Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Jul 3, 2010

Klimaks! (bagian dua)

Klimaks!
Ringkasan: Mereka harus melewati tantangan yang berbeda-beda. Tentu saja semua tantangan berkisar di seputar seks.
Kode cerita: Blkm, humil, mastrb, non-con, toys

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Adam: pacar Eva, kakak Agnes
* Eva: pacar Adam, adik Rika
* Bowo: pacar Agnes
* Agnes: pacar Bowo, adik Adam
* Hendra: kutu buku tetangga Eva
* Rika: kakak Eva


Cerita ini adalah modifikasi dari salah satu cerita favorit saya.
Enjoy...
===

Klimaks! (bagian 2)
modified by: VVN

Mereka menoleh ke arah Bowo yang sedang berlutut. Sebelumnya tidak ada yang memperhatikan adanya kotak transparan di sebelah kepala Bowo. Kotak itu berisi butiran pasir yang kini mengalir ke bawah, mengosongkan kotak itu.

"Itu suara pasir yang keluar!"

Dengan perlahan pasir tersebut keluar dari kotak itu dan berangsur-angsur mereka dapat melihat sebuah pistol di dalam kotak tersebut. Dengan berjarak hanya beberapa cm, pistol itu diposisikan hampir menempel di kening Bowo.

"Apa? Apa? Apa yang elu-elu liat?" tanya Bowo begitu ia menyadari sesuatu sedang terjadi atas dirinya.

Setelah semua pasir sudah mengalir keluar dari kotak itu, mereka dapat melihat sejenis jam yang terhubung dengan kabel ke mekanisme mesin. Mesin tersebut terkait dengan pelatuk pistol. Jam itu hanya memiliki satu jarum penunjuk. Saat ini jarum itu berada di angka 15 dan bergerak dengan perlahan namun pasti menuju ke angka 0.

Dengan gusar, Hendra berseru, "Sial, Bowo! Pistol tuh! Bakal nembak pas timernya selesai!"

"Kapan?" tanya Bowo cepat.

"Gue nggak tau. Mungkin 15 menit."

Bowo langsung meronta-ronta sambil berteriak-teriak. Hendra dan Eva mencoba berteriak melawan suara teriakan Bowo, "Bowo! Bowo! Baca tulisan di tabung di depan elu!"

Bowo melihat ke tabung yang mengurung penisnya. Di ujung tabung itu ada tombol berwarna merah. Dan di luar tabung tersebut terdapat sebuah label yang bertuliskan, "Tekan Untuk Berhenti".

"Gue harus pencet tombol ini!" katanya sambil memandangi tabung yang panjangnya sekitar 15 cm itu.

"Brengsek!" Bowo menggoyang-goyangkan pinggulnya, mencoba untuk menjatuhkan tabung tersebut.

"Anjing! Gue harus ngaceng!" serunya setelah ia sadar bahwa pada saat ereksi penuh, penisnya akan menekan tombol tersebut.

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Akan tetapi saat itu penisnya masih lembek. Walau setelah mendengar erang dan desah Rika yang sensual tidaklah cukup bagi Bowo. Bahkan ia tidak berkesempatan untuk melihat tubuh telanjang Eva yang diam-diam sering ia bayangkan dalam fantasinya. Yang dapat ia lihat hanyalah pacarnya yang terikat tak berdaya, menatapnya dengan panik dan Hendra yang kurus kerempeng yang penisnya setengah membesar setelah melihat aksi Adam terhadap Rika.

"Siaaal!" seru Bowo, mengetahui jarum jam terus bergerak, "Anjing!"

Bowo tahu apa yang bisa membuat dirinya terangsang. Sial, ia tidak punya pilihan lain.

"Maen sama cewe gue!" seru Bowo sedih sambil menatap Hendra. Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya ketakutan. Eva juga terkejut mendengar kata-kata Bowo.

Adam tertegun saat ia menyadari bahwa Hendra harus menyetubuhi adiknya. Lalu perhatian Adam teralih oleh pergerakan Rika. Matanya memancarkan secercah kenikmatan saat dirinya merasakan hangatnya tangan Adam di dalam tubuhnya.

Agnes akhirnya pasrah dan mengambil posisi merangkak. Hendra bergumam tak jelas.

"Cepetan! Bangsat! Ngentot cepet! Gue musti liat! Gue musti ngaceng!"

Dengan ragu, Hendra membelai punggung Agnes. Bola kulit di dalam mulut Agnes membuat erangannya terdengar seperti domba yang mengembik. Bowo tidak suka melihat hal ini.

"Bukan! Goblok ah! Tampar pantatnya! Yang keras!"

Tidak percaya atas pendengarannya, mulut Hendra menganga lebar. Eva yang juga terkejut menarik nafas tajam dan pendek. Adam hanya bisa melongo, "Ha? Apa?!"

Terdengar suara tamparan di pantat Agnes. Tubuh Agnes sedikit bergoyang atas tamparan ini. Bowo cemberut tanda tak puas. "Bego luh! Yang keras! Pake padel itu!" katanya merujuk ke kumpulan sex-toy yang tergantung di belakang Hendra.

Hendra meraih padel yang terbuat dari kayu itu lalu melanjutkan aksinya. Pantat Agnes berkejut saat padel itu menampar bulatan pantatnya. Eva dan Adam berteriak-teriak menyuruh Hendra untuk menghentikan perbuatannya. Namun suara tamparan itu terus terdengar berulang kali bergaung di ruangan itu.

"Bangsat! Stop! Jangan sentuh adik gue!" amarah Adam tumpah melihat adik kecilnya mengerang dalam sumpalan bola kulit di mulutnya. Ia geram melihat tubuh mungil itu berayun ke depan dan ke belakang setiap kali padel itu menghantam pantat mulus yang sudah menjadi merah itu.

Namun demikian, Bowo berpendapat lain. Ia bahkan mengompori Hendra untuk lebih bersemangat. Terutama saat ia melihat mata pacarnya berputar ke atas karena tidak kuat membendung sensasi yang dirasakan oleh tubuhnya.

"Ambil dildo itu, man!" seru Bowo semakin bersemangat melihat penisnya membesar di dalam tabung transparan itu. "Ambil yang gede, yang banyak benjolannya! Tusuk memeknya pake itu! Entot dia pake itu!"

Hendra menoleh untuk mendapat persetujuan dari yang lain sementara Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.

Terus menerus mendengar protes sengit dan penuh dendam dari Adam, akhirnya Hendra mengutarakan kebimbangannya kepada Bowo, "Wo, gue rasa sebaiknya..."

"Cepetan, bangsat! Tusuk memeknya!" teriak Bowo yang merasa pistol disampingnya akan segera meletus sewaktu-waktu.

Dengan tangan yang gemetar, Hendra meraih dildo yang penuh dengan tonjolan-tonjolan kecil. Satu dorongan mantap dan dildo hitam di tangan Hendra menyeruak masuk ke liang sanggama yang kecil itu.

Mata Agnes mendelik besar. Tubuhnya berguncang hebat. Dan setelah beberapa kali vaginanya dipompa dengan dildo tersebut, tubuh Agnes berayun maju mundur mengikuti gerakan tangan Hendra yang menggarap kemaluannya. Mendengar desahan-desahan yang keluar dari mulut Agnes yang tersumpal dan melihat tubuh pacarnya yang berayun maju mundur diterjang oleh dildo itu, Bowo akhirnya mengerang puas.

"Ayo, Nes! Lumat semuanya! Yes, baby! Nggak usah malu-malu! Lumat seperti biasanya! Elu suka, kan?" seru Bowo memberi semangat.

Eva menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia mempunyai firasat bahwa ini bukan pertama kalinya Bowo berkata-kata seperti itu kepada Agnes.

"Bangsat luh, Wo!" teriak Adam melihat vagina adiknya disodok-sodok dengan dildo hitam berbrinjil itu. Kemarahannya semakin bertambah mendengar kata-kata Bowo yang menyiratkan bahwa Bowo terangsang dan suka melihat penyiksaan ini.

"Elu sering nyiksa adik gue, ya? Bangsat!"

Bowo menjadi putus asa melihat penisnya yang masih belum dapat mencapai tombol di ujung tabung. Dan waktunya sudah semakin menipis.

Lain halnya dengan Hendra. Penisnya sudah mencapai besar dan kekerasan yang maksimal. Tubuhnya berkeringat atas usahanya menampar dan memompa, lebih melelahkan dari apa yang ia kira. Perempuan cantik yang terbelenggu di sampingnya juga basah oleh keringat. Wajah Agnes bersemu merah dan matanya terlihat liar yang diakibatkan oleh sensasi yang ia rasakan dari dildo di vaginanya yang bergerak keluar masuk semakin cepat.

"Ahhh... tampar lagi. Tampar lagi pantatnya, cepat, cepat!!!"

Hendra pun sudah terbawa suasana. Ia menarik keluar dildo hitam itu dari vagina Agnes lalu telapak tangannya menghujani pantat bulat itu dengan tamparan-tamparan pedas. Ruangan tersebut serasa bergetar oleh gelegar suara tamparan-tamparan yang diikuti dengan jeritan Agnes yang terbungkam di setiap tamparan.

Eva terus menerus berteriak, "Jangan! Stop!" sementara Adam memaki-maki Bowo, mengancam akan membunuhnya setelah mereka bebas dari tempat itu.

Bowo mulai berkeringat juga. Penisnya sudah membesar sehingga menekan sisi-sisi tabung transparan itu, namun belum cukup panjang untuk menekan tombol tersebut.

"Ayo, ayo...," katanya geram. "Udah deh! Naekin dia! Entot dia sekarang!"

Hendra memposisikan badannya di belakang Agnes sambil menekan kepala penisnya di antara belahan pantatnya. Agnes menggeliat-geliat berusaha untuk membebaskan dirinya.

"Puter sedikit! Gue mau liat! Gue perlu liat!" seru Bowo.

Agnes meronta-ronta saat Hendra menyeret tubuhnya menghadap ke arah lain supaya Bowo dapat melihat penisnya menerjang masuk vagina pacarnya.

Dalam frustasinya, Adam meraung-raung dengan tangan yang masih berada di dalam vagina Rika. Tubuh Rika pun ikut berguncang saat tangan Adam bergoyang.

Sementara itu, erang penuh nikmat terdengar keluar dari mulut Hendra. Kedua tangannya memegangi pundak Agnes lalu penisnya amblas sepenuhnya ke dalam vagina Agnes.

Tangan Hendra berpindah ke pinggang Agnes. Hendra mengentot Agnes dengan sepenuh hati. Desah dan erang Agnes yang terbungkam itu semakin membawa Hendra mendekati klimaks.

Bowo pun tahu bahwa Hendra akan segera memuntahkan lelehan putih itu ke dalam liang kemaluan pacarnya.

"Tampar lagi pantatnya!" perintah Bowo.

Sambil menyetubuhi Agnes, Hendra menampar-nampar pantatnya seperti koboi yang sedang menunggangi kuda pacuan. Erangan Hendra berubah menjadi teriakan-teriakan kenikmatan. Saat ini ia sudah terperangkap dalam badai birahi seks.

"Yeah! Yeah!! Oh Agnes! Agnes! Meki elu mantep banget! Yeah! Oh! Oh! Gue keluar di dalem, nih! Gue keluaaaaaar!"

Tubuh Hendra menjadi kaku dan kejang. Agnes terbelalak kaget merasakan sperma Hendra muncrat di dalam vaginanya.

"Ooohhhhh... ssssttt... yesssss... aahhhhhh...!" seru Hendra dengan lega.

Bowo akhirnya berereksi penuh setelah mendengar Hendra berulang-ulang mengumbar betapa banyaknya sperma yang tertumpah di dalam vagina pacarnya. Bowo mendorong maju pinggulnya sehingga kepala penisnya akhirnya dapat menekan tombol tersebut. Dan jam yang terhubung dengan pistol itu berhenti seketika.

Agnes jatuh tergolek menyamping. Dalam nafasnya yang terengah-engah, Agnes masih tidak dapat mempercayai bahwa dirinya sudah disetubuhi dan dipermalukan di bawah tontonan pacar dan kakaknya.

Hendra menarik keluar penisnya yang sudah melembek itu. Seuntai lendir putih terlihat menggantung dan terhubung dari bibir vagina Agnes ke kepala penisnya.

Adam masih terus memaki-maki. Eva menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa jijik melihat sosok tetangganya yang bertelanjang bulat. Sementara itu Rika, dengan mulut menganga, takjub melihat teknik cabul Hendra.

Walau ancaman kematian dari pistol di sampingnya sudah berlalu, Bowo masih terengah-engah mendapati birahinya belum mendapat pelepasan.

Dengan kedua tangannya, Eva memegang kepalanya kesal dan berseru, "Sialan lu, Wo!" Bowo tidak menggubris makian Eva karena sekarang rahasia selera seksnya sudah diketahui teman-temannya.

Tiba-tiba ruangan itu diselimuti oleh kegelapan yang sangat pekat. Mereka berteriak kaget. Mata mereka mulai melihat hal-hal yang aneh. Di dalam kegelapan itu, mereka dapat melihat sesuatu yang ternyata adalah Eva. Tubuh Eva memendarkan sinar berwarna kuning. Tidak seluruh tubuhnya memendarkan sinar. Hanya sebagian dari tubuhnya; payudaranya, pantatnya, punggung di sekitar tulang belakangnya, kedua tangannya, kelopak matanya, bibirnya dan beberapa bagian tubuh lainnya.

"Eva, elu dicat pake cat bercahaya!"

Bibir Eva yang mengatup terlihat oval terang bercahaya ketika ia menarik nafas panjang. Lalu ia menunjuk, "Liat, di TV!"

Layar TV menampilkan kalimat-kalimat berwarna putijhh.

- Ruangan ini harus gelap selama 10 menit -

- Jika tidak, kalian tidak akan pernah keluar dari ruangan ini -

"Apaan sih maunya? Ini kan udah gelap!"

Lalu tulisan di TV hilang digantikan dengan angka yang menghitung mundur.

9:59..., 9:58..., 9:57..., 9:56...

Seakan menjawab pertanyaan tersebut, terdengar bunyi dentang metal. Kemudian cahaya putih yang terang benderang menyembur ke langit-langit dari tengah-tengah barel di dekat Eva. Cahaya itu terlihat seperti tiang putih bersinar cemerlang di tengah-tengah ruangan. Setelah itu terdengar suara mesin yang bekerja. Perlahan-lahan tiang cahaya itu tidak lagi menyerupai tiang putih seiring dengan keluarnya vibrator yang terbuat dari gelas kaca bergerak muncul dari dalam lubang di barel itu.





Vibrator kaca yang panjangnya sekitar 15 cm itu bergetar sangat cepat sehingga mengeluarkan bunyi dengung yang kencang. Setelah keluar sepenuhnya, vibrator itu menjadi mercusuar yang memancarkan cahaya ke seluruh pelosok ruangan dan mereka semua terkesima melihat cahaya yang indah cemerlang keluar dari vibrator tersebut.

Adam memalingkan mukanya untuk melihat layar TV di dinding. Timernya kembali ke angka 10:00 dan tidak berhitung mundur sama sekali. Rupanya sensor-sensor yang bereaksi terhadap cahaya dipasang di dalam ruangan itu dan menahan timer tersebut di 10:00 selama vibrator itu menerangi ruangan.

Masih terkesima, Eva bergumam, "Sial... itu..."

"Gede banget!" gumam Rika merujuk pada vibrator kaca di depan adiknya.

"Kaya light sabre-nya Star Wars," tambah Hendra.

Eva melihat ke timer di layar TV lalu ke vibrator kaca. "Mungkin kalau gue...," ia membiarkan kalimatnya menggantung tak selesai.

Eva membungkuk lalu membungkus vibrator kaca itu dengan kedua telapak tangannya. Eva merasa seperti memegang gerudi beton yang bergetar dengan kekuatan tinggi. Cahaya masih meluap dari antara jari-jarinya. Eva berusaha menutupi seluruh panjang permukaan vibrator kaca itu dengan memperkencang genggamannya. Tangannya terasa kebal setelah beberapa lama memegang batang yang bergetar kuat itu.

Memang ruangan terlihat jadi sedikit lebih gelap namun percuma saja karena telapak dan jari-jari Eva tidak dapat menjangkau bagian ujung dan pangkal vibrator itu secara bersamaan harus menutupi sepanjang batang itu. Silau cahaya masih keluar dari ujung vibrator itu menyembur ke langit-langit.

Mereka meneriaki usulan, ide dan cara untuk menutupi secara total vibrator itu kepada Eva. Semakin lama Eva menjadi semakin kehabisan akal. Ia bahkan mencoba menjepit vibrator itu dengan pahanya. Namun bagaimanapun ia mencoba, tetap saja tidak pernah sedetikpun ruangan itu menjadi gelap total.

Eva menggeram kesal dan terus berusaha atas vibrator yang terus berdengung kencang itu. Akhirnya ia terduduk lemas dengan putus asa.

"Gue ga bisa tutup semuanya!" katanya dengan nafas terengah.

Ia memandang Adam lalu berpindah kembali ke timer di layar TV.

Eva menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata, "Adam..., batang ini licin karena di kasih pelumas. Kayanya gue tau deh apa yang dia mau."

"Dia?" tanya Adam balik.

"Iya, dalang permainan gila ini!" teriak Eva kesal.

Dengan perlahan dan hati-hati Eva mengangkangi vibrator itu. Teman-temannya yang lain memaku pandangan mereka pada Eva dalam keheningan.

"Ohh... hhhh...," Eva mengeluarkan rentet lenguhan tak nyaman saat ia menyusupkan kepala vibrator itu ke liang kewanitaannya. Walau dingin, vibrator kaca itu terasa begitu hidup dengan getarannya yang super kencang dan cahayanya yang menyilaukan.

"Uuuuuuuuuuuuhhh!"

Mereka melihat pinggul Eva semakin turun dan sisa panjang batang yang bercahaya itu perlahan-lahan memendek. Bahkan suara dengungnya menjadi semakin teredam.

"Aaaaahhhhh sialaaaaaaaaannnhhh!"

Vagina Eva yang belum berpengalaman itu menelan vibrator cukup dalam yang saat itu menyisakan sekitar 5 cm di luar tubuhnya.

"Oh! Oh! Siaaaalh! Gede bangedhh (hah)!"

Teman-teman lainnya menyoraki Eva untuk mendorong lebih dalam lagi, "Terus, Eva! Sedikit lagi!"

"Gaaaaaaaaaaahhhh!" Eva meraung kencang saat ia memaksa pinggulnya turun beberapa cm lagi dan menyisakan vibrator kaca itu kurang dari 2 cm di luar vaginanya.

Ia menurunkan tangannya untuk menutupi sisa vibrator yang masih bercahaya itu. Tak lama setelah itu ruangan menjadi gelap gulita.

Eva sudah tidak berteriak-teriak lagi. Kini erangan lirih terdengar keluar dari mulut Eva. Timer di layar TV segera menghitung mundur.

Adam melihat cat fluorescent di tubuh Eva mulai berpendar lagi. Ia dapat melihat tubuh pacarnya menggeliat-geliat perlahan di atas barel seperti sedang menarikan tarian birahi iblis. Bibirnya terlihat terbuka dan kedua bukit payudaranya terlihat seperti dua mata kuning yang bercahaya.

Gigi Eva bergemeletuk akibat getaran vibrator yang kencang itu. Batang kaca dan luapan cahaya itu kini terselimuti oleh liang sanggama Eva yang meregang.

Si kutu buku Hendra akhirnya baru dapat melepaskan pandangannya dari liuk dan geliat tubuh Eva. Ia menoleh ke layar TV, 8:57.

"Gila! Eva, elu harus begitu terus. Jangan sampe ada sinar yang keluar! Kalo enggak, timernya bakal ngulang dari 10 lagi," seru Hendra.

Eva terlihat menggangguk-angguk atas petunjuk dari Hendra, namun sangat sulit membedakan apakah ia benar-benar mengangguk karena mengerti ucapan Hendra atau anggukannya memang bagian dari geliat tubuhnya akibat sensasi dari vibrator itu.

Kelopak mata Eva terlihat memendarkan cahaya kuning yang menandakan ia sedang menutup matanya. Kedua tangannya berada di atas barel untuk menopang tubuhnya, sudah tidak perlu lagi untuk menutupi sisa cahaya dari vibrator itu. Vaginanya sudah menelan seluruh panjang vibrator yang lebih dari 15 cm itu.

Bowo yang tidak dapat melihat tayangan tengah panggung oleh Eva itu, melihat tulisan di atas Hendra dan Agnes. Tulisan itu juga dicat dengan cat fluorescent yang memancarkan pendar cahaya.

"Eh, guys! Ada tulisan lagi tuh!"

Tulisan itu berbunyi: - Kode gembok ada di bawah cat biru -

"Cat biru apa?" sahut Bowo. "Bangsat! Nggak ada cat biru, tau!"

Adam menunduk, memandang penisnya yang mengeras. Penis yang berereksi dan bercat biru.

"Ada," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "Ada banget!"

Setelah mendengar kata-kata Adam, Eva mengeluarkan desah imut gadis lugu. Lalu punggungnya melengkung dan payudaranya yang bercahaya terdorong ke depan. Penis Adam bertambah besar.

Timer menunjukkan tinggal 5 menit lagi ketika Eva mulai mengerang dan mendesah tanpa malu-malu lagi. Lebih dari lima menit sudah berlalu dan batang terbuat dari kaca itu sudah memberikan getaran konstan dan kencang pada vagina Eva. Sensasi di kemaluannya telah melebihi ambang batas santun Eva. Ia kini mendesah dan mengerang seperti kucing penuh birahi.

"Mmmmhh.... hhhhh... nnnnhhhh.... ooohhhh.... hhhhh..."

Eva tidak dapat menjelaskan perasaannya dengan kata-kata. Lehernya terasa kencang dan tegang atas usahanya untuk meredam gelegak birahi dalam tubuhnya. Teriakan-teriakan dari teman-temannya terngiang di telinganya. Ia harus melumat batang itu dan terus melumat. Jika Eva menarik tubuhnya keluar hanya akan berakibat ia harus mengulangnya dari awal lagi. Sepuluh menit penuh ia harus menunggangi batang iblis ini atau mereka harus terkurung selamanya di ruangan itu.

"Ooohhhhhhhhhhhh!" Eva melenguh panjang.

Eva sudah kehilangan kontrol atas tubuhnya. Hendra, Agnes dan Adam dengan penuh takjub memandang tubuh langsing gadis ini menggeliat dan menggelinjang. Dengan gerakan menjepit, Eva seakan menyedot batang vibrator itu dengan vaginanya. Klitorisnya yang terasa panas membara dan sangat sensitif, menancap keras ke barel seakan sedang mengebor masuk ke inti bumi.

Dua menit lagi.

"Aaaaaahhh! Nggaaaaaah! Oh! Oh! Oh!" Eva sudah hampir mencapai klimaks.

Dengan tubuh yang meliuk-liuk seperti cacing kepanasan, payudara yang indah berayun ke kanan dan ke kiri, pantat yang naik turun dan beberapa bagian tubuh lainnya yang bercahaya, Eva terlihat seperti boneka bercahaya yang sedang menari-nari di kegelapan malam. Psikopat yang mengoles cat fluorescent di tubuh Eva ini menitikberatkan pada aset feminim tubuh Eva, seperti payudara, pinggul dan pantat, tangan, tulang punggung, lehernya yang jenjang, kelopak mata dan bibir. Kini dengan mata yang tertutup, kelopak matanya yang bercahaya membuat Eva terlihat seperti alien bermata besar.

"Oh! (...hhh...) Jangan! (...hhh...) Oh, stop! (...mhhh...) Oh!" Eva sadar apa yang akan segera terjadi. Ia sudah tidak mampu menahan lebih lama lagi. Dan ini berarti ia harus terus menunggangi vibrator itu dengan tubuh yang super sensitif setelah ia mencapai klimaks.

Klitoris Eva akhirnya pecah dalam ledakan-ledakan orgasme yang menjalar secepat kilat ke setiap jengkal tubuhnya. Kukunya menancap dalam-dalam ke atas barel metal itu. Pinggulnya jatuh sehingga vibrator itu semakin dalam tertelan vaginanya.

"Aahhh! Ahhhh! Ahhhh! Ahhhh!" Eva meracau tak karuan tenggelam dalam jurang kenikmatan dan sensasi seksual yang tak pernah ia rasakan.

Setelah beberapa saat, perlahan-lahan indra Eva mengapung muncul ke permukaan realita. Selesai berorgasme, klitorisnya yang menjadi sangat sensitif dan membuatnya merasa ngilu yang amat sangat. Namun ia harus tetap pada posisinya supaya tidak ada cahaya yang keluar dari vibrator yang terus berdengung di dalam vaginanya.

Tubuh Eva bergelinjang-gelinjang menahan rasa ngilu itu. Ia bahkan hampir pingsan menahan sensasi yang ia rasakan pada kemaluannya. "Tidak! Ayo tahan sedikit lagi. Jangan sampai mengulang dari awal lagi!" logikanya masih bekerja.

"Aw! Oh, oh, oh! Jangaaaan! Ah!" Eva meracau. Kali ini bukan oleh nikmat birahi melainkan oleh rasa ngilu yang seakan mengiris-iris klitorisnya dengan pisau berlistrik.

KLIK!

Tiba-tiba ruangan kembali diterangi oleh lampu redup. Tubuh Eva yang basah oleh keringat sudah tergolek lemas. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Hening. Tidak terdengar lagi suara dengung yang membosankan itu. Misi sudah tercapai.

"EVA!" teriak Adam.

Setelah beberapa saat akhirnya Eva siuman. Ia merangkak, menarik tubuhnya ke depan sehingga vibrator itu keluar dari dalamnya. Vibrator kaca itu sudah tidak mengeluarkan cahaya namun terlihat mengkilap basah oleh cairan vagina Eva.

"Oh, Eva," seru Adam lega.

Penis Adam sudah sekeras pasak beton. Dan melihat ke seberang, ia mendapati Hendra dan Bowo juga menikmati 'acara' yang disuguhkan oleh pacarnya. Hendra segera menutupi penisnya yang tegang dan keras dengan kedua tangannya saat ia mendapati Adam sedang menatapnya dengan wajah tidak senang. Sudah sejak awal Bowo mengikuti desah dan erang sensual Eva lewat pendengarannya. Kini penisnya yang mengeras dan berdenyut itu menekan-nekan tombol merah di ujung tabung transparant tersebut tanpa arti.

Adam memaki Bowo, "Asik lu, ye? Ngbayangin nyiksa cewe gue juga, kan? Brengsek!"

Lalu Adam menoleh ke Rika dengan kakinya yang masih terbuka lebar. Mesin di bawah meja itu sudah berhenti bekerja namun masih terus siaga melanjutkan misi iblisnya. Adam merasa tangannya kesemutan. Tangannya yang terbalut itu sudah hampir setengah jam berada di dalam vagina Rika.

Walau penisnya sudah tegang dan keras seperti tiang bendera, Adam tahu tangannya yang terbalut lakban dan berlumur oli ditambah cairan vagina Rika tidak dapat ia gunakan untuk mengerok cat biru lepas dari penisnya. Setidaknya cat biru itu tidak akan lepas dari penisnya sebelum pangkal paha Rika patah dan keluar dari sendinya.

Pergelangan kaki Rika terbelenggu oleh gembok yang sama yang membelenggu tangan kiri Adam. Jadi ia harus membaca kode gembok itu, membuka gembok di tangan kirinya, lalu membebaskan Rika. Semua itu harus ia lakukan sebelum mesin di bawah meja itu menyelesaikan tugasnya.

"Dam, jangan! Please...," seru Rika setelah melihat pandangan Adam berpindah-pindah dari penis ke vaginanya. "Nggak bakal keburu!"

Adam mulai memutar pergelangan tangannya. Rika meneriaki Adam untuk menghentikan perbuatannya. Rika sangat takut saat membayangkan mesin di bawah meja itu kembali bekerja untuk menunaikan tugasnya atas kaki-kaki Rika.

"Gue harus gosok catnya sampe copot!" jawab Adam cepat.

Ia langsung menarik tangan kanannya dari dalam vagina Rika. Rika tersengal kaget saat kekosongan melanda liang kemaluannya. Dan terdengar dari suara derit mesin, mereka tahu bahwa mesin tersebut kembali bekerja untuk membuka 360 derajat penuh. "Elu harus bantu gue, Rika."

Adam menggunakan tangan kanannya yang terbalut itu untuk mengarahkan penisnya ke dalam vagina Rika. Lalu dengan satu gerakan kuat, Adam mendorong penis itu dalam-dalam masuk ke vagina Rika yang hangat dan licin. Rika mengerang dengan jijik. Saat penopang kaki itu terhentak membuka lagi, KLANG! Rika pun menjerit kaget.

Adam dengan tangan kirinya yang masih terbelenggu di atas kepalanya, menggenjot pinggulnya, berusaha untuk menggesek-gesekkan penisnya di dalam vagina Rika yang basah supaya cat biru itu terkelupas dari penisnya.

"Adam! Adam! Oh! Adaaaaam!" teriak Rika.

Melihat semua ini, berkali-kali Eva mendesah. Bukan desah kenikmatan melainkan desah karena gelisah dan ketakutan. Ia berdiri dengan kedua tangan memegang kepalanya, memandangi pacarnya menyetubuhi kakaknya sendiri.

Mulut Rika menganga bulat setiap kali Adam menghentakkan pinggulnya. Rupanya bahaya atas dirinya sempat terlupakan oleh Rika, walau hanya sesaat. Sampai akhirnya penopang kaki itu terhentak membuka lebih lebar lagi.

KLANG!

"Adaaaaam! Cepetaaaaan!" teriak Rika lagi.

Eva melihat paha kakaknya sudah membuka hampir 180 derajat. Walau dengan tubuhnya yang atletis, paha Rika tidak dapat membuka lebih lebar dari ini.

"Dam! Cepat! Dia bisa mati!" seru Eva yang menyadari apa yang akan segera ia lihat.

Adam mempercepat genjotannya. Nafasnya semakin memburu. Ia bahkan hampir kehilangan keseimbangannya. Penisnya berdenyut-denyut siap untuk meledak. Vagina Rika yang basah itu menyulitkannya untuk menggosok cat itu lepas dari penisnya. Walau demikian, Adam merasakan cat tersebut berangsur-angsur mulai luruh dari penisnya. Ia masih memiliki waktu kurang dari 1 menit lagi sebelum penopang kaki itu mematahkan paha Rika. Akan tetapi tekanan itu sudah muncul.

Ya, tekanan di sekitar buah zakarnya yang menandakan bahwa ia akan segera memuntahkan lahar spermanya. Dan setelah itu penisnya akan melembek. Akan sulit untuk membaca angka-angka tersebut dengan penis yang lembek dan mengecil.

"Oh! Sial! Jangaaaaan! Aaaaahhhhh!" teriak Adam tanpa daya.

Kepala penis Adam menyemprotkan lendir panas ke dalam vagina Rika. Rika tersengal merasakan gumpalan-gumpalan sperma Adam menerjang dinding vaginanya. Dengan mulut yang terkatup rapat, Rika menggeleng-gelengkan kepalanya karena mengetahui ejakulasi tersebut menandakan gagalnya usaha Adam untuk membaca angka kombinasi untuk gembok-gembok di kakinya.

"Stop! Stop! Jangan keluar dulu! Tahan!" seru Rika putus asa.

Adam menghentakkan pinggulnya untuk terakhir kali sebelum akhirnya menarik keluar penisnya dan berharap ia dapat membaca angka-angka itu. Adam merasakan penisnya mulai melembek dan berangsur-angsur kembali ke ukuran normalnya. Ia hanya mempunyai waktu beberapa detik.

221891

Ia dapat melihat angka-angka itu. Ya, ia yakin. Ia meneriakkan angka-angka itu berkali-kali untuk teman-temannya yang lain sementara dirinya berusaha untuk melepaskan belenggunya dengan menggunakan satu tangan saja. Mereka semua berteriak-teriak panik. Adam berteriak menyuruh mereka untuk diam dan...

KLIK!

Setelah bersusah payah mencoba untuk membuka gembok itu akhirnya tangan kiri Adam terbebas. Langsung ia berbalik ke Rika dan mendapati Eva sudah berada di samping Rika.

Eva memutar-mutar tombol kombinasi angka di gembok kaki kakaknya. Dan akhirnya, KLIK! Rika menarik kakinya keluar dari penopang kaki tersebut.

KLANG!

Penopang kaki itu berputar membuka lagi namun kaki Rika sudah terlepas dari penopang tersebut.

Adam terpuruk lemas di lantai. Eva membantu kakaknya untuk membuka sabuk yang terhubung dengan gelang metal di depan kemaluannya. Adam mengangkat tangan kanannya yang terbalut. Cairan lendir vagina bercampur oli masih menetes dari balutan itu.

Hendra sedang melepaskan belenggu-belenggu di tangan Agnes. Setelah tangannya terbebas, Agnes segera melepaskan bola kulit yang menyumpal mulutnya. Langsung saja sumpah serapah keluar dari mulut perempuan cantik itu.

"Cepet! Keluarin gue dari kotak ini!" teriaknya saat Eva dan Rika datang menghampiri kotak transparan itu.

Bowo harus menunggu gilirannya. Mereka akhirnya melepaskan penyangga kepalanya tepat sesaat sebelum bogem mentah Adam sempat mendarat di wajahnya. Bowo berhasil berkelit dengan berguling ke samping.

"Bangsat lu!" maki Adam. Bowo terus berusaha untuk melarikan diri dari serangan-serangan Adam.

Eva, Hendra, Rika dan Agnes akhirnya berhasil meleraikan Adam dan Bowo. Kelihatannya mereka sudah tidak menghiraukan ketelanjangan masing-masing.

"Diam semuanya! Tenang! Semuanya udah selesai!" teriakan Eva mengalahkan teriakan yang lainnya.

Adam membantah, "Selesai apanya? Kita masih terkurung di sini!"

Eva tidak dapat menyangkali kebenaran pahit itu. Ia memandang ke atas ke salah satu kamera di dinding dan mengomel, "Kita udah ikutin permainan gila ini! Dan kita menang! Cepet keluarin kita sekarang!"

Beberapa detik kemudian layar TV di dinding berkedip dan mereka membaca tulisan di layar itu.

- Hanya 3 yang mencapai puncak -

- Kalian harus ulang dari awal -

Setelah itu ruangan tersebut dipenuhi dengan asap putih yang tebal. Mereka terbatuk-batuk setelah menghirup asap itu. Seakan menolak jawaban yang tertera di layar TV tersebut, Eva hanya berdiri mematung dan membiarkan asap tebal itu bergulung menyelimuti pinggulnya naik ke dada dan terus ke wajahnya. Perlahan-lahan asap pekat itu memenuhi seluruh isi ruangan. Setelah itu hanya hening dan putih.

Adam berangsur-angsur siuman. Kembali kepalanya terasa berputar-putar. Apakah ia sedang bermimpi? Untuk beberapa saat pikirannya masih melayang di alam maya sampai akhirnya pikirannya terhempas balik ke dunia nyata oleh suara di sekitarnya.

Ia masih berada di ruangan yang sama.

Adam terbaring di atas meja metal dengan kedua kakinya terbelenggu ke penopang kaki. Lehernya juga terbelenggu sehingga ia hanya dapat menundukkan kepalanya untuk melihat ke tubuhnya bagian bawah. Penisnya yang lunglai terlapisi cat warna biru. LAGI!

Di sebelah Adam, dengan tangan kiri terbelenggu di atas kepalanya, Agnes berdiri menatap balik kakaknya yang terbaring tak berdaya di atas meja metal itu. Tangan kanan Agnes terbalut dengan lakban. Ia berdiri dengan posisi kaki sedikit mengangkang karena di sekeliling pinggangnya terpasang sabuk dengan dildo mengacung di tengah-tengah selangkangannya.

Tiga buah gelang besi yang masing-masing memiliki 3 tonjolan metal itu terpasang di depan anus Adam, di pergelangan tangan Agnes yang terbalut dan juga di pangkal dildo di selangkangan Agnes.

Hendra sekarang terbelenggu di samping pistol yang terarah ke kepalanya. Penis Hendra terselubung dalam tabung transparan.

Eva berguling di lantai di dalam kotak transparan. Mulutnya tersumpal dengan bola terbuat dari kulit. Berdiri di sebelah Eva, kakaknya menutupi mulut dengan kedua tangannya. Berbagai macam sex-toy bergelantungan di sekitar kakak beradik itu.

Adam menatap dalam-dalam mata pacarnya. Ia merasa akan segera kehilangan kewarasannya sebentar lagi.

Bowo berteriak, "Gimana? Gimana gue bisa klimaks coba?!"

Sosok tubuhnya yang besar mengitari barel metal di lantai. Di tengah-tengah barel itu terlihat lubang yang siap menampilkan teman yang akan menemani Bowo sebentar lagi. Bowo bergidik membayangkan cara untuk menutupi vibrator yang bercahaya itu nantinya.

Adam melihat ke atas ke monitor TV dan membaca tulisan di dalamnya.

- Semua harus berpartisipasi -

- Semua harus mencapai puncak -

Ayo mulai dari awal lagi!

End

Baca cerita sebelumnya « Bagian 1





5 comments:

  1. Wah, akhirnya keluar juga..
    Bisa jadi temen nonton bola nih hehehe...
    Komen nya nanti setelah dinikmati semaleman hahahaha...

    ReplyDelete
  2. cerita yang bikin gw kebayang2x 2 hari ini. a good story, lebih gelap ceritanya.

    forbidden sex, sells :D.

    ReplyDelete
  3. Arrrggghhh...
    Binun neh...

    Penjahatnya sebenarnya sapa ya???
    Hehehehehe...

    Menunggu cerita selanjutnya...

    ReplyDelete
  4. gila.. bagus banget ceritanya

    ReplyDelete
  5. WTF. you driving me craaaazzzzzyyyy ....

    ReplyDelete