Baca Peringatan/Read Disclaimer

Blog ini berisi cerita berunsur seks, untuk DEWASA. Dilarang membaca cerita ini jika anda:
1. di bawah umur (di bawah 17 tahun)
2. terganggu dengan tema cerita ini
3. hidup di daerah yang melarang membaca cerita bertema seks

This blog contains sex stories, for ADULTS!
If you are offended by these subjects do not even start reading my tale, you will not like them!
If it is illegal to read such filth where you live, please, don't do it!
And if you are underage don't read them!

Daftar Cerita       Kode Cerita       Profile Penulis

Sep 14, 2010

Sex-Force 2

Nadia
Ringkasan: Setelah alat tertanam dalam tubuh istrinya, sang suami melakukan percobaan pertama terhadap alat itu.
Kode cerita: no-sex, non-con, toys

Tokoh: (lihat/tutup...)
* Nadia: istri Yusdi
* Yusdi: suami Nadia


Sex-Force 2
by: VVN

Setelah pemeriksaan pap-smear itu, Yusdi tidak pernah menyinggung atau membahasnya dengan Nadia. Ia tahu Nadia pasti merasa tidak enak atas semuanya itu. Paling sesekali ia bergurau dengan Doni tentang hal itu.

Satu minggu telah berlalu sejak pemeriksaan pap-smear itu. Kehidupan berjalan normal seperti biasanya. Begitu pula kehidupan seks mereka. Pengalaman Nadia di ruang pemeriksaan pap-smear itu ternyata tidak membuatnya menjadi lebih mudah terangsang. Yusdi berharap pengalaman tersebut dapat membangkitkan gairah seksual istrinya walau hanya sedikit, namun ia harus memendam harapannya. Seperti biasanya kepuasan dalam berhubungan seks hanya dirasakan oleh Yusdi seorang.

Selasa pagi ini semuanya berjalan seperti biasa. Yusdi dan Nadia memulai hari mereka dengan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Namun ada beberapa hal yang ‘tidak biasa’ yang telah Yusdi siapkan sejak seminggu lalu. Siang ini Yusdi harus hadir dalam meeting dengan divisi Nadia.

"Nad, siang ini kamu ikutan meeting kan?"

"Iya, Yus. Aku tidak membawakan presentasi apa-apa sih. Paling-paling cuma catat sana sini aja," jawab Nadia.

Semua setting sudah tepat, maka Yusdi memberanikan diri untuk masuk ke rencana "B".

[+/-] tutup/baca lebih jauh...

Yusdi dan Hendra (teman satu divisinya) datang meeting agak terlambat karena harus menyelesaikan beberapa hal terlebih dahulu. Pada saat mereka masuk, semua peserta rapat sudah hadir dan bahkan meeting sudah dimulai. Mereka berdua segera mengambil tempat duduk yang kosong.

Ruangan meeting itu cukup besar, dilengkapi dengan peralatan presentasi yang canggih, sebuah meja besar, bangku-bangku empuk di sekelilingnya, serta beberapa lukisan di dindingnya.

Yusdi duduk tepat berseberangan dengan istrinya. Rambut Nadia disanggul rapih sehingga wajahnya yang terpelajar terlihat lebih berwibawa. Nadia melirik cepat ke suaminya. Yusdi membalas lirikan Nadia dengan senyuman. Setelah itu mereka berdua lanjut mendengarkan pembicara dalam meeting tersebut.

Di tengah meeting yang melelahkan itu, Yusdi mengeluarkan sebuah alat kecil dari dalam saku celananya. Tombol di kanan atas ditekannya untuk menyalakan alat itu. Lampu indikator di bagian atasnya menyala hijau, menandakan alat itu dalam keadaan siap untuk digunakan.

Pada alat tersebut tersedia beberapa tombol. Satu tombol utama adalah tombol yang mirip tombol tuning di radio jaman dulu, berbentuk silinder kecil. Di sekeliling tombol itu tertulis angka-angka mulai dari 0 sampai 10. Dan saat ini penunjuk tombol itu masih berada di level 0.

Dengan sedikit putaran, tombol itu disetel Yusdi ke level 1. Lampu indikatornya berubah menjadi kuning yang menandakan bahwa alat yang bersangkutan sudah bekerja pada rating 1.

Alat tersebut tak lain adalah alat kecil yang ditanamkan Doni ke dalam vagina Nadia pada saat pemeriksaan pap-smear minggu lalu. Yusdi membeli alat yang bernama Sex-Force® itu beberapa minggu yang lalu dari internet. Pada rating 1, alat itu hanya memberikan impuls-impuls seksual yang sangat ringan ke tubuh Nadia melalui vaginanya. Dan alat yang sedang dipegang Yusdi adalah remote untuk mengontrol alat yang tertanam di liang vagina Nadia itu.

Yusdi terus memperhatikan gerak-gerik Nadia. Lima menit berlalu setelah alat itu bekerja pada rating 1 dan Yusdi belum melihat dampak sedikitpun pada istrinya. Yusdi mulai bergumul dengan kesabarannya. Rating alat itu ia naikkan sampai ke level 4. Lampu indikator pun berubah menjadi jingga.

Ia menunggu lagi selama sekitar 2 menit. Dan masih belum terlihat perubahan apa-apa pada Nadia. “Ah, jangan-jangan alatnya sudah rusak, atau jangan-jangan alatnya sudah tercecer hilang atau tidak berfungsi…,” bermacam-macam kemungkinan muncul di benak Yusdi.

Untuk memastikannya Yusdi langsung menaikkan rating rangsangannya menjadi 10 (rating maksimal). Lampu indikator menyala merah dan berkedap-kedip. Bersamaan dengan itu, Nadia yang tadinya sedang mencatat dengan rileks tiba-tiba tubuhnya menegak dan mengejang. Matanya membelalak dan nafasnya menjadi cepat.

Ia melihat ke kanan dan ke kiri kebingungan.

"Entah apa yang dicarinya. Mungkin ia ingin melihat adakah yang memperhatikan dirinya. Atau mungkin ia ingin mencari penyebab dari kondisinya saat itu," pikir Yusdi.

Yusdi berpura-pura memandangnya dengan pandangan yang seakan bertanya, “Ada apa, sayang?” Nadia dengan mata yang masih terbelalak hanya menggeleng-geleng kecil dan mencoba tersenyum sekenanya.

Yusdi memutar tombol tersebut kembali ke level 0 dan lampu indikator menjadi hijau lagi. Setelah itu ia mematikan remote itu. Rencana "B" selesai.

Nadia menghela nafas panjang yang menandakan ia sudah tidak di bawah serangan Sex-Force®. Akan tetapi ia masih tetap terlihat kebingungan.

Tujuan rencana "B" hanyalah sebagai percobaan pertama Yusdi pada alat Sex-Force® dan mengamati dampak level/rating rangsangan pada Nadia. Setidaknya dari percobaan tersebut, Yusdi mendapati rating 1 masih belum dapat dirasakan oleh Nadia yang tergolong frigid. Pada saat alat itu bekerja pada rating 4, Nadia sebenarnya mulai merasakan pengaruhnya. Hanya saja Yusdi kurang sabar menunggu.

Sorenya dalam perjalanan pulang ke rumah, Yusdi sengaja menanyakan tentang kejadian tadi siang kepada Nadia.

“Kejadian yang mana?” tanya Nadia berpura-pura tidak ingat.

“Itu lho, waktu meeting tadi. Kamu kelihatannya seperti kaget gitu. Ada apa sih?”

“O… Oh yang itu… mmm… itu… Oh tadi aku mendadak sakit perut,” jawab Nadia berbohong.

Kemudian Nadia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Setelah itu lagi-lagi hal ini tidak mereka bicarakan lebih lanjut. Yusdi sebenarnya pun hanya iseng menanyakannya. Ternyata istrinya belum ingin berterus terang terhadap hal ini. Memang Nadia agak kurang menyukai hal-hal seksual.

Malam itu, sebelum tidur, Yusdi berencana untuk mencoba merangsang Nadia. Ia memang tidak berniat untuk berhubungan seks dengan istrinya malam ini. Jadi ia hanya akan memberikan sedikit rangsangan pada bagian-bagian tubuh istrinya untuk melihat seberapa jauh pengaruh kejadian siang tadi terhadap respon seksual Nadia.

Nadia berbaring di ranjang memeluk guling dan membelakangi Yusdi yang berpura-pura membaca koran. Dua puluh menit Nadia berbaring dalam posisi ini tanpa bergerak sehingga Yusdi dapat memastikan ia sudah tertidur.

Perlahan-lahan Yusdi meletakkan koran di lantai lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya. Tangan kanan Yusdi mulai meraba payudaranya. Seperti biasa Nadia tidak mengenakan BH pada saat tidur sehingga Yusdi dapat merasakan puting susunya di balik kaosnya yang tipis.

Yusdi terkejut ketika mendapati puting susunya langsung mengencang tak lama setelah ia meraba payudaranya. Tidak biasanya tubuhnya bereaksi seperti ini. Butuh waktu minimal lima menit untuk membuat putingnya menegang sekeras ini.

Beberapa saat setelah Yusdi mengusap dan memilin puting susunya, ia mulai secara lembut meremas-remas buah dadanya yang tidak terlalu besar itu. Dalam tidurnya, dari mulut Nadia terdengar erangan lirih.

Yusdi sudah tidak meremas payudaranya lagi. Tapi dengan tangan kanannya masih berada di atas payudara istrinya, Yusdi tidur sambil memeluknya dari belakang. Keduanya lelap, hanyut dalam gelapnya malam.

(Bersambung)
Baca cerita lanjutannya » Bagian 3
Baca cerita sebelumnya « Bagian 1





2 comments:

  1. Wadoh... Gak crot-crot lagi deh. Masih harus nunggu seri 3-4 nya donk hiks... Moga-moga cepet keluarnya nih..

    ReplyDelete
  2. gila idennya bagus banget... sabar menanti dehhh

    ReplyDelete