Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Mar 25, 2015

Sex-Force 8

Nadia
Ringkasan: Tiga kali? Wow!
Kode cerita: MF

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia


Sex-Force 8
by: VVN

Yusdi menundukkan kepalanya saat ia mengarahkan kepala penisnya ke celah bibir kemaluan Nadia. Nadia yang tergolek di atas ranjang hanya memandangi ubun-ubun suaminya. Setelah sepuluh menit melewati foreplay yang biasa dilakukan oleh Yusdi, tubuh Nadia akhirnya memberi respon. Dinding vaginanya mulai basah oleh cairan pelumas walaupun Nadia sebenarnya enggan melakukan hubungan seks.

Sabtu pagi hari Yusdi akhirnya sampai ke rumah setelah 8 jam perjalanan pulang dari dinas luar kotanya. Nadia sedang tertidur lelap ketika Yusdi mengendap-endap masuk ke kamar mereka. Ia tidak ingin membangunkan istrinya, namun saat ia melihat lekuk tubuh istrinya yang sedang tertidur, birahinya mulai tersulut. Terlebih lagi Yusdi dinas di luar kota bersama beberapa rekan kerjanya, yang di antaranya merupakan perempuan-perempuan muda.

Selama dua hari ini perempuan-perempuan itu berhasil membuat birahi Yusdi bertahan pada puncaknya. Yusdi memang tidak pernah ragu-ragu untuk menyalurkan tekanan birahinya yang memuncak dengan cara bermasturbasi, walaupun tanpa sepengetahuan Nadia. Namun walaupun dua hari ini ia rutin menyalurkan birahinya secara swalayan, Yusdi seakan tidak dapat menurunkan birahinya sama sekali. Air maninya senantiasa bergelegak terutama saat ia berada di dekat para perempuan itu..

Sesampainya di rumah lekas-lekas Yusdi mandi dan menggosok giginya. Setelah itu ia menghampiri istrinya yang sedang tidur terlentang. Dengan perlahan ia membelai tubuh Nadia. Dikecupnya bibir Nadia dengan lembut. Tangannya membelai rambut, leher, lengan dan pinggul Nadia.

Setelah berhasil membawa istrinya mencapai klimaks (baca: Bagian 4), Yusdi belum pernah lagi menggunakan Sex-Force yang ditanam di dalam tubuh Nadia. Tujuan Yusdi memasang alat itu, agar dirinya dapat membuat istrinya menggapai orgasme, telah tercapai. Namun walaupun demikian, Yusdi belum memikirkan untuk mencabut alat tersebut dari tubuh Nadia.

Nadia mengejap-ngejapkan matanya begitu ia menyadari Yusdi sedang menciumi lehernya. "Yus, kamu baru pulang?"

"Mm-hm," jawab Yusdi singkat, tangannya tak berhenti membelai tubuh Nadia.

"Yus…," Nadia berusaha bernalar, "kamu lagi horny yah?" Nadia memejamkan matanya, "Aku masih ngantuk, nih…," ucapnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Yusdi.

Tak menggubris ucapan istrinya, Yusdi melanjutkan aksinya. "Terserahlah kamu mau tidur atau tidak. Aku butuh pelepasan sekarang," batinnya dalam hati.

Yusdi melanjutkan aksinya dengan lebih leluasa, tanpa perlu khawatir membangunkan istrinya. Kini ia terang-terangan meremas bulatan bukit dada Nadia, menjilati putingnya sampai akhirnya tegak mengeras. Lama kelamaan Nadia terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali tidur.

Mendapat perlakuan spesial seperti itu, mau tak mau kantuk Nadia menjadi sirna. Memang saat itu matahari juga sudah lumayan tinggi. Sinarnya sudah masuk lewat celah-celah tirai jendela menerangi kamar mereka.

Walaupun sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya, Nadia tetap saja bersikap pasif. Ia membiarkan Yusdi melakukan aksinya sementara ia berbaring terlentang pasrah. Sepuluh menit berlalu sampai akhirnya Yusdi membenamkan sekujur batang penisnya ke dalam vagina Nadia.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

"Mmmmhhh…," lirih Nadia yang merasakan batang keras dan tumpul itu menyeruak masuk membuka dinding vaginanya.

Tubuh Nadia masih terasa penat setelah seharian bekerja lembur kemarin. Setelah makan siang kemarin, Pak Ardi malah memberi Nadia dan Joko kerjaan yang menumpuk. Alhasil Nadia baru tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Setelah membasuh tubuhnya secara kilat barulah ia dapat merebahkan tubuhnya. Nadia bahkan tidak sempat membaca SMS Yusdi mengenai perjalanan pulangnya yang tertunda beberapa jam.

Penis Yusdi bergerak keluar masuk liang kewanitaan Nadia dengan kecepatan konstan. Yusdi terlihat sudah sangat terbawa suasana. Ia berharap Nadia dapat menjadi penawar syahwatnya yang menggebu-gebu.

Yusdi mengangkat pantat Nadia dan menaruh kedua tungkai kaki Nadia melewati pundaknya. Yusdi tahu posisi seks seperti ini adalah salah satu posisi favorit Nadia. Yusdi menaruh seluruh berat tubuhnya pada panggulnya untuk memberi tenaga dorong ekstra.

Nadia menikmatinya, setidaknya selama menit-menit pertama. Tapi setelah beberapa menit berlalu, Nadia mulai kehilangan momen. Gairah birahi yang tadinya sudah meningkat, kini malah menjadi datar. Nadia memejamkan matanya berharap dirinya dapat lebih menikmati hubungan intim dengan suaminya.

Yusdi dengan semangat yang masih berkobar-kobar menggenjot panggulnya sehingga batang penisnya terlihat seperti piston mengilap basah yang keluar masuk liang kemaluan istrinya. Sambil mengerang keras, Yusdi menumpahkan spermanya ke dalam vagina Nadia. Cairan mani panas itu bergelegak muncrat dari batang Yusdi, mengisi saluran rahim istrinya.

Setelah mengosongkan amunisinya Yusdi menghempaskan tubuhnya ke sebelah Nadia. Nadia sebenarnya merasa lega Yusdi sudah menuntaskan hajat birahinya, terlebih lagi karena sperma Yusdi masuk ke dalam vaginanya.

Karena belum ingin hamil, biasanya Nadia-lah yang getol menyuruh Yudsi untuk memakai kondom saat melakukan hubungan intim suami istri. Yusdi sebenarnya tidak menentang ketidakinginan istrinya untuk memiliki anak, akan tetapi ia tidak suka mengenakan kondom saat bersetubuh dengan Nadia. Di beberapa kesempatan Yusdi berpura-pura lupa untuk mengenakan kondom. Dan saat Nadia mengingatkannya, Yusdi selalu berdalih: "sudah tanggung" (yang pada akhirnya Nadia membiarkan Yusdi menggumulinya tanpa kondom).

Pagi itu Nadia malah sengaja tidak mengingatkan Yusdi untuk memakai kondom. Nadia tidak ingin hamil. Akan tetapi kalau sampai ia hamil, ia berharap sperma Yusdi-lah yang membuahi sel telurnya, bukannya sperma Joko yang kemarin siang juga telah berenang masuk ke rahimnya.

Perasaan lega ini membuat Nadia jatuh tertidur di samping Yusdi. Begitu lelapnya, Nadia sama sekali tidak terbangun saat Yusdi melancarkan serangan ke-dua begitu kekuatan dan staminanya pulih kembali. Masih tanpa busana, Yusdi menindih tubuh Nadia. Bibirnya mengecupi Nadia, mulai dari kening, pipi, bibir, leher, dada, perut, sampai ke tungkai kakinya. Setelah puas menciumi sekujur tubuh Nadia, kedua tangan Yusdi menjamah buah dada istrinya. Remasan-remasannya pada bukit kenyal itu tak kunjung membuat Nadia terbangun.

Akhirnya Nadia baru terjaga dari tidurnya saat Yusdi menggigit lembut puting susunya. Nadia mengejap-ngejapkan matanya setengah terpicing, berusaha untuk memperjelas penglihatannya.

"Aw!" mata Nadia terbelalak diiringi dengan pekik pelan dari mulutnya saat gigitan Yusdi semakin terasa.

"Yus…"

Nadia tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Bibir Yusdi sudah dengan lahapnya memagut bibir Nadia. Lidah Yusdi menyelinap masuk dan meliak-liuk di dalam mulut Nadia. Setelah beberapa saat, akhirnya Nadia masuk dalam arus birahi dan menyambut permainan lidah suaminya dengan pilinan lidahnya juga.

Saat itu Nadia dapat merasakan batang keras Yusdi menekan tungkai kakinya. "Ada apa gerangan dengan Yusdi?" gumam Nadia dalam hati. "Tidak seperti biasanya ia bernafsu seperti ini."

Mendapati batang kemaluan Yusdi yang berereksi penuh tertekan pada kakinya, Nadia merasakan gairah seksnya spontan melonjak naik. Ia senang mengetahui dirinya memberi dampak sedemikian rupa pada diri suaminya.

Dengan satu gerakan mengalir, Yusdi kembali mengamblaskan batang penisnya ke dalam liang kemaluan Nadia. Lalu ia mulai menggenjot istrinya dengan lembut. Suara desah dan erang dua insan ini pun bersahutan meramaikan kamar mereka.

Tak lebih dari lima menit mereka bersetubuh, gairah birahi Nadia berangsur-angsur menurun. Ia tidak lagi merasakan sensasi yang ia rasakan lima menit sebelumnya. Dengan mudahnya ia merasa dirinya kosong dan kehilangan getar nikmat itu. Ia berusaha untuk lebih berkonsentrasi agar dapat kembali masuk ke dalam buaian birahi, namun usahanya tidak menemui hasil.

Saat telepon genggamnya berdering, api birahi Nadia sudah hampir pupus. Yusdi menghentikan genjotannya saat telepon itu berdering untuk ke dua kalinya. Tangannya meraih telepon yang Nadia taruh di atas meja di samping ranjang.

"Joko," dengan setengah berbisik Yusdi membacakan nama yang tertera di layar telepon.

Baru saja Nadia hendak menyuruh Yusdi untuk mematikan telepon itu, Yusdi malah sudah menerima panggilan telepon itu. Telepon genggam itu langsung ia tempelkan ke telinga istrinya.

"Halo."

Yusdi dapat mengenali suara Joko walau hanya terdengar sayup-sayup. Ia lanjut menggempur kemaluan istrinya dengan lebih bertenaga sambil meremas-remas payudaranya.

"...mhhh… H-halo."

"Nad, si keparat itu menyuruh saya ngantor hari ini. Jadi saya batal mengunjungi mertua."

"...hhh… OK," setelah meraih telepon itu dari tangan Yusdi, Nadia mencoba untuk menjawab seadanya.

"Iya. Berarti rumah saya kosong sampai besok malam. Istri dan anak-anak baru pulang. Jadi malam ini kamu bisa datang ke rumah."

Spontan Nadia mematikan sambungan telepon itu dan di saat yang bersamaan, Yusdi merasakan dinding kemaluan Nadia mencengkram batang kemaluannya kuat-kuat. Ia melirik untuk menganalisa raut wajah istrinya. Jantung Nadia berdegup lebih kencang setelah mendengar permintaan Joko itu.

Nadia melihat suaminya menatap wajahnya dengan pandangan bertanya-tanya. Tidak tahu harus bersikap apa, Nadia berpura-pura tak menggubris percakapannya dengan Joko barusan. Ia memejamkan matanya, membiarkan telepon itu terjatuh di sebelah kepalanya, lalu melingkarkan tangannya ke leher Yusdi.

"Ooohhh… ayo lanjutkan, Yus."

"Kenapa Joko suruh kamu datang ke rumahnya, Nad?"

"Sial, ternyata ia mendengar ucapan Joko," umpat Nadia dalam hati. Nadia membuka matanya. Otaknya berputar cepat untuk mencari jawaban yang tepat.

"Oh, Pak Joko perlu bantuan mengedit data yang diberi Pak Ardi kemarin sore." Nadia menatap mata suaminya dalam-dalam lalu melanjutkan, "Malas aku meladeni dia."

Yusdi masih belum memberi tanggapan apa-apa. Otaknya masih mencoba mencerna semuanya itu. Melihat masih adanya keraguan pada diri suaminya, Nadia membelai wajah Yusdi, "Tak usah dihiraukan, Yus."

Nadia menghampiri bibir suaminya dan melumatnya penuh gairah sambil memeluk lehernya sehingga tubuh kedua insan ini melekat erat. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk melanjutkan persetubuhan yang sempat terhenti.

Perlahan namun pasti Nadia berhasil menyeret Yusdi kembali ke dalam pusaran birahi. Yusdi membalas keberingasan Nadia dengan senang hati dengan menggenjot panggulnya mengikuti irama tubuh istrinya.

Percakapan dengan Joko masih terngiang-ngiang di telinga Nadia walaupun ia sudah berusaha untuk membungkamnya. Namun semakin ia berusaha untuk menepis suara Joko dari benaknya, justru semakin banyak ingatan atas Joko bermunculan di benaknya. Dan setiap kali bayangan itu muncul di pikirannya, tubuh Nadia bergelinjang dan dadanya membusung terangkat ke atas.

Sekonyong-konyong Yusdi memuntahkan lahar panasnya ke dalam mulut rahim istrinya untuk kedua kalinya pagi itu. Tubuh Nadia masih menggeliat-geliat dan pinggulnya masih bergoyang-goyang saat tubuh Yusdi berkejut-kejut menindihnya.

Setelah penis Yusdi mengecil dan menyusup keluar dari kemaluan Nadia, gerakan yang tersisa dari tubuh Nadia hanyalah gerakan dadanya yang kembang kempis akibat nafas yang masih memburu.

Lalu Yusdi mendorong tubuhnya berguling ke samping dan rebah di sisi kanan Nadia. Yusdi mengangkat lengan kanannya untuk menutupi kedua matanya. Kembang kempis dadanya tidak kalah cepat dari Nadia. Mereka berdua berbaring di sana selama beberapa menit tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kamar itu menjadi sunyi walaupun masih terdengar suara deru nafas dari pasangan suami istri ini.

Nadia membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong menyapu langit-langit kamar. Ia memutar kepalanya untuk memandang suaminya. Lengan Yusdi masih tergolek menutupi matanya. Dari ekor mata Nadia, Nadia mendapati adanya pergerakan kecil di bagian bawah tubuh Yusdi.

Bola mata Nadia pun bergulir ke bawah mengarah ke selangkangan Yusdi. Penis Yusdi sesekali berdenyut. Denyutan demi denyutan membawa penis itu menjadi lebih besar.

"WOW!" pekik Nadia dalam hati. "Tiga kali? Ada apa dengan Yusdi pagi ini? Tidak pernah ia se-horny ini!"

Penis Yusdi belum mencapai ereksi penuh saat Nadia mulai membelai lembut sekujur jenjang batang suaminya. Yusdi tak bergeming namun Nadia tak menghentikan belaian dan usapan lembutnya.

Setelah beberapa menit berlalu Nadia mendapati penis itu tidak menjadi lebih besar ataupun lebih keras di bawah belaian tangannya. Bahkan ia merasa penis suaminya sedikit menciut.

"Hmmm… kelihatannya ia memang sudah lelah."

Dengan tangan kanannya yang ia gunakan untuk menutupi matanya, Yusdi menjamah tangan Nadia yang sedang mengusap-usap kemaluannya.

"Nad," suara Yusdi akhirnya memecah kesunyian semu di kamar itu.

Pandangan Nadia berpaling ke wajah suaminya yang masih memejamkan matanya. Nadia menunggu Yusdi melanjutkan kalimatnya sambil mencoba membaca raut wajahnya. Tidaklah mudah untuk membaca raut wajah seseorang dari samping, walaupun orang tersebut adalah orang yang dekat dengan kita.

"Ada apa, Yus?" Nadia tidak sabar menunggu.

"Hmmm…," Yusdi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nadia mengernyitkan dahinya seakan menolak jawaban suaminya.

Yusdi membuka kedua matanya perlahan lalu menoleh ke samping. Kernyitan Nadia sirna saat Nadia melihat senyum ringan menghias wajah suaminya.

"Tidak apa-apa, Nad," Yusdi membelai rambut Nadia dengan lembut. "Aku tadi lagi mengingat-ingat seberapa sering aku bilang kalau aku sayang kamu."

Yusdi menatap mata Nadia dalam-dalam. "Maaf yah, Nad. Aku jarang kasih tau kamu kalau aku sayang kamu."

Mata Nadia berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya itu.

"Oooh, honey," Nadia merangkulkan tangannya ke leher Yusdi lalu memeluknya erat-erat. "I love you, too," bisik Nadia sambil tersenyum lebar, tidak ingin pernah melepas pelukannya.

Paha Nadia menempel pada selangkangan Yusdi. "Yup! Si buyung sudah mengecil, kembali ke kondisi normal," Nadia berceloteh di dalam benaknya. "Ayo, cooling down, cooling down. Moga-moga nanti malam Yusdi jadi 'sangar' lagi."

"Oh, by the way," ujar Yusdi tiba-tiba, "nanti kayanya aku harus ke kantor untuk ketik laporan yang numpuk. Jadi malah lebih bagus kalau kamu pergi ke tempat Joko. Setidaknya kamu bisa mengisi waktumu secara produktif, tidak cuma bengong menunggu aku di rumah."

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 9
Baca cerita sebelumnya « Bagian 7




21 comments:

  1. Thanks Sis. Akhirnya muncul juga nih kelanjutannya Nadya. Tapi lanjutannya yg lain jangan pake lama yah, hehehe. Bravo...

    ReplyDelete
  2. akhirnya update juga terima kasih sist
    semoga lanjut terus ceritanya sampai tamat hehe

    ReplyDelete
  3. Waahh...mantabs ada kelanjutannya. Ayo update terus.

    ReplyDelete
  4. waduh, nanggung banget sis ceritanya, adegan selanjutnya bener2 bikin ane penasaran.hehe

    seperti biasa, ceritanya bagus banget, ane sebenernya kurang paham dalam menilai sebuah cerita, tapi yg ane rasakan ceritanya bener2 begitu natural dan mengalir jadi mudah membayangkan imajinasinya, plus ceritanya yg berbeda dengan yg lain membuat cerita ini unik dan menarik ditunggu.

    sekarang sis vivian dah buat ane penasaran, tanggung jawab ya sis, dengan buat cerita berikutnya secepatnya.hehe

    ReplyDelete
  5. Tumben nih gantung hehe... Ane tunggu lanjutannya ya sis...

    ReplyDelete
  6. Ceritanya keren, ayo sis lanjut lagi jangan pake lama-lama. Hehe

    ReplyDelete
  7. bagus banget. ayo sis, ditunggu lanjutannya. :)

    ReplyDelete
  8. Wahh belum update jyga ya sis. Padahal sudah penasaran dengan lanjutannya.

    ReplyDelete
  9. update dong sist aku nunggu banget kelanjutan sex force nya loh hehe

    ReplyDelete
  10. setia nunggu update

    ReplyDelete
  11. makin penasaran aja sis.. yusdi sepertinya udah mulai curiga.. ditunggu updatetannya sis

    ReplyDelete
  12. tanggung amat... tamatkah??

    ReplyDelete
  13. Slesein dong..plis

    ReplyDelete
  14. TAMAT in donk...

    kentang BGT ne.. plus bikin penasaran tamat nya..

    ReplyDelete
  15. Mana lanjutannya nih sis? kok gantung bgt. Udah ga di lanjutin lagi ya ceritanya?

    ReplyDelete
  16. Lama g ad lanjutanny..kykny sdh d buat tamat nadia hidup bahagia selamany sm joko deh..

    ReplyDelete
  17. Statusnya on progres tapi lanjutannya ga nongol2. Penulianya juga ga pernah nongol lagi

    ReplyDelete
  18. Makasih ya udah setia nunggu.
    Tiap ada yg komen di sini, pasti masuk ke inbox saya, jadi saya bacain kok komen2nya.
    Saya coba utk lanjutin SF9, tp ga janji kapan selesainya.
    Saya usahain di-post sebelum tanggal 31 Oktober.

    ReplyDelete
  19. Wahhh, senang mendengar sist vivian masih aktif dan ceritanya akan ada lanjutannya lagi. Di tunggu SF9 nya ya sis.

    ReplyDelete
  20. Yeah, akhirnya Sist Vivian muncul. Lanjutkan masterpiece-nya Sist

    ReplyDelete