninggalkan ruangan itu menuju area parkir belakang.

Perjalanan ke area parkir belakang terasa sangat jauh buat Nadia saat itu. Ia merasa semua mata menyorotnya dengan pandangan menghakimi. Perempuan jalang! Pelacur! Cewe murahan! Nadia tidak berani menatap ke depan, alih-alih ia memandangi langkah kakinya yang membawanya semakin mendekat ke tempat tujuan.

Dari kejauhan Nadia dapat melihat mobilnya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Joko. Dan benar saja seperti yang Joko katakan, Nadia hanya melihat 3 mobil lainnya di area parkir itu. Baru setelah hampir sepelemparan batu dari mobilnya Nadia dapat melihat bayang-bayang Joko yang sedang bersandar di belakang.

Nadia menekan tombol remote untuk membuka kunci mobilnya. Joko terlonjak mendengar suara alarm mobil bercericip. Nadia terus melangkahkan kakinya ke bagian belakang mobil untuk menemui Joko. Namun Joko sudah menghampirinya sebelum ia sampai, menarik tangannya dan setengah paksa menyeretnya masuk ke kursi belakang.

"Ayo cepat masuk!" Suara Joko terdengar kasar dan marah.

"B-baik, Pak," Nadia tidak memprotes secara ia ingin segera menuntaskan semua ini.

Joko mendorong Nadia masuk terlebih dahulu. Setelah Nadia dan Joko menempati posisi duduknya masing-masing, Joko menarik lengan Nadia agar Nadia menghadap ke arahnya.

Dengan tangannya yang lain, yang ia letakkan di belakang leher Nadia, Joko menarik wajah Nadia mendekat wajahnya. Joko langsung memagut bibir Nadia. Nadia sama sekali tidak menyangka Joko memulai aksinya secepat itu.

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Yang ada hanyalah erangan Joko yang melumat bibir Nadia seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Tanpa menunda-nunda waktu, tangan Joko mulai menggerayangi dada Nadia.

"Heh?! Kok kamu tidak lepas BH?!" Joko melepas ciumannya. Ujung alisnya naik.

Nadia tidak berani menatap wajah Joko saat ia hendak menjawab pertanyaannya. "Aku…"

"Ah, persetan! Sudah, nggak usah banyak ngomong!"

Dengan kasar tangannya membuka paksa kemeja Nadia sehingga kancing-kancing bajunya berlompatan putus.

"Aih! Stop! Jangan begitu dong, Pak!"

"Diam!" Joko mencengkram kerah baju Nadia dan menariknya sehingga wajah mereka berdua hanya terpaut beberapa sentimeter. "Kalau kamu buka mulut lagi…"

Nadia mengatupkan bibirnya ke bibir Joko sebelum Joko sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia melumat bibir Joko dalam-dalam sambil membuka sisa kancing bajunya lalu melepaskan bra yang ia kenakan secepat mungkin. Ia tak ingin Joko membawa kerusakan lebih banyak lagi pada pakaiannya.

Terlihat Joko menanggapi ciuman Nadia secara positif. Lalu Nadia menggiring tangan Joko menyentuh payudaranya, berharap kemarahan Joko mereda.

Setelah tangannya meremas payudara kenyal itu, Joko melepaskan dirinya dari ciuman Nadia. "Lain kali jangan sekali-sekali langgar perintah saya!" kata Joko dengan wajah serius.

Cepat-cepat Nadia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Nadia dapat merasakan ada hal lain yang membuat Joko marah dan kini ia menjadi tumbal pelampiasan amarahnya. Nadia tak ingin memperburuk keadaan sehingga ia membatalkan niatnya untuk menjelaskan alasannya tidak menanggalkan bra.

Joko meremas dengan kasar buah dada montok Nadia. Mulutnya melahap puting susu yang sudah mengeras itu dengan beringas. Nadia sadar amarah Joko belum reda dan setidaknya ia merasa yakin bahwa dirinya bukan penyebab kemarahan Joko.

Tidak berlama-lama menggarap payudara Nadia, Joko pun segera membuka sabuk dan celananya. Gerakan tangannya yang terburu-buru malah memperlambat proses pelepasan burung dari sangkarnya. Nadia diam terpaku menatap batang kejantanan Joko yang akhirnya keluar. Tatapannya kosong tak menunjukkan perasaan apa-apa.

Ini bukan pertama kalinya Nadia melihat batang penis Joko. Akan tetapi ini pertama kalinya Nadia merasa tak berdaya di hadapan Joko dengan penisnya yang mengacung dengan bangga. Nadia sudah pasrah terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya. Saat ini ia hanya ingin semuanya segera berlalu.

Nadia melihat penis Joko tidaklah terlalu berbeda dengan penis suaminya dalam hal ukurannya. Namun penis Joko mempunyai kesan kokoh, sangar, dan bertenaga. Warna penis Joko jauh lebih gelap dibanding milik Yusdi. Kepala penisnya pun lebih bulat, sedangkan kepala penis Yusdi agak pipih.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Joko memutar dan mendorong pundak Nadia sehingga wajahnya menghadap ke sisi mobil yang sama. Lalu dengan kasar Joko mengangkat pinggul Nadia sehingga memaksa Nadia bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya. Ya, Joko akan melakukannya dengan doggy-style.

Seks dengan gaya doggy-style merupakan salah satu gaya yang menunjukkan dominasi, yang berarti membuat si penerima (pihak wanita) dapat merasa takluk di bawah kuasa si pelaku (pihak pria). Dengan seks gaya ini banyak wanita merasakan sensasi yang "lebih penuh" di liang kewanitaannya karena posisi ini memungkinkan penetrasi yang sangat mendalam. Tangan pria pun mendapat akses yang lebih banyak seperti meremas dan menggerayangi payudara pasangannya, merangsang klitoris, dan meremas atau menampar bulatan pantat si wanita, dan lain-lain. Walau gaya seks doggy-style terasa kurang romantis, karena tatap mata sulit untuk dilakukan, pada kenyataannya banyak perempuan yang sangat menikmatinya karena melalui gaya ini mereka dapat dibawa ke puncak orgasme secara total: melalui rangsang vaginal, rangsang pantat, rangsang payudara, rangsang klitoris dan rangsang G-Spot.

Joko menyingkapkan rok span Nadia naik ke punggung pantatnya. Senyum kecil tersungging dari mulut Joko begitu ia mendapati Nadia menuruti perintahnya untuk menanggalkan celana dalamnya. Dengan satu hunjaman kuat Joko mengamblaskan batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Nadia yang belum terlalu basah itu.

"AAAAHHHHH!!!!" Nadia berteriak sejadi-jadinya saat ia merasakan vaginanya seakan disobek-sobek. Matanya yang terpejam erat-erat itu pun meneteskan air mata.

"STOOOP!" Nadia berusaha menarik tubuhnya maju menjauh dari serangan Joko. Ia menoleh ke belakang dan mendapati tidak adanya niat Joko untuk menghentikan gempurannya.

Kedua tangan Joko mengunci pinggul Nadia sehingga Nadia tidak dapat mengelak kemana-mana. Joko menarik batang penisnya namun tidak sampai keluar sepenuhnya lalu menghempaskannya kembali dengan kuat dan cepat ke dalam vagina Nadia.

"AAAAAAWW!!" jeritan Nadia kembali memekakkan telinga mereka berdua.

Joko sama sekali tidak menggubris protes yang Nadia lontarkan, alih-alih ia terus menggenjot pinggul Nadia tanpa mengurangi intensitas dan kecepatannya. Nadia hampir yakin lelehan yang merembes keluar dari kemaluannya adalah darah segar akibat hantaman penis Joko. Namun tidaklah demikian adanya. Tidak ada darah yang keluar, melainkan cairan pelumas yang mengalir dengan deras melumuri dinding vaginanya. Tak henti-hentinya Nadia berteriak kesakitan, seakan berharap teriakan-teriakannya dapat mengurangi rasa sakitnya.

Setelah lebih dari 5 menit terus menerus dihunjami genjotan kuat itu, Nadia mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai hilang digantikan oleh gejolak birahi. Teriakan-teriakannya sudah tidak lagi terdengar, yang ada hanya erang dan sengal hembusan nafas kencang dari mulutnya setiap kali Joko membenamkan batangnya ke dasar liang sanggamanya. Satu telapak tangannya harus ia sanggakan pada kaca jendela mobil di hadapannya untuk menahan hentakan-hentakan tubuhnya.

Pipinya masih basah oleh air matanya saat desahan panjang, tanpa ia sadari, keluar dari mulutnya. Desahannya ini merupakan reaksi bawah sadar tubuhnya saat gesekan penis Joko pada dinding vaginanya membawa birahinya ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan Nadia.

Nadia bahkan tidak sempat untuk mengumpat dalam hati atas birahinya yang muncul di luar keinginannya itu. Ia bak dililit ular birahi secara perlahan. Saat tersadar atas lilitan ular itu, ia sudah tidak sempat berpikir apa-apa lagi selain pasrah 'tersiksa' oleh lilitan maut itu.

Walaupun berhubungan seks tidak membuatnya menderita, sejak dulu Nadia tidak pernah merasakan kenikmatan bersetubuh dengan suaminya. Dengan alasan itulah Yusdi menanam alat canggih Sex-Force® di tubuh Nadia. Nadia sama sekali tidak curiga mengapa ia jadi sering diterpa gelombang nafsu seks di saat-saat yang tidak terduga. Ia bahkan akhirnya dapat merasakan orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya. Oleh karena orgasme tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya, Nadia tidak pernah antusias dalam urusan seks. Namun sejak merasakan kenikmatan orgasme, minat Nadia dalam urusan syahwat ini mulai tergelitik.

Mendengar erangan erotis itu, Joko semakin gencar melancarkan serangannya. Keringatnya bercucuran menetes di punggung Nadia. Ia tak mengurangi intensitas genjotannya walaupun dirinya sudah mulai lelah.

Lalu Nadia mendengar Joko mulai mengerang-erang seirama dengan hentakan pinggulnya. Semakin lama erangan Joko terdengar semakin kuat. "Joko sudah hampir klimaks!" jerit Nadia dalam hati.

Mata Nadia langsung melebar begitu ia teringat, "KONDOM! Pak, stop! Kondomnya ada di dalam tasku!"

Crot... Crot... Crot… "Aaaahhhhhh…," Joko keras-keras mengerang penuh kelegaan.

Nadia berusaha untuk mengibas-ngibaskan pinggulnya supaya penis Joko lepas dari vaginanya. Namun tangan Joko masih mengunci pinggul Nadia kuat-kuat. Ia ingin memastikan Nadia merasakan gumpalan-gumpalan spermanya yang kental dan hangat itu menghantam-hantam dinding vaginanya.

Nadia masih dalam posisi menungging saat tubuh Joko tergolek menindih punggungnya. Pikiran Nadia kosong. Ia membiarkan dirinya merasakan penis Joko perlahan-lahan melembek di dalam kemaluannya. Nadia menutup matanya. Dadanya kembang kempis mengikuti deru nafasnya yang berangsur-angsur mereda.

Joko akhirnya bangkit lalu memakai celananya. Ia terlihat agak tergesa-gesa untuk meninggalkan tempat itu. Sambil mengenakan ban pinggangnya, Joko menatap wajah Nadia. Sulit buat Joko untuk menebak apa yang ada di pikiran Nadia dari raut wajahnya. Raut wajahnya merupakan perpaduan antara lega, lelah, dan puas.

Setelah sekali lagi memastikan celana dan sabuknya terkancing, Joko membuka pintu mobil. "Saya harus segera kembali ke tempat si keparat Ardi. Kita lanjutkan permainan kita hari Senin besok."

Nadia setengah mengacuhkan kata-katanya. Ia masih tenggelam dalam kepasrahannya pada keadaan.

Sosok Joko sudah menghilang masuk ke dalam gedung saat Nadia akhirnya bangkit dan mulai membereskan pakaiannya. Ia mengambil tissue untuk mengelap lelehan sperma Joko yang mengalir keluar dari kemaluannya.

"Aneh… Tidak banyak yang meleleh keluar. Padahal tadi terasa begitu banyaknya yang dia semburkan di dalam." Nadia mencampakkan tissue itu ke keranjang sampah.

Hampir semua kancing-kancing di kemeja yang ia kenakan putus oleh Joko tadi. Nadia mengambil jaket kain berwarna biru gelap yang memang selalu ia siapkan di mobil untuk keperluan darurat. Jaket itu dikenakannya di atas kemejanya, lalu ia menarik resleting jaket itu untuk menutupi dadanya.

Sepanjang perjalanannya kembali menuju gedung kantor, Nadia terus merasakan sperma Joko masih mengalir keluar dari kemaluannya. Kondisinya yang tidak mengenakan celana dalam sama sekali tidak membantunya dalam situasi ini. Nadia harus mengurungkan niatnya untuk berhenti dan memeriksa lelehan sperma di pahanya karena ia tidak ingin perbuatannya itu malah menarik perhatian orang-orang.

Sesampainya di dalam gedung, Nadia segera masuk ke WC. Benar saja sperma itu sudah meleleh turun ke pahanya. Ia menyeka lelehan itu dengan tissue lalu mencuci kemaluannya dengan air dan sabun.

"Kenapa kamu bisa sampai lupa memakai kondom?! Goblok! Sia-sia saja kondom yang telah kau siapkan! Apa jadinya kalau si Joko itu berpenyakit? Bagaimana kalau kamu hamil?!" maki Nadia kepada dirinya sendiri.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 8
Baca cerita sebelumnya « Bagian 6





9 comments:

  1. mantap bro..
    akhirnya exe juga, bagus ceritanya meski agak terburu2 pas adegan sex nya.
    gw masih penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, terima kasih atas cerita bermutunya vvn, ditunggu kelanjutannya.. :)

    ReplyDelete
  2. kirain lanjutannya msh lama, ternyata dah keluar. Thanks bgt sis. Semoga gak jenuh nerusin ceritanya hehe...

    ReplyDelete
  3. Salam kenal Sis. Baru pertama baca udah dibuat tertarik plus penasaran sama serial SF ni. Ditunggu kelanjutannya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru pertama baca blogku?? Kemana aja kamu? Hehehehe....
      Blogku kan udah ada sejak 8 tahun yang lalu. :)
      Salam kenal dan terima kasih atas dukungannya.

      Delete
  4. Hehehe, iya Sis. Soalnya baru 'ngeh'-nya sekarang. Mudah2an SF-nya bisa segera rilis, biar ngga makin penasaran niy. Thanks Sis...

    ReplyDelete
  5. baru tau ada blog bagus kaya gini di tunggu kelanjutan nya Sist ^^

    ReplyDelete
  6. Sis, kelanjutannya Nadia kapan di rilis ya?

    ReplyDelete